Rintik hujan perlahan turun di hari yang semakin gelap. Seorang gadis dengan rambut dikuncir ekor kuda, berlari kecil mengejar lampu lalu lintas yang menunjukan warna merah-- hendak segera menyebrang. Tidak mau lampu itu berubah hijau karena nantinya ia akan menunggu lebih lama. Ia ingin menghindari hujan yang mungkin saja berubah menjadi deras dalam beberapa waktu ke depan.
Si gadis mendengus kesal ketika sedikit lagi sampai, lampu sudah berubah warna. Menatap sinis lampu lalu lintas yang tidak bisa menunggu dirinya agar bisa menyebrang.
Seperti dugaan si gadis, hujan perlahan berubah deras. Ia melepaskan tas ransel hitam polos lalu ia arahkan ke atas kepala. Menggunakan tas tersebut untuk melindungi kepala dari air hujan.
Ketika lampu berubah merah, si gadis langsung berlari menyebrang. Begitu juga dengan orang-orang yang ikut menunggu lampu berubah bersamanya.
Tinggal selangkah lagi si gadis akan sampai di sebrang, tetapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik lengannya. Mendorong bahunya kencang sehingga ia jaduh terduduk ke tengah jalan. Rintihan kecil olos dari mulut si gadis ketika telapak tangannya membentur aspal.
Ia mengedarkan pandangan ke depan, mencari orang yang mendorongnya. Bertanya-tanya, kenapa orang tersebut melakukan hal barusan.
Namun, si gadis tidak dapat menemukan siapa orang itu. Terlalu ramai, ia tidak bisa asal menuduh.
Helaan nafas kecil si gadis lakukan. Anggap saja ini hari sialnya.
Si gadis bangkit dari jatuhnya. Sekilas ia terlihat menyedihkan. Tubuh basah kuyup dengan lecet di telapak tangan. Poni yang hanya sealis sudah berantakan. Sejenak dia merasa lega rambutnya ia kuncir. Jika tidak, fix! Ia akan benar-benar terlihat menyedihkan.
Lupakan soal penampilan. Sekarang ia harus menepi dari tengah jalan. Atau ia akan tertabrak entah itu mobil atau motor. Malam hari ditambah hujan, cukup membuat pandangan seseorang kabur. Apalagi lampu penerangan jalan tidak hidup membuat sekitar semakin gelap.
Namun, sepertinya si gadis benar-benar sial. Baru selangkah ia melangkah, mobil putih dengan cahaya lampu menyilaukan melaju dengan cepat tepat ke arahnya. Berhasil mengenainya dengan keras sehingga ia terlempar cukup jauh dari tempatnya berdiri.
Kepala si gadis berhasil menghantam batu seukuran kepalan tangan. Walau kecil, batu tersebut sukses membuat kepalanya mengeluarkan cairan kental. Terus mengalir seakan enggan berhenti.
Riuh picuh kini menjadi backsound kemalangan si gadis. Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan dan klaksonan kendaraan.
Kesadaran si gadis masih tersisa sedikit. Ia mengedarkan pandangan melihat sekeliling. Samar, ia melihat orang-orang berdiri mengelilinginya. Sampai manik cokelat gelapnya berhenti pada seseorang berpakaian serba hitam, memakai topi berwarna senada yang menutupi wajah dari hidung sampai rambut. Orang itu menarik kedua sudut bibir seakan senang melihat keadaanya.
Menduga, orang tersebutlah yang mendorong si gadis tadi.
"Ka-kau... " Hanya itu yang bisa dikatakan si gadis sebelum kegelapan menjemputnya.