Venya benar - benar di buat kesal oleh Gemma karena dia tidak mendapat kabar sama sekali setelah kemarin benar - benar kosong tanla Gemma. Dia benar - benwr merasa bahwa Gemma menghilang dan meninggalkannya begitu saja. Kemarin sore bahkan Venya sudah memutuskan bahwa dirinya akan pergi ke kafe untuk mendapatkan inspirasi, menjadi gagal karena hujan yang tiba - tiba.
Apakah Gemma bensr - benwr pergj meninggalkannya setelah peeubahan besar yang ia berikan untuk Venya kemarin - kemarib? Ataukah Gemma mulai berubah pikiran karena Venya memberitahunyabtentang sisi gelap yang bahkan tidak mudah untuk dilupakan oleh Venya sendiri?
Jika memang seperti itu, Venya lantas tidak bisa berbuat apa - apa. Venya hanya pasrah dengan keadaan apapun. Venya hanya bisa meninjaunya sampai saat ini.
Pagi itu, Venya sudah bersiap untuk pergi dari kamarnya. Kemsrin, Venya saat hujan itu mendapat beberapa ide untuk ceritanya. Jadilah dia membuat beberapa bab untuk stok hari ini. Namun, Venya merasa dirinyabingin membuat cerita dan karya baru untuk di setorkan ke penerbit yang baru dis teken kontrak dengan penerbit itu. Dia butuh inspirasi dan juga beberapa riset ringan di sosialita orang - orang. Maka dsri itu, Venya sudah bangun pagi akrena tidak bergadang semalam dan sudah bersiap akan lergi.
Tidak lupa juga, ia sudah memesan ojek online untuk mengantarnya sampai kentujuan. Sampai ke kafe dimana dirinya harus pergi dsn melihat suasana untuk dijadikannya bahan cerita. Venya memang tidak mudah bersosialisasi. Dia bahkan tidak pernah mengajak ngobrol orang yang tidak dibkenalnya terlebih dahuku. Namun, jika ditanya oleh orang yang tidak di kenalnya, Venya mungkin akan menjawab seadanya. Dia tidak ingin terlalu mengumbar atau bahkan mengobrol yang nantinya akan menjadi obrolan panjang.
Dia bahkan tidak bisa memulai pertemanan yang sangat dekat karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah dimana Venya tidak suka untuk diajak berbicaraketika sedang kerja atau bahkan di susahkan oleh temannya sendiri. Venya memang bukan orang jahat, namun jika Venya dibuat ribet oleh orang di sekitarnya atau bahkan temannya, anggaplah temannya, dia tidak akan ada rasa ingin berteman lagi.
Bukan Venya merasa bahwa dirinya hebat bisa melakukannya sendiri, namun Venya lebih kepada prinsip dimana bisa dilakukan sendiri kenapa harus membutuhkan ornag lain? Jika temannya itu benar - benar butuh bantuan, makan Venya sendirilah yang akan membantunya. Dalam segi dimana menurut Venya bantuan yang diberikan olej Venya adalah bantuan yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh sendiri.
Venya tidak bisa memberikan contoh karena selama ini, orang - orang yang meminta bantuan pada dirinya adalah orang - orang yang meminjam uang atau bahkan meminjam nama agar bisa main keluar dengan orang lain. Itu bukanlah bantuan yang bahkan tidak bisa Venya berikan. Sesimpel itu, mereka harus meminta bantuan Venya? Jelas tidak menurut Venya.
"Oh, bentar bang. Saya turun sebentar lagi." Kata Venya setelah mengangat telepon dsei abang ojek online yang di pesannya.
Setelah itu, Venya memasukkan laptopnya ke totebag yang sudah ia siapkan. Emmasukkan mose, charger laptop dan ponselnya, kemudian tidak lupa dompetnya. Lalu ia mengunci kamarnya dari luar dan turun menuju si abang ojek yang sudah menunggunya. Venya berharap hari ini dia bisa menulis dengan lancar.
*** ***
Sebelum masuk ke kafe yang memang di tuju oleh Venya, dia mampir ke toko buku terlebih dahulu. Dia mencari buku untuk referensinya. Buku novel yang di tulis oleh orang lain justru bisa menjadi guru untuk dirinya sendiri. Dia senang sekali dengan hal seperti itu. Membaca novel orang lain juga bisa menjadi inspirasi untuknya sendiri. Maka dari itu, Venya juga mengoleksi buku dari tulisan orang lain. Venya menyukai hal - hal seperti itu, dimana dirinya bisa belajar bagaimana cara di perlakukan romantis eh pasangan, dimana cara membuat pasangan senang dan sebagainya.
Venya sendiri belum bisa menuliskan hal atau bahkan pengalaman pribadinya. Dia baru bisa memasukkan beberapa hal yang dialaminya bersama Gemma adalah semuanya tentang makanan. Venya dan Gemma memang hobi makan.
