Ketika merindukan seseorang, nyatanya akan ada bagian di mana tempat-tempat pernah bertemu menjadi nostalgia sesaat. Rinai tak asing lagi dengan gedung yang sering dia datangi bersama Aiden. Hanya gundukan tanah tak terawat di kejauhan Jakarta, tapi anehnya, bagi Rinai, tempat itulah yang membuatnya bahagia. Mungkin lantaran Rinai pernah ke sana bersama Aiden.
Angin malam membuat cardigannya yang tipis menembus angin. Beberapa kali memeluk diri sendiri lantaran Rinai tidak tahu rasanya dipeluk seseorang, hanya mamanya saja yang ia punya di dunia ini.
Kalau bukan karena sering alarm, Rinai pasti betah berlama-lama ke tempat ini. Meskipun dia tahu, tidak boleh ke sana karena siapa tahu ada orang jahat. Tidak semua orang Jakarta itu punya hati.
Dari langit-langit yang ia lewati, Rinai merasa hari ini jauh lebih gelap. Semoga saja tidak hujan, ia mengingat di mana hari itu Rinai bertemu dengan Aiden untuk yang ke dua kalinya. Bahkan pria itu memayunginya dengan telapak tangan, cara yang lucu sekali.
Drtt.. Kali ini bukan alarm, tapi ada seseorang yang memanggil. Tertera, Orion.
“Halo.”
“Kamu pulang ya?”
“Enggak. Ini lagi mau ke agensi, kenapa emang? Apa terjadi sesuatu?”
Untunglah, kebetulan Orion memang bertanya pada teman satu kamarnya kalau dari tadi siang Rinai tidak terlihat. Dia memang dibebaskan Ziao dari latihan untuk jalan-jalan sebentar, karena sebelumnya Rinai sanga berkutat pada lagu yang harus ia bawa ke pernikahan anggota keluarga Star.
“Tidak ada. Aku hanya mengira kamu tidak ada di cafetaria sejak siang, jadi kupikir kamu pulang ke rumahmu. Jadi, sekarang di mana?”
Rinai menyebut jalan, lumayan sepi. Ia sempat menoleh beberapa kali, tubuhnya merinding karena ia ingat kalau Aiden tidak memperbolehkan Rinai datang ke sini.
Bahkan Orion langsung panik. Dia tahu daerah itu, “Jangan terus jalan, Nai. Di situ bahaya, banyak penculik. Tunggu aku.”
Lalu, Rinai benar-benar menuruti perintah Orion. Ia menemukan tempat persembunyian yang aman dan tidak ada lampu penerangan, memang tidak ada penduduk di sini. Mungkin tanah gusuran dan pemiliknya malas untuk memulai dari awal bangunan yang sudah tak berbentuk lagi.
Dan benar, ada segerombolan orang yang ternyata lewat, berpakaian hitam, mengeluhkan asap dari mulutnya dan mungkin, bisa jadi pemabuk. Rinai merinding, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya diam di tempat.
Hanya tiga orang memang, semuanya pria, tapi tetap saja Rinai gemetaran harus melawan mereka satu persatu. Apakah Orion akan menyusul ke sini?
“Tadi kayaknya ada yang lewat.”
“Perempuan.” imbuh seseorang lagi.
Akhirnya Rinai benar-benar gemetaran. Ia mengambil langkah mundur dan sialnya, flatshoes yang dipakai menginjak ranting kayu.
Tuhan, jangan sampai mereka melihat. Rinai memohon dalam hati, ia tak ingin terluka.
“Kau ke sana, biar aku telusuri bangunan ini. Berani sekali datang ke sini, perempuan pula. Dia nyari gara-gara sama kita.”
Ketiga orang itu mencar. Rinai memanfaatkan situasi agar keluar dari persembunyiannya dan mengambil langkah cepat untuk kabur. Mendengar suara, ketiga orang tersebut cepat-cepat mencari sumbernya dan melihat perempuan yang menghindari mereka berjarak 10 meter darinya.
“Kejar!”
Rinai berusaha semaksimal mungkin untuk berlari, tenaganya tak sebanding apalagi dari siang memang belum terisi apa-apa. Aksi kejar-kejaran pun terjadi dan sialnya, salah satu dari mereka berhasil menangkap Rinai.
