Shintike POV
Aku tidak tahu sedang berada di mana saat ini. Suasana di tempat ini sangat suram dan kalau diperhatikan lagi, ternyata tempat ini adalah kuburan. Aku tidak mengerti, kenapa aku bisa berada di tempat seperti ini. Langsung saja, aku mencari jalan keluar dari makam ini. Tapi, seseorang datang. Atensiku teralihkan padanya. Dia sepertinya sedang ingin mengunjungi makam seseorang di sini. Entah kenapa, kakiku melangkah mengikutinya diam- diam. Saat dia sampai di salah satu makam, dia lagsung berlutut dan meratapi makam itu.
Aku menyipitkan mataku melihat ratapannya yang begitu sedih dengan makam itu. Mungkin saja, itu adalah seorang yang penting buatnya. Setelah itu, aku berbalik untuk kembali mencari jalan keluar dari sini. Herannya, makam ini sangat sepi dan tak ada pengunjungnya. Ya, kalau ramai namanya pasar. Makam memang selalu sepi.
“Ke! Aku menyesali segalanya! Maafkan aku!” ujar pria itu dengan nada penuh penyesalan.
Sontak aku berbalik karena merasa namaku dipanggil. ‘Keke’ adalah panggilanku sejak kecil. Aku pun melihat siapa yang menangis itu. Seketika, mataku terbelalak melihat pria itu! Dia adalah Asmo Deus! Pria yang selalu mencari alasan untuk mendekatiku. Aku tak mengerti, kenapa dia harus memanggil namaku di depan makam ini. Perlahan, kutolehkan kepalaku ke arah nisan makam itu.
‘Rest In Peace’
Shintike Theresia
‘Apa ini?’ Aku membatin terkejut. Aku tidak mungkin meninggal! Langsung saja, aku menghampiri pria yang adalah Asmo itu untuk meminta penjelasan perihal makam ini. Aku berusaha menyentuhnya, tapi tak bisa! Tanganku menembus tubuhnya.
‘Kenapa tidak bisa? Ada apa ini sebenarnya?’ Aku merasa bingung dengan yang terjadi di sini. Apa mungkin… aku benar- benar sudah mati? Tidak! Aku belum mati!
End Of Shintike POV
Normal POV
“Tidak! Aku belum mati! Asmo! Jelaskan semua ini!” ingau seorang gadis dalam tidurnya.
Dia terlihat sangat gelisah, bahkan sampai keringat dingin. Sang kakak yang tidur di kasur sebelahnya pun terbangun dan melihat adiknya yang sangat gelisah dalam tidurnya. Langsung saja, dia turun dari ranjang dan menghampiri sang adik. Dia meraih bahu adiknya dan menepuk- nepuknya pelan. Tentu saja, dia ingin menyadarkan sang adik yang kemungkinan sedang bermimpi buruk.
“Ke? Kamu baik- baik saja kah?” Glasya mencoba untuk membangunkan Keke. Dia melakukannya sampai sang adik membuka matanya perlahan. Saat membuka mata, Keke melihat kehadiran yang kakak dan sontak memeluknya erat.
Entah kenapa, dia merasa ketakutan setengah mati sampai menangis. Mimpinya terasa begitu nyata dan dia merasa sangat sedih melihat makamnya sendiri. Mana ada juga orang yang mau memimpikan kematiannya. Saat terbangun, Keke merasa lega karena pada kenyataan dirinya masih hidup. Dia masih bisa memegang dan memeluk kakak perempuannya. Glasya membalas pelukan adiknya sambil menepuk punggung adiknya untuk menenangkannya.
“Kamu mimpi apa, hm?” tanya Glasya dengan nada lembut.
Tentu saja, dia ingin tahu apa yang dimimpikan oleh adiknya sampai gelisah begini. Keke melepas pelukannya sambil menatap Glasya. Tatapannya berkaca- kaca karena saking terbawa perasaan oleh mimpi itu. Glasya langsung mengangkat tangannya dan menghapus air mata di pipi sang adik. Dia adalah seorang kakak yang menyayangi adiknya. Walau sikapnya agak kekanakan, dia tetap sangat menyayangi adik perempuan satu- satunya ini.
