‘TING- TONG!’
Seorang pria menekan bel rumah seseorang. Dia memastikan penampilannya sambil membawa sebuket bunga mawar yang sangat indah. Sepertinya, dia ingin memberi hadiah kepada seseorang. Pria itu sudah memasang ekspresi terbaik saat gadis itu yang membukakan pintu kepadanya. Perjuangannya untuk mendapatkan kembali istrinya, belahan jiwanya sudah dimulai. Ya, di sinilah Asmo Deus Pranata berdiri. Tepat di depan pintu rumah Shintike Theresia. Sebelumnya, dia sudah dapat izin dari satpam yang menjaga dip agar tadi.
“Siapa kamu?” Seorang pria paruh baya keluar sambil memberikan tatapan heran kepada sosok pria yang menekan bel rumahnya. Asmo terbelalak karena tak menduga kalau papa dari Keke lah yang membukakan pintu buatnya.
“Tu- tuan Mahendra, sa- saya Asmo Deus Pranata. Tujuan kedatangan saya adalah untuk memberikan ini kepada Keke, eh maksudnya Shintike Theresia putri anda.” Asmo memperkenalkan dirinya sembari menjelaskan maksud tujuannya kepada Tuan Mahendra yang adalah orang tua dari Glasya dan Keke.
Pria paruh baya itu berulang kali memerhatikan Asmo dari atas ke bawah. Tatapan begitu intens dan sangat penuh selidik. Tentu saja, dia heran ada pria yang datang ke rumahnya dengan keberanian luar biasa membawa sebuket mawar untuk putri bungsunya. Dia kenal nama Pranata, itu adalah nama keluarga konglomerat di kota ini. Hanya saja, dia tak mengira kalau salah satu dari mereka ternyata mengenal putrinya. Malah, mengenal dirinya dan bicara seakan sudah akrab dengannya.
“Saya bahkan tak mengenalmu! Jangan bicara seakan kita akrab!” balas Tuan Mahendra dengan nada tak acuh. Dia merasa harus berhati- hati dengan orang asing di hadapannya ini. Apalagi, pria itu mengincar putri bungsunya yang masih SMA. Dia merasa ada yang tak beres.
“Ah, maafkan saya! Memang, sebelumnya kita tak pernah bertemu. Oleh karenanya saya memperkenalkan diri,” ujar Asmo berusaha mencairkan suasana.
Ini sangat di luar dugaannya. Dia tak menyangka, pria paruh baya yang seharusnya menjadi mertuanya akan menjadi pembuka pintu. Dia ingat, kalau Tuan Mahendra lah yang terus membujuknya untuk menikahi salah satu putrinya. Sikap pria itu baik padanya. Tapi sekarang berbeda. Karena ini di saat dan mungkin juga di dunia yang berbeda. Wajar saja, setiap ayah pastilah bersikap protektif kepada putrinya.
“Shintike masih berusia delapan belas tahun! Apa maksud kamu dengan membawa bunga begini, hm? Jalannya masih panjang dan untuk pacaran sepertinya saya aka keberatan!” tegas Tuan Mahendra tanpa basa- basi. Mendengar itu, Asmo langsung menelan ludahnya. Lampu merah sudah jelas, tak mungkin dia memaksa untuk jalan terus. Papa dari gadis yang dicintainya kini menjadi penghalang baru.
“Sa- saya hanya memberi ini sebagai bentu perhatian, walau memang agak romantis. Jujur, saya memerhatikan putri anda dan menaruh hati padanya. Saya tak berharap bisa langsung dekat dengannya. Hanya saja, saya ingin lebih mengenalnya,” jawab Asmo dengan penuh sopan santun. Nada bicaranya begitu meyakinkan, bahkan sampai membuat Mahendra memainkan alisnya. Jujur, kesopanan Asmo dan caranya bicara adalah nilai tambah dari pria ini.
