Beberapa jam lagi, hari akan berganti. Namun, Rena masih terjaga dengan mata yang sudah mulai lelah. Memaksakan diri menyelesaikan kerjaan tambahan untuk menambah penghasilan. Selain bekerja di restoran, ia membuka jasa editor naska serta jasa pembuatan cover buku.
Manik abu-abu Rena berhenti menelusuri tiap kata, kala ia melihat satu kalimat yang mengingatkan obrolan singkat dengan Kayna. Terdiam sejenak sambil menopang dagu memikirkan kalimat tersebut.
"Sa," panggil Rena pelan kepada adiknya yang ikut terjaga. Sedang bersantai di tempat tidur sambil bermain handphone.
"Yo, Kak." Adik Rena menyaut tanpa mengalihkan atensinya. Terlihat serius membaca artikel yang membahas gosip terkini.
"Kamu ... " Rena mengambil jeda. Tampak ragu mengatakan apa yang sedang menganggu pikirannya. "Percaya hantu?" tanyanya sambil memutar kursi putar ke arah si adik.
Adik Rena berhenti meng-scroll lalu mengalihkan atensinya kepada sang kakak. Dia bangkit dari tiduran dan menatap Rena sambil menaikan sebelah alis. "Tumben Kakak bahas ginian."
"Kalau Sasha mah, percaya enggak percaya, Kak," jawab Sahsa sambil menaik turunkan bahunya. "Memangnya kenapa, kak?" tanyanya balik.
"Bukan apa-apa," jawab Rena sambil memutar kembali kursinya. Menghentikan obrolan mereka sepihak lalu lanjut berkerja.
Sasha menatap punggung Rena bingung. Menduga ada sesuatu yang terjadi, sampai si kakak membahas hal yang sangat tidak dipercayainya. Apa mungkin kakaknya mengalami kejadian supernatural? Mungkin saja.
Tidak ingin terlalu memikirkan masalah ini, Sasha kembali membaringkan diri. Lanjut meng-scroll sosmed -- membaca berita-berita gosip terkini.
***
Di dalam gang sepi Kayna berjalan sambil menuntun sepeda dari jaman ia SMA. Ditemani Mira yang melayang di samping kiri dengan senyum mengembang. Mata hitam pekat itu berbinar-binar menciptakan ilusi kerlap-kerlip. Pipi pucat merona merah jambu menandakan kebahagian sedang menguasainya.
Kayna tahu persis apa yang membuat Mira segitu bahagianya. Ia menggeleng pelan, apa berkenalan dengan orang yang kita sukai sebahagia ini? Dia belum pernah merasakannya.
"Bahagia banget yang udah kenalan sama Mas Kasir," ujar Kayna.
Mira membalas ucapan Kayna dengan senyuman serta melayang-layang mengelilinginya. Lalu berhenti di depan Kayna sambil masih mempertahankan garis lengkung di bibir.
"Hihiii, makasih, Kay. Berkat kamu aku bisa bercengkrama dengan Rega," ujar Mira yang dibalas anggukan kecil oleh Kayna.
Yah, seperti perkataan Mira. Kayna mengenalkan ia dengan Rega-- Mas kasir tampan. Perkenalan mereka berjalan lancar dan entah bagaimana mereka malah memiliki janji bertemu besok.
"Aku ingatkan lagi, ya. Kamu jangan terlalu memberatkan Mas kasir. Jangan nempel terus, kasian entar energi dia terkuras," ucap Kayna mengingatkan kembali.
Acungan dua jempol Mira berikan untuk Kayna. "Tenang, aku tahu batasanku, Kay. Lagipula aku enggak mau melihat Rega jadi kekurangan gizi, entar kadar ketampanannya pudar deh," balas Mira lalu melayang kembali di samping Kayna.
Kayna melanjutkan jalannya. Mengukir senyuman tipis sebagai tanggapan ucapan Mira. Dia yakin, Mira akan menjaga ucapannya.
