Gerimis Enam
Marshal pingsan, tubuhnya terhuyung menimpa tubuh Imam. Teman yang asli, yang memanggil namanya sambil berteriak dan berlari dalam remang demi menyambutnya yang lama tak kunjung sampai di desa itu.
Namun naas, Marshal terlanjur pingsan lebih dulu sebelum sempat membalas sapaan hangat dari Imam. Ia tidak tahu tubuhnya sudah diangkat oleh beberapa warga menuju rumah mes mahasiswa hingga menimbulkan keramaian, memecah kesunyian desa itu.
Udara menjadi semakin dingin, kala warna malam menjadi kian pekat. Tepat di jam satu dini hari, Marshal terbangun. Kepalanya terasa berat, tubuhnya begitu lelah dan juga perutnya terasa begitu lapar.
Ia berusaha berdiri, namun ruangan yang menjadi tempatnya tidur itu seolah berputar hingga membuat tubuhnya kembali terhuyung dan jatuh ke lantai. Dengan perlahan Marshal menyeret tubuhnya menepi ke arah dinding yang ada di belakangnya, lalu menyandarkan diri di sana.
Sejenak Marshal memejamkan matanya, lalu membukanya kembali dan menyisir seluruh isi ruang tamu yang sudah beralih fungsi sebagai tempat tidur mereka. Satu persatu ia mengabsen teman satu kelompoknya, semua lengkap kecuali Hasan. Sementara Imam, Moreno dan Nakula semua sedang terlelap dalam balutan selimut tebal.
Beberapa kali Marshal menghempaskan napasnya dengan kasar, bayangan seorang ibu hadir dalam harapan panjangnya. Saat lelah seperti sekarang, tidur di atas pangkuan ibu dalam belaian penuh kasih sayang adalah hal yang paling ingin ia lakukan.
Marshal sadar betul, ia tidak mungkin memanggil ibunya untuk datang ke Desa Awu Awe hanya sekedar menenangkan dirinya, menghilangkan lelahnya. Alasan pertamanya, jarak yang cukup jauh. Alasan yang kedua, harga diri yang tinggi.
Lelaki yang terkenal tangguh di kampus, yang suka mempermainkan perasaan perempuan itu ternyata tak ubahnya anak sekolah taman kanak-kanak yang tidak bisa lepas dari Sang Bunda.
Tidak ada yang salah dengan sikap manja Marshal pada ibunya, itu hal yang wajar bahkan sangat baik. Hubungan yang hangat antara seorang ibu dan anak memang seharusnya demikian. Yang menjadi belenggu bagi Marshal adalah dia seorang Play Boy.
Marshal kembali menyisir seluruh isi ruang tamu, mencari sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perutnya. Netranya berhenti di sudut ruangan, terfokus pada kresek putih bertuliskan nama salah satu minimarket yang menjamur di seluruh pelosok negeri.
Dari luar, terbaca nama merk roti yang enak rasanya. Perlahan Marshal mengkoordinasi tubuhnya untuk mendekati sumber tujuannya. Benar saja, ada beberapa roti dari varian rasa. Dari yang kecil sampai yang besar.
Marshal tidak perduli itu milik siapa, yang penting ia makan dulu demi perut yang sudah keoncongan dan akan bilang esok hari, serta berjanji akan menggantinya di kemudian hari.
Dengan sangat hati-hati Marshal membuka kresek itu, agar tidak menimbulkan suara berlebih yang bisa membuat temannya bangun.
"Sedang apa kau?."
Tetiba saja terdengar suara perempuan memecah kesunyian, Marshal terhentak hingga membuat dirinya mengurungkan niat untuk memakan sebungkus roti yang sudah berada di pelupuk mata. Roti coklat yang mengenyangkan dan akan membuat dirinya kembali terjaga dalam tidur panjang, namun Yoharapan itu sirna bersama irama jantung yang berdetak tak senada.
Sesuatu yang hangat mendarat dipundaknya, Marshal tak serta merta menoleh ke belakang, ia tidak mau gegabah. Dengan sikap yang tenang, ia memberanikan diri menuntun kelima jarinya untuk menangkap basah sesuatu itu.
Dadanya didera rasa cemas dan was was, ia masih trauma dengan kejadian ganjil beberapa waktu lalu yang menyebabkan dirinya tak sadarkan diri. Marshal masih tetap bersikap tenang ketika memastikan bahwa sesuatu itu nyata, bukan halusinasi.
Sebentuk benda yang sama dengan jarinya, membuat aliran darah di dalam tubuhnya mulai menghangat meski ia belum sepenuhnya yakin bahwa jemari itu bukan milik mereka yang tak kasatmata, setidaknya ia masih bisa merasakan hangat dari jemari itu. Bukan suhu tubuh yang sangat dingin seperti pemilik tubuh yang sudah dijemput oleh izroil.
"Kamu lapar?," celetuk suara yang berada di balik punggung Marshal.
Tubuh Marshal seketika melemah, ia jatuhkan tubuh yang sudah tanpa tenaga itu ke lantai guna menetralisir seluruh debaran di jantungnya. Menyingkronkan kerja otak dan ototnya agar kembali normal.
"Marshal."
Perempuan itu kembali memanggil namanya, kali ini Marshal seratus persen yakin bahwa pemilik suara itu adalah Aurelia. Gadis incaran yang siap ia tumbalkan untuk gelar Play Boy nya.
