“Kurir? Emang ada ya, kurir naik mobil mewah begitu?” heran Tuan Mahendra tak mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari Raymond sampai dia pergi dari kediamannya. Glasya masih tak bisa berhenti ternganga dengan tingkah pacarnya yang sangat tak bisa dijelaskan. Bisa- bisanya, Raymond main kabur pas papanya datang.
‘Sama sekali tidak gentle!” kesalnya dalam hati lalu masuk ke dalam rumah. Bukannya merasa lebih baik, kekesalannya semakin bertambah.
“Glasya? Mau ke mana? Duduk dulu, papa mau bicara,” panggil sang ayah membuat Glasya menghentikan langkahnya.
Oh ayolah, Tuan Mahendra bukan anak kemarin sore yang tidak tahu menahu soal apa yang terjadi. Sudah jelas, pria yang mengaku kurir tadi pasti punya hubungan khusus dengan putri sulungnya yang cantik ini. Ditambah lagi, ekspresi kesal Glasya karesna sikap pria itu yang sama sekali tidak menggambarkan seorang pria sejati. Langsung lari ketika ayah dari pacarnya datang.
“Dia tidak seperti pria yang mendekati adikmu. Asmo Deus Pranata jauh lebih mengerti sopan santun.” Sang ayah langsung membandingkan kedua pria itu. Selisih perjumpaannya dengan kedua anak muda itu hanya satu hari. Perbedaannya terlalu jelas dan jujur saja, dia lebih suka dengan tata krama dari Asmo.
“Papa belum tahu aja, si Asmo itu laki- laki baji.ngan dan tidak tahu malu!” balas Glasya kesal karena pacarnya dibanding- bandingkan dengan Asmo. Menurutnya, Raymond masih jauh lebih baik dari segala sisi karena tidak bermain perempuan. Cuma masalahnya, mungkin pria itu tidak siap berhadapan langsung dengan orang tuanya.
“Glasya, jaga cara bicaramu, Nak! Menurut papa, manusia itu bisa berubah. Hanya beri saja dia kesempatan. Jadi, benar ya kalau pria itu adalah pacarmu?” jawab Tuan Mahendra diakhiri dengan tanya yang sangat menjebak putrinya itu. Ya, karena sudah jelas Glasya membela pria itu, pastilah mereka punya hubungan khusus.
“Dia pacarku.” Glasya akhirnya mengaku.
Entahlah, dia tidak tahu bagaimana tanggapan ayahnya. Dia adalah orang yang paling tidak bisa berbohong soal ini, apalagi kepada papanya. Sebenarnya, dia ingin menyembunyikan hubungannya yang masih seumur toge ini. Belum sebulan mereka pacaran, tidak mungkin dia memberi tahu papanya. Malah sudah bertengkar lagi! Sungguh hubungan yang belum jelas.
“Penampilan sih oke. Tapi, mentalnya sangat labil. Yakin, pacaran sama orang yang begitu?” tanya papanya mencoba meluruskan pemikiran putrinya. Dia kurang suka kalau putrinya pacaran dengan laki- laki modelan begitu.
“Na- namanya juga masih muda, Pa. Su- sudahlah, Pa! Aku ke kamar dulu,” pamit Glasya langsung kabur ke kamarnya. Dia terlalu malas kalau diintrogasi begini.
Gadis itu memasuki kamarnya sambil meletak saja paper bag yang berisi pemberian dari pacarnya. Tadinya, dia nyaris tersentuh dengan kebaikan dan perhatian Raymond. Eh, tiba- tiba pria itu mendadak jadi pengecut ketika papanya datang. Ini sangat membuat Glasya bimbang. Tak lama, notifikasi dari Hp-nya terdengar. Dia melihatnya dan tahu kalau itu berasal dari pacarnya yang baru saja kabur dari papanya. Malas menanggapinya, Glasya langsung mematikan Hp-nya. Dia sudah terlanjur kesal kepada pria itu.
‘Krieett!’
Suara pintu terbuka dan menampilkan sang adik yang baru pulang sekolah. Kebetulan, memang Glasya tidak ke kampus hari ini hanya karena masalah semalam. Adiknya pun meletakkan tasnya dan langsung duduk di sebelah sang kakak. Entahlah, Keke merasa ada yang aneh dari kakaknya. Dia sudah melihat hadiah dari pacar kakaknya yang bertengger di meja. Tapi, ekspresi kakaknya sama sekali tak menunjukkan kebahagiaan.
“Ada apa? Bukannya, dia sudah berusaha membujukmu?” tanya Keke mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tadi, di bawah kamu gak ketemu sama papa? Papa gak cerita apa- apa, gitu?” tanya Glasya balik tanpa memberi jawaban. Keke hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Raymond itu gak gentle. Masa pas papa datang, dia malah mengaku sebagai kurir? Ih! Kenapa sih, dia sama sekali tak menunjukkan keseriusan?” Glasya menceritakan apa yang membuatnya sampai sekesal ini. Keke yang mendengarkan bisa mengerti dengan baik hal yang membuat Glasya kesal. Tapi, dia bisa mengerti juga kenapa pacar kakaknya itu sampai tidak berani mengaku di depan papa mereka. Bukannya membela, hanya saja pastilah Raymond tidak siap dalam situasi yang tiba – tiba seperti itu.
