Gemma sama sekali tidak mengabari Venya hari itu. Bahkan sampai Venya selesai makan, tidak ada satupun notifikasi dari Gemma. Bahkan ponselnya senyap seketika. Yang ada hanyalah notifikasi dsri aplikasi - aplikasi yang sedang ia kerjakan untuk lroyek menulisnya. Dia memang mengharaokan hal itu. Banyak notifikasi muncuk dsn juga banyak respon untuk ceritanya di berbagai aplikasi yang sering sekali Venya buka dan tutup di ponsel mamupun di latopnya.
Menulis atau bahkan membalas komentar seperti sudah suatu kewajiban untuk Venya di saat dia sedang ada waktu senggang walaupun cuman sebentar. Komentarnya juga tidak terlalu banyak. Dan tidka terlalu banyak untuk di balas. Komentar - komentar yang ada kebanyakan adalah meminta Venya menulis lebih banyak. Meminta tambahan bab atau merespon hal yang ada di dalam cerita.
Venya juga sudah tetidur sebentar dibkursibkerjanya. Namun, setelah melihat ponselnya, masih saja tidak ada notifikasi dari Gemma. Dimana Venya bisa saja tidak perduli dengan siapa sekaeang Gemma, dimana Gemma berada atau bahkan sedang melakukan apa Gemma di sana. Venya tidak perduli akan hal itu. Yang ia perdulikan adalah keselamatan Gemma. Dia sangat takut ketika Gemma tidak menghubunginya adalah satu, kecelakaan.
Venya jadi ingat juga masalah waktu itu Gemma mengantarkan bunda kori ke panti asuhan. Gemma sempat oleng dan hampir kecelakaan. Dari sana Venya sering khawatir jika Gemma di jalan kenapa - kenapa. Bahkan Venya sendiri yang akan langsung mendatangi Gemma ketika mendapat kabar dari Gemma jika urusannya dengan rumah sakit atau temannya yang bisa saja menyimpan Gemma di rumahnya atau bahkan menyembunyikan Gemma.
Ini sudah keesokan harinya dari kemarin. Dimana Venya memang tertidur di atas kursi kerjanya setelah makan dan menulis beberapa bab cerita di akun & aplikasi yang berbeda. Venya arga menuliskan catatan penulis lebih sering sejak dia punya banyak akun di banyak aplikasi online untuk menulis dengan banyak editor juga yang kadang - kadang membuat Venya pusing ketika di chat salah satu editor. Venya bingung karena selalu lupa yang sedang chat dengannya kala itu editor yang mana & menanggapi cerita yang mana.
Saking banyak carita. Untung saja dia punya caranya sendiri. Dia save nomor editornya beserta nama aplikasi dan juga cerita yang ia buat di platform yang di editori oleh orang itu. Kenapa di editori? Karena jika tidak pakai editor makan gajinya bisa - biss tidak di proses. Seperti yang di katakan oleh Venya sebelumnya. Jika editor adalah satu hal yang menjembatanai antara penulis dsn platform yang diikuti oleh Venya.
Balik lagi ke urusan dengan Gemma.
Dia bahkan tidak snaggup untuk menekan tombol panggiil ketika kontak Gemma sudah ads di layar ponselnya. Ketika fotonprovilnya Gemma sudah ada di hadapannya. Venya bahkan tidak bisa mengirim pesan terlebih dahulu. Entah kenapa, namun Venya merasa jika dirinya belum berhak atas peelakuan seperti itu kepada Gemma walaupun kenyataannya adalah Venya dan Gemma beepacaran.
Setidaknya, untuk saat ini.
Venya sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi di hadpannya nanti. Putus kah? Berlanjut kah? Atau bahkan menaikah?
Venya tertawa miris. "Bahkan gue belum ada tujuan ke sana dan gue ga bisa membayangkan bagaimana ke depannya. Menikah?" Tanya Venya untuk dirinya sendiri. "Enggak kayaknya." Ucao Venya kemudian setelah diam cukup lama.
