Kini, Raymond menarik paksa Asmo untuk ikut dengannya. Dia ingin mengintrogasi sahabatnya yang sudah dengan seenak hatinya meramal soal dirinya. Dia gak suka aja, kalau ada yang menebak apa yang akan terjadi padanya kedepannya. Dan sialnya, Asmo nyaris saja benar. Gadis yang dilihatnya itu memang sangat mencuri perhatiannya dan nyaris menghilangkan akal sehatnya. Dia tahu, dia juga memang gila. Tapi menurutnya, Asmo-lah yang lebih gila!
“ Katakan sekarang padaku! Apa dia sengaja kau kirim untuk membuat kata- katamu tadi jadi kenyataan?” Raymond mulai mengintrogasi sahabatnya sesampainya mereka di parkiran. Jangan tanya ke mana yang lain. Mereka sudah pada kabur dan gak mau ikut campur.
“A- aku tidak melakukan itu! Kan sudah kubilang, aku hanya menebak! Ya… pas saja beneran!” Asmo beralasan.
‘Tidak mungkin, aku bilang kalau aku dari masa depan! Kau akan langsung mengataiku orang gila!’ batin Asmo sambil memandang kesal pada Raymond.
“Haha! Gak beneran kok! Aku tidak sampai melakukan itu dengannya! Aku tidak melepas keperjakaanku. Mungkin saja, dia mantanmu kan?” tebak Raymond.
“Bukan! Aku bahkan gak kenal sama dia!” jawab Asmo. Dia tidak bohong kok! Harusnya, dia memang belum mengenal Glasya hari ini. Harusnya Raymond yang bercerita langsung padanya soal apa yang mereka lakukan sebelumnya. Itu urutannya!
“Awas saja!” kesal Raymond sambil merogoh kuncinya untuk membuka mobilnya. Tiba- tiba, dua petugas bar mendatangi mereka.
“Tunggu! Kalian belum bayar!” ujar mereka membuat Asmo dan Raymond saling menatap. Raymond sadar, gadis itu membuatnya melupakan segalanya. Dia pun mengambil dompetnya dan mencari kartu kreditnya. Tapi anehnya, kartu itu tak ada di tempat.
‘Eh? Aku selalu bawa kartu itu?’ heran Raymond karena kartunya hilang begitu saja. dia meneguk ludahnya melihat para petugas bar, karena dia tidak punya uang cash.
“Dahlah! Berapa semuanya? Aku yang bayar!” Asmo memberikan uang cash. Dia merasa ada yang tak beres dari ekspresi Raymond saat ini. Seperginya para petugas bar itu, Raymond menyandarkan badannya di mobilnya.
“Perempuan itu!” Raymond geram sendiri.
“Kenapa dengan Glasya?” tanya Asmo tanpa sadar menyebut namanya. Mendengar itu, Raymond langsung menatap heran pada sahabatnya. Asmo langsung membekap mulutnya sendiri karena panik. Tanpa sadar, dia menyebutkan nama Glasya yang Raymond saja belum kenal. Kini, Raymond makin curiga dan menarik kerah bajunya. “Kau kenal dia kan, sialan! Siapa dia? Kau tahu? Dia mengambil kartu identitasku dan kartu kreditku! Beri tahu aku sekarang, di mana rumahnya!”
Asmo sudah sangat mati kutu dan tak bisa bicara lagi. Sepertinya, Raymond sudah terlalu geram kepadanya. Kalau dia masih tutup mulut, pasti Raymond gak akan segan menghajarnya di sini dan sekarang juga. Raymond jago bela diri dan dia? Hanya jago main ranjang aja. Dia gak bisa bela diri. Oh kasihan!
“A- ampun! A- aku aka kasih tahu di mana bisa ketemu sama dia!” Akhirnya Asmo buka mulut dan Raymond melepas cengkramannya.
“Dia sekampus dengan kita,” jawab Asmo membuat mata Raymond membulat. Dia tak menyangka, kalau gadis yang baru dia temui ternyata sekampus dengannya.
“Jurusan apa dan angkatan ke berapa?” tanya Raymond mengintrogasi lagi.
“Be- besok aku antarkan ke gedung fakultasnya,” jawab Asmo membuat Raymond lebih tenang. Setidaknya, Asmo bisa membantunya bertemu lagi sekaligus meminta kartu identitasnya dan kartu kreditnya. Dia tak terlalu memikirkan soal apa hubungan Asmo dan gadis itu. Entah kenapa, bayangan Glasya tak mau pergi dari pikirannya. Dia memang sudah jatuh hati pada pandangan pertama. Mungkin, karena kecantikan Glasya. Namanya juga pria, kalau udah namanya perempuan cantik, dia langsung membidiknya sebagai incaran.
