Dentuman musik keras memenuhi seluruh ruangan ini. Ruangan temeram dengan lampu kerlap- kerlipnya. Para pria dari satu geng sama, sedang duduk bersantai di salah sofa yang tersedia. Mereka semua semua sedang berkumpul, totalnya ada lima pria di sini. Usia mereka sebaya, tapi ada yang sudah lulus kuliah dan masih ada yang sedang kuliah. Sebenarnya, hanya satu yang sudah lulus, itu pun karena dia memang anak jenius.
“Hanya karena materimu diterima, sampai merayakannya? Kau berlebihan, Raymond!” Brandon berujar dengan nada agak sedikit mengejek pada teman sepantarannya itu. Dia sombong sedikit, karena dia sudah lolos S3 dan bekerja di pusat penelitian yang adalah milik keluarganya.
“Hoo! Sombong sekali! Setidaknya, ini sebuah pencapaian! Daripada si Asmo yang masih belum di ACC materinya, aku selangkah lebih maju!” Raymond membalas dan masih agak menyombongkan kebolehannya.
“Aku sih, ikut saja, karena dibayarin sama Raymond,” ujar Belial dengan santainya. Kalau yang satu ini ikut aja, apalgi kalau tidak mengeluarkan budget.
“Sebenarnya, lebih baik aku di rumah mengerjakan skripsi daripada bergabung dengan orang t***l seperti kalian! Seingatku, Asmo baru party semalam dan sekarang party lagi! Dasar Hedonist!” cecar Amon yang sedang duduk di tempatnya. Kalau yang satu ini adalah yang paling dingin di antara mereka.
“Yup! Santailah semuanya! Nikmati saja, dulu!” Asmo mencoba mendinginkan situasi.
Dia heran, kenapa teman- temannya ini malah mengeluh, tapi pas diajak mau aja. Kan aneh? Dia diam sebentar, dan teringat kalau percakapan ini sama juga dengan yang ada dalam ingatannya. Asmo semakin yakin, kalau dia memang sedang menjelajah waktu. Dia diberi kesempatan untuk memperbaiki dirinya. Tak lama, para wanita yang biasanya main sama Asmo datang mengelilingi pria itu.
“Asmo! Welcome back, honey!” Wanita itu langsung duduk di pangkuan Asmo. Yang lain sih merasa biasa saja. Karena pemandangan ini adalah hal yang biasa bagi mereka. Bukan Asmo namanya, kalau kerjanya bukan main perempuan.
“Sorry! Aku gak gitu lagi!” tolak Asmo tegas.
Kalau dia yang dulu, akan langsung membawa wanita itu dalam pelukannya dan bercumburia di depan teman- temannya. Kini, dia sama sekali tak tertarik melakukan semua itu. Seakan, niatnya untuk memiliki hubungan dengan perempuan lain selain Shinthike sudah hilang! Masa sekaranghanya dia fokuskan untuk mendapatkan kembali istrinya. Mendengar itu, wanita itu kesal tapi semakin memeluk Asmo.
“Kenapa? Sudah bosan?” tanyanya dengan nada manja.
“Aku… mau tobat,” jawab Asmo sangat seadanya.
“HAHHAHAHAHAHAHAHA!”
Keempat temannya langsung tertawa keras mendengar jawaban Asmo yang menyatakan dirinya mau tobat. Brandon yang selalu serius sampai ketawa mendengarnya. Amon juga! Dia merasa kalau ini adalah jokes yang paling lucu sedunia. Mana ada, playboy akut cap hiu atau paus bisa tobat dalam kurun waktu yang sesingkat- singkatnya. Ini pasti prank dari Asmo!
“Apa yang lucu, sih?” kesal Asmo sambil menyingkirkan wanita itu dari dirinya. Wanita itu akhirnya pergi dengan nada kesal setengah mati karena ditolak oleh Asmo.
“Ini bukan April MOP kan?” Belial buka suara. Dia ingat, kalau hari ini sudah lewat April MOP untuk mengerjai orang lain.
“Atau… karena kebanyakan main, kau jadi impoten?” tebak Bernard juga.