“Sudahlah, Kak. Mungkin saja, dia hanya tidak siap. Kak, aku tidak suka melihat kakak bersedih.” Keke langsung memeluk Glasya. Perkataan adiknya benar juga. Raymond pasti belum persiapan untuk bertemu dengan papanya.
“Kamu benar, Dik. Tapi, aku akan mengujinya sekali lagi. Dia harus sampai bisa menghadapi papa, baru aku mau memaafkannya!” jawab Glasya sekaligus bertekad.
“Ya baguslah, Kak!” Keke sudah lega karena melihat kakaknya lebih baik.
“Yuk, kita unboxing pemberian dari dia!” Glasya langsung membuka paper bag pemberian Raymond.
Isinya adalah coklat. Tapi, itu bukan coklat biasa. Bentuknya love dan dari merk-nya, harnganya pasti tdak main- main. Melihat pemberian sepenuh hati ini, Glasya merasa sedikit lebih baik. Bukan itu saja, ada sebuah surat kecil yang berisi permintaan maaf yang sedemikian tulus dari sang kekasih. Hati Glasya sangat tersentuh dengan perlakuan istimewa dari kekasihnya itu. Marahnya kepada Raymond sudah surut dengan cepat. Melihat kakaknya sudah menunjukkan aura kebahagian, Keke bisa merasakan kalau sebenarnya Raymond dan Glasya memang pasangan yang saling mencintai.
Keke merasa, memang pertemuan Glasya dan Raymond sudah ditakdirkan. Walau baru pertama bertemu dengan pacar kakaknya itu, entah kenapa dia yakin kalau Raymond bisa membahagiakan kakaknya. Hanya feeling saja. Sungguh berbanding terbalik dengan perasaannya saat bertemu Asmo. Setiap melihat pria itu, dia kesal, sakit hati dan kecewa walau pria itu tidak melakukan sesuatu hal buruk kepadanya. Entah kenapa, perasaannya otomatis seperti itu.
“Baiklah, aku harus mandi dang anti baju. Setelah ini, kita turun untuk makan siang ya, Kak!” Keke langsung beranjak untuk membersihkan dirinya.
***
“Parah sih! Kenapa pake lari segala?” tanya Asmo kepada sahabatnya yang baru saja curhat soal apa yang terjadi kepadanya.
“Kamu tahu? Tubuhku langsung gemetaran dari atas ke bawah saat melihat papanya Glasya. Kayak serem gitu! Aku juga gak siap!” jawab Raymond sebagai alasan. Jelas saja, ini sangat di luar perkiraannya. Dia hanya ingin membujuk Glasya dengan memberikan cokelat. Tapi, sang ayah merusak suasana dengan datang tanpa diundang. Eh, sebenarnya sih, Raymond lah tamu yang tidak diundang.
Jujur, kalau untuk berurusan dengan orang tua, saat ini Raymond belum siap. Dia mencintai Glasya, tapi dia belum membayangkan jauh kedepan. Memang, sahabatnya sudah memberi tahu kalau mereka bakal menikah. Dia senang, tentu saja. Tapi, dia tidak menyangka untuk ke jenjang itu diharuskan siap mental. Asmo yang mendengar cerita dari sahabatnya merasa familiar. Karena di masa depan di mana Raymond dan Glasya sudah menikah, masalahnya adalah hal ini juga. Perjodohan antar dirinya dan Glasya terjadi karena ayahnya Glasya sama sekali tidak tahu kalau putrinya sudah pacaran.
Raymond juga belum berani menghadap ayah kekasihnya saat itu. Makanya, Keke harus menikah dengannya untuk memperlancar bisnis keluarga mereka. Walau masa sudah diubah, ternyata karakter manusia tidak bisa berubah semudah itu. Raymond yang di masa depan, tetap sama saja seperti Raymond yang sekarang. Tapi, sebagai sahabat terbaik, dia ingin membangun karakter sahabatnya menjadi lebih baik.
“Bro! Aku akan ajarkan bagaimana menyiapkan mental untuk bertemu dengan orang tua pacar.” Asmo memberi saran.
“Beneran? Kalau diintrogasi bagaimana? Itulah yang kutakutkan? Kamu bicara seakan berani aja,” balas Raymond.
“Sebenarnya sih, aku sudah bertemu dengan papa Glasya dan Shintike semalam,” jelas Asmo sontak membuat Raymond terdiam. Dia tak menyangka, ternyata dia kalah selangkah dari sahabatnya itu. ya, tidak bisa dipungkiri sih, kalau Asmo adalah orang yang sangat ramah dan mudah merespek orang tua. Berbeda dengannya yang cenderung individualis dan agak egois. Ya, walau sekarang mulai berubah menjadi lebih baik demi menyesuaikan diri dengan lingkungan.
“Oh? Jadi, bagaimana? Kamu diintro sama papanya?” tanya Raymond ingin tahu apa yang sudah terjadi kepada sahabatnya itu.
