Pingsan. Gadis berambut hitam lurus itu langsung menebar aroma wangi shampo mengenai wajah Egi dan tubuhnya melemas seketika dengan pandangan buram. Gelap. Egi shock, dia membopong tubuh gadis itu ke dalam ruang UKS. Egi menoleh ke arah jari telunjuk gadis itu, menunjuk sesuatu yang tak ada hal aneh di ruangan gelap sepi dan belum ada orang itu. Egi mengira suara bising tadi berasal dari suara lampu mati.
Di ruang UKS, Calista terbaring di atas matras UKS dengan mata terpejam tak sadarkan diri. Seorang gadis berbaju dokter dengan lambang PMR di seragam labnya tersebut sedang memberikan aroma minyak kayu putih pada rongga hidung Calista, lalu mengoleskan pada sisi kepalanya. Egi yang membawa Calista ke UKS, lantas duduk menunggu di sofa hingga Calista membuka matanya.
“Ada apaan? Mana anak baru itu?” Nathan masuk ke dalam ruang UKS ketika mendapatkan w******p dari Egi dengan sisa napasnya yang memburu.
“Eh, gue tadi lihat sekilas bayangan anak baru itu sama Egi, dan yang gue lihat anak baru itu bisa melihat makhluk dunia lain, tapi waktu Egi melihatnya makhluk itu pergi.”
Pricil menyusul bersama Anggun dan Gery di belakangnya. Dia berbisik di samping Egi dengan nada sepelan mungkin.
“Serius lo nggak bohong?” tanya Egi tidak percaya.
“Ya, kali lo ngeraguin gue gitu kesannya?” cercah Pricil tidak terima karena Egi mengira itu hanyalah karangan Pricil.
“Oke, jangan berisik di sini. Bukan tempatnya,” sungut Egi dengan suara mengecil karena ruangan UKS ini tidak boleh ada yang berisik.
Tak lama kemudian, Calista membuka matanya secara perlahan. Menatap langit-langit ruang UKS tersebut membuat dirinya semakin bingung. Nyawanya belum terkumpul sempurna, jadi wajar kalau dia masih terlihat linglung. “Aku ada di mana?” Calista mencoba untuk mengubah posisinya menjadi duduk.
“Mbak, lagi ada di ruang UKS. Tadi, habis pingsan di bawa sama Kak Egi.”
Gadis bernama Yunita berseragam PMR tersebut menjelaskannya.
Calista bingung melihat sekeliling UKS, di seberang sana sedang banyak siswa yang tertidur di matras UKS pada jam sepagi ini. Eh, tunggu! Ini sudah sangat terang sekali mataharinya. Calista pun menilik jam arloji yang melingkari tangan kirinya, pukul delapan pagi. Jadi, Calista pingsan selama dua jam? Oh, tidak! Ini hari pertamanya masuk sekolah saja sudah seperti horor. Calista harus bersikap biasa saja, dia ingin move on dari masa lalunya dan menyusun dunia barunya di Bandung.
Ketiga pria jangkung dan kedua gadis berparas cantik menghampiri Calista yang masih duduk di bibir kasur. “Kamu nggak kenapa-napa, kan? Katanya kamu habis lihat sesuatu di ruangan tata usaha sampai pingsan gini kamu lihat apaan, Cal?” tanya Pricil dengan nada cemasnya sebagai teman.
“Kalian makasih ya, udah bawa aku ke UKS, terutama buat Egi juga.” Calista tersenyum ke arah mereka berlima. “Oh, iya, aku nggak kenapa-napa kok. Bisa anterin aku ke ruang tata usaha lagi?” Calista menatap Egi dengan memelas agar pria tersebut mau menemaninya kembali.
“Asal nggak pingsan lagi aja. Berat bawa badan lo, males gue,” cetus Egi dengan nada berat. Calista mengerutkan dahinya, tadi pagi ia berkata manis dengan nada lembut. Sekarang, secepat itu dia berubah menjadi galak dan cetus.
“Apa kamu bilang? Berat bawa badan aku? Aku nggak gendut kali.”
