Venya tidak berbohong kepada Gemma. Dia memang belum menentukan akan kemana dan akan dimana dia menulis beberapa bab untuk tulisannya di platform atau mengakhiri buku yang akan di terbitkan oleh penerbit yang akan habis kontrak bulan depan. Venya juga mampir ke toko buku sebelum menentukan kemana dia akan pergi sebagaimana yang dijelaskan olehnya kepada Gemma dan berdiam diri. Dia bahkan masih memikirkan akan kemana dia dan akan duduk dimana dia hari itu.
Mungkin, seiring berjalannya waktu dan juga melihat kondisi juga situasi yang ada, Venya akan bisa menentukan kemana dia akan pergi dan duduk untuk menulis ceritanya setelah menentukan semuanya di toko buku. Melanjutkan cerita yang menggantung dari semalam. Bahkan notifikasi kementar sering sekali muncul di ponselnya. Dimana dia benar - benar di tagih secara aktif oleh oara pembaca - pembacanya di dunia penulisan berkoin itu. Ada satu orang yang bahkan sangat royal kepada Venya. Dia mengatakan dan berkomentar akan memberikan banyak koin jika Venya meng - update banyak bab hari itu juga.
Sayangnya, menulis cerita tidak semudah membaca cerita. Dimana menulis memerlukan waktu, dan ide yang jernih. Venya tidak ingin menulis secara asal - asalan untuk di update atau di kirim kepenerbit dan juga untuk di baca para penggemarnya. Maka dari itu, meskipun venya sanggup untuk mendapatkan koin yang banyak, Venya hanya tidak sanggup menulis banyak. Waktunya juga bukan hanya untuk menulis. Untuk saat ini. Mungkin ke depannya, Venya akan menulis untuk hidup dan hidup untik menulis.
Terkadang, Venya sering menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya. Melihat ada apa yang ter - upadate ada apa yang viral dan apa yang sedang semua orang sukai di dunia maya.
Bahkan Venya sendiri sering tidak tahu berita ter - update atau bahkan yang viral - viral waktu dulu sebelum dia menggilai apa yang ada di dalam aplikasi insta*gram yang bahkan sekarang mungkin banyak handphone yang satu aplikasi itu wajib ada di dalamnya. Siapapun orangnya, mungkin akan update di sana. Melakukan moment manis, sedih dan juga kecewa. Membagikannya kepada penduduk di sana.
Bukan hanya Venya yang kurang update, tapi Venya waktu itu hanya fokus menulis dan mengejar target. Dia dituntut untuk banyak menulis karena dia harus menghasilkan banyak uang untuk menolong panti asuhan. Namun, sekarang dia sedikit terlonggarkan. Dia sedikit bebas dengan beban itu. Dia hanya perlu menghidupi dirinya sendiri. Untuk sekarang.
Tapi terkadang Venya berfikir kenapa dia menjadikan hobi ini sumber uang padahal Venya bisa melakukan hal lain. Dimana Venya bisa menjadi guru untuk adik - adiknya di panti asuhan. Namun, hal itu di tolak secara keras oleh bunda Kori. Dimana Vemya yang memang tidak wajib untuk mengajari anak - anak panti. Venya juga kadang merasa bahwa dirinya mampu untuk kuliah. Namun, sayangnya, Venya hanya malas lagi dengan yang namanya belajar.
Venya sudah cukup muaak dengan apa yang di dapatkan di sekolah menengah atas. Dimana dirinya harus bersosialisasi dengan orang lain. Venya bahkan tidak bisa membayangkan lagi ketika dirinya harus mencari teman untuk kerja kelompok atau bahkan untuk mengerjakan tugas seadanya. Venya tidak suka mencari lagi.
Seperti apa yang di katakannya lalu - lalu. Dimana dirinya malas mencari pacar lagi. Dia malas memulainya dari awala. Tapi, dia tidak menyesal mengakhiri semuanya dengan Gemma. Mungkin setelah Gemma, Venya tidak akan pernah memulai lagi berhubungan dengan bertemakan masa muda yang indah dengan pacaran. Bahkan Venya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya, Venya menjadi seorang perawan tua. Maka dari itu, Venya berusaha ikhlas jika nantinya harus Gemma lagi yang ada di sisinya. Walaupun sebagian orang mungkin menentang cowok yang sudah pernah berselingkuh. Apalagi sampai ke adegaan ranjaang. Venya ngeri sendiri menatap orang - orang yang mungkin akan memandang dirinya rendah nantinya. Bahkan sebelum menatap yang asli saja sudah ngeri, apalagi dengan tatapan orang - orang yang asli nanti kepadanya.
Bahkan Venya sudah tahu apa yang akan mereka katakan ketika mengetahui jika Venya bersanding dengan cwok yang sudah penrah berselingkuh.
"Kok mau sih?"
"Kok ga cari yang lain sih?"
"Ga ada cowok lagi ya di dunia ini?"
Hal - hal seperti itu yang Venya bayangkan. Malas sekali mendengarnya. Dengan membayangkannya saja, Venya malas. Apalagi menghadapinya. Netizen atau tetanggazen emang berbeda. Mereka pasti mencemooh Venya di belakang mereka. Membuat Venya seakan yang paking salah di dunia ini. Padahal, tidaka da yang sempurna. Tidak ada yang suci. Dan juga tidak ada yang selamanya benar.
Semua orang pasti melajukan kesalahan.
