Venya yang sudah masuk ke kafe yang sedikit ramai itu kini memesan makanan di mejanya. Setahu Venya begitu aturannya. Venya juga melihat pengalaman dari orang yang masuk. Seseorang akan mengantarkan menu, meninggalkannya sebentar lalu kembali lagi saat dipanggil untuk mencatat pesanan yang di inginkan pelanggannya.
Venya juga seperti itu. Berhubung Venya akan cukup lama dan memang berencana cukup lama di sini, dia mengambil alih meja dinpaling pojok. Jauh dari orang - orang yanh hanya sekedar mampir, nongkrong, berkencan dan hanya memotret makanannya saja kemudian asik dengan dunia di ponselnya.
Setidaknya, Venya merasa cukup sepi di sini. Dia bahkan bisa menulis beberapa bab dan berencana seperti itu jika tidak ada gangguan apapun. Dia mengeluarkan laptop dan mousenya kemudian mulai membuka laptopnya setelah ia menyebutkan pesanannya. Kali itu, ia memesan vanilla late non kafein dan juga beberapa snack seperti kentang dan juga cheesecake dengan toping dark coklat di atasnya. Sepertinya, itu perpaduan yang lumayan walaupun Venya belum pernah mencobanya.
Asal kalian tahu, ini pertama kalinya Venya duduk di kafe, sendiri dengan laptop di depannya. Biasanya dia hanya membaca dari novel yang di belinya mengingat ia pernah menulis suasana di kafe dan di komentari oleh Aree141yang mengatakan bahwa dia harus lerginkeluar dan merasakan suasana kafe itu sendiri agar feel ceritanya lebih dapet.
Venya membalas komentar itu dengan, 'apa itu kurang nyata untuk bagian dimana si tokoh di kafe?' ketikkannya waktu itu.
.tidak menunggu waktu yang lama, Aree141 itu membalas lagi dengan mengatakan ya. Tidak ada sopan santunnya, itu adalah hal yang lertama kali Venya gumamkan ketika membaca ketikan dengan dua huruf itu.
Jelas, waktu itu Venya hanya membaca suasana kafe di novel - novel romansa yang bahkan cukup klise dan terlalu klise untuk dijadikan bahan bacaan. Tapi, orang - orang menyukainya. Dan itu membuat Venya sedikit belajar untuk emndapatkan feel kafe yang sebenarnya walaupun Venya sendiri tidak pernah nongkrong di kafe.
"Pesanannya, kak." Kata pelayan dengan ramah menyimpan minumannya dan juga cheesecake yang dipesannya tadi, "untuk fried friesnya menyusul kak, biar di sajikan hangat - hangat." Kata pelayang itu kemudian pamit setelah Venya mengangguk dan berterima kasih.
Sekilas, Venya merasa bahwa kafe itu bertambah ramai. Dia melihat jam melingkar di pergelangan tangannya, kemudian bergumam, "pantes, udah mau makan siang." Kata Venya, ia menyeruput vanilla latenya, "tapi, kenapa orang - orang memilih makan siang di kafe? Bukankah lebih enak di restoran?" Venya bermonolog.
Dia menggeleng pelan kemudian memfokuskan lagi matanya di depan laptop. Tangannya kemudian merayap untum mengambil garpu kecil untuk mencicipi cheesecake yang tersedia di sebelah laptopnya. Cukup menarik walauoun Venya sendiri tidak terlalu menyukai keju, tapi cake ini cukup menurutnya. Patut di coba.
Saat Venya mengetikkan beberapa kalimat di lapptopnya, pelayan datang untuk memberikan pesanan yang sebelumnya sempat terkena pending. Kenya berterima kasih pada pelayan itu karena sudah mengantarkan pesanannya. Selanjutnya, Venya menatap pelayan itu dan bertanya,."Kenapa, mbak?"
pelayan itu menggaruk tekukayayang Venya yakin jika di bagian yang di garuknya sama sekali tidak gatal. Dia tampak gelisah menatap Verya.
"Gapapa, mbak." Kata Venya meyakinkan jiha pelayan itu bisa berbicara padanya. "Bilang aja, mbak." Kata Verrya lagi.
Dengan senyuman canggung pelayan itu berkata, "mbaknya sendiri 'kan?" Tanyanya pelan, "boleh ga berbagi tempat duduk sama mas itu?" Tanya mbaknya lagi ketika Venya mengangguk di pertanyaannya yang pertama.