“Mau ke mana, manis? Ngapain ke sini? Ada urusan apa?”
“Lepaskan. Kalian pasti menyembunyikan sesuatu kan di sini? Katakan saja sebelum aku panggil polisi.”
Plak! Salah satu dari mereka menampar Rinai, perempuan itu sampai tersungkur ke lantai. Ia sangat ketakutan. “Tutup mulutmu. Jangan masuk ke kandang singa yang sedang lapar. Bawa dia dan sekap, sebelum itu kita lihat seberapa ahli perempuan ini melayani kita. Sudah lama bukan tidak mencicipi secara gratis.”
“Boleh juga. Apalagi dia sangat cantik, bos.”
Rinai memberontak, tapi dia kalah banding. Di mana Orion? Apakah pria itu tidak bisa datang lebih cepat?
Dari kejauhan, seseorang yang baru saja keluar dari mobil langsung berlari ke arah tiga orang dan mengacungkan senjata. “Lepaskan dia. Atau kalau tidak, benda ini akan sampai ke jantung kalian.”
Mereka saling lirik satu sama lain. Lalu melepaskan Rinai. “Kalau bukan karena benda sialan ini, kau sudah habis.” akhirnya pria itu pergi berbalik.
Orion memeluk Rinai, mengatakan semuanya baik-baik saja. Dan sialnya, ketiga pria itu datang lagi, menendang punggung Orion. Preman kasar memang tidak suka dikalahkan dengan cara yang rendah.
“Mainnya keroyokan.”
Senjatanya terlepas. Dengan cepat ketiga orang tersebut mengambilnya dan gantian mengarahkan kepada Orion. Orion kan hanya iseng, tidak ada apa-apa didalamnya. Toh tidak mungkin kan Orion membunuh seseorang?
Pertengkaran di antara mereka semakin sengit. Rinai mencoba menghubungi seseorang, takut Orion kenapa-kenapa, Rinai memukul bos preman dengan batu.
Ternyata kekuatan memang ada pada bos preman itu. Orion bisa melawan mereka berdua, dan akhirnya semua tumbang kecuali Rinai, hanya syok saja.
(Bagian Kedua)
“Kalau sampai kamu gak bangun-bangun, mama bakalan putusin urat malu mereka!”
Rinai yang baru saja membuka mata kaget, kepalanya masih pusing bahkan badannya terasa pegal-pegal. Bertanya sekarang pukul berapa, dari baunya, Rinai sudah bisa menebak kalau ia tengah berada di rumah sakit.
“Ma.”
Rindu mengusap air matanya, hampir ketakutan kalau anaknya kenapa-kenapa, hanya Rinai yang dia punya. “Kamu juga, sudah tahu tempat itu sangat mengerikan, kamu malah ke sana sendirian.”
"Maaf, Ma. Tapi aku pernah ke sana bersama seseorang dan pemandangannya sangat indah.”
Rindu mencubit lengan putrinya, tidak mau tahu urusan. Jangan sampai putrinya kenapa-kenapa lagi. “Iya. Terserah tapi mulai sekarang jangan ke sana lagi. Jangan pergi sendirian dan pulang sendirian, Rinai!”
Rinai tahu ini memang kesalahannya. Dia meringis dan meminta maaf berkali-kali. “Mama siapa yang menghubungi?”
“Teman pria kamu, namanya Orion. Sebelum kamu sadar bahkan dia baru saja ke sini.”
Ah iya! Baru sadar kalau Rinai bisa terselamatkan karena Orion. “Dia baik-baik saja kah? Aku ingin melihat keadaannya.”
Rindu melarang, Orion baru saja tidur, tahu dari suster yang membawakan makanan untuk Rinai. “Biarkan dia istirahat, Nai. Ingat, kamu harus berterima kasih dan meminta maaf sama orang tuanya. Paham?”
Baiklah, mungkin Orion juga butuh istirahat yang banyak. Ia tahu pria itu rela menyelamatkannya bahkan saat nyawanya bisa saja terancam. Kepalanya masih berdenyut, ia memang sempat terlempar kasar oleh salah satu preman sialan itu. Apalagi Orion, ah, pria yang sangat kasihan sekali.