Kekuatan Marshal tidak sebanding dengan perempuan yang entah pergi ke mana. Ia tidak bisa menyerang dari jarak jauh seperti yang dilakukan oleh perempuan berkebaya merah itu. Marshal hanya mampu membalas dengan tendangan dan pukulan seperti adegan dalam film action di dalam film.
Ia hanya mampu menggunakan jurus tendangan dan pukulan yang sangat mendasar, bukan dengan jurus profesional yang terlihat keren di dalam layar kaca. Apalah Marshal yang hanya Playboy kampus dengan seribu jurus sakti memikat perempuan.
Marshal akan terlihat konyol, jika ia membalas kekuatan perempuan itu dengan jurus pesilat sabuk putih. Bahkan jika ia adu kekuatan dengan Hasan yang sama-sama tidak bisa jago silat, Marshal pasti kalah. Sebab Hasan sudah terbukti pernah menolong pejalan kaki yang kena jambret. Temannya itu berhasil menumbangkan Si Pelaku.
Hari ini ia merasa sangat beruntung sebab perempuan itu sudah pergi tanpa meninggalkan sisa kekuatan dan tanpa sedikitpun melukai Marshal. Ia masih menduga bahwa perempuan itu telah dikalahkan oleh kekuatan yang berasal dari letusan beberapa menit yang lalu.
Suara letusan terdengar sangat keras hingga menusuk gendang telinga Marshal dan meninggalkan rasa sakit. Tidak mungkin itu suara tembakan, sosok itu tidak akan mati hanya dengan senjata buatan manusia ataupun buatan pabrik. Lalu dari mana suara letusan itu?.
Marshal masih terus mengedarkan matanya, berharap mendapat petunjuk dari sisa jejak suara letusan itu. Nihil, tidak ada jejak apapun di sana. Ia selalu saja tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan yang ia harapkan.
Setelah memastikan tidak ada sesiapa di sana, ia lalu memeriksa kedua tangannya terutama bagian benda asing itu berada. Semua terlihat normal, tidak ada bagian yang terbuka dari kedua tangannya yang ia sinyalir menjadi jalan keluar bagi benda asing itu.Marshal merasa menyesal sebab tidak mengetahui dengan pasti ke mana perempuan itu menghilang dan kenapa perempuan itu menghilang.
Perlahan langit yang sedari tadi gelap itu kembali terang dan terasa terik. Marshal lalu memutuskan untuk pulang, ia mengambil langkah ke jalan sesuai arahan dari Anisa. Tidak ada yang aneh, tidak ada feeling apa pun di hatinya.
“Huft.”
Marshal menghempaskan napasnya dengan sangat keras. Ia berharap dengan sisa waktunya di desa Awu Awe bisa segera memecahkan misteri yang masih menjadi teka-teki baginya. Banyak hal yang belum terungkap. Ia bingung harus memulai semuanya dari mana.
Mbok Ra dan Pak Kades adalah satu-satunya kunci yang bisa membantunya memecahkan semua misteri itu, bahkan mungkin ia juga akan mendapatkan jawaban atas peran dirinya terseret dalam misteri itu.
Marshal bingung bagaimana cara dia memulai pembicaraan dengan dua orang dewasa itu. Haruskah ia jujur tentang apa yang sudah terjadi padanya. Ataukah ia harus memancing tema obrolan dulu terhadap Mbok Ra dan Pak Kades. Apa lebih baik dirinya langsung bertanya pada akar topik pembicaraannya?. Semua itu terasa berat di kepalanya.
Sebenarnya ada sedikit rasa takut ketika mengingat wajah Pak Kades yang tampak tidak suka saat tahu bahwa dirinya melihat isi pot bunga dengan tatapan penuh selidik. Ia takut Pak Kades akan menganggapnya anak ingusan yang tidak tahu apa-apa dan tidak bisa apa-apa.
Marshal memang bukan lelaki super hero, yang bisa mengalahkan semua bentuk kejahatan yang terlihat dan tidak terlihat. Tapi ia punya keyakinan bahwa dirinya mampu membantu memecahkan misteri yang terjadi di desa Awu Awe yang bahkan sebenarnya misteri itu sudah tertulis kuncinya dan bahkan mungkin misteri itu sebenarnya permasalahan keluarga Pak Kades.
