Derap langkah kaki sepatu hitam itu mulai menelusuri lorong koridor menuju ke sebuah ruangan tata usaha. Langkah gadis itu terhenti, tubuh luwes gadis berambut hitam sepinggang berbalik ke belakang dan melihat seorang bertubuh jangkung yang sudah menepuk pundaknya.
“AHHH!!” Gadis itu berteriak histeris, membuat sang pria langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.
“Sssttt.."
Pria tanpa name tag di seragam putih abu-abunya itu mengisyaratkan untuk diam. Calista Elssa, gadis pindahan dari Surabaya, karena ingin menghindari masa lalunya yang selalu menjadi beban. Panggil saja, Calista. Dulu, nama panggilannya itu Elssa. Tapi, dia tidak ingin menggunakan nama panggilan lamanya. Karena menurut Calista, dia tidak mau balik ke masa lalu itu kembali. Tidak berpengaruh sih, meskipun hanya nama panggilannya saja yang diganti. Wajahnya ayu, lugu, pembawaannya kalem, rambutnya panjang sepinggang berwarna hitam, penampilannya natural.
Calista tinggal di Bandung sendirian, kedua orangtuanya masih tinggal di Surabaya. Calista memilih untuk tinggal di sebuah kost putri. Lalu, dia memilih sekolah SMAN 3 Bandung. Sekolah elit yang muridnya rata-rata dari kalangan orang kaya dan tidak semuanya. Motif dari kepindahannya itu, karena dia malu dengan takdir yang sudah digariskan. Calista tidak bisa menerima takdir di keluarganya. Hingga orang-orang yang dulu menerimanya kini tidak bisa menerima kembali. Satu hal, dia memiliki kemampuan di luar kendali manusia normal. Keluarganya mewarisi ilmu ghaib yang selalu berurusan dengan makhluk-makhluk ghaib.
Terkadang, teman-temannya sering menganggapnya gila karena selalu ketahuan sedang berbicara dengan makhluk aneh tak terlihat. Apalagi dia sering terlihat berkeringat dingin oleh aura makhluk aliran hitam. Calista membenci takdir tersebut, dan inilah jalan yang dipilihnya. Hidup sendiri meninggalkan segala kenangannya dan menguburnya di kota lama, lalu menyambut hidup baru di kota baru.
“Lo murid baru?” tanya pria yang tidak diketahui namanya tersebut.
Calista mengangguk. “Bisa anterin saya ke ruang tata usaha?” Ia tak bisa berbicara dalam bahasa tidak baku seperti pria itu yang tampak santai.
Pria itu menilik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya yang masih menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. “Nama lo siapa? Masih pagi, belum ada guru jam segini.”
“Nama saya Calista Elssa. Panggil saja, Calista.” Calista mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat dengan pria tersebut.
“Brilliant Egiarculess, panggil Egi.” Egi menerima singkat uluran tangan Calista.
“Elssa, ikut gue!” kata Egi yang tiba-tiba meraih pergelangan tangan kanan gadis itu sambil berjalan melihat ke kanan-kiri saat lorong koridor masih terlihat sangat sepi.
Calista menahan lengan Egi, alisnya terangkat ke atas. "Panggil Calista, bukan Elssa," katanya sambil memayunkan bibirnya.
“Terserah gue.” Egi tetap keukeuh sambil melanjutkan perjalannya kembali. Calista pun pasrah, dia tidak mengerti dengan jalan pikiran pria bernama Egi yang telah mengganti-ganti nama panggilannya dengan seenak jidatnya itu.
Baiklah, perkenalkan dulu siapa pria bernama Brilliant Egiarculess itu. Lebih suka dipanggil Egi, katanya lebih simple. Pria jangkung berambut cepak dengan warna hitam pekat yang tertata rapi, berkulit putih, berdarah campuran Indonesia dan Jerman. Pria idaman, populer di sekolah dan banyak digandrungi oleh kaum hawa. Wajahnya tampan, terdapat lesung pipi yang sangat manis saat tersenyum.