Calista mengerucutkan bibirnya. "Kalau kamu nggak mau nemenin, yaudah. Aku minta Anggun sama Pricil temenin mau?” tanya Calista kepada dua gadis di depannya.
Anggun menoyor lengan Egi dengan sedikit kencang hingga ia meringis, Anggun tertalu tomboy mungkin, jadi tenaganya kuat sekali. “Lo ini sama anak baru jangan galak-galak gitu dong,” omelnya pada Egi. “Calista sama gue dan Pricil aja, ntar sama Egi lo di makan. Dia nggak tahu cara gandeng cewek secantik lo. Makanya dia grogi kayak gitu, mainnya aja cuma sama kita berdua, sih.”
Anggun melipat kedua tangannya di depan d**a, seraya menaikkan sebelah alisnya. Calista mengangguk sambil tersenyum geli melihat ekspresi Egi saat ini sedang menatap kedua sahabat ceweknya dengan tampang jutek. “Yaudah, yuk. Aku belum tahu masuk ke kelas mana soalnya.” Calista pun beranjak dari tempatnya, sebelum dia benar-benar pergi. Matanya menatap sekilas Egi, lalu dia berjalan dengan lunglai seraya menjulurkan lidahnya.
“Dasar, gila!” Egi berkata ketus dengan sedikit berteriak ke arah Calista yang hanya bisa meledeknya sambil berjalan mengekori Anggun dan Pricil.
Gery dan Nathan yang sejak tadi diam memperhatikan sahabatnya itu lantas ingin tertawa geli. “Kalau dari gambaran gue, cewek itu bakal masuk ke dalam kehidupan lo. Kalian cocok sih,” asumsi Gery dengan tatapan mata yang menyipit memperhatikan kepergian punggung Calista.
Egi hanya berdecak kesal dengan Gery. Pikiran Egi sejak tadi masih bingung, entah kejadian yang ada di ruang tata usaha itu. Lantas, Egi ingin memastikan kembali.
“Eh, tadi kenapa dia bisa pingsan?” Nathan tiba-tiba mengalihkan perhatian ke topik lain. Egi tidak menjawab pertanyaannya, dia pun meninggalkan Nathan dan Gery dengan tanda tanya besar. Egi tidak peduli jika gadis itu masuk ke dalam hidupnya. Sekarang rasa penasarannya adalah sosok apa yang dilihat gadis itu sampai pingsan? Egi harus membereskan segala sesuatu jika ada kejanggalan.
Calista masuk ke dalam ruangan tata usaha dengan langkah ragu. Pandangannya menelusuri ke kanan dan kiri sebelum dia mengetuk pintu ruangan itu. “Permisi, Assalamualaikum.”
Calista melangkahkan kakinya masuk, sedangkan Pricil dan Anggun menunggu di luar. “Walaikumsalam.”
Seorang guru muda yang terlihat cantik itu masih berumur dua puluh tujuh tahun. Tertera name tag dengan tulisan Bu Anin di baju seragamnya. Dia menatap Calista dari bawah sampai atas, “Kamu murid baru itu, ya?” tanya Bu Anin dengan senyuman manis.
“Iya, Bu, saya murid baru pindahan dari Surabaya. Nama saya, Calista Elssa dan bisa dipanggil Calista.” Calista menyalimi Bu Anin, lalu dia dipersilakan duduk.
***
Di koridor tepatnya di depan ruangan tata usaha sedang sepi. Karena jam ini menunjukkan para siswa sedang melakukan pelajaran. Kebanyakan guru piket sedang berjaga di depan gerbang untuk menunggu siswa yang datang terlambat. Lalu ada pula di kamar mandi, katanya anak-anak cewek itu suka ke kamar mandi sampai berjam-jam untuk merias dirinya di depan cermin dan meninggalkan pelajaran hingga jam istirahat tiba. Ada juga yang di kantin, karena itu akan menjadi bahan sasaran utama untuk madol dan menikmati makanan.