"Sial, jadi inget dia lagi." Kata Venya berusaha menghilangkan Gemma di dalam otaknya.
Dia membuka - buka buku di rak, membaca sinopsis belakangnya kemudian dia membeli beberapa novel yang menurutnya bisa dijadikan sebagai sumber belajarnya. Kemudian, dia juga membeli buku catatan kecil yang memang selalu ia beli ketika ingin menuliskan cerita baru. Dimana dirinya sering sekali membeli buku seperti itu karena banyak bukunya di sosial media atau penerbit dimulai dsri hal ini.
Venya menuliskan plot, outline yang akan dijadikannya patokan, atau bahkan menuliskan hal - hal penting seperti tokoh apa yang akan di ceritakan. Karakternya seperti apa dan bagaimana kelakuannya di dalam cerita yang Venya akan ceritakan. Maka dsri itu, satu buku catatan kecil itu hanya untuk satu buku yang diterbitkan.
Karena jika bercampur, mungkin Venya sendiri akan lupa, tokoh siapa di cerigmta ini dan karakter seperti apa yang diceritakan olehnya di cerita ini dan itu. Venya sengaja dan memang terbiasa dnegan hal itu. Menuliskan beberapa ide dan juga menuliskan bagaimana caranya membuat cerita yang kini sedang ia tatap.
Dia menatap bukunya yang terpajang di papan yang di beri judul, 'best seller'. Dimana dia tersenyum bangga dan tentu saja sangat menghargai apa yang sudah ia perjuangkan kali ini.
"Maaf," kata orang yang tiba - tiba menghampirinya.
Venya lantas menatap orang itu. Dia petugas toko buku ini. Venya melihat papan nama dan juga seragamnya yang serasi denga ornag lain di dalam toko ini.
"Iya?" Kata Venya lebih ke bertanya., "Kenapa mbak?" Tanya Venya kemudian.
Dia hanya kaget. Biasanya dia tidak pernah di tegur di toko buku. Dia bahkan tidak biasa untim hak itu. Dan tentu saja Venya sudah malas karena dia salah sudha membuka obrolan terlebih dahulu.
"Mbak mau beli buku yang ada di pajangan?" Tanya mbak itu yang Venya baca nama di name tagnya adalah Anggun.
Venya menggeleng, "kenapa memangnya, mbak?" Tanya Venhya lagi. Dia memang membuka obrolan karena penasaran juga kenapa mbak anggun ini menanyakan hak itu.
"Best seller no dua udah habis dan tinggal ada di etalase." Kata mbak anggun menunjuk buku miliknya yang memang ada di urutan kedua novel best seller daei sepuluh novel yang ada di sana. "Mbak tadi lama banget liatin buku itu, gak kira mbaknha mau beli." Kata mbak anggun lagi.
Venya tersenyum kecil, "engga kok mbak." Kata Venya, "saya udah punya novelnya, tadi saya liat karena masih ingat gimana isi novelnya." Lanjut Venya.
Mbak anggun mengangguk, "Flora ini tulisannya sebagus namanya." Kata mbak anggun.
Venya terperanjat kaget, apa mbak ini juga baca buku miliknya?
"Saya baca hampir tamat dalam sehari." Kata mbak anggun lagi. "Padahal ada tiga ratus sembilan halaman." Mata mbak anggun bermolog untum kalimat yang satu itu.
Venya terkekeh kecil, "mbak sampai tau halaman totalnya?" Tanya Venya.
Lagi, mbak anggun terangguk, "iya mbak. Ga bisa di lupain." Kata mbak anggun, "apalagi, kenapa sih mbak Flora ini membuatnya sad ending?" Ucap mbak amggun..
"Mungkin, Flora sudah bosan dengan happy ending mbak." Kata Venya ngelantur.
Padahal, ketika Venya menulis novel dengan judul senar dan gitar ini sama sekali tidak memikirkan akan berubah menjaid ending yang seperti itu. Dia hanya iseng dsn tentu saja menjadi sebuah karya. Dia bahkan menulis outline cerita itu tapi selalu tidak sesuai. Ada saja ide yang mendadsk muncul di kepaaanya dan memaksa Venya untuk menuliskannya di dalam ceritanya itu.
"Mbak Flora ini ga kasian apa sama pembacanya?" Tanya mbak anggun lagi.
"Loh kenapa emang pembacanya?" Tanya Venya karena penasran dengan pendapat para pembaca tentang dirinya yang menuliskan cerita yang bahkan bisa di bilang sangatlah masuk akal dan tidak terlalu jauh dari kehidupan jaman sekarang.
"Dia bikin kami menangis." Katanya pelan.
Venya mengerutkan keningnya, "nangis?" Tanya Venya lagi.
Mbak anggun mengangguk, "akhir tragis bagi Bima."