Mengingat tentang pot, Marshal jadi teringat dengan arti dari aksara yang tertulis di batang pohon bambu. Ia masih punya PR untuk mengartikan tulisan itu. Ya, dia harus segera pulang dan mengartikan aksara jawa yang tersimpan di dalam galeri ponselnya.
“Srek. Srek.”
Marshal mendengar seseorang sedang menyapu dengan menggunakan sapu lidi. Tapi ia memilih untuk meneruskan langkahnya, sebab jalan raya sudah terlihat jelas di depan mata. Ia tidak mau menunda lagi untuk bisa segera pulang ke rumah Rongrawe.
Ia memilih berjalan tanpa terburu-buru, meski matahari sedang terik. Hujan sangat jarang membasahi bumi desa Awu Awe, padahal Marshal sangat merindukan aroma hujan juga kenangan saat ia kali pertama datang ke desa Awu Awe.
Sambil berjalan, sesekali Marshal membalas sapaan warga yang kebetulan melintas di jalan itu. Wajahnya terlihat sumringah, ia berusaha menikmati hari indah itu sebab ia yakin masa gelapnya akan segera tiba.
***
"Hasan. Apa kamu tidak mencari Marshal?. Ia sudah lama pergi."
Aurelia sebenarnya tidak bertanya tentang Marshal, ia hanya marah pada dirinya sendiri kenapa Ia tidak mengekori lelaki itu sejak pergi meninggalkan rumah Rongrawe.
Tidak peduli semua temannya beranggapan pada dirinya, yang penting ia bisa tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Marshal.
"Tumben kamu khawatir sama dia?," tanya Hasan dengan tatapan penuh curiga.
"Ya, khawatir saja. beberapa hari ke belakang kita sudah mengalami kejadian aneh. Dan aku tidak mau kejadian itu datang lagi dengan gelombang yang lebih parah," terang Aurelia membela diri. Gadis itu berusaha mencari alasan yang tepat dan masuk akal agar semua temannya tidak curiga jika ia sedang mencari sesuatu dalam diri Marshal.
"Aih, kamu benar Aurelia. Aku jadi takut," ucap Amora membenarkan kalimat yang keluar dari mulut Aurelia. Kejadian pada Hasan dan Marshal membuatnya trauma .
"Aurelia, kamu itu ya benar-benar bikin aku geregetan," ujar Hasan dengan sedikit menggigit bibirnya yang bagian bawah.
Kalimat yang keluar dari mulut Hasan mewakili perasaan Hasan yang ingin mencabik-cabik mulut Aurelia. Ia heran melihat sikap Aurelia yang semakin arogan menunjukkan perhatian pada Marshal, padahal sebelumnya gadis itu mati-matian menolak Marshal.
Demikian juga dengan Marshal, semangatnya yang berapi-api untuk mendapatkan hati Aurelia kini tak lagi terlihat, semangat itu mungkin telah padam. Namun Hasan bisa memaklumi itu, sebab pikiran Marshal terbagi dengan cara memecahkan misteri yang terjadi di desa Awu Awe.
"Lo, kan wajar sebagai teman aku merasa khawatir. Aku wakil ketua lo di sini, aku harus mengkhawatirkan anggota yang lain juga," sanggah Aurelia.
Hasan diam, tapi bukan berarti membenarkan kalimat Aurelia. Ia tidak mau tenaganya terbuang sia-sia guna meladeni ocehan Aurelia yang masih tidak berguna menurutnya.
"Sudah, Sudah, Sudah. Hasan apa kamu gak malu berdebat dengan perempuan," ucap Imam. sedari tadi ia yang duduk di pojokan mendengarkan Hasan dan Aurelia rame meributkan soal Marshal.
"Mana ada malu karena debat dengan perempuan. Kita kan sudah terbiasa debat dalam satu forum diskusi di kelas?," gerutu Hasan.