Egi anak kelas XI IPS tingkat satu yang mempunyai julukan 'PASLIM' alias pasukan lima bersaudara. Egi termasuk siswa paling pintar diangkatannya dan selalu menjadi juara di sekolah SMAN 3 Bandung. Satu lagi, Egi memiliki kemampuan untuk mengusir makhluk halus yang berniatan jahat dan tidak bisa mendekati dirinya karena aura Egi lebih kuat oleh pelindung dari keluarganya.
Mereka berdua berjalan menuju ke kelas XI IPS tingkat satu yang berada di gedung lantai dua. Di kelas tersebut, keempat temannya sedang menatap kehadiran Egi dan Elssa secara bergantian, lalu memperhatikan Elssa dari atas ke bawah dan sebaliknya.
“Siapa?” tanya salah satu cowok yang bernama Nathan Alvian pada name tag seragamnya.
Nathan Alvian, biar Egi perkenalkan saudaranya yang satu ini. Ya, dia adalah saudara Egi dan panggil saja Nathan. Mereka semua tinggal satu rumah dan oleh sebab itu dijuluki pasukan lima bersaudara. Pria blasteran Indonesia dan Jerman. Meskipun mereka bersaudara, sebenarnya mereka itu tidak satu darah, kecuali Nathan yang memiliki ikatan saudara karena Egi itu kakaknya mamanya Nathan. Jadi, Nathan sama Egi itu sepupuan. Mereka tinggal di Bandung tanpa orang tuanya. Kedua orang tua mereka berada di Jerman. Mereka merantau ke Bandung untuk berniatan mandiri dengan sahabat masa kecilnya yang sudah dianggap sebagai saudara.
Nathan termasuk ketua kapten basket di SMAN 3 Bandung. Tubuhnya yang jangkung, kurus, tampan, berkulit sawo matang, rambutnya cepak berwarna hitam. Dia juga tak kalah menjadi sorotan kaum hawa. Mempunyai kemampuan sama seperti Egi, yaitu untuk mengusir makhluk halus yang berniatan jahat dan tidak bisa mendekati dirinya karena aura Nathan lebih kuat oleh pelindung dari keluarganya.
“Dia murid baru, namanya Elssa.” Egi memperkenalkan Calista kepada teman-temannya. Calista yang dipanggil Elssa itu menyalimi satu persatu teman Egi.
“Nama aku Calista Elssa, panggil Calista saja, ya?” Calista mulai memperkenalkan diri sambil tersenyum ramah.
“Kenapa kita disuruh panggil Calista? Kenapa Egi manggil lo Elssa? Apa itu khusus untuk Egi aja, nih?” tanya gadis berambut panjang sepinggang.
Anggun Permata, biar Egi perkenalkan sahabatnya yang satu ini. Panggil saja, Anggun. Gadis berambut hitam sepinggang yang selalu dikuncir kuda, bertubuh ideal, berkulit kuning langsat, matanya bulat berwarna hitam dan penampilannya sedikit tomboy. Dia tinggal satu rumah dengan Nathan dan Egi. Rahasia yang belum terungkap di sekolah ini, sebenarnya dia bukan saudara kandung melainkan sahabat masa kecilnya yang sudah dianggap sebagai saudara semua. Sehingga mereka semua juga satu angkatan dan satu kelas. Gadis berdarah campuran Indonesia dan Jepang.
Anggun termasuk salah satu pemain basket putri yang jago membantu Nathan. Selain terbiasa menjadi tomboy, dia juga mengikuti latihan taekwondo di sekolahnya. Jadi, jangan coba berani-berani untuk macam-macam dengannya kalau tidak mau dihajar bersama jurus-jurus ajaibnya. Khususnya, paling tidak suka dengan orang yang sok semena-mena. Mempunyai kemampuan untuk merasakan orang-orang yang beraura hitam.
Calista lagi-lagi tersenyum manis, dia menggeleng pelan. “Tidak. Egi yang ganti nama panggilanku. Jadi, kalian panggil aja Calista. Tidak ada panggilan spesial dan lagi pula aku juga gak kenal dia.”
Calista melirik sinis ke arah Egi yang hanya mengangkat bahu acuh lalu duduk di salah satu meja antara keempat teman lainnya. Gadis bertubuh mungil yang terlihat imut dan unyu-unyu itu menghampiri Calista. “Calista ini murid baru pindahan dari mana?”
