Setelah kepergian Anisa, Marshal masih terduduk di sana sendirian. Merenungi sebuah fakta yang mencengangkan, fakta yang semakin menjadi benang kusut di benaknya. Andai ia bisa memanggil Anisa sesuai inginnya, ia pasti akan mendapatkan informasi tentang misteri itu secara utuh.
“Anisa. Siapa kamu sebenarnya?,” gumam Marshal di dalam hati.
Marshal menyandarkan tubuh ke pohon pisang yang ada di belakangnya. Ia masih meraba tentang keberadaan Sumbrawe. Ia juga masih menerka tentang si penerima tujuh kepala sapi di acara Mangkurawe. Ia juga masih menebak bahwa dua pohon bambu di belakang rumah Rongrawe adalah gerbang ke suatu tempat. Marshal juga masih menduga bahwa beberapa waktu lalu Hasan telah tersesat di balik gerbang dua batang pohon bambu itu.
Sebenarnya sudah jelas hubungannya, namun ia masih tidak mau menyimpulkan sebelum semua jelas baginya. Marshal merasa tubuhnya sangat lelah, demikian juga dengan pikirannya. Informasi yang disampaikan Anisa semakin membuat beban pikirannya bertambah. Layaknya memainkan sebuah permainan yang memacu adrenalin, ia hanya akan berhenti jika permainan sudah mencapai batas akhir. Tidak bisa ditawar.
“Tttolooong. Tttolooong.”
Samar marshal mendengar seseorang berteriak meminta tolong, ia segera beranjak dan mencari di mana sumber suara itu.
Marshal menoleh ke kanan dan ke kiri, hingga memutar tubuhnya. Ia tidak melihat ada orang di sana. Dirinya hanya sendirian. Ia pun kembali duduk untuk melanjutkan beristirahat di pohon rindangnya barisan pohon pisang.
"Tttolooong. Tttlooong."
Suara itu kembali terdengar, Marshal lalu kembali berdiri untuk melihat suara siapa yang sedang meminta tolong itu. ia memang tidak melihat siapapun di sana, tapi ia masih mendengar suara yang semakin intens meminta tolong.
Sebelum mendekati suara itu, Marshal memastikan dulu bahwa lokasi di sekitarnya masih berupa barisan pohon pisang, bukan dimensi lain yang menjebaknya dalam kegelisahan.
"Ttolooong. Ttolooong."
Marshal mendengar suara itu berjarak semakin dekat dengan dirinya. Ia semakin menajamkan pendengarannya agar tidak kehilangan jejak.
Langkahnya terhenti ketika ia merasakan tubuhnya telah melewati batas dimensi lain. Auranya sangat berbeda, dingin serta bau anyir semerbak memenuhi dimensi itu.
Aroma yang biasa menguar di sebuah lokasi yang tidak terjamah oleh manusia, lembab dan sunyi. Seperti itulah aura yang dirasakan oleh Marshal. Ia tampak ragu untuk melangkah.
Kejadian dirinya yang dikepung oleh empat perempuan berkebaya masih melekat dalam ingatan, bahkan aroma napas dari perempuan itu masih bisa ia rasakan. Bahkan ia bisa merasakan, nyawa yang selama ini bersemayam di dalam tubuhnya seperti akan terlepas begitu saja.
Marshal berjalan mundur satu langkah, ia yakin bahwa suara minta tolong itu hanya ilusi. Ia tidak ingin terperdaya lagi oleh tipu muslihat bangsa mereka.
"Siapa mereka yang terus saja mengusikku?. Apa mau mereka?," gumam Marshal dalam hati.
"Marshaal. Marshaal."
Spontan Marshal menoleh ke belakang, seseorang telah memanggil namanya.
"Anisa?, kamu datang lagi?," ucap Marshal pelan sambil melangkahkan kakinya mendatangi Anisa.
Marshal merasa ada yang janggal, tapi ia tidak mau mencurigai Anisa dengan rencana yang buruk untuknya. Ia terus melangkah, tapi tetap waspada menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi dan ia akan hadapi itu sendirian.
Tepat di depan Anisa yang berjarak sekitar satu meter darinya, Marshal menghentikan langkahnya guna memastikan bahwa perempuan yang kini berdiri di depannya itu adalah benar-benar Anisa.
Marshal tampak mengamati sosok di depannya. Ia bekerja seperti alat detektor yang akan berbunyi jika terdeteksi sesuatu yang mencurigakan dari sebuah obyek.
Benar saja, Marshal menangkap sesuatu yang terselip di antara rambut sosok di depannya. Ia mengira bahwa itu adalah bagian dari telinga yang berbentuk lancip. Sosok itu melakukan penyamaran yang tidak sempurna.