Pricil dan Anggun menunggu di balkon dinding koridor sambil sibuk dengan ponselnya masing-masing. Seperti kebiasaan anak muda, Pricil sedang stalker i********: anak-anak cowok terganteng. Sedangkan, Anggun lebih memiliki perbedaan unik dibanding dengan Pricil, dia lebih memilih untuk menggali informasi tentang hal-hal misteri. Contohnya, sekarang dia sedang browsing di mbah google tentang hantu di sekolah. Cerita-cerita seperti itu membuat dirinya selalu ingin penasaran.
“Hei, ke mana anak baru tadi?” Egi tiba-tiba sudah duduk di samping Anggun. Dia ternyata benar-benar menyusul gadis itu ke ruang tata usaha. “Gue mau pastiin kalau nggak ada hal aneh dengan dia.”
Egi mencoba untuk mencari alasan agar Anggun dan Pricil tidak berasumsi yang aneh-aneh. Anggun menunjuk ke arah ruang tata usaha, Calista baru saja keluar dari ruangan tersebut. “Gimana? Lo masuk kelas berapa?” tanya Anggun yang langsung menyergap dengan pertanyaan kelas.
“Aku masuk kelas XI IPS 1 di lantai dua. Itu kelas yang tadi?” tanya Calista dengan alis terangkat. Anggun dan Pricil yang mendengar langsung bangkit dari duduknya dengan mata berbinar.
“Wow, lo sekelas sama kita semua.” Pricil seperti biasa selalu heboh dan dia merangkul pundak Calista yang lebih tinggi darinya.
“Serius, aku sekelas sama kalian?” tanya Calista dengan mata berbinar. “Kalau gitu kalian bakal jadi temen baru aku dong?”
Calista bersemangat dan dia berdiri di tengah-tengah Pricil serta Anggun lalu merangkul keduanya dengan senyum sumringah. Egi yang memperhatikan ketiga gadis itu sedang bercengkrama, lantas dia hanya menunjukkan muka datar sambil beranjak dari duduknya. “Lebay kalian,” cibirnya dengan nada ketus.
“Yee, suka-suka dong! Seharusnya lo bersyukur bakal sekelas sama Calista dan sekarang dia resmi menjadi teman kita.”
Anggun berlagak seperti seorang ketua yang memiliki anggota dan bisa seenak jidatnya memasukkan orang asing ke dalam anggotanya.
“Bodo amat!” Egi pun mengabaikan lalu berjalan santai seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abu. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar suara pengumuman dari mikrofon yang ada di ruang aula. Tidak hanya Egi yang membeku di tempatnya, ternyata Calista, Anggun dan Pricil juga menatap kosong ke arah pria jangkung di depannya. Pengumuman itu, membuat mereka bergidik ngeri.
'Baru pertama, apa ini penyambutan untukku?' Calista membatin dengan miris.
“Cal? Lo nggak kenapa-napa, kan?” Pricil menatap Calista yang nampak melemas, dia takut jika Calista akan shock berat karena ini hari pertamanya pindah sekolah dan mendapat sambutan oleh berita mengerikan.
Egi yang berada di depan mereka lantas menoleh ke belakang, lalu dia berlari kencang meninggalkan mereka bertiga dengan kebingungan. Calista menutup bibirnya rapat-rapat, Anggun merasakan ada aura jahat di sekitar mereka. Tidak ingin membuat kecurigaan, mereka pun memilih diam.
Seketika, Pricil dikagetkan dengan bayangan yang melintas di benaknya. “Gery dalam bahaya.”
Calista berkeringat dingin serta Anggun bergidik ngeri akibat bulu kuduknya naik, ia hanya bisa menggertakkan giginya. Mereka pun berlari saat keadaan benar-benar membuatnya tegang, sosok itu menghilang lagi. Calista bingung, siapa pria berjuba hitam yang tadi menapak ke lantai, tapi kedua teman barunya tak bisa melihatnya. Dia kira itu adalah manusia, ternyata pria tak berwujud itu sekedar lewat atau mungkin sudah kedua kalinya menampakkan diri dengan maksud tertentu. Sekarang mereka harus menyelamatkan Gery!