“Kak, ada apa denganmu? Kau kelihatan sangat kesal,” tanya Keke saat melihat Glasya yang tengah memasang ekspresi kesal.
“Semua cowok itu sama saja! Mereka dengan mudahnya menganggap perempuan itu gampangan! Aku benci padanya!” jawab Glasya pada adiknya. Dia tak segan- segan menunjukkan segala perasaannya kepada Keke. Dari dulu, Keke memang selalu menjadi teman curhatnya, selain teman- temannya.
Walau terkesan dingin, harus Glasya akui, kalau Keke bisa memberi nasihat yang berguna. Pemikiran Keke yang lebih realistis bisa dijadikan saran yang sangat membantu. Lagian, Glasya adalah orang yang terang- terangan soal perasaannya. Tak seperti adiknya yang selalu menyembunyikan apa yang dia rasakan dan pikirkan. Mendengar itu, Keke langsung meraih kakaknya dan memeluk untuk menghibur perasaan Glasya.
“Tenanglah, kak. Memangnya, dia sudah melakukan apa saja padamu?” tanya Keke mencoba memastikan sudah sejauh apa hubungan sang kakak dengan pacarnya. Setahunya, hubungan mereka masih sangat baru. Harusnya, mereka sedang bucin- bucinnya. Eh, malahan udah main ngambekan saja. Siapa pun pasti heran melihat ini.
“Dia tidak melakukan apa pun. Tapi, kemarin karena merasa bersalah, aku bilang padanya mau melakukan apa saja. Makanya, dia minta pacaran denganku. Dan sekarang, aku baru tahu, kalau dia juga menyukaiku dan bilang ingin mendapatkanku dengan mudah!” Glasya menceritakan apa yang kini mengganggu perasaannya.
Mendengar itu, Keke hanya bisa menghela napasnya. Dia mengerti masalahnya. Hanya saja, menurutnya sang kakak terlalu berlebihan. Kalau dipikir lagi, pacar kakaknya itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya karena berkata seperti itu, Glasya sudah langsung sakit hati. Sungguh sensitive perasaan kakaknya ini.
“Sudahlah! Jadi sekarang, kakak maunya bagaimana?” tanyanya lagi ingin tahu apa yang dipikirkan oleh kakaknya. Glasya hanya memasang ekspresi bingung dang menggelengkan kepalanya. Ya, sudah jelas! Glasya sendiri tak tahu apa yang dia mau.
“Jadi, kenapa kakak marah padanya?” tanya Keke berusaha meluruskan cara berpikir kakaknya yang terlalu berlebihan.
“Ke, setiap perempuan itu maunya diperjuangkan. Dia berkata, memintaku pacaran sebagai tebusan dari rasa bersalahku adalah cara gampangnya untuk mendapatkanku, apa kamu tidak kesal? Memangnya, aku segampang itu?” kesal Glasya lagi.
“Jadi, kenapa waktu itu kakak menerimanya?” tanya Keke lagi tepat sasaran.
Glasya terdiam. Sudah jelas, dia menerimanya karena menyukai Raymond. Dia merasa tak ingin menyia- nyiakan kesempatan untuk bersama Raymond. Dari perkataan Keke, memang dirinya sangat terksesan gampangan. Dialah yang membuat sirinya dinilai seperti itu. Glasya sadar, kalau dialah yang terlalu berlebihan soal ini. Tapi, perempuan selalu benar dan konsep itulah yang dipegang teguh oleh Glasya. Dia tetap tidak ingin dipersalahkan di sini. Tetap saja Raymond yang salah! Titik.
“Ya… karena merasa bersalah saja! Kakak akui… mungkin sikapku agak berlebihan. Tapi dengan begini, aku bisa melihat perjuangannya!” jawab Glasya berusaha menutupi kesalahannya. Keke langsung menggeleng- geleng dengan tingkah sang kakak. Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah urusan kakaknya. Jadi, biarlah sang kakak yang menyelesaikan. Ini juga bukan masalah yang terlalu serius.
