Venya terkadang sulit mengartikan beberapa hal. Termasuk kata 'sayang' yang di maksud oleh Gemma. Dia sayang kepadanya tapi sikapnya masih saja seperti cuek dan tidak peduli akan Venya. Dia pergi kemana pun tidak pernah ijin atau mengabarinya. Masih dengan begitu saja seminggu ke belakang.
Gemma sendiri mengatakan itu hanya beberapa kali. Bahkan Venya kadnag rindu dengan ucapan itu. Dimana Venya terkadang mengingat jika bukan Gemma, dia tidak akan seperti sekarang. Dimana jika bukan dengan Gemma, Venya tidak akan memiliki hal yang ingin dimilikinya. Sesuai dengan apa yang di harapkan oleh Venya, Gemma lebih sering memperhatikannya sejak Venya pindah ke sebelah kamarnya. Jarang keluar malam dan juga jika pergi kemana -, mana selalu minta ijin atau tidak mengabari Venya terlebih dahulu.
Gemma banyak berubah sejak Venya di dekatnya. Entah kenapa, namun Venya merasa itu jauh lebih baik dari pada hubungannya kemarin - kemarin. Walau terkadang Gemma pergi ke kampus dan pulang malam, padahal jam kampusnya tidak ada yang sampai malam hati. Kadang juga Venya menemukan rokok dan juga bau alkohol di badan Gemma ketika pulang atau sekadar memberi makan kepada Venya di kamarnya.
Memberi makan kepada Venya sudah seperri tuntutan bagi Gemma. Setiap dia keluar dari kosannya, pasti selalu pulang membawa makanan. Selalu dan psti setiap harinya. Bahkan ketika Venya dan Gemma mengunjingi panti asuhan waktu itu, Gemma dengan royal membelikan makanan untuk orang - orang yang ada di panti asuhannya. Termasuk bunda kori dan beberapa orang yang selalu membantu bunda kori di belakang.
"Sayang itu apa?" Tanya Venya pada dirinya sendiri.
Dia masih dengan kaus tidurnya siang itu.
Sebulan sudah dilaluinya dengan Gemma yang banyak berubah, dengan novel ke penerbit yang hampir rampung dan dengan dunia kepenulisan di platform online yang sedang ia buka sekarnag. Tidak sengaja, Venya menuliskan kalimat yang baru saja di ucapkan di halaman kosong episode baru yang akan dibuatnya tadi.
Mendadak ide muncul di dalam otaknya. Entah kenapa, kata - kata yang disebutkannya barusan berhubungan dengan cerita yang akan dibuatnya hari ini. Gemma sudah mengatakan jika dirinya akan pulang malam karena ada futsal dengan kawan - kawan kampusnya. Bukan tidaj peerduli dengan Gemma, Venya memang tidak ingin membatasi pwrgaulan Gemma. Jika Venya melarangnya, kemungkinan besar Gemma akan punya dunia seperti dirinya.
Seperti Venya.
Dunianya yang sudha nyaman ia tempati. Dimana dia hanya duduk menulis, duduk berfikir, dan duduk menerima uang dan satu lahi. Dia hanua duduk untuk berbelanja di online shop. Tidak salah, Venya juga hanya membeli baranh yangbia butuhkan tidak yang dia inginkan sjaa. Waupun terkadang scroll dunia orange untuk berbelanja itu sering membuatnya kalap.
Baik, kembali lagi ke masalah Gemma.
Venya sudah merasakan bahwa Gemma sudah banyak berubah tentu saja salah satunya untuk diri Venya. Tidak ada yang berubah lagi dari Gemma semejak pengakuan Venya yang pernah di leccehkan oleh seseorang yang tidak ingin Venya sebutkan kala itu. Entah kenapa. Bukan untuk melindungi orang yang sudah melakukan itu padanya, Venya juga melindungi Gemma yang mungkin bisa saja mengajaknya berkelahi. Atau bahkan bisa saja membunuhnya. Jika mampu.
Dan jika Gemma sudah mampu, dia akan masuk ke dalam penjaara atau bahkan bisa di hukum oleh warga. Setelah itu, tidak akan ada lagi Gemma milik Venya.
Mungkin itu adalah sebuah alasan klise. Namun, yang pasti Venya tidak berusaha untuk mengungkitnya. Venya tidak ingin mengungkitnya lagi. Karena rasanya sakit. Dia biasanya tidak pernah mengingat - ngingatnya. Maka dsri itu ia jarang sekali bermimpi tentang hati itu. Tapi entah kenapa setelah mimpi itu muncul lagi, Venya merasa ketakutan yang lebih dari biasanya. Entah itu karena Venya sekarang punya ketakutan yang berbeda.
Ditinggalkan oleh Gemma karena masalah lamanga. Karena masa lalunya.