“Aku melihat makamku sendiri,” ujar Keke mulai bercerita. Mendengar itu, Glasya membelalak terkejut. Dia merasa, mimpi Keke memang sangat buruk sampai melihat makamnya sendiri.
“Lalu, ada seorang pria yang datang dan meratapi diriku,” lanjut Keke lagi.
“Siapa pria itu? Apa kamu mengenalnya?” tanya Glasya lagi ingin tahu. Keke menatap sang kakak sambil mengangguk kecil. “Dia adalah Asmo Deus, teman dari pacar kakak itu,” jawabnya membuat Glasya semakin terkejut.
Dia tak mengerti alasan kenapa Keke sampai pria itu hadir dalam mimpi adiknya. Malah di mimpi buruk lagi! Glasya langsung menyimpulkan, kalau kehadiran Asmo dalam kehidupan Keke memiliki pertanda yang sangat buruk. Langsung saja, Glasya memegangi kedua sisi bahu Keke. Dia menatap adiknya dengan sangat serius.
“Ini pasti pertanda buruk! Kamu harus menjauhi Asmo Deus! Jangan beri dia kesempatan untuk mendekatimu,” saran Glasya kepada adiknya. Tentu saja, dia tak mau terjadi apapun pada adik kesayanganya itu. Memang, pria bernama Asmo itu sangat berbahaya menurut keduanya.
“Tanpa kakak minta pun, aku memang harus menjauhi pria seperti dia,” balas Keke mengiyakan perkataan sang kakak. Keke memang sama sekali tak berniat dekat dengan Asmo. Dia tak mau memikirkan orang itu, tapi sialnya akhir- akhir ini mereka selalu bertemu sampai masuk ke dalam mimpi Keke. Gadis itu pun menghela napasnya dan mencoba berpikir lebih realistis soal impinya.
‘Mimpi hanya bunga tidur! Jangan pikirkan, Ke!’ batinnya berusaha menenangkan dirinya.
***
Universitas Nasional
Asmo baru saja tiba di kampusnya. Seperti biasa, dia ke kampus hanya untuk bertemu dengan temannya dan bersikap santai soal kelulusannya. Karena sudah menebak soal apa yang terjadi kedepannya, dia merasa tak perlu terlalu sibuk dengan tugas- tugas menjelang kelulusannya. Tak lama, seorang wanita menghampiri dirinya. Tanpa ragu, dia langsung menggandeng tangan Asmo dan bersandar di bahunya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Asmo dengan nada kesal kepada wanita itu.
“Aku sudah dengar, kamu putus dengan Tarra. Kau pasti sedang menargetkan gadis lain ya? Apa ini karena Tarra sudah bukan seorang perawan lagi, hm?” Perempuan itu bertindak selayaknya seorang wartawan yang sangat ingin tahu soal kehidupan pribadi Asmo.
“Ada apa denganmu, Seere? Kau tidak perlu mencampuri urusanku,” ujar Asmo sambil melepas paksa gandengan Seere. Mendengar cara bicara Asmo yang menjadi kasar kepadanya, tentu saja membuat Seere bertanya- tanya. Biasanya, pria itu akan menjadi ‘partnernya’ setelah putus dari pacar- pacarnya. Singkatnya, tempat pelarian selama belum punya status yang jelas. Tapi, Seere sama sekali tidak masalah dengan itu. Karena dia menyukai Asmo dan ingin membuat pria itu menyadari perasaannya.
Seere rela melakukan apa saja, bahkan memiliki hubungan tanpa nama dengan pria itu. Memang, di masa depan dia tak ingin terikat dengan siapapun, itu karena dia selalu menunggu Asmo. Entah apa yang dipikirannya, tapi dia ingin terus bersama pria brengseek tidak tau diri itu. Merasa tak diacuhkan, Seere menyusuli Asmo dan meraih tangan pria itu lagi.
“Ada apa denganmu? Kenapa jadi dingin begini?” tanya Seere bertubi- tubi.
“Seere, aku tidak mau punya hubungan apa- apa denganmu lagi! Jadi, jangan dekati aku lagi!” Asmo memperingatkan sambil melepas tangannya dari Seere. Dia melanjutkan langkahnya menuju kelas meninggalkan Seere yang heran. Dia sama sekali tak menduga Asmo sanggup melakukan ini padanya setelah apa yang dia berikan kepada pria itu. Seere mengepalkan tangannya untuk menahan emosinya.