“Kalau dia tidak memperjuangkan kakak, bagaimana?” tanya Keke mencoba menerka- nerka hal yang pahitnya. Mendengar itu, Glasya memanyunkan bibirnya karena merasa kesal membayangkan hal itu. Jujur, dia tak ingin hal itu yang terjadi. Dia maunya Raymond yang memperjuangkan dirinya mati- matian. Dia ingin merasa sangat diinginkan dan dicintai.
“Putus aja!” jawab Glasya walau wajahnya sangat tak ikhlas mengatakannya.
“Oh, yakin?” tanya Keke memastikan keyakinan kakaknya itu.
“Dahlah, aku ingin mandi dan langsung makan malam. Gedek mikirin dia !” Glasya langsung menghindar. Adiknya itu hanya memerhatikan kakaknya yang sangat labil soal hubungannya.
***
“Keke? Kebetulan sekali ya? Bagaimana kabarmu?” tanya Asmo yang kini berdiri di depan pagar sekolahnya Keke.
Keke heran dengan maksud Asmo yang mengatakan kalau ini adalah kebetulan. Sudah jelas bukan, kalau pria itu sengaja menungguinya di depan sekolah. Di luar dugaan Keke, ternyata pria itu sangat serius untuk mendekatinya. Tapi, Keke malah merasa risih dengan cara pria itu yang terlalu agresif dan terkesan tak sabaran. Dia memberikan tatapan sinis kepada Asmo, sebagai tanda kalau dia tak suka dengan cara pria itu.
“Kamu kenapa sinis gitu sih? Aku cuma mau ajak makan siang bareng,” ujar Asmo mencoba mencairkan suasana dengan Keke. Dia menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah.
“Kau memaksa?” tanya Keke dengan sangat datar. Demi apa pun, dia sangat tak ingin terjebak dalam situasi seperti ini dengan Asmo.
“Tentu saja, tidak! Kalau kamu mau,” jawab Asmo sambil menyengir.
“Aku menolak!” tegas Keke sebagai jawaban. Ya, Asmo sudah menebak hal ini bakal terjadi. Takkan mudah mendekati perempuan seperti Keke. Apalagi dengan cara murahannya ini.
“Hehe… gak masalah kok! Oh iya, kamu sudah lihat bunga mawar yang aku titip ke papa kamu? Bagaimana tanggapanmu?” tanya Asmo mencari topik pembicaraan dengan Keke lagi.
“Aku memang suka bunga! Tapi, kalau itu darimu aku tidak suka. Maaf saja, tak tahu kenapa, aku sangat tak nyaman denganmu. Jangan dekati aku lagi, karena aku sangat membencimu!” jawab Keke sambil menegaskan ketidaksukaannya kepada Asmo.
Mendengar itu, Asmo hanya terdiam dan membiarkan Keke melangkah jauh darinya. Melihat tatapan sinis dari Keke, dia teringat bagaimana dirinya yang memandang wanita itu ketika menjadi istrinya. Asmo selalu memandang sinis kepada Keke yang selalu berjuang untuk hubungan mereka. Kini dia mengerti sakitnya diperlakukan demikian. Dia tahu, kalau dia sudah sangat keterlaluan kepada Shintike yang menjadi istrinya.
“Aku benci diriku sendiri.” Asmo merutuki dirinya sendiri.
Walau sudah berusaha dan mencoba, sangat jelas kalau Keke menolak mentah- mentah segala perhatiannya. Tidak. Menyerah memang bukan jawabannya. Pasti ada sebuah tujuan kenapa dia dikembalikan ke masa ini atau ke dunia di mana dia punya harapan bersama Keke. Tapi jujur, dia sakit hati karena tak dipedulikan oleh gadis itu.