Jika roh terlalu menempel pada seseorang, dia akan menyerap energi orang tersebut. Bahkan bisa sampai meninggal dengan tubuh kurus seperti tidak ada gizi. Inilah mengapa Kayna mengingatkan Mira agar tidak kelewatan batas.
"Oh, iya." Mira berhenti melayang, ia seperti teringat sesuatu. "Aku belum ngabarin Wira sama Jesi buat nemenin kamu. Kalau gitu, aku pergi dulu, ya. Dadah, Kay."
Setelah melambaikan tangan kepada Kayna, Mira pergi terbang ke arah barat. Menembus bangunan-bangunan bertingkat yang lebih dominan di daerah sini. Meninggalkan Kayna seorang diri di tempat minin pencahayaan-- tempat favorit mereka yang bukan manusia.
"Mira tung--" ucap Kayna mengantung. Mata bulatnya menatap bangunan yang ditembus oleh Mira.
Kepergian Mira membuat Kayna tidak berani melangkah. Walau sudah terbiasa melihat mereka, tetap saja ditinggalkan seorang diri di tempat sepi akan mengerikan. Terlebih, ingat! Ini malam Jum'at.
Jika tahu Kayna akan ditinggal sendirian, dia akan memilih jalan biasanya-- walau lebih lama sampai ke rumah. Sekarang, menyesalpun percuma.
Celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Berharap ada orang lain yang sekiranya mau melewati gang ini. Namun, sepertinya tidak akan.
Masih celingak-celinguk, Kayna malah tidak sengaja bertemu pandang dengan sosok laki-laki berseragam sekolah menengah atas. Kulit pucat serta bercak darah memenuhi pakaiannya. Kepala bagian kiri sudah tidak utuh, mengalirkan darah ke wajah. Tanpa sadar, ia meneguk saliva.
Mencoba pura-pura tidak menyadari si sosok, Kayna lakukan. Walau aktingnya sedikit buruk, karena tangan bergetar tidak bisa diajak bekerja sama.
Perlahan sosok itu mendekati Kayna. Saat berada di depannya, dia memandang lekat wajah Kayna. "Kau bisa melihatku?" tanyanya dengan suara parau.
Mendengar suara barusan ketakutan Kayna malah hilang. Nada suara si sosok menenangkan dan terdengar sedih. Jika seperti ini, Kayna tahu. Si sosok tidak berniat jahat atau dia adalah roh yang baik.
Dengan ragu Kayna melihat si sosok. Senyum tipis ia ciptakan sebagai salam perkenalan.
"I-iya," jawab Kayna dengan suara kecil. Persis seperti cicitan tikut baru lahir.
"Mudah sekali mengakuinya. Yah walau kau bohong aku tidak akan percaya. Auramu sangat berbeda dan tadi aku mendengarmu berbincang dengan sesamaku," ucap si sosok yang malah membuat Kayna kesal.
"Menyebalkan! Nada suaramu mengatakan kamu roh baik, tetapi cara berbicaramu barusan mengatakan sebaliknya." Kayna berlalu dari si sosok.
"Hoo~~ menarik," ujar si sosok yang mengikuti Kayna. Ia berjalan di samping kiri sambil memperhatikan wajah Kayna.
Tanpa aba-aba si sosok tiba-tiba menarik pergelangan tangan Kayna. Membuatnya terkejut dan menjatuhkan sepeda yang dituntun dari tadi.
"A-apa yang--"
"Sttt!! Dia bisa menyadarimu." Si sosok memotong ucapan Kayna. Dia membawa Kayna ke balik tong sampah besar. Bersembunyi dari sesuatu.
Kening Kayna berkerut. Dia? Dia siapa? Memangnya kenapa kalau si Dia menyadarinya?
"Kau bisa kehilangan jiwamu," ucap si sosok yang seolah mengetahui isi pikiran Kayna.
"Maksud?" Kayna masih belum mengerti.
"Penguasa gang ini. Ah tidak, si ngaku-ngaku saja. Mentang-mentang dia lebih dulu tinggal di sini. Pokoknya dia roh jahat. Kau, putar balik saja. Dia ada di depan sana."
