Hampir saja Rinai dibuat cemas lantaran Orion tidak bangun-bangun. Gemas sekali dengan pria yang berani bertaruh nyawa deminya, ketulusannya bahkan sampai membuat banyak orang geleng-geleng kepala termasuk Cakra.
Memang sih, Orion sampai saat ini belum mengungkapkan perasaannya. Hanya saja ia tahu betapa baiknya Orion saat ini sampai sekarang.
Duk!
“Aduh, sakit, Rinai.” Orion pura-pura mengaduh. Memar di tubuhnya sudah agak mendingan, setidaknya dia masih bisa ke toilet sendiri meskipun berjalan seperti robot.
Rinai hendak menangis, tapi sialnya Orion malah memberinya tisu agar perempuan itu tidak cengeng di depannya. Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali.
“Cengeng banget sih jadi cewek, nggak kayak Rinai yang biasanya. So, kamu udah baikan kan?”
Lagi-lagi Rinai memukul bagian tubuhnya yang tidak terluka. Bagian kepalanya ada yang diperban, Rinai membayangkan betapa sakitnya kepala Orion saat ini, pria malang.
“Kenapa sih kamu selalu membahayakan dirimu sendiri? Kenapa nekat nyusul aku?”
“Maybe karena aku nggak mau kamu dalam bahaya, Nai. Daerah itu benar-benar gak aman. Dan kamu tahu, kata Chandra, preman-preman itu ditangkap karena kasus kriminal. Mereka ketahuan menyekap beberapa anak yang dikabarkan anak orang kaya. Disuruh untuk jual koran, mengemis, mengamen. Entah kejahatan yang lainnya.”
Rinai tidak bisa membayangkan betapa takutnya dia harus berhadapan dengan tiga orang yang mau melecehkannya. Rinai berlinang air mata, Orion adalah penyelamatnya hari itu. Kalau bukan karena Orion, entah apa jadinya Rinai sekarang.
Ia juga tak lupa akan berterima kasih pada Cakta nanti. Mungkin dengan mentraktir makan gratis di kedai mamanya? Dasar, mau berbuat baik saja nggak modal, pikir Rinai tentang niat baiknya sendiri.
Tidak boleh jalan-jalan terlalu lama, akhirnya Rinai pamit. Ia mengancam Orion kalau sampai pria itu lama di rumah sakit ini. Bagaimana caranya, Orion harus cepat pulang. Pria itu sudah berjanji untuk mengajaknya makan dan menyelinap ke dapur tengah malam di cafetaria milik Star, seperti biasanya.
Akhirnya Rinai kembali ke kamar, ternyata sudah ada Rose. Ya Tuhan, ia sangat merindukan temannya itu. Mereka saling berpelukan, meskipun Rose bukan pertama kali dilecehkan, setidaknya dia tidak ingin Rinai mengalaminya.
Tapi, untuk sekarang adalah perempuan itu jauh lebih penasaran kenapa ada pria keturunan China bersama dengan seseorang yang sangat familiar. Ya, Aiden. Kenapa ada Ziao di sini dan juga, Aiden?
“Kami dengar kabar dari Cakra, karena kebetulan semalam dia sedang bersamaku. Rinai-rinai, di saat semua orang mungkin jalan-jalan ke pantai, gunung, kaki bukit, kamu malah ke sarang preman?”
Ziao meringis gemas. Bagaimana bisa perempuan di hadapannya sangat sering mengambil resiko? “Keadaanmu tidak separah Orion. Tapi aku tahu pasti kau sangat syok bukan?”
Itulah sifat asli Ziao. Meskipun kadang dingin, tapi hangat di dalam. Nggak kayak pria sebelahnya, dingin sok caper gitu. Rinai berusaha setenang mungkin meskipun ia kaget ada Aiden juga, palingan memang hanya ikut berjaga gantian sama Cakra.
“Oh iya, Coach, ini Rose, temanku di apartemen dulu. Dia seorang model majalah, mungkin beberapa kali anda pernah melihatnya.”
Rose celingukan sekaligus merasa malu, dia belum ada apa-apanya sama mbak Kendal Jenner, hanya model murah yang menerima job endorse suatu produk. Mungkin istilah sekarang, selebgram.