Dia menarik nafasnya, "apa ga akan kenapa - napa gue wa duluan?" Tanya Venya lagi. Dia hanya berbicara dengan ponselnya ketika pertanyaan - pertanyaan itu muncul di dalam otaknya.
Yang selanjutnya terjsdi adalah dimana Venya mengetuk layar ponselnya, mengetikkan sesuatu di sana dan sempat ragu untuk menekan tombol kirim. Kemudian Venya dengan mata terpejam menekan tombol kirim dan berdoa untuk dieinya sendiri.
"Senoga gue ga salah - salah banget pas nanti Gemma bales." Doa Venya sambil menekankan ujung ponselnya ke kening miliknya sendiri. Entah apa yang dilakukan Venya. Hanya itu yang bisa dilakukannya.
.
Pwrtanyaan yang dikirimkan Venya pada Gwmma simpel, 'lo dimana?". Hanya itu. Tidak lebih dan tidak kurang.
Selebihnya, Venya serahkan kepada Gemma. Dia mau membalas atau tidak, itu urusan nanti.
*** ***
Setelah pagi yang cukup aneh untuk Venya, dimana Venya memesan makanannya sendiri. Makan sendiri dan sering sekali mematap ponsel yang masih ia tunggu notifikasi balasan dsdi seornag Gemma teehadap pesannya. Namun, setelah siang ini ada di penghujungnya hari itu, belum ada juga balasan dan respon apapun dari seorang Gemma.
Mulailah seorang Venya panik.
Siang itu, ia berusaha berfikir untuk ide menulisnya. Untuk ide yang dipakai di beberapa platform menulis dan juga beberapa bab terakhir dsri ceritanya untuk di terbitkan. Tapi ia tidak bisa fokus. Matanya selalu tertuju pada ponselnya ketika lonsel itu menyala dsri keadaan mati untuk menandakan adanya notifikasi masuk ke ponselnya.
Tapi yang ditunggu tidak kunjung muncul dia bahkan menimang - nimang harus meneleponnya atau hanya emndengar suaranya saja.
"Kemana lagi si boddoh Gemma." Kata Venya mencak - mencak lalu ia kini menatap dan emmehang lonselnya di depan mata, "telepon aja? Gue kan pacarnya ya. Ga ada salahnha gue nelpon pacar gue senidiri." Kata Venya mencoba menengkan dirinya sendiri dari kepanikan gang bahkan baru kali ini Venya rasakan.
Venya menjalani hidupnya dengan datar. Walaupun Sudah bersama Gemma, tentu saja hidup datar itu tetap ada di diri Venya. Gemma juga tidak bisa merubah apa yang sudab ada. Bahkan Gemma tidak terllau mempersulitkan Venya selama masih pacaran. Dia bahkan hanya rese di masalah uang. Dimana ia selalu malas untuk mengeluarkan uang sepeserpun.
Jika anaknya sudah menghasilkan uang, anaknya akan memberi setidaknya satu lebar merah yang sebenarnya ssngst mudah untuk mendapatkannya. Tinggal menuangkan ide, menulsikan kalimat-kalimat dan menjadikannya sebuah cerita yanh bahkan bisa dijadikannya sebuah buku.
Mudah bagi orang yang melihatnya. Bahkan Venya sendiri yang merasakannya. Ide dan inspirasi benar - benar harusbdi cari semaksimal mungkin. Dan jika sore ini tidak ada kabar daei Gemma kemungkinan Venya akan memesan ojek online dan berangkat dari kamarnya. Dia tidak ingin terus berfikiran buruk tentang keberadaan dan juga keadaan dari Gemma. Dia akan duduk dk sebuah cafe. Menulis banyak kata di sana dan menagkai kata. Hanphonenya mungkin akan ia matikan.
Dia akan berusaha mencari inspirasi di luar kamarnya. Rasanya di kamar pikirannya kacau gara - gara Gemma. Dan siaaalnya, Gemma yang membuat hal menulis menjadi kacau. Venya kesal sendiri jadinya.
"Awas aja, kalo lo balik gue bakal caci maki lo, Gem." Kata Venya sambil mengepalkan jari - jemari tangannya karena kesal.