Universitas Nasional
“Bro? Kenapa melamun aja? Apa sih yang sedari tadi kaau pikirkan?” Raymond heran melihat sahabatnya yang ribut dan banyak bicara ini, sekarang jadi pendiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tentu saja, Raymond selaku sahabat Asmo dari kecil tentu saja ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya.
“Kau percaya, tidak? Malam ini, kau akan segera melepas keperjakaanmu?” Sebuah pertanyaan keluar dari mulut Asmo sambil memberikan tatapan serius kepada Raymond. Tentu saja, sahabatnya itu mengernyitkan keningnya karena tak mengerti ke mana arah pembicaraan dari Asmo.
Kalau waktu diulang dan jatuhnya di hari ini, maka malamnya Asmo dan Raymond akan main ke klub. Raymond akan memerhatikan Glasya yang menari dengan sangat menawan dan menarik hati Raymond, kalau diingat lagi, Asmo juga tertarik pada Glasya waktu itu. Dan setelah itu, mereka berdua terus menatap, menari bersama dan menyelesaikan sisanya di atas ranjang. Kemudian, mereka berdua pacaran dan untungnya sampai menikah. Harusnya sih seperti itu!
“Maksudmu apa? Kau pikir, aku itu tipikal pria pemain wanita sepertimu? Kau sudah menyerahkan keperjakaanmu kepada pacar- pacarmu sejak tahun pertama kuliah. Dan jujur, aku sama sekali tak ingin sepertimu, sialan!” kesal Raymond mendengar pernyataan soal melepas keperjakaan. Mendengar itu, Asmo hanya tersenyum miring. Raymond akan menrik kata- katanya ketika melihat kecantikan Glasya nanti malam.
Meski bersahabat, mereka berdua sangat berbeda. Raymond adalah tipe pria yang fokus belajar untuk masa depan, walau agak liar dalam arti suka minum dan berpesta. Tapi, dia sama sekali tak mau bermasalah soal wanita seperti Asmo. Entah sudah berapa kali dia melihat kalau Asmo mendapat tamparan dari wanita yang berbeda. Kalau Asmo, tak terlalu pintar, kaya dan tampan. Sosok yang terlihat sempurna, tapi suka main perempuan dan gak ada tobatnya. Tapi, tidak tahu kalau sekarang dirinya mau berubah pikiran soal itu.
‘Aku ingin berubah! Aku bukan Asmo yang penuh napsu seperti dulu! Hidupku hanyalah untuk membahagiakan Shintike!’ tekad Asmo ingin berubah dari kebiasaan buruknya itu.
“Raymond! Kau dipanggil oleh dosen, tuh!” Salah satu teman kuliah mereka menyampaikan pesan dari dosen.
“Oh! Oke, aku duluan ya!” Raymond langsung pamit dan meninggalkan Asmo di depan kelas mereka. Asmo terdiam dan dia teringat kalau urutannya memang begini. Kalau dia ingat, dulu dia akan sibuk mendekati adik tingkat dan menggoda mereka. Tiba- tiba, seorang gadis berambut pirang panjang lewat di depannya. Asmo terdiam, dan dia melihat perempuan yang dikenalnya itu. Tanpa sadar, kakinya melangkah mengikuti gadis itu dari belakang.
Ternyata, gadis itu berjalan menuju ke koridor dan Asmo diam- diam terus mengikutinya. Saat gadis itu berhenti, Asmo bersembunyi dan matanya terbelalak melihat gadis berambut pendek dan mengenakan seragam SMA. Penampilannya begitu cantik, manis dan sangat imut. Asmo tak bisa menahan diri dan langsung memeluk gadis itu. Sosok yang sangat ingin dia bahagiakan seumur hidupnya. Sepertinya, Tuhan memang memberikannya sebuah kesempatan untuk menebus kesalahannya.
“Eh?” Gadis itu terkejut dan gadis lain yang adalah kakak perempuannya terbelalak melihat tindakan Asmo yang sangat lancang menurutnya.
“Apa yang kau lakukan?!” Kakak perempuannya yang bernama Glasya Odelia langsung berteriak dengan nada keras kepada Asmo. Mendengar itu, Asmo langsung melepas pelukannya dan menatap gadis yang tadi dipeluknya dengan tiba- tiba.
“Shintike! Ini kamu kan?” Asmo ternyata masih fokus dengan sosok Keke yang masih SMA. Kebetulan, dia minta izin masuk ke Universitas ini untuk mengantar barang Glasya. Geram karena diabaikan, Glasya menjewer kuat telinga Asmo untuk menjauh dari adiknya.