“Tidak. Aku kasih bunga untuk Keke dan dia tanya siapa namaku. Ya, aku jawab saja seadanya. Jangan lupa berikan salam hormat dan terima kasih,” jawab Asmo memberikan instruksi cara berhadapan dengan benar kepada orang tua dari pacar atau gebetan.
“Oh, begitu ya! Aku harus berlatih!” Raymond bertekad. Karena kebodohannya tadi, lagi - lagi pacarnya marah kepadanya sampai mematikan ponselnya pula.
“Yups! Ayo belajar dariku yang pro ini!” Asmo mengangguk tanpa ragu memberikan pelatihan kepada temannya supaya bisa menjadi laki – laki sejati. Padahal, dia sendirinya agak breng.sek. Tapi itu dulu, Asmo beneran bertekad sepenuh hati untuk berubah.
“Ada apa, nih? Kalian berdua sedang membicarakan sesuatu yang serius ya?” tanya papanya Raymond yang mendapati putra dan sahabat putranya sedang sangat serius.
“Eh, Om Mahesa. Bagaimana kabar, Om? Sudah lama tidak berjumpa ya?” Asmo langsung menyapa papanya Raymond dengan ramah. Berbanding terbalik dengan anak kandungnya yang hanya diam saja. Bukannya tidak senang, tapi dia merasa biasa aja gitu. Padahal, sudah berbulan – bulan dia tidak bertemu sang ayah. Ayahnya itu terlalu sibuk dengan bisnisnya di luar negeri.
“Saya baik – baik saja. Kalian berdua baik kan? Bagaimana kuliah kalian?” tanya Tuan Mahesa kepada kedua anak muda itu.
“Ini anak om lagi galau,” jawab Asmo dengan gampangnya. Mendengar temannya langsung main jawab saja, Raymond langsung memberi tatapan membunuh kepada sahabatnya itu. Padahal, dia belum berencana untuk memberi tahu papanya soal ini.
“Oh? Kenapa lagi dia? Pacarnya selingkuh atau diputusin?” tanya Tuan Mahesa dengan agak sedikit iseng. Papanya Raymond adalah orang yang ramah, tidak seperti putranya itu.
“Bukan, dia takut sama ayah dari pacarnya!” Asmo langsung bicara terang – terangan dan sontak kedua orang itu menertawakan Raymond. Jujur, Raymond merasa tersudut saat ini.
“Ya iyalah! Sama papanya aja cuek banget gitu. Mana sanggup dia menghadapi papa dari pacarnya,” ujar Tuan Mahesa sebagai penilaian soal anaknya. Namanya juga orang tua, pastilah dia mengenal baik bagaimana sifat anaknya itu.
“Kalau ingin menyudutkanku, silakan aja! Aku mau ke dalam dulu!” Raymond langsung masuk ke dalam karena tak nyaman. Dia paling tidak suka disudutkan oleh kedua orang ini.
***
“Asmo, sudahkah kau menyesali segalanya? Kau pikir, aku mau kembali padamu setelah semua yang kau lakukan?” Keke berkata dengan nada yang teramat sinis kepada Asmo. Pria itu langsung berusaha mendekati Keke, tapi sayangnya sangat sulit. Ingin rasanya, dia menggapai tangan Keke, tapi sialnya malah tak bisa tergapai.
“Ke, maafkan aku! Aku sudah menyesali semua ini. Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk membahagiakanmu sekali lagi,” ujar Asmo ingin terus meyakinkan perempuan itu. Tapi yang ada, Keke malah menggelengkan kepalanya. Dan berjalan semakin jauh ke dalam kegelapan.
Semakin jauh, sampai Asmo tak sanggup menemukan di tengah ruang hampa yang gelap itu. Asmo tanpa ragu langsung meneriaki nama perempuan itu. Sayangnya, tidak ada balasan dari empunya. Keke memilih untuk tidak memberinya kesempatan walau hanya sekali saja.
Keringat dingin membasahi tubuh pria yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. Dia bergerak dengan sangat gelisah karena merasa sedang mengalami sebuah mimpi yang sangat buruk. Tak lama, mata pria itu terbuka dan dia menarik napasnya dalam – dalam. Dia kehilangan Keke dalam mimpi itu. Perempuan itu tidak memberikannya kesempatan walau hanya sekali saja. Asmo langsung menyibakkan rambutnya ke belakang dan mencoba menenangkan pikirannya.
“Tidak, Ke! Walau kamu membenciku, aku takkan menyerah. Ini adalah kesempatanku! Aku pasti bisa mendapatkanmu kembali. Aku pasti bisa!” Asmo berusaha meyakinkan dirinya. Ingin rasanya menyerah karena situasi yang seperti ini. Terlebih lagi, perempuan itu sudah menjauh darinya dan seakan tak memberinya sedikit ruang untuk dekat. Tapi, ini masihlah permulaan. Menyerah sebelum berperang adalah pilihan seorang pecundang dan Asmo bukanlah orang yang seperti itu. Dia akan terus mencoba besok dan besoknya lagi. Sampai Keke memahami betapa dalamnya cinta yang kini dimiliki Asmo buatnya.