“Berikan saja bunga itu kepada saya. Nanti saya sampaikan kepada putri saya!” ujarnya sambil mengambil paksa buket itu dan langsung menutup pintu. Asmo agak terkejut dan masih terdiam di depan pintu. Ternyata, untuk hari ini dia gagal mendekati Keke, karena papanya.
‘Sepertinya, dia sama sekali tak menyukaiku,’ batin Asmo sambil mencak- mencak gak jelas menuju mobilnya. Sementara, di dalam rumah, Tuan Mahendra tersenyum tipis meihat sebuket bunga yang dihadiahi untuk putri bungsunya. “Aku ingin tahu, apa anak itu serius atau tidak. Butuh waktu yang panjang untuk memenangkan putriku!” gumamnya sambil meletakkan buket bunga itu di ruang tamu. Tidak, dia bukan mau membuangnya, dia memang bermaksud untuk menyampaikan salam Asmo kepada Keke. Bukan berarti dia langsung setuju, hanya saja tak salah bukan, kalau dia memberi sedikit jalan walau tak langsung.
***
“Raymond! Ini indah sekali!” Glasya memandang takjub dengan sebuket bunga yang dihadiahi sang kekasih buatnya. Sebuket bunga mawar dua warna, yakni merah dan putih. Sungguh kombinasi yang sangat indah. Seindah cinta Raymond kepada Glasya.
“Kamu suka? Syukurlah! Aku harap, kamu mau menyimpannya ya! Ini bunga asli, seperti cintaku yang asli! Kamu rawat baik- baik ya!” pesan Raymond dibalas anggukan mantap oleh Glasya. Dia mencium aroma mawar yang asli itu dengan penuh kebahagiaan. Tak lama, dia menatap mata Raymond untuk memastikan perkataan pria itu sebelumnya.
“Ci- cintamu asli? Bukannya kita pacaran hanya karena permintaanmu supaya aku bisa dimaafkan?” tanya Glasya dengan nada penuh rasa penasaran,
“Menurutmu, kenapa aku sampai minta kamu jadi pacarku, kalau aku tak menyukaimu, hm? Itu hanya caraku supaya mendapatkanmu dengan mudah,” jawab Raymond jujur. Bukannya senang, Glasya malah kesal sendiri. Perkataan Raymond menyiratkan seakan dirinya mudah didapatkan oleh pria mana saja. Dia tersinggung! Tanpa basa- basi, dia melempar buket bunga itu dan menginjak- injaknya.
“Ada apa?” tanya Raymond tak mengerti sikap Glasya yang tiba- tiba berubah.
“Pikir aja sendiri!” Gadis itu berjalan cepat karena marah! Jelas, dia mengambek kepada Raymond yang bicara tanpa pikir.
Tapi, Raymond juga sama sekali tak bermaksud atau pun menilai Glasya demikian. Setelah main kejar- kejaran singkat, Raymond gagal menyusuli Glasya. Gadis itu sudah menghentikan taksi tanpa mau bicara sepatah kata pun padanya. Pria itu langsung menyesali perkataannya yang sama sekali tak ada manis- manisnya kepada Glasya. Harusnya dia tak mengatakan hal demikian kepada Glasya.
“Raymond bego!” makinya pada diri sendiri.
Ya, tak ada pilihan lain baginya selain pulang ke rumahnya untuk meratapi kebodohannya. Sesampainya di rumah, dia langsung mengirim pesan singkat kepada Glasya, tapi cuma di read. Sama sekali tak ada balasan dari gadis itu. Pria itu kini menggalau di taman belakang mansion rumahnya. Dia gak mood mau ngapa- ngapain, padahal dia harus menyelesaikan tugas kuliahnya.
“Bro! Kok kelihatannya kayak habis putus gitu?” ujar seseorang yang mendatanginya. Siapa lagi, kalau bukan sahabatnya Asmo yang bisa datang ke sini dengan seenak hatinya.