"Iya, sudahlah. Masa kamu gak mau mengalah sama perempuan," nasehat Imam. Ia ingin Hasan menghentikan perdebatan siang itu. Ia juga tidak ingin sepulang KKN dari desa Awu Awe semua temannya tercerai berai, menjadi musuh.
Dari jauh, Hasan melihat Marshal muncul dengan berjalan kaki. Binar bahagia tergambar jelas di wajahnya. Ia sangat bersyukur, temannya bisa kembali pulang dengan selamat.
"Marshal," teriak Hasan dan Imam. keduanya lalu berlari dengan membuka lebar kedua tangannya, tangan itu saling bertumpukan memeluk Marshal yang terlihat Heran.
Terang saja Marshal heran, ia bak tentara yang pulang dari medan perang. Disambut dengan bahagia dalam pelukan yang melegakan dan penuh haru.
"Kalian kenapa?," tanya Marshal yang masih dalam dekapan Imam dan Hasan.
"Kamu itu yang seharusnya menjawab pertanyaan kami," protes Imam.
Marshal menautkan kedua alisnya, menggambarkan ekspresi yang tidak ia mengerti dari kalimat Imam. Pertanyaan tentang apa yang harus ia jawab.
"Aku?," tanya Marshal heran.
"Iya kamu. Tadi buru-buru pergi ke mana?," tanya Hasan. Kali ini ganti ia yabg berbicara sambil berjalan dan tetap mengalungkan tangannya di pundak Marshal.
"Oh aku tadi mau pinjem buku ini ke rumah satu satu siswa," jelas Marshal. ia menunjukkan buku berjudul Pepak Bahasa Jawa kepada Hasan dan Imam.
Beruntung tadi ia terpikir untuk mendatangi rumah salah satu murid yang terletak tidak jauh dari sekolahan, dan meminjam buku dalam genggamannya yang ia anggap bisa membantunya membaca tulisan yang ada di pohon bambu.
"Heh untuk apa itu?," tanya Imam penasaran. Ia tahu bahwa dalam agenda kegiatan mereka, tidak tercantum acara yang berkaitan dengan pelajaran bahasa jawa.
"Ini untuk melatih kemampuan anak-anak dalam pelajaran bahasa jawa," kilah Marshal. Ia berharap Imam tak lagi memberinya pertanyaan semakin detail soal buku itu. Sebab untuk saat ini, ia hanya ingin fokus mengartikan aksara jawa itu.
Marshal mencoba memberi kode pada Hasan, bahwa buku itu yang akan membantunya memecahkan misteri tulisan yang berada di pohon bambu. Sekaligus ia meminta tolong pada Hasan untuk mengalihkan perhatian Imam, sebab ia sedang ingin sendirian.
Setelah masuk ke dalam rumah, Marshal mengobrak abrik isi tasnya, mencari kertas dan bolpoin lalu fokus mencari jawaban dari tulisan aksara jawa yang ada di dalam ponselnya.
Marshal mencari tempat duduk di dekat jendela, agar tubuhnya yang terasa gerah itu bisa menikmati sentuhan angin dari kaca jendela yang terbuka.
Tidak terpikir oleh Marshal, bahwa apa yang ia lakukan sekarang akan membuat temannya curiga. Apalagi ia terkenal malas, tentu saja akan menimbulkan keanehan jika tetiba saja dirinya berkutat serius dengan buku.
Marshal terlihat kesulitan, ia tidak menguasai mata pelajaran itu dengan baik. Menyamakan bentuk hurufnya saja mungkin terasa mudah, namun kepala Marshal terasa mumet membaca tanda-tanda yang menghiasi aksara dasar dari aksara jawa tersebut.
Ia tidak putus asa, Marshal terus mencari dan mencari sampai bisa terbaca semua, tidak peduli dengan waktu yang terbuang banyak demi mendapatkan arti kata itu. Andai ada sedikit signal di sana, mungkin ia bisa sedikit terbantu dengan informasi dari mesin pencarian bernama gugel.
Marshal merasa lelah, Ia tertidur di atas lembar kertas yang berserakan. Ia tak lagi sempat membereskan itu agar tidak kepergok teman-temannya dan menimbulkan kecurigaan di benak semua temannya.
"Hentikan," ucap Hasan pada Aurelia.