Kayna mengintip. Memerhatikan sosok tinggi besar bewarna hitam dengan asap mengelilinginya. Memang menyeramkan, tapi dia merasa bisa melewati si sosok dengan selamat.
"Aku lewat saja. Putar balik terlalu jauh," ujar Kayna mulai berjalan menghampiri sepedanya yang tergeletak.
Roh yang sedari tadi bersama Kayna menahan pergelangan tangannya. Menatap kesal Kayna yang tidak memperdulikan peringatan yang ia berikan.
"Jangan keras kepala. Kau tahu, aku sebisa mungkin menahan energimu yang menguak. Jika tidak, dia sudah pasti menyadarimu daritadi," ujar si sosok kembali membawa Kayna ke persembunyian.
Kayna menatap lengannya lalu wajah sosok di depannya."Terimakasih, tapi--"
"Wush~~"
Angin cukup kencang tiba-tiba saja menembus tubuh Kayna. Seketika ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Kayna tahu, apa yang terjadi kepada tubuhnya sekarang.
Sesosok roh kini mendiami tubuh Kayna. Mengambil alih seluruh pergerakan bahkan memaksa jiwa Kayna untuk tidur.
"Mungil sekali tubuh ini. Yah, setidaknya bisa kupakai untuk kabur," ujar roh yang memasuki tubuh Kayna.
"Keluar, roh sialan!" Kayna berontak. Paksaan tidur tidak mempan untuknya, karena ini bukan pertama kali terjadi.
"Diamlah jalang kecil. Kau cukup tidur saja. Seharusnya kau senang, aku memakai tubuh tidak menarik ini," balas roh tersebut yang semakin memancing kekesalan Kayna.
Sudah masuk tanpa izin, kini malah mengatainya. Ingin rasanya Kayna melemparkan roh ini ke jurang terdalam. Yah, jika bisa.
"Tidak tahu diri sekali. Keluar sekarang juga!" Kayna terus berontak.
Selagi Kayna beradu ucapan dengan si roh wanita, roh laki-laki yang bersamanya tadi hanya bisa menonton saja. Tidak bisa menolong karena energinya tidak sebanding dengan si roh wanita. Salah-salah dia bisa kehilangan energi.
"Keluar dari sana, pengecut sialan!" ujar seorang laki-laki yang entah sejak kapan sudah berdiri tidak jauh di depan Kayna. Tangan kanannya menodongkan pedang yang dikelilingi api biru ke leher Kayna.
"Hei, hei. Jauhkan pedangmu. Lagipula kenapa dia membawa pedang? Dan, ya! Keluar kau dasar roh tidak tahu diri!" Kayna berseru semangat mengetahui ada orang yang akan membantunya.
Senyuman sarkas diberikan sih roh. "Tidak akan," balasnya meremehkan. Tidak terlihat takut dengan ujung pedang yang sudah menyentuh lehernya.
"Kau ingin aku menyiksamu?" tanya si laki-laki semakin mendekatkan ujung pedangnya. Darah mengalir ke bagian tajam pedang. Seketika warna api biru yang mengelilingi semakin pekat.
"Woi, woi! Jauhkan pedangmu!" Kayna tampak panik kala lehernya mengeluarkan darah. Walau ia dirasuki, tetap saja dia masih bisa merasakan rasa sakit.
"Kau yakin? Bukankah tubuh ini juga akan terluka?" Si roh masih tidak ketakutan. Dia tahu, laki-laki itu tidak akan melukai lebih dari ini.
"Yah kau benar," ujar si laki-laki menarik kembali pedangnya. Membuat sih roh wanita tersenyum menang.
Namun, senyuman menang tersebut hanya sementara. Tindakan si laki-laki seketika membuat si roh wanita terkejut, begitu juga dengan Kayna.
"Tapi, masih ada cara ini." Si laki-laki menarik Kayna mendekat lalu kecupan ringan ia berikan di bibir ranum Kayna selama beberapa menit.