“Ada apa sebenarnya dengan temanmu itu? Kenapa rasanya, dia selalu menguntit adikku? Semalam, dia bahkan mengantar pulang adikku yang sedang tidak sadar,” keluh Glasya kepada pacarnya, Raymond.
“Adikmu kenapa bisa tidak sadar? Apa pelakunya Asmo?” tanya Raymond lagi pada pacarnya itu. Walau kemarin mereka sempat bersitegang karena masalah Asmo, setidaknya Raymond harus mendengarkan keluhan pacarnya ini. Akan sangat berbahaya, kalau sahabatnya itu sampai melakukan hal buruk kepada adiknya Glasya. Selain memengaruhi hubungan mereka, dia tak ingin Asmo lagi- lagi menyakiti perempuan lagi. Ujung- ujungnya dia juga yang dikejar, cuma karena sahabat dekatnya Asmo Deus.
“Tidak! Keke bilang, kalau tiba- tiba kepalanya sakit dan dia kehilangan keseimbangan. Setelah itu, dia tak sadar apa yang terjadi. So, Asmo yang kebetulan ada di situ menolongnya,” jelas Glasya dengan jujur kepada pacarnya itu.
Walau tak suka dengan Asmo, dia sama sekali tak mau mengatakan sesuatu yang tidak benar. Apalagi terpikir untuk melaga Raymond dan Asmo. Dia sudah melihat dengan jelas, kalau Raymond tak suka kalau sahabatnya dijelek- jelekkan. Jadi, Glasya sangat menjaga hal itu. Dia melakukan ini, karena dia memang tak ingin kehilangan Raymond. Hubungan mereka memang baru beberapa hari, tapi dia merasa terikat dengan pria ini. Dia berusaha menjaga dan bersikap sebaik mungkin demi hubungan mereka.
Memang sangat lucu kalau diingat. Pertemuan pertama mereka yang menggairah.kan di sebuah bar dan berakhir dengan sedikit perselisihan karena sikapnya yang terlalu bar- bar. Tanpa Glasya duga, ternyata Raymond meminta dirinya menjadi kekasihnya. Tanpa pikir panjang, gadis itu menerimanya karena sedemikian mencintai pria ini. Begitu pula sebaliknya dengan Raymond. Dia kesal akan sikap Glasya yang sesuka hatinya. Tapi hatinya tak bisa berbohong. Dan memang, memilih untuk menjadikan Glasya kekasihnya sama sekali tak membuatnya menyesal. Lagian, hubungan mereka barulah beberapa hari. Belum terlihat tantangan yang sebenarnya sih.
“Harusnya kamu bersyukur, Asmo mau menolong adikmu. Kalau orang lain, mungkin saja akan terjadi sesuatu yang buruk. Glasya, kamu tenang saja ya! Aku akan memastikan kalau temanku itu takkan melakukan hal buruk kepada adikmu! Ini janjiku!” Raymond meyakinkan kekasihnya itu. Mendengar itu. Glasya tersenyum sambil bersandar di d**a bidang Raymond. Dia langsung yakin ketika pacarnya itu berjanji.
***
“Raymond! Aku ingin bicara empat mata denganmu!” panggil Asmo kepada sahabatnya itu. Untunglah, meeka bisa berjumpa setelah kelas selesai. Asmo ingin menjelaskan semua yang tejadi kepada sahabatnya itu. Dia tak ingin terjadi ketegangan dalam persahabatan mereka.
“Oh! Ada apa?” tanya Raymond sok cuek. Padahal, dia agak sedikit lega karena Asmo sudah mau buka suara. Dia yakin, kalau temannya ini akan berkata jujur soal apa yang sudah terjadi selama ini.
“Ini mengenai bagaimana aku mengenal Glasya dan Shintike. Eum… gak enak kalau kita bicara di sini. Kita ke café depan kampus saja,” ajak Asmo memang kelihatan sangat serius. Raymond hanya mengangguk sambil jalan berdampingan dengan sahabatnya itu. Ternyata, tak perlu berlama- lama untuk menunggu Asmo berkata jujur kepadanya.
Sesampainya di café, mereka langsung duduk sekaligus memesan makan siang mereka. Asmo berulang kali menghela napasnya sambil menatap Raymond dengan serius. Tak lama, dia meraih tangan sahabatnya itu sambil menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Raymond mengernyit tak mengerti apa maksud dari Asmo berlaku aneh seperti ini. Orang- orang di sekitar bahkan diam- diam melirik mereka, karena merasa ada yang aneh di antara kedua pria itu.
“Kumohon, percayalah padaku! Berjanjilah untuk tidak mengatai aku sakit jiwa!” ujar Asmo masih menggenggam tangan Raymond dan menatapnya serius.
“Ya jelaskan aja dulu! Lepasin ih! Aku geli, tau!” balas Raymond sambil menarik tangannya dari Asmo. Dia agak geli disentuh- sentuh oleh laki- laki.
