Sebenarnya hidup Gemma juga tidak sesempurna itu. Dia hanya ingin mempertahankan apa yang sudah ia mulai. Dimana dia memulai hubungan dengan Venya kurang lebih satu tahun yang lalu. Kemudian memulai untuk tidak menyentuh Venya karena menghargai sedikitnya privasi Venya. Satu lagi yang ia mulai dengan sengaja yaitu masalah perselingkuhannya.
Gemma memulainya karena dia frustasi tidak pernah menyalurkan hasratnya kepada Venya padahal dimatanya, dia sangatlah menggoda untuk di sentuh. Dimana Venya yang selalu menutup tubuhnya dengan pakaian yang tertutup dan juga pakaian yang sangat ramah untuk dirinya. Tidak pernah Gemma melihat Venya memakai pakaian yang terbuka.
Hal itulah yang membuat Gemma frustasi. Dia tidak bisa melihat atau bahkan menyentuhnya dan juga itu yang membuat rasa penasaran yang menumpuk hingga akhirnya dia melampiaskan semuanya pada perempuan yang selalu tidak menolak untuk di sentuh. Tidak menolak untuk di ciuum dan kalian tahu selanjutnya apa.
Sekarang, Gemma terpuruk dalam kesendiriannya. Dia bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya tanpa Venya. Padahal dia sering sekali meninggalkan Venya sendiri. Namun, kali ini rasanya berbeda. Dimana VEnya yang memutuskan untuk mengakhiri semuanya dan dia meminta untuk bertanggung jawab kepada Selly. Selly adalah nama selingkuhan Gemma yang selama ini menggantikan Venya untuk di sentuh.
Jika boleh jujur, Gemma berhubungan dengan Selly di atas ranjaang hotel atau ranjaang apartemen Selly, dia selalu membayangkan wajah Venya. Tidak dipungkiri jika Gemma secinta itu kepada Venya yang mana sekarang membuatnya terpuruk dan sendirian. Venya sendiri yang mengatakan jika dia harus bertanggung jawab kepada Selly, tapi Venya sendiri yang bingung dengan ucapan Gemma yang mengatakan jika Selly tahu bahwa Gemma memiliki Venya dan tidak keberatan dengan hal itu.
Sekarang, Gemma hancur.
Walaupun terkadang Gemma tidak mengakui Venya atau bahkan sering mengabaikan Venya, tapi Gemma sangat perduli kepada Venya yang mana dia selalu berusaha untuk ada ketika Venya kesulitan. Gemma tertawa dalam hati.
"Selalu ada saat Venya butuh?" tanyanya untuk diri sendiri.
Dia tertawa sendiri menertawakan dirinya dan suara hatinya yang itu. Bahkan Venya sedang kesulitan pun Gemma tidak ada di sana. Entah kapan Gemma ada untuk Venya di saat dia membutuhkan Gemma. Gemma hanya mengantar ke sana dan kemari ketika ada penerbit atau mengantarkan naskah ke penerbit. Hanya itu yang dilakukan Gemma untuk Venya. Gemma bahkan hanya menjadi supirnya saja. Tidak lebih dan tidak kurang. Hanya itu yang bisa Gemma lakukan untuk Venya.
Gemma menarik nafasnya jengah. Dia sudah menghabiskan banyak batang rokok yang sengaja memang ia habiskan. Dia bertekad untuk berubah mulai dari hal ini. Merokok, dia akan mulai berhenti dan sedikit - sedikit meninggalkan batangan berasap ini. Bahkan, dia akan menunjukkan kepada Venya jika dia akan berubah menjadi lebih baik lagi.
Tidak merokok, tidak mabuk dan juga tidak akan pernah meninggalkan Venya. Kecuali jika Venya menyuruhnya untuk pergi dan menghilang. Mungkin titik itu dimana Gemma akan menghilang dari kehidupan Venya. Hanya sampai titik itu. Sebelum titik dimana sekarang sedang Gemma tempati sampai ke titik dimana nantinya Venya akan berucap demikian, Gemma akan berusaha keras untuk membuat Venya tidak mengucapkan kata itu sampai nanti. Sampai pada akhirnya, dia tidak akan menemui titik dimana itu adalah titik yang berat untuk Gemma dan juga Venya.