Kini Marshal mencoba mengikuti permainan sosok makhluk di depannya, mungkin sosok di depannya itu adalah salah satu sosok yang telah mengepungnya di belakang rumah Rongrawe.
"Marshal, kenapa kamu tidak mendekat?," tanya sosok di depannya itu. Ia mencoba mempengaruhi pikiran Marshal.
"Aku sudah mendekat, kenapa bukan kamu yang melangkah maju. Toh kita impas. Sama-sama maju," ucap Marshal menantang.
"Oh rupanya kamu mau bermain-main. Oke aku suka caramu Marshal?," ucap sosok yang masih belum merubah bentuk aslinya.
Perlahan sosok itu melangkahkan kakinya untuk mendekati Marshal. Tatapan matanya yang tajam, serta senyumannya yang menakutkan membuat Marshal semakin yakin bahwa itu bukan Anisa.
Marshal terus berjalan mundur, mundur dan mundur. Ia masih berusaha untuk tetap tenang, tidak memancing emosi sosok yang ada di depannya. Ritme langkah mereka masih bernada rendah.
"Kamu mau apa Anisa?," panggil Marshal yang tetap berpura-pura tidak mengetahui penyamaran perempuan itu.
"Aku?," jawab perempuan itu dengan nada kurang mengenakkan.
berbeda dengan Anisa, jika gadis itu datang ia hanya akan memberi senyuman yang sangat indah di awal pertemuan. Bukan dengan tatapan mata dan senyuman yang mengerikan seperti yang sudah ditunjukkan oleh sosok di depannya itu.
"Iya kamu?," ucap Marshal sambil terus berjalan mundur. Demikian juga dengan perempuan itu, ia terus menyeiramakan langkah Marshal.
"Aku?. Kenapa kamu bertanya tujuanku bertemu denganmu?."
Sosok itu masih tidak mau membuka tabir penyamarannya, ia masih berkelit padahal Marshal sudah mengetahui kedoknya.
"Kan memang harus ada alasan untuk kita bertemu Nis?," ucap Marshal.
Sosok itu terlihat sedang memikirkan sesuatu, mungkin mencari alasan yang masuk akal ketika Marshal dan Anisa bertemu.
"Kita duduk-duduk saja yuk," ajak perempuan itu setelah ia tidak menemukan alasan yang pas.
"Tidak, aku masih banyak urusan."
Marshal menolak dengan tegas ajakan perempuan itu, agar ia bisa segera terbebas dari jerat perempuan yang tidak jelas alasan keberadaannya.
Tanpa mempedulikan perempuan itu, Marshal segera berbalik mengacuhkan kehadirannya. Ia lalu berlari dengan sekuat tenaga, demi terbebas dari perempuan itu.
Sayangnya, perempuan itu mempunyai kecepatan terbang seperti kilat yang menyambar. Lap, langsung menyambar apa yang mampu menarik perhatiannya.
"Hah. Hah. Hah."
Marshal segera berhenti, sebab perempuan itu sudah berdiri tepat di depannya. Situasi yang sama saat ia dikepung oleh empat perempuan, termasuk sosok yang kini berada di depannya.
"Mau lari ke mana kamu?."
Ucap perempuan itu dengan mata berapi-api, ia sudah merubah dirinya menjadi sosok yang menyeramkan. Rambutnya kusut tergerai, ia tetap mengenakan kebaya. Perempuan yang sama. Ya dia adalah perempuan yang telah kehilangan benda berharganya, sebab benda itu kini bersemayam di dalam tubuh Marshal.
"Pergi kamu!, atau aku akan...," usir Marshal dengan mata mulai memerah. Perempuan itu mencekik lehernya, hingga membuat Marshal kesusahan bernapas.
"Aku akan membebaskan kamu, tapi itu setelah kamu memberikan pusaka yang telah kamu ambil?," ucap Perempuan itu. Sorot matanya semakin menyeramkan, sorot mata penuh kemarahan.
"Gak ada benda itu tidak ada bersamaku," ucap Marshal membela diri. Padahal ia sebenarnya tahu benda apa yang sudah dimaksud oleh perempuan itu. Jika ia mengaku, ia sendiri tidak tahu di mana tempatnya, serta tidak tahu cara mengeluarkan benda itu.
lagi-lagi Marshal tidak mau mati konyol di depan perempuan tidak jelas seperti dia, apalagi mati di tengah kebun pisang jasadnya pasti tidak akan bisa ditemukan.
"Aku tahu kamu menyimpan benda itu, cepat serahkan?," ucap perempuan itu dengan intonasi yang mulai meninggi.