“Aku salah bicara ke Glasya. Dia sampai marah! Aku takut kami putus dan gak jadi nikah seperti yang ceritakan itu,” jelas Raymond sangat terbuka kepada sahabatnya ini. Mendengar itu, Asmo langsung menepuk- nepuk bahu Raymond untuk menegarkan sahabatnya itu.
“Aku juga galau. Kayaknya, harapanku untuk mendekati Keke semakin tipis. Papanya sepertinya tidak suka padaku, apalagi aku mendekati Keke yang masih SMA.” Asmo menjelaskan keluh kesahnya pula. Kedua pria ini sedang menggalau ternyata.
“Kayaknya, penjelasanmu soal dunia paralel itu cuma mimpi panjang, Bro! Sepertinya, kita tidak bisa bersama dua bidadari itu,” pasrah Raymond merasa tak mungkin lagi dia bisa balikan.
Jujur, Rayond bukan tipikal pria yang sanggup berkata – kata manis untuk membujuk seseorang. Dia adalah dirinya yang biasa aja dan ingin perempuanlah yang mengerti dirinya. Ya, dia memang memberi perhatian, tapi kalau sudah begini, dia kehabisan kata. Lain hal dengan Asmo. Dia merasa sudah mendapat lampu merah dari calon mertuanya. Kalau calon mertua saja sudah no, apalagi putrinya yang jelas- jelas tak menunjukkan ketertarikan padanya. Padahal baru di awal, tapi kedua ini sudah main pasrah aja.
Ya, mereka percaya diri aja sih. Karena ganteng, permpuan mana pun pasti mau dengan sukarela menjadi pacar mereka. Bukan hal sulit bagi mereka untuk dapat pacar, terlebih lagi Asmo. Jomblo dulunya adalah ebuah hinaan bagi pria rupawan yang bring.sek ini.Karena sudah tekad untuk berubah, dia rela berstatus jomblo sampai bisa bersama dengan Keke. Dia serius!
“Tapi, Bro! ini kan baru awal! Kenapa kita langsung menyerah? Cinta tanpa perjuangan itu bohong!” Asmo langsung menyemangati dirinya. Dia ternyata belum mau menyerah semudah ini. Tekadnya yang serius harus bisa menjadi kenyataan. Dia ingin bahagia bersama dengan Keke.
“Tapi… aku harus gimana? Eh? Kamu kan bilang aku pacaran sama Glasya dalam ingatanmu di dunia paralel itu. Kasih tahu dong, apa yang biasa aku lakukan kalau kami sedang berantem? Nggak mungkin semua hubungan mulus aja kan?” tanya Raymond meminta saran.
“Lah? Mana saya tahu? Tanya kok tanya saya? Kan kalian yang pacaran,” balas Asmo. Dia sama sekali tak mengurusi hubungan Raymond dan Glasya bahkan sampai mereka menikah. Asmo terlalu sibuk dengan para wanitanya sampai mengabaikan sahabatnya. Dan hanya di saat sekaranglah baru keduanya punya kesempatan untuk saling berbagi soal perasaan mereka dan hal- hal yang membuat mereka galau.
“Dasar! Kau ini teman atau bukan, sih?” kesal Raymond karena Asmo sama sekali tak memberinya saran atau setidaknya sedikit jalan keluar. Dia ingin segera baikkan dengan pacarrnya, tapi dia bingung. Menurutnya, sebagai pria yang sangat berpengalaman soal perempuan, harusnya Asmo tahu apa saja yang mampu meluluhkan hati para wanita.
“Oh, iya! Aku ingat! Kamu sering bawain coklat kepada Glasya. Lalu, kamu selalu menyuruhku menuliskan kata- kata manis untuknya, karena kamu gak bisa gombal!” Asmo teringat sesuatu. Mendengar itu, Raymond langsung menemukan titik terang dari masalahnya.
“Oke! Coklat akan segera meluncur! Tapi, aku saja yang nulis, jangan kamu! Nanti, dia malah suka padamu, aku yang repot!” Raymond langsung beranjak untuk membeli coklat. Dia ingin segera baikan dengan pacarnya. Karena dia memang tak ingin kehilangan gadis itu. Ya, Asmo hanya ngikut saja untuk mendukung sahabatnya ini.