Sepanjang jalan, Keke hanya terdiam tanpa memedulikan sekitar. Dia merasa amat kesal karena Asmo sama sekali tak berhenti mendekatinya. Semakin dia menjauh, semakin gesit pria itu mendekati dan mencoba mencari perhatiannya. Tiba- tiba, dia merasakan sakit kepala yang teramat sangat. Entah kenapa, dia tiba- tiba melihat dirinya yang sedang bersama Asmo. Suasana itu, ya tidak salah lagi. Suasana pernikahan yang indah.
Keke tak mengerti, kenapa hal seperti ini bisa merasuk ke dalam pikirannya. Saat akan menyebrang, Keke tak menyadari sebuah mobil sedang melaju kencang dan berulang membunyikan klaksonnya supaya Keke kembali ke pinggir jalan. Ya, gadis itu kini sedang di tengah jalan dan merasakan sakit kepala di tempat seperti itu pula. Karena tak fokus, Keke bahkan tak mendengar klakson itu.
‘GREP!’
“Hei! Kenapa kau berada di tengah jalan?” tanya seorang pria yang menarik tangannya. Perlahan, kesadarannya kembali dan dia bisa melihat siapa yang menarik tangannya. Bukan, itu bukan Asmo. Oleh karena itu, Keke berusaha bersikap ramah dan ingin berterima kasih kepada orang itu.
“Ah, terima kasih sudah menolong saya, Kak.” Keke berterima kasih kepada pria itu.
“Ya, sama- sama! Lain kali, berhati- hatilah! Katanya, jalan ini sering meminta tumbal. Mungkin saja, pendengaran kamu sengaja ditulikan supaya bisa menjadi tumbal. Apalagi, air mancur di taman sana! Hati- hati, lho!” ujar pria itu dengan nada serius.
Jelas saja, Keke tidak percaya dengan hal- hal seperti itu. tapi, setelah mengingat- ingat apa yang terjadi padanya akhir- akhir ini, dia jadi ngeri sendiri. Di air mancur dan di jalan ini. Sekali lagi, dia memerhatikan pria itu dan meneguk ludahnya karena merasa sedikit percaya. Sembari melihat pria itu, dia merasa kalau dia mengenalnya. Entah di mana gitu. Rasanya agak familiar saja.
“Dik, kamu gak apa? Atau kamu kesambet?” tanya pria itu karena Keke terus saja memerhatikannya.
“Ma- maaf, Kak. Tapi, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Keke mencoba memastikan. Pria itu langsung memasang pose berpikir dan melihat Keke berulang kali. Rasanya, dia tak pernah melihat gadis ini. Tapi, saat menatap matanya, pria itu agak merasa familiar juga. Dia juga teringat pada seseorang.
“Sepertinya tidak. Ah, kenalkan, Aku Raymond Mahesa! Kalau adik?” Pria yang tak lain adalah Raymond itu mengenalkan dirinya dengan ramah kepada Keke.
Kebetulan saja, dia sedang membeli sesuatu di toko dekat jalan ini. Saat akan menyebrang menuju mobilnya, dia memerhatikan seorang gadis yang sepertinya sedang kehilangan fokus di tengah jalan dan sendirian pula. Rasa kemanusiaan langsung saja mendorongnya untuk menghampiri gadis itu dan menolongnya. Ini yang baru namanya kebetulan.
“Raymond… Mahesa?” Ya, Keke ingat nama itu. Siapa lagi, kalau bukan pria yang disebut kakaknya sebagai pacarnya. Tentu saja, dia tidak mengenal pria itu karena tidak pernah bertemu secara langsung. Wajar juga, Glasya dan Rayond baru saja berpacaran. Dan memang, Raymond juga tak mengenal adik dari Glasya walau Asmo sudah berulang kali menyebut soal adik dari pacarnya itu.
“Iya, kalau adik siapa?” tanyanya lagi mencoba beramah tamah. Sebenarnya, Raymond bukan tipikal orang yang seramah ini, tapi karena mata gadis itu yang sangat familiar dengan kekasihnya, membuat dia agak tertarik.