“Eh, ma- maaf! Perkenalkan, aku Asmo Deus Pranata, Mahasiswa Jurusan Manajemen tingkat akhir.” Asmo memperkenalkan diri kepada kedua gadis itu. Harusnya, dia tidak bertemu Glasya saat ini. Dia baru akan mengenal Glasya setelah Raymond mengenalkan gadis itu sebagai kekasihnya.
‘PLAK!’
Glasya langsung menampar Asmo setelah dia memperkenalkan diri. Keke yang melihat hal itu langsung terbelalak. Tentu saja, dia terkejut melihat sikap kakaknya yang sama sekali tak ramah kepada seseorang yang mencoba bersikap ramah kepada mereka. Meski Asmo berlebihan karena langsung memeluk Keke, tapi sebenarnya Keke tak terlalu memusingkan soal itu.
“Kak… jangan kasar begitu,” tegur Keke dengan suara rendah.
“Asmo Deus! Playboy serampangan yang suka main perempuan! Kau pikir, namamu itu tidak terkenal di kampus ini? Mungkin, perempuan dari setiap kelas pernah kau tarik ke ranjangmu, kan? Tapi, jangan harap kau bisa menjadikan aku atau adikku sebagai mangsamu!” Glasya memperingatkan sambil menunjuk wajah Asmo.
Mendengar itu, Asmo hanya terdiam seribu bahasa. Dia tak bisa berkutik soal kebenaran itu. Apalagi, Glasya membuka aibnya di depan Keke. Tamat sudah riwayatnya! Diam- diam, dia melihat ke arah Keke yang sepertinya tak suka padanya. Asmo hanya bisa menghela napasnya dan tak berniat membalas Glasya.
“Maaf, kalau saya membuat kalian terganggu. Saya… undur diri dulu,” pamit Asmo. Dia merasa, di waktu seperti ini belum cocok untuk membela dirinya.
‘Tapi, bukan berarti aku menyerah,’ batin Asmo masih bertekad untuk mendapatkan hati Keke.
“Kakak mengenal orang itu?” tanya Keke sambil memberikan makalah tugas Glasya yang ketinggalan.
“Salah satu teman kakak pernah menjadi pacarnya dan dia meninggalkannya begitu saja! Dia itu pria berbahaya dan tak diri. Lancang sekali dia langsung memelukmu di depan mataku! Cari mati namanya!” jawab Glasya dengan nada kesal terus mengingat kelancangan Asmo terhadap Keke.
“Tapi, bukannya kakak suka pria tampan?” tanya Keke tersemat sedikit keisengan walau nada bicara dan wajahnya data raja.
“Tampan kalau tak bermoral juga tak ada gunanya,” jawab Glasya memberikan pandangan.
“Oh, begitu ya? Baiklah, kakakku yang pelupa, adikmu ini pulang dulu ya! Aku mau belajar untuk ujian akhir,” pamit Keke sambil melambaikan tangan pada kakaknya. Glasya membalas lambaian tangan adik perempuan kesayangannya. Selepas kepergiannya, Glasya langsung beranjak ke kelasnya. Dia adalah Mahasiswi tahun ke -3, satu tingkat di bawah Asmo dan Raymond.
Kini, Asmo berada di kelasnya sambil memikirkan kejadian tadi. Ah, dia bukannya tersinggung soal Glasya. Dia sibuk memikirkan Keke yang terlihat begitu menawan saat ini. Waktu sudah mundur enam tahun ke belakang dan mereka semua masihlah muda. Keke yang dalam ingatannya, adalah wanita berambut panjang yang selalu mengikatnya rendah dan suka mengenakan baju halter neck. Sikap Keke tetap sama, yaitu datar dan dingin. Walau begitu, Keke adalah perempuan yang baik hati.
“Asmo! Dosen sudah menyetujui materi penelitianku. Dalam waktu dekat, aku harus segera menyelesaikannya dan menyusun skripsi. Papaku sudah tak sabar ingin pensiun,” ujar Raymond saambil duduk di sebelah Asmo.
“Baguslah! Aku saja masih memikirkan judul untuk penelitian, hehehee!” cengir Asmo. Untungnya, dia ingat materi apa yang dulunya dia pilih untuk menyelesaikan tugas ini. Dia bisa lebih bersantai dan tak perlu bekerja keras seperti dulu.
“Yap! Kalau begitu, kita ke klub malam ini! Beberapa teman juga ngajak! Kau pasti mau kan?” ajak Raymond pada sahabatnya itu. Untuk merayakan beberapa hal, mereka memang sering ke klub untuk minum dan melepas penat.
“Iya! Aku tak sabar melihatmu menjadi liar saat bertemu dengan perempuan itu,” balas Asmo sambil memberi tatapan yakin pada sahabatnya.