Semuanya teegantung pada oeang yang berbuat salah atau orang yang memaafkan orang yang salah itu. Semuanya tergantung apda masing - masing diri kita. Masing - masing personaliti di dalam hati kita. Setidaknya, berusaha dulu sebaik mungkin. Dan juga yang paling utama adalah bersikap baik kepada orang lain dulu. Selebihnya, terserah mereka mau menganggap kita apa dan seperti apa.
*** *** ***
Pada akhirnya, Venya melabuhkan diamnya di bawa pohon dikursi panjang di depan danau buatan di sana. Di dekat kafe yang kemarin di datangi Venya. Dia juga membawa kantung paper bag yang isinya adalah minuman dan juga camilan untuk menemaninya menuliskan beberapa bab dan mengakhiri ceritanya.
Dia membuka laptopnya dan juga bergantian dengan minuman kaleng yang ia beli tadi. Dia bahkan membeli beberapa karena dia benar - benar berencana untuk duduk di sini sedikit lebih lama. Soda yang ia sukai sejak ia bertemu dengan Gemma. Dibelikan pertama kali oleh Gemma dan ternyata ia menyukainya. Bahkan sampai sekarnag. Setiap kali ke mini market, Venya selalu melabuhkan minuman favorite nya ke soda yang ini.
Enak?
Menurut Venya hanya spesial. Dia bahkan tidak pernah mencoba soda karena dia tidak diperbolehkan meminumnya oleh bunda Kori. Terkadang setelah meminum soda, Venya terus - terusa ingin soda. Bisa sampai dua atau tiga gelas dalam waktu singkat. Maka dari iti, bunda Kori melarang itu dengan kerasnya.
Lalu, Venya dikenalkan dengan soda ini oleh Gemma. Dan langsung menyukainya. Setidaknya, Venya tidak memiliki rasa apa - apa setelah memikirkan Gemma. Yang ada hatinya cukup sakit seperti tercubit kecil sehingga bisa membuat Venya sedikit meringis pelan.
Tarikan nafas Venya yang sudah memulai mengetikkan beberapa bab kini mulai tenang. Dia bernapas seperti biasa dan mulai tenggelam ke dalam veritanha. Venya akan lama di sini. Itu adalah kata - katabyangbiangumamnkan di hatinya.
"Kecuali kalau hujan. ya kali mau diem di sini terus." Kata Venya untuk dirinya sendiri.
Lalu dia melanjutkan mengetikkan beberaap kata menjadi kaimat dan menjadi bab seutuhnya. Isinya cukup panjang. Bahkan mungkin bisa sampai tiga ribu kata di dalam satu bab itu. Inspirasi Venya memang bagus. Sedang bagus. Moodnya juga oke. Dia bahkan ungin bisa mengetikkan beberapa bab sekaligus jika tidak ada kejadian yang bahkan membuat Venya kaget sekaligus bingung.
Ada seorang ibu - ibu yang berteriak histeris karena anaknya yang sedang bermain jatuh ke sungai. Si anak bukannya mendekat ke arah sang ibu malah menjauhinya seakan sedang diajak bermain oleh sang ibu. Kemudian Venya menatap sang ibu juga sedikit ketakutan melihat air di abwah kakinya.
"Phobia air kah si ibu?" Tanya Venya dalam hati. Dia bahkan mematung. Diam sambil duduk dan melihat kejaidan itu sambil berdiam diei. Lalu setelah sang anak menangis di dsnau yang sekarang mungkin cukup dalam untuk sang anak, Venya kini tersadar. Venya kini berdiri. Membuka sepatunya setelah menyingkirkan laptop dari pahanya.
Tapi, belum lagi Venya membuka kedua sepatunya, ada seseorang yang mendadak mencebutkan dirinya ke ai danau itu. Lalu, Venya menatap orang itu yang berhasil menarik sang anak dengan cekatan. Lalu membawanya ke pinggir danau. Sialnya, Venya harusbsusah lagi memakai sepatunya.
Setelah sepatu itu terpasang, Venya mendekati orang - orang yang mengerubuni si anak dan si pahlawan di sianh bolong itu denhgan tas, laptop dan camilannya. Dia mungkin mengkhawatirkan akan ada yang mengambil baramg - baranhnya. Dia harus mengingatnya karena ini di luar ruangan, tidak semuanya yang terlihat baik adalah oeang baik. Maka dsei iti, Venya membawa smeua barangnya.
"Hubungi rumah sakit." Kata orang yang basah kuyup masih dengan menekan - nekan d**a sang anak. Apa istilahnya? CPR? Dalam kedokteran CPR atau Cardiopulmonary Resuscitation merupakan prosedur pertolongan pertama yang sangat penting, untuk menyelamatkan pasien henti jantung. Prosedurnya terdiri dari kompresi d**a, membuka jalur napas, dan memberi napas buatan.
Singkatnya, CPR adalah tindakan pertolongan pertama Bantuan Hidup Dasar pada orang yang mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali dengan melakukan beberapa teknik pemijatan atau penekanan pada d**a.
Ada yang lebih siaal lagi dari pemassangan sepatu yang begitu malas dilakukan oleh Venya adalah oeang basah kuyup itu. Setelah diperhatikan adalah orang yang sopan padanya saat di kafe tempo hari.
Venya bingung. Dia harus siaal, atau beruntung bertemu lagi dengan dia?