Gadis itu mengintimidasi seraya berpikir. "Kok lo tumben kenal sama anak cewek yang baru pindah pula?”
Gadis itu menatap ke arah Egi sambil menyipitkan matanya. Calista nampak menautkan kedua alisnya bingung.
“Jadi, Egi itu gak pernah main sama cewek. Palingan juga, cuman sama kita berempat aja.”
Pria jangkung berkulit putih tersebut menimpali. “Lo beruntung, Calista. Bisa kenalan sama pria pendiam kayak Egi yang gak mau gaul sama cewek-cewek di sini. Padahal, ya, dia banyak penggemarnya di antara kita-kita.”
Pria itu terkekeh geli hingga membuat raut wajah Egi menatapnya tajam seperti tatapan maut agar mengisyaratkan bungkam. Calista pikir, sekolah baru akan sulit untuk mencari teman yang bisa menerimanya. Ternyata, semua tidak seperti yang dipikirkannya. Baru pertama masuk, ia sudah menemukan teman yang asyik dan konyol seperti mereka. Mungkin, ini adalah awal warna-warni masa remaja yang diidamkannya.
Pricillia Pailin, biar Egi kenalkan juga sahabatnya yang kecil ini. Panggil saja, Pricil. Gadis berwajah bule ini, berdarah campuran Indonesia dan Belanda. Wajahnya yang imut dan unyu selaras dengan bentuk tubuh mungilnya. Pipinya chubby dan jika tersenyum terlihat sangat manis. Siapa saja pasti akan terpesona melihat bidadari mungil ini. Dia juga tinggal satu rumah bersama Nathan, Egi, Anggun. Karena dia juga sahabat masa kecilnya sehingga disebut sebagai pasukan lima bersaudara yang selalu ke mana-mana bersama. Dia merupakan primadona di sekolah ini dengan penampilannya yang feminim. Selain fisik cantik, otaknya juga berisi.
Pricil tercatat sebagai murid yang pintar di bidang matematika dan pernah menjuarai olimpiade matematika mewakili sekolahan tingkat provinsi. Pricil yang notabene juga memiliki kemampuan di luar dugaan manusia biasa, dia bisa melihat masa depan hanya dengan berkonsentrasi pada pikirannya di tempat sunyi. Hal ini, hanya diketahui oleh keempat sahabatnya.
Gery Lauvure, biar Egi kenalkan juga sahabatnya yang tak kalah tampan ini. Panggil saja, Gery. Pria jangkung berkulit putih dengan wajah tampan berdarah campuran Indonesia dan Jepang. Gery itu kakak kandungnya Anggun Permata. Gery juga tinggal di satu rumah dengan Anggun, Egi, Nathan, dan Pricil.
Gery juga termasuk murid yang menjadi sorotan di sekolah karena kemampuan menggambarnya. Pernah menjuarai lomba menggambar di setiap bulannya dengan mendapatkan honor besar. Gery yang notabene juga memiliki kemampuan lebih tanpa sepengetahuan teman-teman sekolahnya, dia bisa menggambar masa depan yang kelak akan terjadi di kehidupan semua manusia.
Jadi, perkenalannya sampai sini dulu, ya. Kalian pasti bisa membayangkan bagaimana karakter mereka masing-masing. Egi menatap teman-temannya dengan sinis saat dirinya mulai beranjak dari duduknya kembali. Tiba-tiba saja, pantatnya tidak mau duduk lama di kelas ini. “Elssa, biar aku antar kamu ke ruang tata usaha. Jangan dengerin omongan kosong mereka berempat itu agak gesrek otaknya.”
Egi berjalan lebih dulu keluar dari kelas. Calista pun mengekori Egi di belakangnya setelah berpamitan kepada keempat sahabat Egi.
“Tuh, kan, kalau ngobrol sama Calista ada panggilan khusus trus bisa kalem lagi. Seperti orang pacaran aja gaya lo!” Nathan berseru keras diikuti oleh ricuh keempat sahabatnya.