“Dasar! Udahlah! Aku mau pulang! Kau membuat hariku tidak asyik!” Raymond akhirnya membuka pintu mobilnya. Asmo juga ikut dan pulang bersamanya. Mereka datangnya bareng, ya pulang barengan juga dong! Agak romantis ya? Namanya juga sahabat, tapi mereka normal kok. Sudah teruji klinis!
***
Glasya baru aja masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan perlahan, karena takut ayah atau adiknya terbangun. Ah, ayahnya juga sedang keluar kota. Dia juga yakin, kalau adiknya pasti sudah tidur duluan. Hari ini, dia merasa sangat lucu. Dia memang baru pertama kali main ke bar, itu pun karena diajak sahabatnya, Levi. Dan dia nyaris saja melakukan sesuatu dengan seorang pria yang sangat tampan. Hampir saja, dia kehilanga keperawanannya.
‘Ceklek!’
Saklar lampu dihidupkan dan mengejutkan Glasya. Dia mendapati adiknya, Shintike yang duduk di sofa ruang tamu dan menatapnya dengan mengintrogasi. Jujur, dia tak menduga, kalau adiknya ini menungguinya sampai hampir tengah malam. Keke langsung berdiri dan menghampiri kakaknya yang agak bandel itu dan tentu dia ingin bertanya dari mana sang kakak. Dan kenapa dia baru pulang jam segini.
“Dari mana?” tanya Keke dengan nada mengintrogasi.
“Main,” jawab Glasya dengan nada takut- takut. Entah kenapa, aura adiknya ini memang sangat disegani. Bisa dibilang, dia segan pada adiknya.
“Kakak tahu? Kalau papa sampai tahu, kakak bisa dimasukkan ke asrama. Kakak mau?” tanya adiknya menasehati kakaknya sendiri. Ya, memang sih! Keke dan Glasya bertolak belakang. Keke jauh lebih disiplin daripada Glasya. Dia lebih berprinsip tinggi dibanding kakaknya. Sungguh, dunia terbalik!
“Gak mau! Please! Jangan kasih tahu papa, Ke!” mohon Glasya pada adik kesayangannya itu.
“Oke, jangan ulangi lagi!” Keke memberi peringatan layaknya seorang ibu. Ah, kedua anak perempuan ini sudah kehilangan ibu mereka semenjak kecil.
“Tapi, kamu tidak tahu, kalau kakak tadi ketemu sama cowok ganteng banget! Ke, please jangan terlalu kaku!” Glasya sepertinya tidak benar- benar mau kalah. Dia malah membujuk adiknya untuk mengerti dirinya.
“Bukan kaku, tapi berprinsip!” Keke menegaskan membuat Glasya mati kutu. Kakaknya itu hanya manyun sambil membuka jaket putih berbulunya. Dia memegang jaketnya, tapi Keke malah terbelalak. Dia memerhatikan leher putih Glasya yang ada bekas merah. Dia langsung menahan kakaknya dan menatapnya dalam- dalam.
“Kakak bermain gila dengan seorang pria?” tanya Keke menuntut.
“Ti- tidak kok,” jawab Glasya dengan gugup tapi Keke masih tetap saja memberinya tatapan mengintrogasi. “Eum… nyaris. Tapi, aku masih perawan. Beneran!” Glasya meyakinkan adiknya lagi.
“Kak, jangan serahkan mahkota kakak begitu saja! Sebagai perempuan, harga diri kita harus dijaga baik- baik!” Keke memberi nasihat layaknya seorang ibu.
“Ke, udahlah! Itu pemikiran yang klasik banget! Aku dah dewasa, dan gak usah ajari aku!” Glasya kesal dan melepaskan tangan adiknya dari kedua sisi lengannya.
“Aku kasih tahu yang baik ke kakak!” Keke masih tak lelah menasehati kakaknya.
“Kamu tenang aja! Aku juga gak bodoh! Kalau pasang harga terlalu tinggi juga, nanti gak laku! Kamu kuno, Ke! Kakak juga udah ambil kartu identitasnya, sekalian kartu kreditnya untuk berjaga- jaga!” jelas Glasya sambil menunjukkan kartu identitas dan juga kartu kredit unlimited milik Raymond.
Dia memang menyembuyikan kartu itu dan tak menunjukkannya di depan Raymond. Dia yakin, pria itu sangat terkejut ketika tahu kartunya hilang. Yup, dengan begini, dia takkan kehilangan kontak dengan pria yang menjadi pandangannya pertamanya. Pria yang mencuri ciuman pertama sekaligus hatinya. Pria tampan blasteran yang super ganteng dan mempesona.
“Kakak keterlaluan! Kembalikan pada orangnya!” Keke memperingatkan. Dia tidak mau kakaknya bersikap seperti ini. Dia takut, kalau kakaknya akan jatuh ke jurang yang berbahaya kalau sampai terjebak pergaulan bebas.