Venya melihat laki - laki yang di tunjuk oleh si mbak pelayan itu, "boleh." Kata Venya pelan.
Dia bisa merasakan jika mau makan siang dan tidak ada tempat duduk. Mungkin Venya akan langsung pergi. Tapi laki - laki itu mungkin tidsk punya tujuan lagi selain ini atau sudah memesan makanan yang akan di makannya.
"Makasih ya mbak." Kata pelayan itu lalu sedikit berlari ke arah si mas yang katanya ga ada tempat duduk dan ingin berbagi dengannya.
Sekilas, Venya menatap orang - orang di sana. Meja di sana emang penuh. Tidak ada kursi dan bangku tersisa selain milik Venya di depannya. Venya sendiri mungkin akan merasa bersalah karena memang dirinya berniat lama di sini. Kafe ini mungkin menjadi kafe piliha untuk makan siang. Lumayan ramai dan tentu saja sedikit berisik. Venya merasa dirinya ads di dunia lain di luar dunianya.
Kafe ini sangat terkenal seperti yang dilihat oleh Venya di google maps yang pada awalnya sebelum ke sini, Venya melakukan review terlebih dahulu. Dia memang sengaja. Sengaja memilih suasana yang ramai. Itu akan masuk ke dalam ceritanya.
"Maaf." Kata orang di depannya berdiri, "cuma kursi ini yang tersisa. Saya udah pesen makan dan mungkin akan agak lama di sini. Jadi, saya terpaksa meminta pelayan itu menanyakan apakah boleh saya duduk di depan mbaknya." Kata orang itu panjang lebar.
Venya mengangguk dan tersenyum seramah mungkin. Walaupun Venya tidak bergaul dengan dunia luar, Venya sangat di didik dan diajarkan tata krama selama di dalam panti asuhan. Untuk urusn ini, venya jadi lebih ahli karena sering belajar dan juga mebgetahui attitude yang baik seperti apa.
Pembahasan dari pria di depannya mulai dari caranya berdiri, Venya merasa ornag itu juga punya tata krama yang bagus. Dimana dia tidak langsung duduk atau menyimpan nampan yang di bawanya ke meja kosong di depan Venya. "Silahkan duduk, mas." Kata Venya mempersilahkan duduk.
Baru orang itu duduk dengan sopan. Tanpa menimbulkan bunyi saat menyimpan makanan di meja dan juga menggeser kursi tanpa berdecit. Benar - benar seperti pria berpendidikan. Kemudian lanjut, dia si sang pria itu juga membawa tas laptop yang tadi di selendangkan di bahu kanannya. Lalu ia mulai memakan makanan ringannya dan setelah itu dia mengambil laptopnya setelah menyisakan beberapa fried friesnhmya dan juga minuman yang bisa di tebak, kopi americano. Kuat sekali. Pikir Venya.
Walaupun Venya anak kamar, tapi kopi amerikano yang sering di sebutkan di beberapa chapter dan bab miliknya di cerita di dunia maya itu. Venya tahu sendiri bahwa amerikano itu pahit. Dan harus di sajikan panas juga menyeruputnya pelan - pelan. Ingin juga ada, tapi biasanya sih lebih banyak ke arah panas, karena bukan saja di sini banyak orang yang selera kopinya adalah kopi panas, amerikano dingin juga kurnag begitu nikmat jika di sajikan dengan laptop di depannya.
Venya pernah merasakannya.
Selanjutnya, Venya mulai larut dalam ceritanya. Mengetikkan beberapa kata menjadi kalimat yang bahkan bisa sampai lebih dari satu bab. Venya sendiri tidak begitu memperhatikab seorang di depannya. Dia hanya fokus pada tulisannya dan mengupdate bab yang sudah di tulisnya untuk di media sosial atau platform yang pertama kali ia dikenalkan dan menerima uang muka.
Dia juga menulisn untuk diteebitkan dan ini mungkin akan jadi tulisannya yang terakhir dengan penerbit yang sudha lama bekerja sama dengan Venya. Eh, dengan Flora.
Entah salah lihat atau tidak, begitu Venya mengupdate ceritanya, pria di depannya tersenyum kecil.
"Mungkin kebetulan." Kata Venya di dalam hati.