Marshal merebahkan tubuhnya di samping Imam, membalut tubuhnya dengan selimut tipis hingga tubuh itu meringkuk dengan gemetaran.
"Marshal."
Suara Aurelia kembali terdengar memanggil namanya. Ia khawatir dengan setelah melihat gelagat Marshal yang tetiba saja berubah seperti ketakutan.
"Kamu tidur saja, besok masih banyak pekerjaan," balas Marshal dari balik selimut.
Ya, dia menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam selimut. Menyembunyikan kegelisahannya di sana, menjadi dirinya sendiri, tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain di balik topeng bernama Play Boy
Malam semakin pekat, alunan alam kian sunyi, menepikan kehidupan dalam mimpi panjang yang melenakan. Sebagian orang sudah terbuai mimpi, sedang yang lain masih terjaga sebab satu atau dua urusan. Marshal pun demikian, ia tak kunjung terpejam dalam dengkuran penuh kenikmatan.
Pikiran Marshal masih terpusat pada Hasan, mencari keberadaannya dalam ruang dan waktu. Sejak dirinya dan Hasan berteduh di gubuk tua itu, mereka tidak berhenti mendapat teror dari makhluk astral.
Marshal masih mengira bahwa teror itu datang dari halusinasinya sendiri, bukan benar-benar datang dari makhluk tak kasat mata. Sebab itulah dia masih bisa bersikap tenang ketika Hasan sangat ketakutan mengalami semua teror itu, sekaligus tidak mau membuat temannya itu khawatir.
Sampai pada saat Marshal mengetahui ada dua sosok Imam dengan wajah yang sama, yang datang dalam waktu hampir bersamaan. Tapi kedua datang dengan sikap yang berbeda, mulai detik itulah ia sadar bahwa semua teror itu nyata.
Kini, ia terkurung dalam penyesalan karena membiarkan Hasan lari tunggang langgang setelah melihat Imam (palsu). Marshal tidak mengejarnya, namun justru tertawa bersama teman asli tapi palsu itu.
Lama ia bergumul dengan rasa khawatir yang mengendap di dalam hati dan pikirannya, hingga akhirnya ia terlelap tanpa tahu di mana letak arah jarum jam berada.
*****
Pagi masih buta, gigilnya menusuk hingga ke tulang. Nyaring suara adzan terdengar begitu jauh, hingga nyaris tidak terdengar oleh telinga-telinga yang masih terlelap. Beruntung hidup di zaman yang sudah canggih, hanya butuh suara alarm dari benda pipih berlayar sentuh sudah cukup membuat mereka terbangun tepat waktu.
Sebagian dari teman Marshal sudah bangun guna menunaikan dua rakaat fajar, sebagai bentuk kewajiban mereka tercipta sebagai makhluk Tuhan yang beragama muslim.
"Marshal, bangun. Sholat Shubuh dulu," panggil Imam.
Marshal tak lantas bangun, meski Imam sudah menggoyang tubuh yang berbalut selimut itu dengan keras.
"Hmm. Bentar lagi," ucap Marshal dengan enggan.
"Eh keburu siang. Nanti rejekinya dipatok ayam," ujar Imam lagi.
"Aku gak punya ayam. Ribet amat hubungan ayam sama tidur," gerutu Marshal.
Berkali-kali Imam memanggilnya, membuat berisik di gelingah Marshal. Akhirnya dengan langkah terseok, Marshal merasa enggan untuk mengambil air wudhu ke kamar mandi. Matanya masih ingin terpejam sebentar lagi. Sebab baru dua jam yang lalu, ia merasai tidur yang begitu nyenyak dalam kondisi yang begitu nyaman senyaman tidur di pangkuan ibunya.
Langkah Marshal terhenti tepat di depan kamar mandi yang menurut dia tidak layak pakai, sudah terbayang dalam pikirannya bagaimana rupa di balik kelambu yang menjadi pemisah antara ruang sebelumnya dengan kamar mandi itu. Dari bak kamar mandi, tempat buang hajat, serta bentuk ubin kamar mandi yang sudah pasti jauh dari kata bersih.
Apalah daya dirinya, ia tetap harus ke kamar mandi meski keadaan kamar mandi itu tidak sama dengan kamar mandi yang ada di rumahnya.
Perlahan ia membuka selambu bermotif bunga yang sudah lapuk dan berubah warna itu, dan terdapat banyak bercak hitam di hampir seluruh bagian selambu serta mengeluarkan bau yang tidak sedap.
Sungguh di luar dugaan, kamar mandi itu justru seperti kamar mandi di rumahnya. Bersih dan harum, dinding dan lantainya berlapis keramik dengan warna senada, demikian juga dengan water closednya yang masih mulus dan bersih. Kamar mandi itu seperti baru saja diperbaruhi oleh si pemilik rumah.
Seketika rasa kantuk yang semula menghampiri Marshal hilang, dan membuat lelaki itu bersemangat meski airnya begitu dingin. Sekalian saja ia mengguyur tubuhnya, dari ujung rambut hingga ujung kuku jari kelingking kakinya.
Selesai bebersih diri, gegas Marshal berganti baju. Lalu terdengar seseorang memanggil namanya di saat sedang menutupkan selembar sarung ke tubuhnya.
"Marshaaal."