“Keke, adikku tersayang! Jangan khawatir ya! Lihat nih, fotonya! Dia ganteng banget kan?” Glasya malah menunjukkan foto Raymond pada kartu identitasnya.
“Ganteng juga belum tentu baik. Kemarin, cowok yang menyamperin kita di universitas kakak juga ganteng. Tapi, kakak bilang dia bukan orang baik. Sekarang, pria yang belum kakak kenal, ingin kakak dekati? Kakak sehat?” tanya Keke menggali apa yang sedang dipikirkan kakaknya itu.
“Oh, si Asmo! Kalau dia memang playboy akut! Eh? Kamu akui dia ganteng? Iya deh, aku akui! Tapi menurutku, pria yang bernama Raymond ini tidak seperti itu,” bela Glasya lagi.
“Dari mana kakak tahu?” sewot Keke.
“Feeling! Hihihihhi!” jawab Glasya sambil terkikik kecil. Dia langsung melangkah ke kamarnya untuk membersihkan diri dan meninggalkan Keke yang masih mematung di ruang tamu. Dia hanya bisa geleng- geleng kepala dengan kelakuan saudarinya itu.
Gadis itu pun menyusul kakaknya ke kamar mereka. Keduanya memang tidur di kamar yang sama tapi di ranjang yang berbeda. Dari mulai kuliah, Glasya selalu mencari alasan untuk bisa lebih bebas. Apalagi, ayah mereka terlalu sibuk dengan bisnis dan tidak ada yang mengawasi mereka. Walau Keke adalah anak bungsu, dia sangat mengerti ayahnya dan berusaha menjadi anak yang tidak banyak tingkah. Dia tidak mau membuat ayahnya merasa khawatir soal dirinya. Dia menyayangi seluruh keluarganya. Makanya, dia berusaha menasehati kakak perempuannya supaya tidak membuat ayah mereka kepikiran soal mereka.
“Kak… apa sih enaknya main sampai malam begini?” tanya Keke sambil berbaring di ranjangnya.
“Asyik tahu!” jawab Glasya menjawab dengan santai sambil memainkan ponselnya. Glasya sedang asyik chattingan dengan sahabatnya di kampus dan membahas kenapa dia pulang duluan. Sahabatnya itu memberi kabar, kalau dia baru saja pulang setelah temu kangen dengan pacarnya.
“Apa yang asyik?” tanya Keke lagi sambil duduk sambil menyandarkan kepalanya menatap kakaknya.
“Bisa kenal cowok ganteng dan punya pacar. Kamu tahu? Kakak ini belum pernah pacaran, Ke! Masa iya, perempuan secantik kakak terus jomblo sampai usia dua puluh? Itu candaan yang gak lucu!” jawab Glasya mengungkapkan keinginannya untuk berpacaran.
Semua temannya sudah punya pacar dan juga mantan. Glasya hanya bisa mendengar cerita para temannya soal pacar mereka dan pengalaman pacaran mereka. Soal kencan dan juga pemberian pacar mereka. Glasya merasa terkurung dengan ketegasan ayahnya yang selalu mengancamnya untuk mengirimnya ke asrama kalau sampai ketahuan pacaran. Anehnya lagi, ancaman itu masih berlaku sampai sekarang. Glasya jengah dengan semua ini.
Berbeda dengan Keke, dia santai saja dan tidak memikirkan hal seperti itu. Dia fokus belajar dan menggapai cita- citanya. Dia ingin membanggakan ayahnya dan tidak terpikir soal pacaran. Ah, lebih tepatnya tak peduli! Karakternya yang dingin dan sulit didekati juga menjadi alasan. Cowok aja terlalu segan bicara padanya. Bahkan, di sekolah Keke nyaris jarang berbicara kepada mereka. Walau begitu, dia tetap mendapat peringkat utama yang membuat semua orang terdiam padanya.
“Pacaran itu apa enaknya?” tanya Keke lagi. Dia tak habis pikir dengan cara pikir kakaknya.
“Enak dong! Ada yang sayangi, kasih hadiah, dan ajak jalan!” jawab Glasya sumringah.
“Cuma itu? Aku sih, biasa aja!” Keke sama sekali tak berminat dengan hal demikian.
“Cuma katamu? Suatu hari nanti, kamu juga akan ingin diperlakukan seperti itu oleh seseorang. Aku ingin merasakan diperlakukan romantis oleh seorang pria dan hanya memberi perhatian kepadaku. Aku tak sabar ingin bertemu dengannya di lain waktu,” balas Glasya sambil berbaring dan tersenyum membayangkan pertemuan berikutnya dengan Raymond. Keke hanya memandang datar pada kakaknya dan memilih untuk tidur. Mereka berdua pun tidur untuk menunggu hari esok.