“Aku masih sehat!” jawab Asmo dengan tegas. Dia tak menyangka, begini reaksi teman- temannya ketika melihatnya berubah. Bukannya mendukung, malah meledekin.
“Mungkin, kau terkena HIV!” tambah Amo sembarangan.
“Mana ada, sialan!” balasnya lagi. Ingin sekali dia memukul wajah temannya satu per satu.
“Tadi sih, dia bilang mau tobat dan mengabdikan hidupnya untuk istrinya. Tapi, itu cuma di mulutnya. Belum tahu di selangkangannya!” Raymond tak mau ketinggalan mengejek Asmo. Memang, mereka ini adalah teman kampret!
“Dahlah, kalau tidak percaya!” Asmo diam saja. Perkataannya takkan langsung dipercaya dengan mudah. Dia teringat, betapa buruknya dia kalau sudah soal wanita. Teman- temannya berulang kali menasehatinya, tapi dia bodo amat. Bahkan, ada satu wanita yang dulu pernah minta Brandon untuk membuatkan ramuan anti playboy supaya diminum oleh Asmo. Oke, dia memang parah pake banget sebenarnya. So, jangan menuntut temanmu untuk percaya dengan pertobatanmu.
Tak lama, seorang gadis berambut panjang dikucir tinggi lewat di depan mereka semua. Dia mengenakan gaun merah pendek di atas paha dan wajahnya sangat cantik dan menawan. Keempat pria itu langsung teralihkan perhatiannya. Brandon tidak, karena sepertinya dia memang sulit untuk jatuh cinta. Dia mencintai pekerjaannya sebagai peneliti. Mungkin, Brandon akan menikah dengan pekerjaannya.
Oke, kembali pada gadis bergaun merah! Asmo memang sudah tahu ini, awal pertemuan Raymond dan Glasya. Yap! Gadis itu adalah Glasya. Dia memerhatikan teman- temannya yang terpesona pada Glasya. Dia baru sadar, kalau Amon juga terhipnotis dengan kecantikan Glasya. Dulu, dia ikutan terhipnotis karena terlalu memerhatikan Glasya. Sekarang, rasanya dia ingin sekali mengabadikan tatapan para pria ini kala melihat Glasya.
“Aku tidak pernah melihatnya di sini,” ujar Belial terus memerhatikan gadis itu.
“Kau sudah punya pacar! Aku hanya mengingatkan! Atau, mungkin Bella harus tahu kelakuanmu!” Asmo mengejek. Kebetulan, dia mengenal Bella, pacaranya Belial yang belakangan menjadi istrinya. Ya, dia tahu karena dia berasal dari masa depan.
“Kalau Bella tahu, kau gak selamat, Asmo!” Belial sangat kesal mendengar ancaman Asmo yang sungguh menakutkan. Dia sayang sekali pada pacarnya itu. Walau terkadang sering kumat- kumatan.
“Gitu amat, melihatnya Amon! Udah pengen pacaran?” Asmo sedikit mengejek Amon. Pria yang gak pernah pacaran sejak lahir dan memiliki pemikiran yang so realistis.
“Hanya melihat belum tentu berniat. Lagipula, perempuan dengan penampilan demikian pasti bukan perempuan baik- baik!” Amon memberikan penilaiannya.
Ya, memang kalau terpana, bukan berarti jatuh cinta. Biasalah, laki- laki kalau melihat perempuan cantik kebanyakan begitu. Dan kini, Asmo memerhatikan Raymond yang sama sekali tak mengalihkan pandangannya. Yang lain sih, udah cukup beberapa menit saja. Tapi, perhatian Raymond padanya tak lepas sedikit pun. Asmo tahu, kalau memang sahbatnya ini sudah jatuh hati pada Glasya sejak pandanga pertama. Meski satu kampus, mereka jarang bertemu. Karena sebenarnya, gedung kampus mereka pisah dan Raymond tak terlalu tertarik soal wanita.