“Kau tidak boleh membuangku begitu saja!” gumamnya sebagai tekad untuk mendapatkan pria itu.
“Hai, Mond? Tumben telat? Jemput pacarmu?” sapa Asmo ketika sahabatnya itu baru datang ke kelas mereka. Raymond mengambil tempat duduknya lalu membalas ucapan Asmo,” Kenapa? Ada yang salah? Dulu, kau menjemput pacarmu, aku tidak ada mau tahu tuh.”
Raymond ternyata sama sekali tak ingin memberi tahu apa- apa kepada sahabatnya itu. Dia masih merasa kesal soal semalam. Ya, ketika Asmo sama sekali tidak mau memberi penjelasan padanya soal Glasya dan adiknya. Harusnya, Asmo terbuka saja kepadanya soal apapun. Sama seperti dia yang sama sekali tak meyimpan rahasia kepada sahabatnya itu.
“Kenapa jadi ngeselin gini, sih? Aku penasaran dong, bagaimana hubunganmu dengan Glasya.” Asmo mencoba untuk mebujuk Raymond. Dia sebenarnya tak peka soal alasan Raymond tiba- tiba bersikap acuh tak acuh padanya. Dia bahkan tak menganggap dirinya yang lari tanpa penjelasan semalam adalah alasan kekesalan sahabatnya.
“Kau tidak perlu tahu! Kau bahkan tidak mengatakan apapun semalam! Asmo, asal tahu saja, aku tidak akan menjadi temanmu lagi sampai aku mendapat penjelasan soal bagaimana dan apa hubunganmu dengan Glasya dan adiknya. Sudah berulang kali Glasya menegaskan kalau dia sama sekali tak mengenalmu sebelum ini. Jadi, kenapa kau bisa mengenal mereka?” tuntut Raymond sekali lagi.
Asmo sama sekali tak mengira hal ini akan menjadi masalahnya dengan Raymond. Tapi tetap saja, dia agak sulit menjelaskan segalanya kepada Raymond. Dia tidak punya bukti dan tak mau dianggap gila. Kalau dipikir juga, Glasya dan Keke pasti tidak merasa nyaman karena dirinya selama ini. Apalagi, sikap Asmo yang terlihat sok akrab dengan mereka saat pertemuan pertama.
“Aku punya alasan sendiri! Kalau aku sudah mengerti semuanya dengan jelas, aku pasti akan memberi tahumu! Kau sudah seperti saudaraku, Mond.” Asmo malah memberikan jawaban demikian. Raymond tak mengerti apa yang belum jelas. Tapi, dia tahu kalau Asmo pasti akan menjelaskan semuanya sesuai dengan janjinya.
***
“Asmo belum juga menjelaskannya? Apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh sahabatmu itu, sih?” kesal Glasya saat pacarnya Raymond memberi tau apa jawaban Asmo ketika mendapatkan pertanyaan yang sama. Tidak ada penjelasan sama sekali.
“Dia pasti akan menjelaskannya suatu hari nanti,” ujar Raymond menenangkan Glasya yang masih dilanda rasa penasaran.
“Tetap saja, dia sangat berbahaya! Dia bukan pria yang baik dan aku tidak mau adikku terjebak dengan orang itu. Aku akan menghalanginya, kalau sampai dia terus mendekati Shintike,” balas Glasya dengan tegas.
“Ya, lakukan saja apa yang menurutmu cocok. Lagian, tidak ada kakak yang mau adiknya terjebak dengan pria seperti Asmo. Walau sahabatnya, aku tak bisa membelanya soal yang satu ini,” ucap Raymond menyetujui perkataan Glasya. Kalau sampai adik dari Glasya bermasalah dengan Asmo, mau tak mau semuanya akan berimbas pada hubungan mereka yag baru saja dimulai.
