‘Mereka itu pasangan sakit jiwa ya?’ batin Asmo sama sekali tak menyangka kalau cara jadian sahabatnya dengan Glasya sangat tak biasa. Masih segar di ingatannya, kalau saat itu, Raymond membuat makan malam super romantis untuk menyatakan cintanya kepada Glasya. Sahabatnya itu meminta saran darinya waktu itu. Tapi yang terjadi sekarang malah sebaliknya dan terkesan sama sekali tak waras.
“Wait? Kalian beneran jadian dengan cara yang begini?” Asmo menengahi mereka. Dia ingin memastikan kadar kewarasan kedua insan ini masih di tempatnya.
“Memangnya ada apa?” tanya Raymond merasa Asmo terlalu ikut campur dengan urusan pribadinya.
Asmo memilih menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Raymond. Dia tak mungkin mengatakan kalau harusnya begini dan begitu. Semuanya sudah berubah semenjak dia kembali ke masa lalu. Ya, salah dia juga sih! Karena sempat spoiler kepada Raymond terlebih dahulu. Dan kini, Glasya terus memerhatikan gerak- gerik dari Asmo. Dia seketika teringat soal cerita adiknya kalau semalam Asmo menghampirinya sepulang sekolah. Langsung saja, dia memberi tatapan garang kepada teman dari pria yang abru saja jadian dengannya.
“Asmo! Aku peringatkan sekali lagi! Jangan coba- coba mendekati Keke! Kenapa kamu kelihatannya sangat mengincar adikku, huh? Kau berada dalam pengawasanku, pria b******k!” ucap Glasya memperingatkan dengan sangat tegas.
Raymond yang ada di situ mengernyit bingung. Dia tak mengerti maksud Glasya berkata demikian kepada Asmo. Ada sesuatu hal yang belum diketahuinya soal sahabatnya itu dan juga mengenai Asmo yang ingin mendekati adiknya Glasya. Biasanya, Asmo akan selalu memberi tahu dirinya mengenai siapa saja wanitanya selama ini. Sungguh, Asmo memang agak aneh belakangan ini.
“Asmo, kau mendekati adiknya Glasya? Memangnya, sejak kapan kamu mengenal Glasya dan adiknya? Kenapa kau sama sekali tak bercerita padaku?” tanya Raymond bertubi- tubi meminta penjelasan kepada sahabatnya itu.
“Aku…” Asmo merasa kebingungan memberi jawaban.
“Aku bahkan tak pernah bertegur sapa denganmu sebelumnya! Kamu kemarin langsung main peluk ke adikku saja! Apa kau memata- matai kami?!” tanya Glasya juga penuh tuntutan.
Keduanya meminta penjelasan yang sejelas- jelasnya mengenai semua ini. Asmo kini meneguk ludahnya sendiri karena bingung mau bicara apa. Kalau dia cerita yang sesungguhnya, itu terlalu beresiko. Tapi, kalau dia diam mereka akan semakin menuntut. Asmo juga tidak tahu harus membuat alasan seperti apa untuk menjelaskan kepada mereka. Semua ini benar- benar membuat Asmo merasa kalut sendiri. Perlahan, dia memudurkan langkahnya dan berlari dengan kencang.
“Asmo!” panggil Raymond dan Glasya secara bersamaan. Mereka berdua tak habis pikir, kalau Asmo malah akan kabur tanpa penjelasan kepada mereka.
“Aku akan meminta penjelasan lagi padanya besok!” tekad Raymond masih tak mau melepas Asmo begitu saja.
“Kalau dia terus menguntit adikku, maka aku juga takkan melepasnya!” ujar Glasya pula ingin berhati- hati terhadap Asmo.
“Eumm… mau saya antarkan pulang?” Raymond memulai pembicaraan dengan Glasya dengan tawaran untuk mengantarkan gadis itu ke rumahnya. Mendengar itu, Glasya berdebar dan pipinya memerah. Dia tak bisa menolak, walau sempat kesal sebelumnya dengan Raymond. Istilahnya, malu- malu tapi mau. Perlahan, gadis itu mengangguk kecil sebagai jawaban. Raymond yang mendapat anggukan itu langsung tersenyum penuh kemenangan. Walau dia kesal sama Glasya, tapi hatinya gak bisa berbohong. Dia memang ada hati kepada gadis itu.
Di sebuah taman
Seoang gadis duduk sambil memandangi sekitar. Senyuman terukir di wajah cantiknya karena memerhatikan pemandangan yang menyejukkan mata dan hatinya. Dia berpikir untuk sedikit refreshing sebelum pulang ke rumahnya. Duduk sendirian di taman memang kesuakaannya. Dia adalah gadis yang suka menyendiri dan merasa damai kala sendirian. Rasanya semua beban diringankan saat dia menarik napasnya dalam- dalam. Tapi, senyumannya seketika memudar kala mengingat seseorang.
‘Sebenarnya, apa yang dipikirkan oleh orang itu?’ batin gadis yang tak lain adalah Keke.