Keempat temannya terus memerhatikan Raymond yang tak putus memandang Glasya. Mereka kini adalah penonton yang menyaksikan apa yang akan terjadi setelah ini. Pria itu bahkan sampai berdiri memerhatikan gerakan gadis itu yang sedang menari dengan sangat sexy. Tak lama, tatapan mereka bertemu. Gadis itu terkejut kalau diperhatikan sampai segitunya oleh Raymond. Perlahan, dia bersembunyi di kerumunan banyak orang supaya tak menjadi pusat perhatian. Dia malu! Apalagi, dia melihat cowok ganteng memerhatikannya sampai segitunya.
“Kejar, Bro!” suruh Asmo bagaikan mantra untuk melakukan sesuatu. Tanpa basa- basi, Raymond langsung melangkah ke lantai dansa dan mencari gadis itu. Dia sudah sangat terhipnotis dengan gadis cantik itu.
“Woah! Aku gak pernah lihat Raymond sampai begitu!” heran Brandon.
“Kalian mau tahu? Dia akan melepas keperjakaannya malam ini dengan gadis itu!” Asmo memberi spoiler.
“What? One night stand? Dia bukan orang yang begitu setahuku!” Belial merasa Asmo sok tahu.
“Memangnya, Raymond masih perjaka? Aku tidak tahu, karena gak pernah periksa soalnya,” cuek Amon mendengar soal ini.
“Mau menyaksikannya secara live?” ajak Asmo membuat semua pasang mata temannya mengarah padanya. Walau bagaimanapun, mereka tetap laki- laki yang suka melihat sesuatu yang agak gimana gitu.
“Aku tak tertarik!” tolak Brandon cepat.
“Ck! Jangan munafik dong! Ayo!” Asmo langsung membawa para temannya mengikuti Raymond. Dia yakin, mereka ada di salah satu pojokan bar ini. Memang, ada yang ego dan sok dingin. Tapi ujung- ujungnya, ikutan juga. Apalagi, kalau ada tontonan gratis.
Raymond kini menemukan Glasya! Dia menahan tangan gadis itu supaya tak menghilang semakin jauh. Perlahan, gadis itu berbalik dan mendongakkan kepalanya melihat pria tampan tinggi berambut pirang layaknya orang Eropa. Sebenarnya, Raymond adalah blasteran. Tatapan mereka bertemu dan pria itu tak bisa berhenti tersenyum memandang wajah Glasya. Memang, dia bukannya tak pernah pacaran, tapi dari semua wanita yang dia kenal, Glasya adalah yang paling menarik di matanya.
“Kau sangat menarik,” puji Raymond dengan suara rendah. Napasnya agak tersenggal karena jantungnya berdegup kencang memandangi Glasya.
Gadis itu buang muka karena sedemikian malu. Raymond tidak basa- basi dan langsung menarik Glasya ke pojok yang kosong dan gelap di bar itu. Dia mengurung Glasya dalam kungkungannya dan mendekatkan wajahnya. Glasya hanya terdiam karena masih terpesona dengan ketampanan Raymond. Dia seakan pasrah saja dengan apa yang terjadi setelah ini. Raymond tersenyum miring, lalu mendaratkan sebuah ciuman di bibir tipis gadis itu.
Awalnya, hanya ciuman biasa. Tapi, Glasya mengikuti nalurinya dan melingkarkan tangannya di leher Raymond. Ciuman mereka semakin dalam dan semakin panas. Keduanya sudah dikabuti oleh gairah dan napsu antar satu sama lain. Keduanya seperti magnet berbeda kutub yang saling tarik- menarik dan tidak mau berpisah. Memang iya, mereka jodoh. Asmo sudah tahu lebih dulu karena dialah yang kembali dari depan.
“Woah! Tontonan gratis!” bisik Belial kepada teman- temannya yang sudah menemukan di mana Raymond mojok dengan gadis itu.
“Kenapa sih, perempuannya langsung mau? Kan kelihatan kalau dia murah!” Amon geleng- geleng merasa perempuan itu terlalu mudah untuk memberikan dirinya. Dia aja jual mahal, jadi dia agak heran dengan sikap perempuan zaman sekarang.
“Raymond good looking, itulah alasannya,” jawab Brandon sedikit memberi pencerahan.
