Keke kini memberhentikan mobilnya di dekat air mancur. Sekitar sini cukup sepi, tapi Keke sama sekali tak merasa khawatir. Dia hanya ingin menunggu Asmo datang dan mengembalikan diarinya. Dia bukannya sengaja, dia hanya gugup karena tadi Asmo pulang begitu cepat hari ini. Biasanya, pria itu akan pulang lewat tengah malam.
“Mungkin, dia terlalu senang karena aku sudah memutuskan untuk bercerai,” gumam Keke sambil keluar dari dalam mobilnya.
Wanita itu menarik napasnya dalam- dalam. Seketika, dia teringat semua kenangannya bersama Asmo. Bukan kenangan indah, tapi kenangan buruk. Semua luka dan rasa sakit yang sudah ditorehkan Asmo padanya, kini kian nyata. Keke menangis lagi, tapi kini dia benar- benar sudah menghempaskan semua cintanya. Dia lagi- lagi melihat kotak cincin pernikahan yang kebetulan dibawanya. Dia tersenyum miris melihat indahnya sepasang cincin itu, tapi pernikahan mereka sama sekali tak seindah cincin itu.
“Wah! Ada cewek yang lagi sendirian, nih!” Sebuah suara terdengar dan langsung mengalihkan perhatian Keke. Wanita itu langsung menutup kotak cincinnya dan melihat dua orang bertampang preman kini mendekatinya. Dengan sigap, dia langsung membuka pintu mobilnya, tapi sayang dia kalah cepat.
“Jangan langsung lari dong!” Salah satu dari preman itu menahan pintu mobil dan Keke tak bisa membukanya.
“A- apa mau kalian?” Keke mulai panik.
“Serahkan semua hartamu dan layani kami!” kata preman itu dengan senyuman bajiingan. Keke yang mendengar itu merasa jijik dan muak. Semua pria yang ditemuinya sama saja! Napsu adalah yang terutama buat mereka.
“Ambil saja semua harta saya! Tolong, bebaskan saya! Saya takkan melapor!” Keke mengalah membiarkan semua barang termasuk mobilnya diambil oleh kedua preman itu.
“Hehehe! Kalau itu sih, kamu gak puas! Kalau diperhatikan, kamu cantik banget rupanya!” ujar preman itu sambil mendekati Keke. Karena kesal, wanita itu langsung menendang pria itu dan menghajarnya. Keke memang diam dari tadi, tapi sebenarnya dia itu ahli karate. Tanpa ragu, dia menghajar kedua pria itu dengan berani dan sampai membuat mereka hampir kewalahan.
“Perempuan sial!” rutuk salah satu preman itu sambil mengeluarkan pisau tajam. Pria itu langsung menancapkan pisau itu ke perut Keke dan menusauknya dalam.
“Ukhh!” Keke merasakan kesakitan luar biasa di perutnya. Dia memegang perutnya dan ada darah yang menandakan dirinya kini sudah terluka.
“Kita bawa mobilnya dan tinggalkan dia di sini!” Kedua preman tak tahu diri itu langsung membawa mobil dan barangnya pergi begitu saja.
Keke kini tergeletak di pinggir jalan dengan keadaan terluka. Tapi, dia meraih sebuah kotak cincin yang sedari tadi dia simpan di sakunya. Dia memandangnya sekali lagi sambil menangis. Mau minta tolong, suaranya juga tak bisa keluar. Dia hanya bisa terus menahan rasa sakit dan darahnya yang terus mengucur dari lukanya. Sungguh naas nasib wanita itu kini.
“Apakah aku akan mati?” gumamnya sambil menahan rasa sakit dan memandang sepasang cincin pernikahan itu. Dia masih bisa tersenyum miris teringat semua ini. Pertemuan dan perkenalan sampai pernikahannya dengan Asmo. Semuanya terus membawa luka baginya, bahkan sampai mereka berpisah.
‘Kalau waktu bisa diputar, aku tak ingin mengenalmu, Asmo!’ batin Keke dan perlahan kesadarannya menghilang.
“Keke!” Sebuah suara membuatnya tersentak. Perlahan, dia memaksa matanya terbuka dan dia melihat Asmo yang kini sedang berada di dekatnya. Dia bisa lihat, raut kekhawatiran dari pria itu. Perlahan, dia mengangkat tangannya dan mencoba meraih wajah pria itu, tapi tenaganya sudah tak sanggup lagi. Dia pingsan!
“Aku harus segera melarikannya ke rumah sakit!” Asmo langsung mengangkat Keke ke dalam mobil. Dia segera melarikan wanita yang masih berstatus sebagi istrinya itu ke rumah sakit supaya segera mendapatkan pertolongan.
