Markas Ghost Logistics malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Suara dari server yang berdengung di ruang bawah tanah menyerupai ketukan jantung mesin yang tidak pernah berhenti. Di layar besar, Da-in masih berusaha memahami data yang ia ambil dari server pribadi keluarga Choi. Sinar matahari sore yang berwarna merah mulai memudar, meninggalkan cahaya lampu neon kota Seoul yang bersinar di luar. Di salah satu sudut ruangan, Kang Tae-ha sedang membersihkan laras senapan suar yang telah ia modifikasi, sedangkan Kim Ji-yong memeriksa peta digital Seoul yang penuh dengan titik merah, menunjukkan lokasi aset tersembunyi milik Kejaksaan Agung.
"Apakah kau yakin dengan temuanmu ini, Da-in? " Ji-yong bertanya tanpa melihat, suaranya terdengar tegang.
Da-in menghentikan gerakan tangannya dan memutar kursi ke arah Ji-yong. Wajahnya terlihat pucat akibat kurang tidur. "Aku sudah memeriksa tanda tangan digital itu tiga kali, Jaksa. Folder 'THE ARCHITECT' tidak hanya berisi nama-nama. Ini adalah catatan logistik kejahatan. Ada rencana suap, jalur uang gelap, dan daftar saksi kunci yang perlu dihilangkan," ujarnya sambil menekan tombol Enter. Gambar muncul di layar. Bukan sosok Jaksa Agung Park Mu-yeol, melainkan seorang pria tua yang sedang memancing di danau yang tenang. Wajahnya terlihat ramah, menyerupai kakek-kakek biasa.
"Siapa dia? " tanya Tae-ha, kini memberikan perhatian penuh.
“Dia adalah anggota Dewan Park Chil-seong,” jawab Ji-yong, suaranya bergetar menahan emosi. “Dia adalah ketua komisi hukum di parlemen. Dialah yang membuat undang-undang yang memberi kesempatan bagi orang-orang seperti Tae-jun untuk bebas. ”
“Dan lebih dari itu,” sambung Da-in. “Dia juga berperan sebagai penengah. Jaksa Agung Park Mu-yeol hanya bertindak sebagai pengikutnya. Park Chil-seong yang memutuskan siapa yang dapat ‘dihapus’ secara hukum dan siapa yang harus dilindungi. Dan lihat ini... ”
Da-in memperbesar dokumen yang muncul di layar. Itu adalah bukti transaksi pengiriman logistik melalui sebuah perusahaan cangkang bernama Blue Ocean.
“Aset yang mereka pakai untuk menyuap hakim tidak dikirim lewat bank. Itu akan mudah dilacak. Sebagai gantinya, mereka mengirimnya dalam bentuk fisik, yaitu batangan emas dan karya seni hasil jarahan. Melalui layanan kurir resmi pemerintah yang mereka kontrol. Mereka menyebutnya 'The Golden Route. '”
Ji-yong mengepalkan tangannya. “Jadi selama ini mereka memanfaatkan jalur hukum untuk menjalankan kejahatan mereka. ”
“Dan tebak siapa yang akan memimpin pengiriman 'paket' emas ke rumah Jaksa Agung besok malam? ” Da-in tersenyum sinis, senyum yang menunjukkan niat jahat. “Unit logistik khusus yang dikendalikan oleh orang kepercayaan Park Chil-seong. ”
Tae-ha berdiri dan mengenakan jaket kurir berwarna gelap. “Jadi, misi kita kali ini tidak hanya untuk menangani satu orang. "
"Betul," Ji-yong berbalik, matanya berkilau di bawah cahaya neon. "Tujuan kita adalah memutus jaringan mereka. Kita akan membajak 'The Golden Route. ' Kita akan mengambil emas itu dan meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga di dalam paket mereka. "
"Apa itu? " tanya Da-in, rasa ingin tahunya tak tertahan.
"Bukti pengkhianatan mereka sendiri. Kita akan membuat Park Chil-seong dan Jaksa Agung saling menyerang," jawab Ji-yong, dengan semangat yang menyala dalam suaranya.
-----
Pukul dua pagi, di Kantor Pusat Kejaksaan. Sebuah truk kotak berwarna putih dengan lambang pemerintah memasuki gerbang belakang yang sangat dijaga. Di dalam truk tersebut, terdapat dua peti besar dari kayu yang terisi batangan emas dari kasus korupsi yang telah dilupakan, siap untuk dikirim sebagai hadiah. Tae-ha mengamati dari atap gedung di seberang menggunakan teropong termal. Suara Da-in terdengar jelas melalui alat yang dia pakai di telinga.
“Aku telah mengatur sistem keamanan di gerbang agar berulang selama satu menit. Tae-ha, kamu punya satu menit untuk masuk ke bawah truk itu. Jika kamu terlambat sedetik pun, kamu akan jadi sasaran empuk untuk senapan mesin otomatis mereka. ”
“Satu menit sudah cukup untukku, Da-in,” jawab Tae-ha dengan nada datar.