Perlahan Marshal mengangkat kepalanya, menajamkan matanya menatap wajah Aurelia yang masih membungkukkan badan demi bisa meraih bahunya.
"Perutku laper, jadi maaf kalau ternyata roti yang akan aku makan ini punya kamu. Tapi beneran, aku gak berniat nyuri. Aku pinjem dulu, besok aku akan ganti."
Marshal berusaha menjelaskan keadaan dirinya yang memang sedang dalam keadaan genting dengan perut yang terus berbunyi.
"Makan saja. Gak usah diganti. Tadi aku sengaja membeli buat mengganjal teman-teman," terang Aurelia.
"Baguslah kalau begitu."
Sebelum memakannya, Marshal lebih dulu mengikat rambut yang menghalangi pandangan matanya untuk melihat wajah Aurelia. Suatu kebetulan yang pas, malam yang dingin itu dimanfaatkan oleh Marshal untuk menciptakan quality time bersama gadis yang masih bersikap dingin padanya. Ia ingin menjadi api yang mampu mencairkan kebekuan sebuah balok es.
"Kamu belum tidur?." Kalimat pertama yang diucapkan Marshal sebagai senjata untuk melancarkan aksinya.
Aurelia hanya menggelengkan kepala, ia memang sedikit berbicara kecuali pada waktu tertentu yang memang mengharuskan dirinya bersuara.
"Kok diam?," tanya Marshal menelisik.
"Gak papa. Fokus makan saja."
Kalimat tanggapan dari Aurelia, berhasil membuat Marshal Si Play Boy manja itu penasaran dengan gadis yang kini duduk di sampingnya dan menemani dirinya makan dalam ruang sunyi nan dingin.
"Oke," jawab Marshal.
"Gadis ini sungguh berbeda. Ia manis, tak secantik gadis-gadis yang sudah aku kencani. Ia dingin, tak seganjen gadis-gadis yang selama ini aku kenal. Sepertinya ia juga gadis yang mandiri. Fine, aku penasaran sama dia," gumam Marshal dalam hati.
Beberapa kali lelaki gondrong itu menoleh ke arah Aurelia sambil tersenyum, ia merasa bangga dengan dirinya sendiri karena sudah memilih gadis yang tepat untuk tempat dia bergelayut manja. Besar harapan yang ingin ia capai dalam misi Play Boy nya adalah ada seseorang yang memperhatikan dirinya dan mengurus segala kebutuhannya, seperti yang dilakukan Sang Mama ketika di rumah.
Marshal mengubah posisi duduknya, yakni menghadap lurus ke Aurelia yang sedang menyandarkan tubuhnya ke dinding yang sangat dingin, demikian juga yang dirasakan oleh Marshal.
"Rencana untuk besok apa?," tanya Marshal tanpa berhenti mengunyah.
"Pertama kita harus memperkenalkan diri dulu kepada masyarakat, menyebutkan tujuan kita, dan yang terpenting menyampaikan pada warga kalau kita ingin menjalin silaturrahmi dengan mereka," terang Aurelia.
"Untuk program kerja kita?," tanya Marshal lagi.
"Itu juga akan menjadi pembahasan kita besok,"
"Ooo."
Marshal tak banyak memberi tanggapan pada kalimat penjelas yang keluar dari mulut Aurelia. Roti di tangannya habis, ia mencari kresek bekas yang akan dialih fungsikan sebagai sampah.
"Ini. Kamu cari ini kan?." Aurelia menyodorkan kresek bekas yang sudah berisi beberapa sampah bungkus makanan.
"Kamu tahu aja. Makasih ya," ucap Marshal yang dengan gerak reflek meletakkan tangannya di atas kepala Aurelia, memberi sedikit usapan. Senjata kedua sudah diluncurkan.
Ekspresi wajah Aurelia sangat datar, ia tidak memberi respon apapun pada jurus andalan Marshal yang mampu membuat baper gadis manapun yang dekat dengan lelaki berkulit putih itu.
"Kamu tadi dari mana saja, kok lama sampai sini?," pertanyaan tak terduga tetiba keluar dari bibir Aurelia.
Marshal tidak langsung menjawab pertanyaan itu, ia memikirkan jawaban yang pas. Kejadian sore tadi tak perlu ada yang tahu, cukup Hasan saja. Ia pun berharap, Hasan tidak bercerita ke semua teman satu tim KKN-nya.
"Oh iya, aku belum melihat Hasan." Marshal mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ditanya eh malah balik bertanya. Maka jawabanku atas pertanyaanmu adalah bukankah Hasan ada bersama kamu?."
Kalimat Aurelia seolah menampar keras hatinya, membuat ritme jantungnya kembali berdetak tak seirama. Dalam ingatannya, Hasan berlari jauh menembus kegelapan. Dalam prasangkanya, Hasan sudah berkumpul dengan teman yang lain. Kalau ternyata hingga saat ia mendapat pertanyaan tentang keberadaan temannya itu, pribadi yang disebut itu tidak ada lalu ke mana sebenarnya Hasan pergi.
Marshal hanya diam dan tidak memberi jawaban. Sebab ia tidak tahu harus memberi jawaban apa, dan jelas esok akan ada pertanyaan yang sama mengenai Hasan. Ia memutuskan untuk kembali ke tempat tidurnya, mengacuhkan Aurelia yang mungkin masih penasaran dengan perubahan sikapnya.