Egi pun telah mengantarkan Calista di depan ruang tata usaha. Ruangan itu sudah dibuka dan di sana terdapat seorang bapak tua berkepala empat yang notabene sebagai cleaning service di sekolah ini. “Ehh, Aden Egi pagi-pagi tumben ke ruangan ini?” Bapak bernama Aman itu tersenyum ramah ke arah Egi dan matanya tampak menyipit saat melihat gadis di sampingnya.
“Iya, ini saya lagi nganterin murid baru, Pak.” Egi menyalimi tangan pak Aman. Calista yang melihat hal tersebut kontan mengikutinya untuk menyalimi tangan Pak Aman.
“Saya murid baru di sini, Pak. Nama saya Calista Elssa, bisa dipanggil Calista.” Calista memperkenalkan dirinya.
“Wah, Mbak Calista ayu pisan. Saya kira Mbak ini, pacarnya Mas Aden Egi. Soalnya, Mas ini jarang bawa cewek kecuali saudara-saudaranya itu. Tapi, kalau diperhatikan dari segi kecocokan...” Ada jeda di kalimat Pak Aman yang menggunakan bahasa jawa kental sambil mengukur tangannya membentuk kotak dengan jarinya ke arah mereka berdua. “Kalian berdua itu cocok pisan atuh.”
Calista terkekeh kecil melihat logat bicara Pak Aman. Sedangkan, Egi hanya bisa tersenyum-senyum. “Gurunya belum pada datang, pak?” tanya Egi yang berusaha untuk mengalihkan perhatian.
“Belum pada dateng, bentar lagi juga dateng kok, Aden Egi dan mbak Calista bisa duduk dulu saja. Saya mau permisi kerja dulu, ya?” kata Pak Aman sambil mengambil sapu dan bergegas pergi setelah mempersilakan keduanya duduk. Calista duduk di bangku panjang yang ada di koridor tersebut. Sedangkan, Egi hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Tiba-tiba saja, bulu kuduk Calista terangkat. Dia dapat merasakan ada aura lain di sekitarnya. Tubuhnya mulai merinding, wajah pucatnya tampak terlihat jelas, dan dugaannya kini benar. Dia mulai merasakan gelagat aneh yang membuat Egi sadar akan perubahan tersebut.
“Kenapa?” tanya Egi dengan alis terangkat.
Calista mencoba untuk menahan wajah pucatnya agar tidak terlihat oleh Egi. “Nggak kenapa-napa kok,” jawabnya singkat dengan senyum yang kentara dipaksakan.
Egi mengangkat bahunya acuh. Lalu pandangannya menatap lurus kembali. Calista dapat bernapas lega, tapi tetap saja rasa khawatirnya menggerogoti tubuhnya. Hingga seluruh tubuhnya mulai merasa kedinginan. Calista melirik ke kanan-kiri, tidak ada hal aneh yang bisa dilihatnya untuk jam sepagi ini.
‘GLUDAAKKK!!’
Tiba-tiba saja, suara hentakan keras dari bilik pintu ruangan tersebut membuat Calista menjerit histeris. “AAHHH!!!” Calista meloncat dengan cepat, dia memeluk Egi yang sedang berdiri di sampingnya. Egi pun juga ikutan histeris, tapi dia hanya menunjukkan wajah waspada tanpa berteriak.
Saat melihat Calista memeluknya, Egi menatap gadis tersebut sudah melingkarkan kedua tangannya di tubuh jangkungnya. Tiba-tiba saja, Egi meronta karena merasakan sentuhan dingin di luar kendali tubuh manusia. Dingin seperti es. Itu yang dirasakan oleh Egi pada tubuh Calista. Egi menatap intens gadis yang sedang memeluk dirinya sendiri.
“Kok, badan lo dingin banget kayak es?” Egi menatap kedua bola matanya dengan tatapan mengintimidasi. “Lo sakit?”
“Aku takut..” Calista berbicara dengan nada pelan. “Di situ ada...” Calista berbicara dengan nada terbata-bata, tangan yang terangkat dengan gemetar ke arah ruangan tata usaha. Tiba-tiba bibirnya kelu, matanya langsung tertutup rapat. Dia membeku di tempatnya dengan kalimat yang tak dapat terselesaikan.
Egi mengikuti arah jari telunjuk gadis tersebut, ternyata yang dilihatnya itu sesuatu lain...