“Ssshh!!” Asmo menyuruh teman- temannya supaya tak banyak bicara. Gak asik kalau misalnya mereka ketahuan secepat ini.
“Nanti mereka nikah, kok!” ujarnya lagi main spoiler.
“Sok tahu!” Amon tak percaya begitu saja.
Raymond sangat menikmati ciumannya yang menggairahkan dengan Glasya. Saking bernapsunya, dia bahkan tak mengenalkan diri terlebih dahulu. Dia melanjutkan sengan menyesap harum Glasya dan menghembus telinga gadis itu. Ah, Glasya juga sama! Dia sudah terjebak di sini. Tapi untunglah, dia masih sadar. Perlahan, tangannya menuju ke celana Raymond dan mencari saku pria itu. Dia membiarkan Raymond melakukan apapun sesukanya dan dia akan mengambil Kartu Tanda Pengenal pria itu. Dia akan tahu identitas pria ini.
“Apa yang-?” Raymond ternyata sadar dengan apa yang dilakukan gadis ini. Dia mencuri dompet pria itu dan mengambil kartu tanda pengenalnya di depan matanya.
“Raymond Mahesa! Aku hanya ingin mengenalmu, tampan!” Glasya akhirnya buka suara karena bungkam sedari tadi.
“Oh! Bukan masalah! Kalau begitu, bisa langsung kamu kembalikan? Aku rasa, kita tidak sampai segini saja kan?” Raymond meminta kartu tanda pengenalnya sambil mengajak untuk sesuatu yang lebih.
“Tidak! Siapa yang tahu, setelah malam panjang kita, kamu akan menghilang dengan cepat! Aku akan tahan ini sampai pertemuan kita berikutnya!” jawab Glasya agak keberatan mengembalikannya. Ini adalah cara untuk bisa bertemu lagi dengan Raymond kedepannya. Tentu saja, dia tak mau melepaskan pria setampan ini.
“Jadi… kamu tidak mau aku lari begitu saja ya? Baiklah, aku akan segera menandaimu, supaya tak ada pria mana pun yang di pikiranmu selain diriku!” balas Raymond sambil menyandarkan kepalanya di bahu telanjang Glasya. Dia menciumi lehernya dan sedikit menggigitnya untuk memberi kissmark.
“Eungghh!” Glasya agak melenguh mendapat gigitan dari pria itu di lehernya. Tapi, Raymond teringat perkataan Asmo sebelumnya, “Kau percaya, tidak? Malam ini, kau akan segera melepas keperjakaanmu?”. Seketika, dia berhenti dan memundurkan dirinya dari Glasya.
“Ti- tidak mungkin! Kenapa dia bisa tahu?” Raymond tak percaya kalau perkataan Asmo sebelumnya akan terjadi padanya kalau dia mengikuti gairahnya begitu saja.
“Ada apa?” tanya Glasya heran karena Raymond berhenti, padahal mereka belum sewa kamar.
“Ti- tidak apa! Se- senang bertemu denganmu!” Raymond langsung mengundurkan dirinya dan keluar dari bar meninggalkan Glasya begitu saja. Dia langsung kehilangan gairahnya karena teringat ramalan Asmo yang langsung terjadi padanya dan disangkalnya berulang kali.
“Lah? Kenapa berhenti?” Para penonton yakni, Asmo, Amon, Belial dan Brandon agak kecewa.
“Kalian? Mau mengintip?!” tanyanya pada keempat temannya itu.
“Ehh… kami mau ajak pulang!” Brandon langsung beralasan.
“Eum, aku duluan!” Amon langsung kabur. Dia malu kalau ketahuan melakukan hal memalukan seperti ini.
“Do- dompetku ketinggalan!” Belial juga kabur.
“Anu… aku sepertinya kemalaman,” ujar Asmo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Saat akan berbalik, Raymond menahannya.
“Aku ada urusan denganmu, sialan!” Raymond berkata dengan nada yang sangat menekankan. Asmo meneguk ludahnya karena melihat sahabatnya itu kini agak menakutkan.
‘Mampus!’ batin Asmo.