Venya masih merangkai tulisannya dengan sangat telilti lalu mempopstingnya pada siang itu juga. Dia hanya berharap orang - orang yang membacanya mengerti bagaimana rasanya sayang yang dirasakan oleh Venya.
Syaang terhadap sesama mungkin saja menjadi pilihan yang Gemma pilih. Namun, Venya tidak merasakan hal itu. Apakah sayangnya adalah tanda - tanda yang ia rasakan kali ini? Dimana dia terlalu takut kehilangan Gemma? Atau bahkan dia sangat senanh ada Gemma di hidupnya? Apa yang seperti itu yang dinamakan sayang?
Bagaimana dengan cinta?
Venya menarik napasnya, "urusan sayang juga belum kelar, ini cinta apalagi." Gumam Venya.
Dan siaalnya, memang benar. Keduanya membuat Venya bingung. Bagaimana jika sayang itu adah cinta dan cinta itu adalah sayang? Bahkan sampai sekarang, Venya masih sulit membedakannya. Jika sayang adalah bentukan dari cinta, apakah sayang kepada orang lain yang bahkan 'sesama' jenis itu namanya cinta juga?
"Ah sulit sekali." Kata Venya menarik rambutnya di kedua sisi kepala miliknya. "Siaallan, bahkan urusan begituan aja gue pusingnya setengah matti." Lanjut Venya menatap laptopnya.
Jarinya kini bergerak menggerakkan kursor melalui media mouse di samping laptopnya kemudian menambahkan cacatannkaki seorsng penulis yanh tidak biasanya ia pakai. Ia pakai sekaramg untuk bertanya kepada para pembacanya.
'jadi, sayang dan cinta itu beda? Apa bedanya? Bagaimana cara membedakannya? Kenapa harus ada cinta dan sayang di dunia ini? Kapan pertama kali sayanh dan cinta datang? Bagaimana cara mengetahui jika itu datang?' .
Pertanyaan - pertanyaan itulah yang pada akhienya Venya tulis di kolom catatan penulis. Entah untuk apa tapi setidaknya, Venya bisa punya referensi untum tulisan ke depannya dari orang - orang yang membacanya dan juga memberikan komentar di tempatnya. Venya sendiri harus mengetahui itu karena dia harus punya ide untuk tulisan di bab selanjutnya.
***
Malam itu Venya mengorder makanan lewat ojek online yang biasa ia gunakan sebagai angkutan jika tidak ada Gemma. Sekarang pun sama, Gemma tidak mengabarinya. Gemma tidak memberitahunya dia ada di mana dan akan pulanh jam berapa. Bahkan sekaramg waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam dan Gemma belum juga kelihatan batang hidungnya.
Untung saja ada warung makanan berat di dekat sana dan Venya bisa membelinya tadi siang untuk makan diasiang karena Gemma tidak ada mengabarinya. Jika dia menunggu Gemma kemungkinan Venya akan pingsan duluan. Lebai memang. Tapi begitulah keadaannya. Bahkan makan pagi saja Venya lewatkan karena dia bangun ke siangan. Dia bahkan makan diang di sore hari dan sekarang, malam hari dia lapar karena belum ada Gemma yang biasa ia nantikan untuk membawa makanan ke kosannya. Setelah memesan, dia menunggu sambil membaca - baca kolom komentar yang sekarmag dipenuhi oleh banyak komentar untuk mengomentari catatan kaki Venya di bab yang tadi siang ia tuliskan.
"Gue ga tau catatan kaki ngasih gue banyak komentar kayak gini." Kata Venya terkekeh pelan melihat ponselnya.
Venya masih terkekeh ketika banyak komentar yang mengomentari catatan kakinya dengan komentar nyeleneh seperti yang satubini, 'cinta itu adalah ikatan suci yang di bangun oleh dua insan yang lawan jenis bukan lawan gulat. Jika sayang bisa menjadi cinta dan cinta bisa menjadi benci.'
Lagi, Venya terkekeh melihat komentar yang menurutnya bahkan tidak ada kaitannya dengan apa yang di tanyakan oleh Venya. 'sayang dan cinta itu beda, jadi apakah aku boleh menyayangimu kemudian berlanjut kepada mencintaimu?'
Ada satu komentar yang selalu Venya nantikan di setiap babnya, 'sayang itu bisa kepada siapapun, sama halnya dengan cinta. Dimana sayang biasanya terungkap ketika kita mencintai seseorang. Dan ketika kita mencintai seseorang, kita dipastikan menyanyangi krang itu dengan hati yang bahkan sering sekali berbunga - bunga. Apakah kamu sedang jatuh cinta? Atau ada yang menyatakan rasa sayangnya padamu?'
Aree141.
Venya mengingat akun orang itu.