Sesampainya di rumah sakit, langsung saja dokter IGD memberikan pertolongan pertama. Tapi, Asmo heran kenapa tangan Keke masih terus menggenggam kotak yang dia ketahui adalah kotak cincin pernikahan mereka. Seketika, dia merasa sesak dalam hatinya. Ada penyesalan yang memenuhi hatinya saat melihat hal ini. Seakan, Keke sebenarnya tak ingin berpisah dan ingin memperbaiki segalanya. Hanya saja, Asmo yang sama sekali tak mau memperbaiki diri. Beberapa lama menunggu, beberapa dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.
“Tuan, maafkan kami!” Saang dokter meminta maf pada Asmo.
“Maaf? Kenapa dokter? Apa yang terjadi pada istri saya?” tanya Asmo bertubi- tubi karena perasaannya tak enak.
“Kami sudah berusaha, tapi istri anda tak mampu kami selamatkan. Lukanya cukup besar dan dia kehilangan banyak darah mungkin dalam perjalan ke sini. Kami sungguh minta maaf,” jelas sang dokter membuat Asmo pucat seketika.
Pria tampan itu tak berdaya dan langsung terduduk di lantai rumah sakit. Dia langsung menarik rambutnya karena merasa sedih. Dia juga tak dapat menahan air matanya yang meluncur dari pelupuk matanya. Hatinya sakit mendengar kematian dari Keke yang sangat tak wajar. Mati karena pembunuhan di tengah malam perpisahan mereka. Sungguh miris! Saat jasad Keke sudah dibersihkan dan akan segera dipindahkan ke kamar jenazah, pria itu langsung menghampirinya.
Dia menggenggam tangan kanan Keke, dan hatinya masih sakit melihat tangan wanita itu masih menggenggam erat kotak cincin itu. Asmo mengambilnya sambil mengelus- elus wajah Keke yang sudah tak bernyawa. Dia terus mengikutinya sampai ke kamar jenazah. Dia memeluk wanita tak bernyawa itu dan terus menangis.
“Ke! Maafkan aku! Aku yang salah! Aku yang jahat dan tak peduli padamu! Kumohon Ke, berikan aku satu kesempatan saja!” ujarnya pada wanita yang sudah tak bernyawa itu. Tapi, tak ada gunanya! Tetap saja, tak ada balasan dari wanita itu. Bibir tipisnya yang cantik itu hanya bisa bungkam karena memang dia sudah tak berdaya lagi. Dia sudah tak di sini lagi!
“Ke, kamu adalah wanita paling cantik dan baik yang pernah kutemui! Kumohon, bukalah matamu. Iris indahmu ingin sekali kupandang terus sampai akhir hidupku. Bangun ya, Sayang! Aku mencintaimu! SUMPAH DEMI TUHAN! AKU MENYESAL!” Asmo sampai bersumpah dan terus mengelus wajah Keke. Tapi, semuanya hanyalah kesia- siaan belaka. Wanita itu sudah pergi untuk selamanya. Rasa sakit yang dia rasakan juga sudah hilang untuk selamanya. Dia sudah tenang.
Di Pemakaman
Asmo terus menangisi Keke sepanjang acara pemakaman. Dia bahkan terus duduk di nisan Shintike Theresia tanpa mau berpindah. Seluruh keluarga menilainya sebagai suami yang sangat mencintai istrinya selama ini dan merasa kehilangan. Padahal, Asmo hanyalah pria malang yang menyesali semua kesalahannya selama ini tapi tak mendapat kesempatan untuk melakukan itu.
“Hentikan tangisan palsu itu! Aku muak melihatnya!” sinis Glasya merasa tangisan dan penyesalan Asmo adalah kepalsuan belaka.
Dia sudah tahu semuanya di hari Keke mengurus perceraian itu. Walau Keke tak menangis, tapi kata- kata Keke di hari itu cukup untuk mengungkapkan segala kesedihan dan rasa sakitnya. Glasya juga merasa bersalah dan merasa gagal sebagai seorang kakak. Dia menyesal, karena sudah menjerumuskan adik kesayangannya untuk hidup bersama pria brengseek seperti Asmo.
“Sayang! Jangan buat keributan! Ayo, kita pulang!” Raymond menenangkan istrinya. Dia merangkul dan mengelus punggung istrinya dengan penuh kasih sayang supaya Glasya tak terus bersedih. Wanita itu terus menangis dalam rangkulan suaminya. Setelah memberikan sebuket bunga, Glasya pulang bersama suaminya meninggalkan Asmo yang masih meringkuk di makam itu.
Mansion
Kini hari sudah malam dan Asmo baru saja pulang. Dia melihat suasana rumah ini dan hatinya kembali merasa sakit. Kesepian dan kehampaan benar- benar menerpa dirinya kini. Penyesalan terus merundung dirinya tanpa kenal ampun. Kemudian, Asmo mengambil kotak cincin yang dia bawa dan menatapnya miris.
“Aku yang salah! Aku yang jahat dan kejam! Harusnya, aku yang mati bukan kamu, Ke. Wanita seperti kamu layak mendapatkan kebahagiaan!” gumamnya lagi. Ah, air matanya sudah kering karena terus menangisi istrinya sepanjang pemakaman.