“Apa maksudmu? Dasar sial! Aku takkan bermasalah dengan perempuan! Kenapa kau yakin sekali soal itu?” Raymond tak habis pikir soal keyakinan Asmo.
“Yakin dong! Setelah kau bersamanya, kau akan bilang, kalau hanya dia cintamu dan hidupmu. Kau tak percaya, huh? Aku ini punya ilmu melihat masa depan!” jawab Asmo yakin seribu persen. Ya iyalah! Namanya juga dia sudah pernah menjelajah waktu enam tahun ke depan. Sebenarnya sih, dia agak kagum dengan Raymond yang bisa benar- benar bertahan dengan satu perempuan seumur hidupnya. Kalau dipikir juga, pertemuan mereka termasuk liar dan bebas. Tapi, untuk setia itu memang prinsip, bukan bergantung keadaan saja.
“Aku jadi penasaran, secantik apa perempuan yang bisa menawan hatiku ini! Asal tahu saja, banyak perempuan yang terus mengejarku, tapi mereka sama sekali tak menarik di mataku. Jadi, pastikan kalau perempuan itu memang sangat cantik ya!” Raymond jadi agak penasaran.
Sebagai pria tampan dan kaya, dia pasti jadi idola. Bedanya dengan Asmo, dia sama sekali tak memanfaatkan perempuan yang menyukainya. Dia juga tak membalas setiap pernyataan cinta dari para gadis. Alasannya mudah, tak ada yang membuatnya tertarik. Raymond adalah tipikaal pemilih yang akut. Dia mengingnkan sosok sempurna untuk menjadi pendampingnya.
“Kau lihat saja nanti!” kata Asmo.
“Oke! Kalau tak ada perempuan yang cantik, maka malam ini kau tidak boleh tidur dengan wanita ya!” Raymond memberi sedikit ancaman kepada Asmo. Kalau sudah dilarang soal wanita, Asmo pasti akan langsung menolak. Kenapa? Karena Asmo bukan tipe pria yang mau membendung napsunya. Tapi, sekarang sudah berbeda! Asmo tersenyum hangat dan menatap Raymond.
“Aku takkan tidur dengan wanita mana pun lagi, kecuali istriku nanti!” ujar Asmo dengan nada serius. Mendengar itu, Raymond terkejut dn merasa lucu.
“HAHAHAHAHAA!” tawa Raymond tak elit.
“Kenapa terniat gitu ketawanya?” kesal Asmo melihat Raymond yang malah menertwakannya. Bukannya dukung, malah tertawa mengejek.
“Asmo, katakan padaku! Apa wine semalam isinya racun atau obat? Kau seperti baru dapat ilham dari Yang di atas!” ejek Raymond lagi. Jelas saja, dia tak percaya kalau Asmo yang bicara seperti itu. Kalau Asmo disuruh menahan napsunya, maka dia akan seperti orang gila. Lagian, banyak perempuan yang rela untuk menjadi pelampiasan napsu gila dari sahabatnya itu.
“Aku serius! Aku hanya ingin mencintai satu orang dalam hidupku!” tegas Asmo lagi.
Dia maklum sih, kalau Raymond berpikir kalau dia sedang bercanda. Sebagai sahabat dekatnya, Raymond sudah tahu semua tingkahnya, apalagi yang negative. Jujur, karena bergaul dengannya, Raymond jadi mengenal minum- minum dan pesta liar. Mungkin saja, kalau dia tak bertemu Glasya, dia akan terjebak degan para wanita seperti Asmo.
“Oh! Kalau begitu, buktikan ya! Kalau sampai kau selingkuh dari Tarra, berarti kau menjilat ludahmu sendiri,” ujar Raymond membuat Amo terkejut. Dia baru ingat! Saat ini dia sedang punya hubungan spesial dengan anak jurusan lain, Tarra Amanda.
“Bukan dia maksudku! Ada gadis lain di hatiku! Sebentar lagi, aku akan mengakhiri hubunganku dengan Tarra!” jelas Asmo menegaskan kalau perempuan yang dimaksudnya bukan Tarra, melainkan Shintike.
“Kan sudah kubilang! Bacodmu kebanyakan! Kau masih gonta- ganti perempuan seperti biasa! Aku takkan memercayaimu sampai akhirnya memang kau bisaa buktikan perkataanmu!” kata Raymond masih tak percaya pada Asmo.
Biarlah Raymond yang menilai, tapi Asmo yakin kalau dia bisa setia kepada Keke sampai akhirnya dia menikahi gadis itu. Sekarang, dia hanya ingin menonton kisah cinta Raymond dan Glasya secara live. Bukan sekarang sih, tepatnya nanti malam saat mereka sedang party di klub.