Ia melompat dari ketinggian tiga meter, mendarat dengan hening di atap truk yang bergerak pelan. Dengan sigap, ia merayap ke sisi truk dan masuk ke dalam kotak melalui celah ventilasi yang dibuka oleh Da-in menggunakan teknik meretas. Di dalam ruang gelap truk, Tae-ha melihat dua kotak kayu. Ia membuka salah satu kotak. Cahaya keemasan batangan emas menyilaukan matanya, tetapi ia tidak mengambilnya. Ia mengeluarkan tas dan mengeluarkan alat kecil berbentuk kotak hitam dengan logo Ghost Dispatch. Alat itu ia pasang di bawah tumpukan emas.
“Alat perekam dan pelacak sudah terpasang,” ucapnya pelan. “Da-in, kirimkan hadiah yang lainnya. ”
“Baik, aku akan mengirim video skandal Tae-jun ke tablet yang ada di dalam dashboard truk ini sekarang,” jawab Da-in. “Ketika mereka menyalakan mesin besok pagi, video yang memalukan itu akan menjadi hal pertama yang mereka lihat. Bayangkan wajah mereka. ”
Tiba-tiba, pintu gudang terbuka. Suara langkah kaki mendekat. Tae-ha menahan napas, menempelkan tubuhnya pada langit-langit kotak truk dengan kait khusus.
“Pastikan paket ini sampai ke rumah Jaksa Agung sebelum subuh,” terdengar suara pria berbadan besar. “Park Chil-seong tidak suka menunggu. ”
“Siap, Pak! ”
Pintu truk ditutup kembali dengan keras. BAM! Tae-ha tersenyum dalam kegelapan. Pertarungan melawan para raksasa baru saja dimulai. Mereka tidak hanya memburu tikus seperti Tae-jun, tetapi juga mulai menyusup ke markas naga. Di markas, Ji-yong melihat layar yang menunjukkan lokasi truk itu. Ia sadar hidupnya akan berubah selamanya mulai besok. Ia telah melangkah melewati batas yang tidak bisa mundur. Saat truk mulai bergerak keluar, Da-in tiba-tiba berteriak melalui radio. “Tae-ha! Segera keluar dari sana! Ada sinyal enkripsi militer masuk ke sistem truk! Kita terjebak..! ”
Belum sempat Tae-ha mendengar selesai perkataan Da-in, truk tersebut tiba-tiba mengeluarkan asap putih yang diikuti oleh ledakan. Ledakan besar itu menghantam bagian depan truk. Kendaraan tersebut terpelanting, terguling di atas aspal yang licin. Tae-ha terlempar, kepalanya menghantam dinding baja dan pandangannya menjadi kabur. Batangan emas berserakan di sekitarnya, kini tertutup darah dari pelipisnya. Melalui celah pintu yang penyok, Tae-ha melihat sekelompok pria berpakaian hitam tanpa tanda. Mereka bukan polisi. Gerakan mereka terampil, dingin, dan berbahaya. Salah satu dari mereka melangkah maju, menginjak batangan emas seolah-olah itu hanyalah sampah. Pria itu menarik pintu truk yang sudah rusak sampai terlepas dari engselnya. Cahaya terang dari senter menyilaukan mata Tae-ha. Di tengah asap dan bau s*****a, pria itu menanggalkan topeng hitamnya, memperlihatkan wajah yang memiliki bekas luka di atas mata kirinya.
"Wah, wah, wah... " pria itu berkata, suaranya tenang namun menakutkan. "Coba tebak siapa tamu spesial kita malam ini? Ternyata Sang Kurir Keadilan hanyalah seekor tikus yang terperangkap di dalam kaleng. "
Tae-ha berusaha untuk menangkap senapan suarnya, tetapi pria itu menginjak tangannya menggunakan sepatu bot beratnya. "Apakah kau merasa seperti yang sedang berburu? " tanyanya sambil membungkuk, wajahnya hanya beberapa senti dari wajah Tae-ha yang dipenuhi darah. "Kami telah menunggumu di jalur ini sejak kamu mengakses server keluarga Choi, Tae-ha. Arsitek mengirimkan salam hangat... untuk kematianmu yang kedua. "
Pria itu mengeluarkan pemantik Zippo, menyalakannya, lalu menjatuhkannya ke aliran bensin yang mengalir deras di bawah truk. "Selamat tinggal," ia berbisik. Tae-ha terkejut. Api menjalar dengan cepat ke arahnya. Di markas, Da-in berteriak histeris memanggil namanya, tetapi radio Tae-ha sudah hancur terinjak. Dalam hitungan detik, truk itu akan berubah menjadi oven raksasa yang akan memanggangnya hidup-hidup.