“Shintike Theresia,” ujar Keke memperkenalkan dirinya. Memang tak ada jabat tangan di antara mereka, karena pada dasarnya keduanya bukan orang yang ramah.
“Shintike ya? Bagus sekali nama kamu! Kalau begitu, kakak pamit dulu ya! Jangan kebanyakan melamun.” Raymond pamit sambil memperingatkan Keke supaya tidak melamun saat berjalan pulang.
“Ya, sekali lagi terima kasih Kak Raymond!” balas Keke berterima kasih sekali lagi.
Saat berbalik, Keke memerhatikan kalau Raymond sedang membawa sebuah paper bag berwarna pink dengan corak love. Dia agak menyipit dan sedikit menebak- nebak apa isinya dan untuk siapa pria itu membelinya. Tidak mungkin, seorang pria membeli barang dengan bungkus yang feminim seperti itu. Tiba- tiba, dia kepikiran soal kakaknya yang semalam menceritakan masalahnya. Setelah menghubungkan dua hal itu, Keke merekahkan senyumannya.
“Kak Raymond sepertinya ingin mencoba membujuk Kak Glasya. Kakak sangat beruntung ya! Tebakanmu ternyata benar!” gumamnya merasa lega karena kemungkinan yang dipikirkan kakaknya akan segera terjadi.
“Ke, kamu belum pulang?” Asmo tiba- tiba mengalihkan perhatiannya. Pria itu membuka kaca mobilnya dan bicara kepada gadis itu dari dalam mobilnya.
“Busnya belum datang! Lagian, halte ada di depan sana dan aku ingin menyebrang!” jawab Keke langsung menyebrang dan mengabaikan Asmo. Melihat itu, Asmo hanya lapang d**a. Keke masih terus menghindar dan terlihat sangat judes. Tapi sebelum itu, dia sempat melihat gadis itu tersenyum sambil memandang ke satu arah. Entah kepada siapa, tapi yang jelas Asmo kesal.
“Harusnya, dia juga memberi senyuman demikian untukku!” kesal Asmo merasa perjuangannya masih panjang untuk mendapatkan kembali istrinya.
***
‘TING- TONG!’
“Ya, siapa?” Suara seorang gadis terdengar dari dalam dan langsung membukakan pintu. Ternyata, seorang pria berdiri di depan pintu rumahnya sambil memasang senyum tampannya. Pria itu juga membawa sebuah paper bag sebagai oleh- oleh untuk gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah pacarnya. Jujur, gadis itu terkejut karena kedatangan pria itu ke sini.
“Ma- mau apa kau?” tanya gadis itu dengan nada sok jual mahal. Padalah, dia sudah tahu kalau pria itu jelas- jelas ingin membujuknya. Namanya juga perempuan, dia tak mau lagi dinilai gampangan oleh pria itu lagi.
“Glasya, maafkan aku. Aku tahu, kalau aku salah bicara.” Raymond menjawab kepada Glasya dengan nada penuh penyesalan. Glasya berbalik dan diam – diam tersenyum mendengarkannya. Jujur, hatinya berbunga- bunga mendengar kata maaf yang terucap dari pria itu.
‘Jadi, begini rasanya diperjuangkan?’ batin Glasya merasa sangat bahagia.
“Siapa kamu? Ngapain datang pas hanya anak gadis saya di sini!” Suara Tuan Mahendra yang baru kembali dari kantornya membuat dua anak muda itu terbelalak. Raymond langsung terkejut dan tak tahu berekspresi seperti apa. Dia sadar, sepertinya dia agak pengecut karena tak berani sama orang tua pacarnya, apalagi ayahnya.
“Sa- saya kurir, Pak! I-ini, Mbak! Makasih ya!” ujar Raymond langsung menyerahkan paper bag itu kepada Glasya dan pergi dengan terburu- buru. Melihat itu, Glasya ternganga karena tak menyangka.