Walau dia merasa Asmo sama sekali tak ada pengaruh dalam kehidupannya, tapi setiap pertemuan mereka membuat Keke merasa tak nyaman. Entah kenapa, pria itu selalu memberikan tatapan hangat kepadanya seakan mereka sudah saling mengenal sebelumya. Jujur saja, dia sangat risih dengan cara pria itu mendekatinya. Terlebih lagi, dengan julukannya sebagai seorang playboy, otomatis membuatnya mundur sejauh mungkin.
Gadis itu pun menarik napasnya dalam- dalam sambil membuka tas sekolahnya. Dia mengambil sebuah buku catatan kecil atau diari. Dia memang suka menulis diari yang akan menjadi tempat curhat pribadinya. Dia hanya akan menuliskan sesuatu yang tidak mungkin dia sampaikan kepada orang lain, termasuk Glasya kakak perempuannya. Gadis itu mengambip penanya dan mulai menggoreskan tintanya di halaman kosong diarinya itu. Dia mencurahkan perasaan dan kebingungannya mengenai semua yang terjadi belakangan ini.
Di sisi lain, ada seseorang yang terus memandangi gadis berseragam SMA itu. Pria itu menyunggingkan senyumannya sambil menatap Keke dari jauh. Entah kenapa, setelah kabur dari temannya, dia merasa ingin datang ke sini. Dan yang benar saja, takdir lagi- lagi mempertemukannya dengan Keke. Asmo langsung saja berjalan menghampiri Keke dan tak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang dia dapatkan. Perlahan, pria itu duduk di sebelah Keke tanpa diketahui oleh empunya. Gadis itu terlalu asik dengan diarinya.
‘Dia ternyata suka menulis diari sejak SMA ya? Aku ingat, dia juga sangat menyukai taman,’ batin Asmo terus tersenyum dan memandangi Keke. Tak lama, gadis itu mendongak dan terkejut!
Bagaimana tidak? Asmo tiba- tiba berada di sebelahnya dan menatapnya dengan senyuman yang begitu hangat. Bukannya terbawa perasaan, dia hanya heran dan tak mengerti apa maksud Asmo kepadanya. Otomatis, gadis itu langsung menutup diarinya dan menyimpannya di dalam tas. Dengan buru- buru, dia berdiri dan ingin segera pergi menjauh dari Asmo. Tapi, pria itu langsung menahan tangannya.
“Apa kamu tidak punya waktu untuk berbincang sebentar dengan saya?” tanyanya dengan nada yag sedemikian lembut dan sopan.
“Maaf, saya harus pulang!” balas Keke berusaha melepas tangan Asmo yang menahannya. Pria itu tidak menahan tangan gadis itu dengan kuat dan tentu saja langsung terlepas dengan cepat. Dia memang sama sekali tak berniat menghalangi Keke atau mencoba menjelaskan maksudnya.
Dia sadar, Keke pasti saat ini sedang sangat mencurigainya. Apalagi, Glasya sudah sangat terang- terangan menjelekkan dirinya di depan Keke. Gadis itu pasti sangat berhati- hati kepadanya. Mana ada gadis yang mau saja langsung didekati oleh sembarang pria yang baru dikenalnya. Walau memang, tidak ada yang menyangkal ketampanan Asmo, tapi Keke bukanlah gadis seperti itu. Dia adalah gadis baik- baik dan sangat sederhana. Asmo tahu itu dan hal demikianlah yang membuatnya semakin jatuh cinta kepada Keke.
Langkah gadis itu semaki jauh dan dia sama sekali tak menoleh ke belakang setidaknya untuk memastikan Asmo. Pria itu hanya tersenyum miris tapi tetap memerhatikan kepergian Keke. Lagi- lagi, dia terdiam! Melihat Keke yang tadi menulis diari, membuatnya jadi teringat akan isi diari dari Keke. Ya, diari yang ditulisnya setelah mereka menikah. Dia membaca buku itu setelah kematian Keke dan merasa tersayat- sayat. Setiap goresan pena yang terus melekat di ingatannya, walau dia baru membacanya sekali.
Dear diary, 20XX
Dia melakukannya lagi! Dan kali ini, dia sengaja menunjukkan perselingkuhannya di depan mataku. Tak bisakah dia menjaga perasaanku sedikit saja? Apa dia sama sekali tidak menghargai diriku sebagai istrinya?
Sudah setahun aku menahan semua luka ini. Apa dia sama sekali tak menghargaiku? Sampai kapan dia akan terus memperlakukanku begini?
Hanya di taman ini, aku bisa menuangkan seluruh kegundahanku. Melihat bunga- bunga yang bermekaran dan kupu- kupu indah yang berterbangan, setidaknya menghiburku dari masalah yang merundungku.
Asmo, suamiku! Aku masih ingin bertahan! Aku adalah perempuan yang kuat, dan aku akan memastikan kalau cintaku akan menang. Karena aku percaya, setiap orang berhak bahagia. Termasuk aku dan dirimu.