“Lebay amat! Kita udah sering tidur bareng di atas ranjang yang sama! Aku juga normal, dasar sial!” kesal Asmo karena sahabatnya itu berpikiran aneh hanya karena masalah pegang- pegangan.
“Ish! Gak usah diingatin. Lanjutkan penjelasanmu!” suruh Raymond merasa malas membahas soal hal itu. Lagian, Asmo bicaranya keras- keras sampai didengar oleh orang- orang di sekitar mereka.
“Baiklah. Kau pernah melihat cermin, bukan? Yang terjadi padaku tepat seperti itu. Sebelumnya, aku berusia sekitar dua puluh tujuh tahun. Tapi, karena sebuah kejadian, aku seakan terlempar ke dunia lain di mana aku berusia dua puluh satu tahun,” jelas Asmo membuat sahabatnya menatap tak percaya. Dia sama sekali tak mengerti maksud dari Asmo.
“Maksudmu, kau kembali ke masa lalu?” tanya Raymond mencoba mengerti. Menurutnya, bahasa yang digunakan oleh Asmo sangat berbelit dan tak ilmiah. Kalau pun pakai bahasa ilmiah, Raymond juga tidaka kan terlalu mengerti.
“Menurut penjelasan Brandon, aku seperti ke dunia lain. Dia menyebutnya sebagai dunia paralel,” jawab Asmo barulah diangguki oleh sahabatnya itu. Dia memang pernah mendengar soal teori yang masih diteliti oleh para ahli itu. Rumor soal dunia paralel memang sudah banyak beredar.
“Dunia paralel ya? Aku mengerti sedikit soal teori itu. Berarti, kau yang saat ini adalah dirimu yang berusia dua puluh tujuh tahun itu? Berarti, setiap orang memiliki cerminannya sendiri? Sebenarnya tak masuk akal. Tapi, apa hubungan penjelasan ini dengan dirimu yang mengenal Glasya dan Shintike?” Raymond kembali bertanya.
Dia sama sekali tak paham alasan Asmo menghubungkan kedua hal yang menurutnya sama sekali tak bersinggungan. Jujur, dia merasa kalau temannya ini mulai agak gila. Tapi, dia memilih diam karena sudah berjanji kepada Asmo. Dia takkan mengatai temannya itu sampai dia semua penjelasan bisa dihubungkan satu sama lain. Sebagai teman yang baik, dia akan mendengarkan dan mencoba percaya asalkan hal itu masuk di akal.
“Di dunia cermin itu, aku sudah menikah dengan adiknya Glasya. Aku menyakitinya dengan terus berselingkuh, bahkan sampai dia meninggal karena dibunuh. Aku menyesal dan bersumpah akan berubah jika ada kesempatan. Tiba- tiba, aku tak sadar lalu terbangun di dunia yang sekarang ini,” jelas Asmo dengan sejujur- jujurnya.
“Karena menyesal, kau sampai terlempar ke dunia lain, begitu? Masa ada yang begitu? Apa kau tak merasa tengah mimpi panjang setelah party kemarin. Mungkin, kepalamu tebentur entah di mana sampai delusi, gitu?” balas Raymond merasa hal ini sama sekali tak masuk akal.
Sebagai penganut teori realistis, hal seperti itu tak mungkin terjadi. Tapi, apa yang tak mungkin bagi Yang di atas? Mungkin saja, hal ini terjadi untuk memperbaiki sesuatu yang sangat disesali seseorang. Setiap orang berhak untuk kesempatan kedua, makanya itu, ada sebuah cermin di mana kehidupan seseorang tergambar lagi. Di saat seseorang menyadari semua kesalahannya, dia punya satu kesempatan lagi untuk mengubahnya dan melakukan yang terbaik. Melakukan hal yang belum smpat dilakukannya dan hidup tanpa penyesalan.
“Apa bisa, seseorang delusi sampai mengenal orang lain dengan baik? Bahkan seharusnya, aku belum mengenal Keke saat ini. Dan kau tahu satu hal? Kau akan menikah dengan Glasya!” ujar Asmo sambil memberi tahu apa yang dia ketahui di masa itu. Mendengar itu, Raymond agak sedikit terkejut sambil membuang mukanya. Dia agak malu gimana gitu ketika mendengar kalau dia menikah dengan Glasya.
“Harusnya waktu itu kalian sudah berhasil making lo.ve tapi, karena aku yang terlalu bodoh mengatakan semuanya padamu, alhasil kau masih perjaka!” lanjut Asmo lagi membuat Raymond semakin tak percaya.
Kalau dipikir lagi, penjelasan Asmo memang berdasar. Apalagi, saat temannya itu mengatakan hal yang akan terjadi club beberapa waktu silam. Dia tidak yakin bisa katuh cinta kepada seseorang dengan mudah. Tapi, saat melihat Glasya, Rayond tak mau berhenti menatap gadis itu. Bahkan, dia berniat untuk membawa gadis itu ke ranjangnya. Kalau bukan karena teringat ramalan abal- abal temannya itu, semuanya sudah mengalir seperti air.