Pada setiap bab yang di tulis oleh Venya selalu saja ada orang itu yang berkomentar dan selalu menantikan Venya menulis bab selanjutnya. Dan tentu saja, Venya yang selalu menantikan komentar darinya. Dimana komentarnya selalu membamgun hal yang positif untuk Venya. Selalu berkomentar dengan baik dan sopan dan jugamemberitaju jika Venya memiliki kesalahan dalam menulis atau bajkan bahasa yang telat.
Bahkan, menurut Venya orang di balik akun ini kemungkinan dosen sastra atau bahkan mahasiswa sastra indonesia yang sedang memata - matai penulis indonsia dan mengamati penulis - penulis seperti Venya. Yang menulis asal - asalan. Asal selesai, asal tamat dan asal jadi setiap babnya.
Begitulah. Jika uang yang berbicara, sudah beda lagi. Bahkan bersikap asal - asalan saja bisa menghasilkan uang. Dan terkadang orang yang serius di bidangnya tidak dihargai. Bisa jadi dicontohkan seperti orang - orang di televisi sekarang. Jaman sekarang, televisi menayangkan beberapa program yang di dalamnya hanya bercandaan - bercandaan orang - orang layaknya sedang bersandiwara.
Memang betul mereka punya ilmu untuk hal itu. Yang di cari oleh orang yang menontonnya adalah hiburan semata. Dimana di dunia nyata bahkan banyak orang yang bekerja serius, mengajarkan orang - orang yang kurang mampu untuk bersekolah dan serius belajar. Bahkan mereka yang mengajar rela untuk tidak di gaji dan tentu saja menunggu pemerintah turun tangan. Tapi sama sekali tidak ada tanggapan.
Venya merasa miris dengan hal itu. Harusnya, pemerintah juga lebih memperhatikan orang - orang yang serius di bidangnya. Dimana bidang itu bisa mencerdaskan dunia seperti yanh ada di dalam undang - undang yang sekarang bahkan bisa dikatakan tidak lagi di pakai oleh pemerintahan sekarang.
Tidak lagi di jungjung tinggi dan lebih banyak di gunjingnya.
Akun Aree141 ini selalu muncul dengan beberapa komentar. Dimana komentar yang positif selalu Venya balas dengan perbaikan. Jika di dalam babnya ada kalimat kurang teratur, akun ini biasanya akan berkomentar, "sebaiknya gunakan kalimat ini untuk kejadian ini.' dan dia memberikan beberapa contoh kalimat yang baik.
Jika bisa dikatakan, Venya merasa lebih baik dalam hal menulis melalui ajaran yang ia berikan kepada Vemya.
"Terima kasih, Aree141." Kata Venya seketika ia mengingat kebaikan orang itu. .
Selanjutnya Venya membalas beberapa komentar dan juga menuliskan hal - hal penting yang bisa menjadi referensi ia menulis bab selanjutnya. Setidaknya, dia memiliki beberapa point penting untuk di tuliskan.
Kemudian, dia mendengar pintunya di ketik dan ada yang berteriak makanan datang. Venya bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu kamarnya dengan semangat karena makanan yang di pesannya datang. Benar ssja, abang ojek online yang datang.
"Makasih mas. Udah via ovo ya?" Ucap Venya lalu menerima pesanannya.
"Iya mbak udah. Makasih ya." Kata masnya kemudian dia pamit.
Selanjutnya, yang di lakukan Venya adalah duduk lagi di meja depan laptopnya kemduian emmbuka aplikasi online kepenulisan dan juga membuka bab barubuntuk menulis. Dia sudsh menyelesaikan bab untuk setoran ke penerbit. Mungkin hanya beberapa bab lagi dan bukunya akan selesai dsn tinggal menunggu cetak.
Untuk mengakhiri bulan ini, dia akan lebih fokus menulis di platform online dan melanjutkan daftar ke beberapa platform online lainnya. Venya juga sudha daftarke beberapa platform dan sudah menuliskan bab awal untuk menarik pikat baja. Kadang juga Venya menuliskan beberapa kata untuk mempromosikan ceritanya di platform lain.
Kadang juga dia emminta pembacanya untik mengunjungi cerita milik Flora di akun dsn platform yang berbeda. banyak juga yang menanyakan kenapa Flora menginginkan banyak platform online untuk kepenulisannya. Kemudian, dia hanya menjawab untuk menerbangkan nama Flora lebih jauh lagi.
Padahal yang asli adalah djmana Venya membutuhkan penghasilan lebih. Bukan di platform ini saja dia bisa berkembang dan mendapatkan uang. Terkadang platform sebelah lebih memberikan gaji yang cukup tinggi dan ada juga yanh bentukan gajinya dalam bentuk rupiah bukan dollar. Dan terkadsng itu lebih memudahkan Venya untuk memarik uangnya. Setidaknya, banyak platform, banyak pengalaman dan juga banyak penghasilan tentu saja.
Venya tertawa dalam hati.
"Dikibuliin nih pembaca oleh penulis." Kata Venya kemudian tertawa.