Pria itu berdiri dan memandangi foto pernikahan yang mereka pajang di ruang tamu. Mereka sengaja, supaya keluarga sama sekali tak menaruh curiga akan hubungan mereka berdua yang sangat kacar balau. Asmo meraih wajah Keke yang tercetak di foto besar itu. Dia mengelusnya dan menatapnya dengan penuh cinta. Dia baru menyadari semua kebodohan dan kebrengsekkannya setelah semuanya terlambat.
Pria itu mendengus kesal pada dirinya sendiri sambil berjalan sempoyongan ke kamarnya. Dia memerhatikan kamar ini. Kamar yang jadi saksi percintaannya dengan istrinya, namun juga saksi penghianatannya. Dia duduk di sisi ranjang yang selalu menjadi tempat Keke berbaring dan mengelusnya. Perhatiannya teralihkan pada diari yang tak jadi dia kembalikan. Pria itu meraih dan membuka halaman demi halaman. Dia membaca isinya dan lagi- lagi hatinya terus tertusuk membaca segala curahan hati istrinya. Setiap goresan pulpen di buku itu, adalah sebuah tamparan keras untuknya.
“Shintike!” Dia memanggil nama istrinya dengan suara rendah sarat penyesalan.
“SHINTIKE THERESIA!” Asmo kemudian berteriak dengan suara keras. Dia berharap, mungkin istrinya bisa kembali setelah dia memanggilnya dengan suara keras. Tapi sayang, itu hanya khayalannya saja! Keke takkan pernah kembali padanya lagi! Asmo, bukannya ini yang kau mau? Keke pergi dan tak mengusik dirimu lagi? Lagi- lagi, penyesalan hanya datang belakangan.
“Ke! Tolong kembali padaku! Aku janji dan bersumpah akan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untukmu! Atau, kita bertukar saja! Biar aku saja yang mati!” gumam Asmo sambil menarik surainya. Dia sama sekali tak merasakan kesakitan saat menarik surainya. Dia sangat stress sekarang!
“Ke, jangan tinggalkan! Aku berjanji, aku akan berubah! Aku sangat menyesal, Ke!” ujarnya lagi.
“Keke, aku mau kamu kembali padaku! Kumohon, Ke! Ya, Tuhan! Berikan aku satu kesempatan saja! Aku janji, aku akan membahagiakan wanita itu. Aku takkan membiarkan air mata jatuh dari pelupuk mataya. Aku mencintainya! Aku sangat mencintainya, Ya Tuhan!” Asmo berkata lagi sambil terus menangis segugukan. Dia terus memikirkan segala penyesalannya yang tak ada habisnya. Sampai akhirnya, dia mencapai batasnya dan merasa kelelahan. Pria itu akhirnya tertidur di ranjangnya. Segala penyesalan ini tentu membuatnya lelah dan butuh sedikit istirahat.
.
.
.
.
.
“Eungh!” Asmo mengerang pelan sambil menngucek matanya. Sinar matahari menerpa dan mengusik tidurnya. Dia masih belum sadar sepenuhnya dan masih merasakan kelelahan luar biasa.
‘Sehari sudaah berlalu setelah pemakaman Keke,’ pikir Asmo sambil mengumpulkan kesadarannya. Saat mendudukkan dirinya, dia agak terkejut melihat Raymond kini juga tidur di ranjangnya. Seketika, kesadarannya penuh dan memerhatikan ke sekitarnya.
“Ini bukan mansionku!” gumamnya pelan karena tahu tempat ini bukanlah mansion atau pun kamar tidurnya dengan Keke. Ini apartemennya! Apartemennya semasa dia kuliah dulu.
“Mond! Raymond! Bangun sialan!” Asmo langsung membangunkan Raymond. Dulu, sahabatnya ini memang sering menginap di apartemennya ketika mereka main bareng atau juga nugas bareng.
“Apaan sih? Sial! Aku mabuk banget!” Raymond terbangun sambil memukul pelan kepalanya yang terasa pening efek minum.
“Tanggal berapa sekarang?” Asmo langsung mengambil Hp-nya yang masih versi lama dan betapa dia terkejut.
“Ini… aku… masih 21 tahun?!” Asmo tak percaya kalau sekarang dia kembali ke masa lalu. Ya, waktu berputar enam tahun ke belakang.
“Apaan sih? Efek kebanyakan minum, membuatnya jadi lupa! Memangnya, kau sudah umur berapa, huh!” ujar Raymond sambil berdiri dan beranjak ke kamar mandi. Dia melirik Asmo yang masih kebingungan sambil berkata,” Oi! Jangan melamun terus! Satu jam lagi, kita mesti ngampus!”
Asmo yang mendengar, hanya menatap Raymond dan masih terdiam. Dia masih tak menyangka semua ini. Seakan, dia memang diberi satu kesempatan untuk mengulang segalanya dari awal lagi.