Pria itu mencoba mengubah dan tidak melakukan hal yang persis seperti perkataan Asmo. Tapi, hatinya tak bisa berbohong! Perasaannya langsung terikat dengan Glasya di hari itu. Pastilah, hal ini ada hubungannya dengan penjelasan Asmo dengan dunia cermin atau paralel yang dimaksudkan oleh Asmo. Apalagi katanya mereka sudah menikah di masa itu.
“Jujur, aku tidak yakin. Tapi tenang saja, aku tidak mengataimu gila! Mana mau, aku berteman dengan orang gila. Eh, tapi kau itu gila perempuan sih!” Raymond akhirnya percaya, walau dia tak mau mengakuinya. Yang penting saat ini adalah kejujuran sahabatnya itu. Dia mengerti, kenapa Asmo agak sulit memberi penjelasan padanya. Memang tak masuk akal, tapi apa mau dikata, Asmo kelihatan sangat yakin dengan semua perkataannya. Asmo bukan orang pandai mengarang bebas suatu hal.
“Hei! Aku tidak akan gila perempuan lagi, dasar sial! Aku akan benar- benar tobat!” Asmo menatap sahabatnya itu dengan sangat serius.
“Really? Ini alasannya kau mengabaikan Seere beberapa hari yang lalu? Dia sampai menanyai apa yang terjadi padamu kepadaku. Ternyata, kau ingin mengejar adiknya Glasya untuk menebus kesalahanmu ya? Pantesan!” Raymond kini mengangguk- angguk saja. Ya, bagus juga kalau temannya itu mau berubah ke jalan yang lebih baik dan lebih waras.
“Ja.lang sial itu mendatangimu? Aku tak ingin melihat wajahnya sama sekali! Jadi, aku harap kau bisa menjaga rahasia ini dari Glasya! Aku tak ingin dia mengataiku sebagai orang gila! Apalagi Keke. Dia akan semakin menjauhiku setelah mendengar soal ini,” pinta Asmo kepada Raymond supaya pembicaraan hari ini tak pelu sampai terdengar oleh kedua perempuan itu.
“Baiklah! Sebagai teman baik, aku akan merahasiakan hal ini. Tak buruk juga, kalau aku menikah dengan Glasya. Aku semakin yakin untuk memajukan hubungan kami,” kata Raymond mengiyakan permintaan sahabatnya itu. Dia juga agak senang gimana gitu ketika dibilang akan menikah dengan Glasya. Secara, Glasya itu cantik dan sangat laur biasa perawakannya. Belum lagi, perempuan itu yang terlihat sangat mencintai dirinya dan tak mau kehilangan dirinya.
***
“Kenapa aku tidak bisa fokus belajar? Sebentar lagi ujian akhir!” keluh Keke saat dia tak bisa fokus dengan pelajarannya.
Pikirannya terus berputar saat kejadian semalam. Saat dia ke air mancur dekat taman dan melihat sebuah hal yang cukup mengerikan menurutnya. Dia melihat bayang- bayang dirinya yang ditikam dengan pisau oleh orang jahat. Langsung saja, dia menghubungkan bayang- bayang itu dengan mimpinya. Mimpi saat dia melihat makamnya sendiri. Memikirkan hal seperti ini, lagi- lagi membuat Keke keringat dingin. Dia jadi ngeri sendiri membayangkan hal seperti itu terjadi padanya. Tapi, sebuah hal terbesit di pikirannya.
‘Aku mengalami hal ini setelah bertemu dengan orang itu. Mimpi dan bayang- bayang itu datang sendiri setelah aku bertemu dengannya, Asmo Deus Pranata. Tapi… apa hubungannya?’ pikir Keke saling menghubungkan semua hal yang terjadi belakangan ini.
Dia merasa, kalau kehidupannya selama ini normal saja. Delapan belas tahun dia hidup, tak pernah sekali pun dia memimpikan melihat makamnya sendiri. Ditambah lagi, dalam mimpi itu dia melihat Asmo yang sedang menangisinya. Dia semakin yakin, kalau semua ini terjadi karena kehadiran Asmo dalam hidupnya.
‘Baru saja aku mengenalnya, dia sudah memberikan mimpi buruk kepadaku! Cih! Aku harus benar- benar menghindari orang itu! Aku tidak boleh dekat dengannya, atau hal buruk akan terjadi padaku!’ batin Keke sebagai tekad.
Memang, tidak salah kalau dia menyimpulkan demikian. Yang tejadi di mimpinya adalah hal yang terjadi pada dirinya yang sudah tiada di dunia cermin. Walau hal tersebut belum terjadi padanya di sini, melihat semua itu pasti membuatnya ngeri sendiri. Perasaan dirinya sekarang sangat terikat dengan bayang- bayang dirinya yang merasakan hal- hal yang menyakitkan dan menyiksa. Tidak ada yang mau merasakan sakit untuk kedua kalinya. Jadi, jika ada kesempatan, Keke akan menghindari segala hal yang membuatnya sakit hati. Dia juga berhak untuk menentukan jalan hidupnya dan berbahagia. Sungguh sangat berbalik dengan Asmo Deus.