Mereka menyalami Rose, tangan Rose tidak boleh digunakan untuk apa-apa karena baru saja bersalaman dengan Aiden. Mimpi apa semalam? Dia tahu kabar sadar dan kembalinya Aiden, tapi tidak menyangka kalau Rinai akan dijenguk oleh pria itu.
Kebetulan memang Arlita harus membuka kedai. Nanti akan ke sini lagi agak siangan karena Rinai akan pulang nanti malam.
“Lu gak ada jadwal motret?”
“Nggak ada.”
Rinai tidak percaya, ia dari dulu tahu bagaimana gelagat bohongnya Rose. Cepat-cepat mengambil ponsel dan melihat kalender. Ada tiga pemotretan yang harus dilakukan.
“Nggak masalah, gue gak tega ninggalin lu.”
No! Keadaan Rinai tidak separah Orion. Harusnya yang dikhawatirkan adalah pria itu, tapi kan Rose tidak kenal dengan pria yang menjadi penyelamatnya?
Dipaksa beberapa kali, akhirnya Rose terpaksa mengikuti perintah Rinai. Dia menyuruh Rinai untuk banyak istirahat.
“Karena kita searah, aku bisa mengantarmu.” tawar Ziao.
“Baiklah. Maaf merepotkan.”
Ziao mengangkat bahu, berpamitan dengan Rinai dan menepuk bahu Aiden. Ya, pria itu akan tinggal lebih lama di sini. Sambil menunggu Cakra datang. Apalagi kata dokter, Orion tidak boleh dijenguk lebih dari dua orang.
Kedua manusia itu sudah keluar dari ruangan, Aiden tetap berdiri kaku. Menatap jendela, menatap sekitar, bahkan menatap atap-atap langit kamar.
“Kenapa kamu masih ada di sini?”
“Aku mau tidur.”
“Eh?”
Aiden malah tiduran dengan nyaman di sofa, tidak merasa harus menjelaskan sesuatu pada Rinai. Hanya saja, Rinai takut kalau akan ada sesuatu yang terjadi jika pria itu ada di suatu ruangan bersamanya, hanya berdua.
Kebetulan yang sama, suster masuk dan memberikan suntikan. Rinai dari dulu takut disuntik, melihat wajah Rinai yang mencoba menahan rasa sakit, Aiden kembali berdiri lagi.
“Kamu bisa cubit aku kalau takut.” Aiden menarik tangan Rinai yang satunya, dan karena bingung, Rinai langsung mencubit lengan pria itu.
Suster tersebut kaget melihat Aiden. Tersenyum dan berjanji akan merawat pasien yang sekarang ada di hadapannya.
“Terima kasih, Suster.”
“Sama-sama. Jangan lupa dimakan ya makanannya.”
Suasana jadi kikuk. Aiden sangat aneh, misterius, tidak suka basa-basi dan sialnya, Rinai semakin menyukai pria itu.
Lalu, Aiden kembali tiduran di sofa lagi. “Setidaknya di tempat ini lebih aman daripada rumahku dan agensi. Aku sedang mencari tempat yang nyaman untuk tidur. Boleh? Kamu lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan.”
Aiden mulai menutup mata dan benar-benar tertidur. Beda dengan Rinai yang masih kaget dengan ucapan pria itu. Sebenarnya, apa yang terjadi dan dialami Aiden? Bukankah dulu pria itu bilang ingin segera sadar dari komanya? Lalu, kenapa malah terlihat tidak bahagia?
Karena memang tidak melakukan apa-apa selain mencoba menerima rasa sakit habis disuntik, Rinai mencoba mengecek ponsel. Agak retak karena sempat jatuh semalam.
Banyak sekali ucapan dari teman-temannya. Gena dan Wintang tidak bisa datang lantaran memang diwajibkan ikut latihan setiap jam 9 pagi.
“Dia tidur sangat nyenyak sekali.” batin Rinai.
Andai saja itu bukan Rinai, pasti akan memotret Aiden sebanyak-banyaknya. Meskipun dalam keadaan tidur, pria itu sanga tampan. Stop, Rinai. Jangan suka halu!