Suara itu terdengar sangat pelan. Ia menajamkan pendengarannya, untuk memastikan siapa pemilik suara itu. Lama ia menanti suara itu kembali memanggil namanya, namun tak kunjung terdengar. Marshal pun memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. "Ah, mungkin hanya halusinansiku saja," gumamnya dalam hati.
Ia pun melanjutkan keperluannya di kamar mandi lalu keluar dan menuju ruang depan.
"Marshaal. Marshaal. Marshaal."
Marshal kembali mendengar namanya disebut oleh seseorang, Ia pun kembali menajamkan pendengarannya dan juga memfokuskan matanya guna mencari sumber suara yang terus memanggil itu.
Tepat di sudut dapur yang gelap, samar matanya melihat sesuatu yang meringkuk di balik gentong yang belum ia ketahui fungsi keberadaan barang itu di sana. Langkahnya semakin dekat dengan sumber suara, Marshal semakin memperjelas prasangkanya dengan kedua mata.
Benar saja, ia melihat punggung seseorang di sana. Namun punggung siapa itu, masih menjadi misteri. Marshal meyakinkan dirinya untuk tetap tenang agar bisa lebih dekat dengan sosok yang terus memanggil namanya itu. Hingga jarak dirinya dengan sosok itu hanya tersisa satu jengkal, tetiba saja tubuh itu menoleh dan membuat Marshal melakukan gerak reflek dengan berlari sambil menjerit.
"Toloooong."
Marshal tidak perlu mengambil langkah terlalu jauh untuk sampai di ruang depan, namun langkah itu berhasil membuat napasnya tersengal. Semua mata tertuju padanya, demikian juga dengan ketiga teman perempuan yang langsung berhamburan keluar kamar demi melihat keributan yang sedang terjadi. Padahal langit shubuh masih berwarna gelap.
"Hai, kau kenapa Shal," tanya Imam
"An an anu. Di sana," ucap lelaki itu dengan menunjuk ke arah dapur.
Marshal tidak bisa meneruskan kalimatnya, tenggorokannya tercekat. Ia tak mampu menjelaskan apa yang sudah terjadi dengan dirinya.
"Ini minum dulu."
Aurelia menawarkan segelas air mineral yang sudah lebih dulu ia buka plastik perekatnya agar Marshal lebih muda untuk meminum isinya, lelaki itu segera meraih dan menenggaknya hingga tidak tersisa.
"Sudah tenang?," tanya Aurelia.
Marshal hanya mengangguk. Keadaannya sudah lebih tenang hingga ia mampu bercerita apa yang sebenarnya sudah terjadi di dapur, hanya bercerita tentang kejadian yang ia alami saat di dapur. Ia belum ingin bercerita tentang apa yang dialaminya bersama Hasan kemarin.
Sesuai dugaan Marshal, ekspresi wajah semua temannya berubah. Wajah-wajah penuh kekhawatiran, entah takut atau dilema antara ingin pulang karena resah dengan keadaan atau tetap tinggal di desa itu.
"Hai, kalian. Are you oke?," tanya Marshal sambil melihat satu persatu ekspresi wajah dari temannya itu.
"Kamu serius?," tanya Imam mencari pembenaran.
"Iya, aku serius," jawab Marshal sambil mengelap sisa air di mulutnya.
"Kalau begitu, ayo kita lihat bersama-sama," ajak Aurelia.
"Iya benar," sahut yang lainnya.
Dengan penuh keraguan, mereka melangkahkan kaki menuju dapur guna membuktikan kebenaran cerita Marshal. Sampai di dpaur ternyata sosok itu masih meringkuk di balik gentong, ia menghadap ke tembok yang sudah tak lagi terlihat adonan semen yang menutupi tumpukan bata merah, apalagi warna catnya.
Kali ini Marshal berani baju, yang tadi ia hanya kaget. Perlahan ia memegang pundak dari pemilik sosok yang masih menjadi misteri itu. Semilir hangat bisa ia rasakan dari tubuh yang masih menghadap ke tembok dan terus menggigil itu.
"Permisi, kamu siapa?," tanya Marshal.
Sosok itu segera menghambur ke pelukan Marshal, memeluknya dengan erat tanpa memberi kesempatan pada Marshal untuk melihat wajah dirinya.
"Hasan?," celetuk Aurelia.
Mendengar gadis itu memanggil nama Hasan yang sempat dikira hilang, gegas Marshal melepas pelukannya guna memastikan bahwa sosok itu adalah Hasan.
Marshal menajamkan penglihatannya, memeriksa satu persatu seluruh bagian wajah dari sosok yang ada di depannya. Ternyata benar, pemilik wajah itu adalah Hasan. Seketika tubuhnya lemas, ia merasa lega sebab tidak lagi resah memikirkan keberadaan Hasan yang tidak jelas.
Bersama temannya, Marshal memapah Hasan ke ruang depan. Ia pun memutuskan untuk tidak bertanya apa yang sudah terjadi pada Hasan.
Di tengah pintu, Marshal menghentikan langkahnya. Ia menoleh sebentar ke belakang, untuk memastikan bahwa bayangan hitam yang berdiri di samping Hasan dalam kegelapan itu bukanlah sosok mengerikan dari mereka yang tak kasat mata.