"Kay... "
"Kay... "
"Kayna Anastasya!!"
"Ya?" Si pemilik nama menolehkan kepala kala temannya memanggil dengan nada suara sedikit tinggi.
"Kamu ngelamunin apa sih? Aku panggilin loh daritadi," omel teman Kayna sambil berkacak pinggang.
Cengiran kecil dilakukan Kayna. "Sorry." Hanya kata itu yang bisa ia katakan.
Teman Kayna menghela napas pasrah. Ini bukan pertama kali Kayna melamun seperti ini. Sejak kecelakaan di semester lalu, si pemilik t**i lalat di bawah mata kiri itu jadi sering bengong.
"Jangan kebiasan ngelamun, Kay. Enggak baik," ujar teman Kayna terlihat khawatir.
Kayna tersenyum tipis membalas ucapan temannya. Jujur saja, ini bukan keinginanya. Beberapa waktu dia bisa kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Itulah mengapa ia sering melamun.
Tidak mungkin Kayna menceritakan hal tersebut. Rujukan ke rumah sakit akan ia dapatkan apabila temannya tahu yang sedang ia alami. Sudah cukup dengan rumah sakit. Kayna benci tempat itu.
Di sana, mereka yang bukan manusia berkeliaran di mana-mana-- lebih banyak dari yang bisa ia hitung. Cukup! Kayna tidak ingin merasa mual atau keringat dingin kembali, seperti saat ia pertama kali melihat wujud roh wanita tanpa bola mata dengan darah mengalir. Senyum lebar ditunjukan memperlihatkan gigi runcing yang tidak beraturan.
Kayna menggeleng pelan. Tidak ingin mengingat pengalaman pertama yang menyeramkan tersebut.
Sekarang dia sudah terbiasa dengan mereka, tetapi tetap saja rasa takut akan hadir jika ia melihat wujud menyeramkan.
"Nah bengong lagi," tegur teman Kayna.
"Enggak, Rena. Aku lagi mikirin pulang mau makan apa," ucap Kayna sambil merapikan barang-barangnya lalu ia masukan ke dalam tas ransel hitam polos.
"Alasan. Oh iya, aku enggak jadi nginap di rumah kamu," ucap Rena berhasil membuat Kayna membelalak.
Kayna langsung menghampiri Rena, serta mengguncang-guncang pelan bahu teman yang ia kenal sejak bekerja di restoran ini. "Kok enggak jadi?"
Walau pelan, guncangan yang dilakukan Kayna cukup membuat Rena mual. Apalagi hari ini badannya sedang tidak fit.
"Apasih Kay. Enggak usah lebay gini, deh. Adik aku datang berkunjung, jadi enggak mungkin aku biarin dia sendirian di apartemen." Rena menghentikan tindakan Kayna, sambil menatap sinis gadis yang lebih pendek darinya.
Kayna menatap melas Rena. Berharap gadis itu berubah pikiran dan mau menginap di rumahnya.
"Enggak usah sok melas gitu. Enggak mempan. Besok-besok aku bisa nginap, 'kan?" Rena berlalu dari hadapan Kayna. Meletakan nametag ke dalam loker lalu menutupnya.
Kini pikiran Kayna kalut. Alasan kenapa ia memaksa Rena menginap karena malam ini roh-roh lebih agresif. Terlalu menganggu bahkan bisa sampai merasuki tubuhnya-- jika ia sendirian dan ketakutan menguasai.
"Ka-kalau aku yang nginap, boleh?" tanya Kayna ragu-ragu. Sebisa mungkin ia tidak ingin sendirian malam ini.
Kayna tidak memiliki banyak teman. Di kampus saja ia hanya punya 3 orang teman-- yang benar-benar dekat. Satu diantaranya laki-laki, jadi tidak mungkin dia mengajak lawan jenis untuk menginap.
Kayna ragu mengajak dua temannya yang lain. Mengingat hari sudah mulai larut, serta rumah mereka berjarak cukup jauh dari rumahnya.
"Kamu ini aneh deh. Setiap malam jum'at, selalu ngajak seseorang buat menginap di rumahmu. Memangnya ada apa, sih?" Rena akhirnya bertanya setelah selama ini acuh. Awalnya ia merasa Kayna hanya butuh teman apalagi ia tinggal sendirian dan habis kecelakaan. Namun, makin ke sini Rena merasa aneh.
"Kalau aku bilang aku bisa melihat roh kamu percaya? Kalau aku bilang setiap malam jum'at, mereka sangat agresif kamu percaya?" Kayna balik bertanya dengan wajah serius. Tidak ada yang tahu tentang kemampuan barunya ini. Dia tidak mau dianggap halusinasi bahkan gila.
Alis Rena bertautan. "Bercanda, ya, Kay?"
Kayna sudah menduga respon yang akan diberikan Rena. Ia tidak berharap, bahwa rekan kerjanya itu mengangap serius atau percaya atas apa yang ia katakan.
"Hehe, iya aku bercanda." Kayna terpaksa berbohong. Dia enggan menceritakan kebenaran sebab merasa Rena akan menjauhinya.
"Enggak lucu, Kay. Udah ah, aku pulang duluan. Jangan lupa kunci pintu, ya." Rena melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan Kayna di ruangan ganti.
Kayna diam sejenak di tempat. Menatap kosong pintu biru yang sedikit terbuka. Helaan napas ia lakukan bersamaan dengan sosok anak kecil menghampirinya. Menarik-narik ujung kaos putih yang ia kenakan.