Walau awalnya agak aneh, tapi hubungan Glasya dan Raymond bisa terbilang cukup harmonis. Ya, walaupun masih berjalan satu hari sebenarnya. Tapi, perasaan keduanya langsung terhubung begitu saja. Mereka berdua langsung merasakan kenyamanan yang satu dengan yang lain, tanpa merasa ego seperti pada awalnya. Namanya juga jodoh!
Keduanya pun memasuki mobil untuk pulang bersama. Tepatnya, Raymond yang mengantarkan kekasihnya pulang terlebih dahulu. Sebelum masuk, seorang wanita menahan tangan Raymond dan menatapnya kesal seakan meminta penjelasan akan suatu hal. Glasya melihat perempuan itu dari dalam mobil. Tentu, dia merasa penasaran apa urusan perempuan itu dengan pacarnya.
“Apa yang terjadi dengan Asmo?” tanya perempuan itu yang tak lain adalah Seere. Dia bertanya demikian kepada Raymond, karena tahu pria itu adalah sahabat karibnya Asmo.
“Memangnya dia kenapa?” Raymond balas bertanya sambil melepaskan pegangan Seere padanya. Jujur, dia tidak menyukai Seere yang terkenal sebagai perempuan paling gampangan di kampus ini. Oh, dia sudah mendengar cerita dari Asmo dan teman prianya yang lain soal wanita yang satu ini.
“Dia menjauhiku! Apa dia punya pacar baru? Secantik apa?” jelasnya lagi sambil mengintrogasi Raymond seakan yang melakukan semuanya adalah pria di hadapannya ini.
“Aku tidak tahu! Setahuku, dia pacaran sama Tarra. Itu pun, dia ingin memutuskannya. Lagian, kau tahu sendiri dia itu bagaimana. Dia tak mau terikat dengan perempuan mana pun dan merasa perempuan yang sudah dia dapatkan dengan mudah sebagai keset kaki yang diinjak- injaknya!” jelas Raymond panjang lebar kepada Seere. Mendengar itu, Seere terdiam dan tidak berkutik lagi. Raymond langsung saja memasuki mobilnya untuk mengantarkan pacarnya. Sungguh, dia tidak mau berurusan dengan Seere atau para wanitanya Asmo.
“Dia itu salah satu wanitanya Asmo ya?” tanya Glasya kepada Raymond karena mendengar pembicaraan mereka barusan.
“Ya, tapi gitulah! Mereka selalu ditinggalkan begitu saja oleh temanku yang tidak tahu diri itu. Terkadang, aku juga dikejar mereka untuk dimintai penjelasan seperti tadi.” Raymond memberi jawaban kepada pacarnya itu.
“Dia itu memang sangat brengssek ya? Apa dia pikir, perempuan itu hanyalah barang yang bisa dia pakai sesukanya? Kenapa kamu bisa sampai berteman dengan orang seperti itu? Dia pasti akan memberi pengaruh buruk padamu,” uja Glasya membuat Raymond tertegun. Pria itu langsung menginjak remnya mendadak. Sontak saja, Glasya terkejut dengan apa yang dilakukan pacarnya itu. Raymond langsung menatap Glasya dengan dingin dan tegas.
“Dia sahabatku! Aku tahu, dia memang sangat buruk! Tapi, menilai orang lain dari satu sisi bukanlah hal bena menurutku. Walau kamu adalah pacarku, kamu tidak berhak mengatur dengan siapa aku harus berteman,” tegas Raymond membuat Glasya terbungkam. Jujur, dia kesal saat mendengar perkataan Raymond yang terkesan membela Asmo. Tapi kalau dipikir lagi, memang seharusnya dia tidak mencampuri urusan persahabatan mereka. Akhirnya, mereka hanya terbungkam sampai ke rumah Glasya.
Pusat Penelitian Nasional
Kini, Asmo sedang berada di sebuah tempat yang isinya adalah orang pintar. Ia ingin menemui seseorang yang dia harap bisa menjawab semua pertanyaan yang ada di kepalanya. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya tejadi. Mungkin saja, paa ahli Sains seperti salah satu temannya bisa memberikan penjelasan dan jawaban yang mungkin masuk akal dan diterima oleh nalar.
“Aku yakin, Brandon bisa membantuku mencari tahu semua ini,” gumam Asmo sambil memasuki gedung yang adalah laboratorium pusat penelitian itu.