"Kamu bisa mencari benda itu di seluruh tubuhku," ucap Marshal menantang.
Tanpa berpikir panjang, gegas perempuan itu menjauhkan jemarinya dari leher Marshal. Ia mulai mengendus-endus seluruh bagian tubuh lelaki yang beraroma sangat wangi. Bau parfum marshal tercium sangat menyengat.
Perempuan itu seperti tidak tahan dengan aroma wangi yang menguar dari tubuh Marshal, sebab ia berkali-kali melihatnya terdiam dengan ekspresi yang tidak jelas.
"Masa iya hantu bisa muntah?," gumam Marshal terkikik di dalam hati.
Telapak tangan perempuan itu tidak bisa mendeteksi suhu lain di dalam tubuh Marshal, sebab ia tidak punya kekuatan itu. Jadilah dirinya mengandalkan indera penciumannya untuk membau aroma lain dari dalam tubuh Marshal. Namun sayang, aroma benda itu bersembunyi di balik aroma wewangian parfum milik Marshal.
Marshal merasakan tenggorokannya bisa bernapas dengan longgar. Keringat dingin bercucuran di balik kaos oblong berwarna merah yang dikenakannya. Ia benar-benar takut, jika perempuan itu akan menemukannya.
"Di mana kamu menyembunyikannya?," ucap perempuan itu sambil langsung menghadang pandangan Marshal.
"Ak..aku tidak tahu," jawab Marshal tergagap. Ia kaget melihat mata menakutkan itu berada tepat di depan matanya.
"Bohong." Perempuan itu tidak percaya begitu saja dengan ucapan Marshal. Ia menjadi sangat marah, sebab merasa tidak menemukan benda yang dicarinya di dalam tubuh Marshal.
Marshal merasa harus melindungi benda itu. Selain tidak tahu bagaimana cara mengeluarkannya dari dalam tubuhnya,, Marshal juga tidak tahu alasan benda itu ada di dalam tubuhnya. Ia juga tidak tahu bagaimana cara kerja benda tersebut. Karena itu, Marshal berusaha untuk tetap diam dan tidak memancing kecurigaan pada perempuan itu.
Warna langit di atas tiba-tiba saja menggelap. Kemudian muncul angin yang sangat kencang, hingga mampu menerbangkan rambut Marshal panjang serta rambut perempuan itu yang sejak tadi sudah tergerai.
Tubuh Marshal terjatuh, perempuan itu telah mendorongnya dengan sangat kuat. Ia melihat perempuan itu menerbangkan tubuhnya hingga tinggi dan tampak seperti memasang kuda-kuda akan menyerang Marshal dengan kekuatannya.
Marshal menyadari itu, gegas ia berdiri lalu berlari tanpa melihat lagi ke belakang. ia hanya bisa melihat cahaya merah yang beberapa kali seperti menghantam benda yang telah ia lewati. Ia terus berlari tanpa melihat keadaan sekitarnya.
"Bug"
Kaki Marshal tersandung batang pohon pisang yang tergeletak begitu saja, tubuhnya jatuh tersungkur. Ia tidak sempat lagi berlari, jarak perempuan itu dengan sangat dekat.
Ia melihat perempuan itu dengan penuh ketakutan. Marshal merasa dirinya sangat lemah di depan perempuan yang kini tampak digdaya dengan tubuh melayang, serta kedua tangan yang dibentangkan. Ia memperhatikan perempuan itu seperti mengumpulkan sebuah kekuatan untuk menyerang dirinya.
Akhirnya Marshal pasrah. Ia tidak memiliki kekuatan gaib yang bisa ia keluarkan dengan satu hentakan tangan yang disertai cahaya putih, Marshal tidak mempunyai itu untuk mengalahkan perempuan yang ada di depannya.
"Hiyaa..." Perempuan itu telah siap menghancurkan tubuh Marshal dengan kekuatannya.
Marshal tidak punya pilihan lain, selain menutupkan kedua lengannya ke wajah ganteng miliknya dengan mata terpejam. Ia tak mampu melihat apa yang terjadi setelah ia bersembunyi di balik gelapnya mata tertutup.
Suasana terasa hening, suara ribut dari perempuan itu tidak lagi terdengar. Perlahan Marshal menurunkan lengannya lalu membuka matanya, ternyata perempuan itu pergi. Ya, perempuan itu sudah pergi setelah terdengar bunyi letusan yang lumayan keras.
Marshal mengedarkan pandangan matanya, ia bukan mencari jejak keberadaan perempuan itu. Ia hanya penasaran siapakah sosok yang telah menolongnya?