"Kakak, ayo main," ajak anak kecil itu sambil menyodorkan boneka kelinci usang tanpa bola mata dengan telinga tinggal sebelah. Bibir pucatnya tersenyum lembut untuk Kayna.
Lirikan Kayna berikan untuk si gadis kecil. Ia jongkok untuk menyamakan tinggi lalu mengelus lembut surai lepek dengan cipratan darah.
Anehnya, Kayna bisa menyentuh mereka secara nyata saat malam jum'at tiba. Selebihnya hanya samar-samar. Jikapun bisa, itu artinya roh tersebut memiliki energi yang kuat.
"Hari ini enggak dulu, ya," ucap Kayna lembut.
Senyum si gadis kecil luntur. Padahal ia sudah sengaja tidak mengangu Kayna saat bersama Rena agar mau bermain bersamanya.
"Besok, kita main sebentar, oke. Hari ini main sama Angga dulu, ya," ucap Kayna sambil melirik sosok anak laki-laki yang sedang menendang bola ke dinding. Sesekali melirik malu kearahnya.
"Baiklah, kak. Besok janji, ya." Si gadis kecil menyodorkan kelingkingnya dan di balas oleh Kayna.
"Janji."
???
Minimarket 24 jam yang terletak tidak jauh dari apartemen Kayna kini ia datangi. Membeli mie instan, s**u kotak dan biskuit sebagai makan malam. Lalu duduk di kursi yang tersedia sambil menunggu mienya matang.
"Sendirian aja," ujar sosok berambut panjang dengan kulit sangat pucat. Mata kirinya tertutupi rambut dan yang satunya tidak berhenti mengeluarkan darah hitam. Goresan-goresan luka menghiasi wajah serta lehernya.
Kayna menengadah. Memandangi sejenak sosok didepannya yang ia kenal sejak dua bulan lalu.
"Enggak juga, 'kan ada kamu, Mir," balas Kayna sambil mengaduk mienya yang sudah matang. Memasukkan bumbu lalu di aduk kembali dan mulai makan dengan lahap.
Mira memperhatikan Kayna yang sedang makan. Ia menopang dagu dan merubah wujudnya menjadi lebih baik. Tanpa bercak darah di baju dan darah mengalir di mata. Bahkan, rambutnya terjuntai rapi tanpa menutupi mata kirinya.
"Aku jatuh cinta sama manusia, nih," ujar Mira yang sukses membuat Kayna tersedak.
"Uhuk--" Buru-buru Kayna menusukkan sedotan ke kotak s**u. Menyeruput-- menimun dengan cepat sampai batuknya reda.
"Hah? Siapa?" tanya Kayna melebarkan matanya. Nada suara sedikit naik membuat beberapa orang yang lewat melirik sejenak. Untuk mengelabui, ia mengambil handphone lalu pura-pura sedang bertelepon. Yah, setidaknya dengan bertingkah seperti menelepon, orang lain tidak akan mengangap dia gila.
"Si kasir," jawab Mira tersenyum manis sambil melihat ke arah kasir.
Kayna ikut melihat ke arah kasir. Laki-laki seusianya sedang melayani pembeli dengan senyuman manis. Wajah tampan dengan dimple membuat kesan ramah menguak. Pantas saja Mira tertarik padanya. Mas kasir tipe Mira sekali.
"Lalu?" Kayna menatap Mira curiga. Dia seperti tahu apa yang diinginkan Mira.
"Kenalin aku dong," tutur Mira sambil menatap melas. Jika dalam wujud ini, wajah Mira sangatlah cantik. Awal bertemu saja, dia sampai salah mengira bahwa teman hantunya ini adalah manusia.
"Enggak," tolak Kayna lalu kembali makan. Menyeruput habis kuah mie yang sudah tidak panas.
"Please, Kay. Aku masuk ke dalam tubuh kamu sebentar, ya, ya, ya. Buat kenalan aja," pinta Mira sambil menautkan telapak tangannya. Menohon sangat kepada Kayna, satu-satunya orang yang bisa membantu dia berkenalan.
"Enggak," tolak Kayna kembali. Dia tidak mau meminjamkan tubuhnya untuk hal seperti itu. Terlebih lagi, sehabis dirasuki, rasa pegal luar biasa akan hadir menemaninya. Seolah-olah ia mengakat beban beratus kilo di pundak sambil mendorong mobil mogok.
"Kalau gitu, lewat ikatan batin aja." Mira pantang menyerang. Dia menawarkan opsi lain agar Kayna mau membantunya.
Ikatan batin yang dimaksud Mira adalah, Kayna akan menyentuh lengan seseorang yang ingin di hubungkan dengan roh. Menyentuh lengan roh juga agar kedunya bisa memulai komunikasi langsung. Hal ini ia pelajari dari roh nenek-nenek ramah di rumah kedua orangtuanya, seminggu setelah ia mendapat kekuatan baru.
"Sekali enggak, ya enggak, Mir." Kayna tetap enggan membantu. Walau tidak melelahkan, tetap saja butuh tenaga.
"Kalau gitu, aku temenin deh malam ini. Bareng Jesi dan Wira." Tawaran menggiurkan Mira berikan. Ia tahu, Kayna selalu kesulitan bila malam jum'at tiba. Sudah hapal, dia akan membawa teman untuk menginap atau malah sebaliknya.
Kayna diam sejenak. Tawaran yang tidak buruk. Walau mereka juga roh, setidaknya bisa menghalau roh-roh lain untuk mengganggunya. Setidaknya, malam jum'at ini kembali bisa ia lalui dengan tenang.
"Oke, aku bantu," putus Kayna membuat Mira bersorak riang.