Mungkin, untuk Venya tidak demikian.
***
Venya akan keluar lagi untuk menulis cerita siang itu. Dia sudah bersiap pergi dengan laptop di tasnya namun ponselnya berdering. Dia melihat layar ponselnya dan menarik napasnya pelan. Gemma meneleponnya. Padahal, dia tinggal mengetuk pintu kamar Venya saja daripada meneleponnya seperti ini. Venya menekan tombol hijau dan menggesernya kemudian meletakkan ponselnya di telinga.
"Kenapa, Gem?" tanya Venya ketika Gemma sudah bersuara di sebrang sana.
Sebenarnya, Venya bukan marah atau apa pada Gemma, dia hanya kecewa dan dia tidak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Dia juga tidak ingin meninggalkan Gemma begitu saja. Setidaknya, mereka berdua harus akur dulu sebelum keduanya saling meninggalkan dan tentu saja saling mempunyai kehidupannya masing - masing.
Gemma adalah laki - laki pertama yang dekat dengannya. Pacar pertamanya dan seseorang yang bisa diandalakan pertama selain bunda Kori. Gemma juga bisa menjadi seorang kakak, penasihat, supir, teman sekaligus pacar yang baik untuk Venya Maka dari itu, Venya sedikit sulit untuk langsung meninggalkan Gemma dengan segala kenangannya yang hampir setahun ini. Gemma juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Venya karena Gemma merupakan manager untuk dunia kepenulisan Venya. Dia harus bertanggung jawab juga akan hal itu. Gemma juga sudah menandatangani kontrak yang memang dikhususkan untuk manager.
Venya sendiri tidak punya siapa - siapa lagi untuk menggantikan Gemma sebagai manager. DImana ada bunda Koripun, dia tidak akan mengerti dengan kontrak dan juga dunia kepenulisan itu. Lalu, jikalau adapun, Venya akan malu karena mengganti manager seenaknya dan juga tidak menutup kemungkinan jika manager itu tidak bisa diganti selama masa kontrak kerja. Setidaknya untuk Venya sendiri. Dia akan merasa malu dan juga tidak enak jika managernya sendiri akan di ganti. Lagi pula, siapa lagi yang bisa membantunya selain Gemma.
'Gue mau beli makan siang. Lo mau makan apa?' Tanya Gemma di telepon.
Venya menarik napasnya sebelum menjawab, "ga usah, Gem. Gue mau keluar. Sekalian makan di luar aja gue." Kata Venya langsung. Untuk apa juga dia basa - basi kepada Gemma yang memang sedari dulu dia seperti ini pada Gemma. Dia juga tidak ingin ada yang berubah diantara Venya dan Gemma. Hanya statusnya saja yang berubah. Dari pacar ke teman. Setidaknya, Venya hanya ingin berteman dulu dengan Gemma. Dia tidak bisa memtuskan apa yang akan terjadi ke depannya di antara Gemma dan juga Venya.
'Lo-' Perkataan Gemma sedikit tersendat, 'lo, mau pergi? Kemana?' Tanya Gemma meneruskan apa yang tadi sempat tersendat di kerongkongan Gemma.
Venya menelan ludahnya, sebenarnya, Venya bisa saja menyebutkan kemana Venya akan pergi. Namun, Venya tidak akan merasa nyaman jika Gemma mengetahui Venya kemana dan mungkin saja- mungkin saja ya- Venya terlalu percaya diri sebenarnya memikirkan hal ini. Mungkin saja Gemma akan menyusulnya atau bahkan melihat Venya dari kejauhan. Itu membuat Venya tidak akan merasa nyaman selama menulis.
"Belum tau, gue mampir ke toko buku dulu. Dari sana baru mikirin mau kemana." kata Venya kemudian.
Selanjutnya, di antara keduanya tidak ada obrolan lagi. Keduana sibuk dengan pemikirannya masing - masing sehingga hanya diam saja yang mereka lakukan sekarnag.
"Gem." Panggul Venya, "sori, tapi gue harus tutup teleponnya, abang ojek online gue udah di depan kayaknya, ini udah ada nelepon." Kata Venya lagi.
Gemma seperti tersentak kemudian dia berdeham singkat, "iya, Ven. Hati - hati."