***
“Keke, papa ingin bicara denganmu,” panggil ayah Keke kepada putri bungsunya. Keke langsung menurut dan duduk di dekat papanya.
“Lihat mawar itu! Cantik kan?” tunjuk Tuan Mahendra pada sebuket mawar yang ada di meja tamu. Keke tersenyum lalu mengambil bunga itu. Dia pikir, bunga itu adalah pemberian ayahnya. Dia menghirupnya sambil mengangumi keindahannya. Keke sangat suka bunga, apa pun jenisnya. Terlebih lagi, mawar yang sangat indah seperti yang diberikan dengan sepenuh hati.
“Asmo Deus Pranata. Itu nama pemberinya!” Mendengar nama itu, Keke langsung terdiam dan meletakkan bunga itu kembali. Tatapan kagumnya berubah menjadi sinis seketika mendengar nama Asmo.
“Ada apa dengan orang itu? Sepertinya, dia sangat tertarik padamu,” tanya sang ayah kepada putrinya. Sarat ketidaksukaan di wajah putrinya kala mendengar nama itu.
“Aku benci dia!” ujar Keke dengan terus terang. Entahlah, padahal Asmo tak pernah menyakitinya, tapi perasaannya langsung berkata begitu. Entah apa yang salah, tapi semenjak mendapat mimpi buruk soal kematiannya dan merasa kesesakkan kala bertemu Asmo dia air mancur kemarin, kebenciannya seakan timbul sendiri. Dia ingin sebisa mungkin menghindari pria itu dan tak mau berhubungan dengan Asmo.
“Apa dia mantanmu?” tanya papanya. Dia heran melihat Keke yang seakan sangat disakiti oleh sosok itu.
“Bukan, Pa! dia bukan siapa- siapaku. Aku tak ingin dekat dengan pria yang suka main perempuan. Kak Glasya sekampus dengannya, jadi dia tahu sifat pria itu. Dan lagi, aku ingin fokus dengan pendidikan dan cita- citaku,” jelas Keke terus terang. Mendengar itu, Tuan Mahendra bisa mengerti alasan Keke tak ingin dekat dengan Asmo. Walau di sisi lain, dia merasa ada yang aneh. Dia adalah seorang ayah dan dipastikan perasaannya sangat peka soal putrinya.
“Aku pulang!” Glasya membuka pintu dan langsung berjalan cepat menuju kamarnya. Dia mengabaikan papa dan adiknya. Ya, karena efek kesal kepada Raymond, dia sama sekali tak mood untuk melakukan apa pun. Rasanya, ingin langsung ke kamar dan menyendiri.
“Glasya kenapa?” heran sang ayah tak mengerti dengan sikap putri sulungnya itu.
“Mungkin, dia sedang lelah karena kuliah,” jawab Keke sedikit mengaburkan fakta. Secara, papanya tak tahu kalau kakaknya itu sudah punya pacar dan kemungkinan masalah ini adalah karena pacarnya. Dan lagi, papanya pasti marah kepada Glasya karena sudah main pacaran aja. Karena kalau ingin mendekati putri dari Tuan Mahendra, mereka harus lewat seleksi dari papanya terlebih dahulu. Inilah alasan Glasya memilih diam- diam saja.
“Pa, aku susulin kakak dulu ya!” ujar Keke dibalas anggukan oleh papanya.
“Selamat malam, Pa!” pamit Keke sembari mengecup pipi ayahnya. Ya, Tuan Mahendra memang sangat dekat dengan kedua putri kesayangnnya, terlebih lagi Shintike. Si bungsu benar- benar mengingatkan dirinya pada sang istri dan pesan dari mendiang untuk menjaga kedua putri itu sampai besar. Pria paruh baya itu hanya tersenyum memandang putrinya yang sedang menyusuli kakaknya.