~ Shintike
Tanpa sadar, Asmo meneteskan air matanya mengingat salah satu halaman diari yang dituliskan oleh Keke. Dia kini bisa membayangkan bagaimana Keke menuliskan semuanya dan dengan ekspresi bagaimana dia menuangkan seluruh perasaannya. Asmo yakin, selama pernikahan mereka, Keke sama sekali tak pernah mengadu atau menceritakan masalahnya kepada keluarganya. Kalau dia melakukan itu, pasti sudah bonyok dia dihabisi oleh Raymond dan Glasya. Hanya sekali dia mengungkapkan semua kesedihannya. Itu pun di saat mereka akan bercerai.
“Ke, aku akan membahagiakanmu! Aku akan memperbaiki segalanya dan membuatmu percaya akan keseriusan cintaku!” tekad Asmo. Ya, setiap hari dia terus bertekad demikian. Dia yakin, kesempatan ini memang sengaja diberikan padanya untuk mengubah segala kesalahannya.
Dia tahu, tidak mudah untuk memulai segalanya dari awal. Sifat Keke sangat tertutup membuatnya sulit menjangkau gadis itu. Tapi sulit bukan berarti tidak bisa. Apa yang tidak mungkin? Asmo saja mendapat kesempatan untuk mengulangi segalanya dari awal. Itu artinya, kemungkinan dirinya untuk mendapatkan Keke pasti sangat besar. Dia punya peluang untuk itu! Setiap ada kemauan dan keseriusan, pasti ada jalannya!
“Mungkin besok atau nanti! Aku akan terus berjuang!” gumam Asmo lagi sambil berdiri dari duduknya. Dia kemudian memilih untuk pulang. Dia akan menunggu hari esok dan menghadapinya lagi.
***
“Adikku baru pulang?” sambut Glasya yang sudah pulang setengah jam yang lalu, tentu dia agak heran. Keke harusnya pulang lebih dulu darinya. Tapi, adiknya itu malah lebih lama walau hanya setengah jam sebenarnya.
“Aku ke taman sebentar. Hanya ingin melihat pemandangan. Kakak kan tahu, kalau di dekat sekolah ada taman yang indah,” jawab Keke seadanya. Mendengar itu, Glasya mengangguk mengerti. Dia kemudian berjalan mendekati adiknya. Glasya langsung menyunggingkan senyumannya tanda dia sedang sangat senang hari ini. Keke bisa membaca raut wajah kakaknya dan yakin kalau kakaknya akan segera menceritakan sesuatu.
“Kamu tahu? Kakak baru saja jadian!” ujar Glasya dengan nada sangat senang.
“Jadian? Dengan siapa?” tanya Keke bingung. Yang dia tahu, kakaknya baru kemarin cerita soal seorang pria dan merasa terlalu cepat kalau mereka jadiannya sekarang.
“Raymond!” jawab Glasya dengan nada senang dan tatapan yang berbinar- binar.
Mendengar itu, Keke malah mengernyit bingung. Jujur, dia tak mengerti dengan apa isi kepala kakak perempuannya itu. Baru kenal beberapa hari dan jadian, itu adalah seuatu hal yang sangat tak logis dari sudut pandang Shintike. Menurutnya, untuk menjalin sebuah hubungan itu harus dilandasi dengan pengenalan yang baik antar satu sama lain. Dan pengenalan yang baik tidak terjadi dalam beberapa hari.
“Kakak serius? Kakak sudah memikirkan ini sebelumnya? Kalian bahkan baru kenal?” tanya Keke bertubi- tubi mencoba membuka pikiran kakaknya.
“Sebenarnya, dia mengajakku pacaran supaya memaafkan kesalahanku yang sudah berlaku lancang padanya. Aku bukan terpaksa! Justru senang! Menurutku, dia berbeda dengan temannya yang bernama Asmo itu,” jelas Glasya merasa kalau keputusannya benar. Keke hanya bisa geleng- geleng kepala sebagai balasan. Terlebih lagi, dia mendengar nama Asmo. Dia langsung kembali kesal dan kepikiran. Entah kenapa, akhir- akhir ini pria itu seakan terus berada di sekitarnya. Jujur, dia sama sekali tidak nyaman.
“Kakak tidak pernah berpikir panjang! Tapi, jangan sampai kakak menyesal dengan keputusan kakak.” Keke sedikit mengingatkan kakaknya. Memang, kedua bersaudari ini sifatnya terbalik. Keke malah jauh lebih dewasa dibandingkan dengan Glasya yang agak kekanakan. Tapi mau bagaimana lagi, tetap saja Glasya yang lahir lebih dulu dari pada Keke.
“Jangan khawatir! Kakak itu bisa menjaga diri kok!” Glasya berujar dengan penuh kepercayaan diri. Mendengar itu, Keke hanya bisa menghela napanya. Dia sudah tahu, kakaknya pasti merasa terlalu percaya diri lagi dan lagi. Tapi biar sajalah!
‘Nanti juga sadar sendiri kalau sudah kena batunya,’ batin Keke sambil menggidikkan bahunya.
“Terserah kakak! Aku mau ke kamar, ganti baju, makan siang dan istirahat.” Keke langsung naik ke kamarnya meninggalkan Glasya. Ya, hari akan terus berjalan untuk melanjutkan kisah cinta mereka yang entah bagaimana akhirnya.