Ari sudah sampai di lokasi yang Venya kirim. Dia bahkan menunggu Venya sebentar sebelum melihat Venya keluar dengan ransel dan juga tas laptop kecil di tangannya. Bahkan bajunya juga snagat sederhana. Venya di mata Ari selalu sesederhana itu. Memakai kaos dan juga celana panjang dari bahan jeans dengan waarna senada dnegan kaos yang ia pakai.
"Sori, nunggu lama ya?" Kata Venya setelah dia sampai di samping mobil Ari yang dengan sengaja Ari buka jendela di samping kursinpenumpangnya. Venya sedikit mbungkuk ketika berbicara, "gue di sini apa di belakang?" tanya Venya kepada Ari yang sudah tersenyum ekcil.
"Simpen tas lo di belakang. Duduk sini di samping gue." Kata Ari kemudian.
Venya mengangguk kemudian menuruti apa yang diperintahkan Ari. Setidaknya, Venya harus bersikap sopan dulu. Apalagi, ini pertama kalinya dia pergi bersama laki - laki yang baru ia temui. Bahkan jika kalian menganggap Venya 'murahhan' itu bisa di sebutkan benar oleh Venya.
Namun, Venya bersikap 'murahhan' seperti ini saat ia tidak memiliki siapa - siapa di samping bisa dibaca tidak memiliki pacar. Dan, jika yang dimaksud oleh kalian 'murahhan' itu seperri ini. Pergi bersama laki - laki yang baru saja ia kenal dan berbicara ke sana ke mari dan tertawa bersama saat mengobrolkan hal lucu, mungkin banyak permepuan di luar sana yang bisa kalian sebut seperti itu.
Namun, di mata dan pikiran Venya, wanita 'murahhan' itu adalah yang mengumbar badannya yang tidak sebagaus itu juga, menggenggam tangan orang yang punya pacar dan juga yang mencolek sana sini laki - lakis ecara acak. Setidkanya, Venya tidak seperti itu. Dia melakukan hal normal diantara laki - laki dan perempuan sebagai seorang teman.
Yang ditakutkan Venya adalah ketakutan yang tidak beralasan. Dimana ketakutan yang dipikirkan Venya adalah Kecanggungan di antara Venya dan Ari adalah ketakutan Venya saja. Buktinya Venya dan Ari melakukan hal yang cukup gila. Bernyanyi bersama dengan suara tak karuan. Menari - nari di kursinya dan juga berteriak - teriak seakan dunia milik mereka berdua.
"Udah ah cape gue." Kata Venya, "gue sebenernya ga segila ini juga sih. Kebawa sama elo aja." Kata Venya lagi sambil membuka botol minumnya.
Tumben sekali botolnya susah di buka. Dia bahkan sudah mengusao - ngusap tangannya agar kering. Di usahakan juga untuk mengeringkan bagian tutuo botolnya. Jalanan macet membuat Venya dan Ari memutuskan untuk berhenti di mibi market tadi. Membeli beberapa makanan dan juga mibuman. Salah satunya adalah minuman yang kini botolnya diambil alih oleh Ari.
"Semua cewek sama aja ya? Nyalahin cowoknya terus." Kata Ari sembari mengembalikan botol yang ia tadi rampas dari Venya dengan keadaan yang mana botol minumnya sudah terbuka.
Venya merasa Ari adalah laki - laki dengan kepekaan yang cukup tinggi, dimana dia secara tidak langsung memberikan respon yang kian peka dan aktif untuk urusan perempuan. Venya yang jarang sekali diperlakukan seperti itu kini merasa dirinya spesial. Tapi secara tidak langsung juga Venya menolak untuk hal yang baru saja ia pikirkan. Venya sama saja. Dia tidak akan terpaku pada Ari yang mungkin saja baik kepada setiap permepuan yang di temuinya. Bukan hanya pada Venya.
Selanjutnya, Venya mencibir Ari, "ya kenapa juga? Tapi emang beneran. Gue ga segilla ini aslinya." Kata Venya lagi.
Bener.
Venya memang tidak seaktif dan tidak seperti itu pda awalnya. Dia hanya cenderung diam dan merespon ketika ada seseorang yang menggapinya. Ketika ada beberapa hal yang membuatnya menarik. Venya juga merasa bahwa dia sekarang semakin keluar drai zona nyamannya. Apakah itu karena Ari? Mungkin saja iya dan mungkin saja tidak.
Jika dalam kemungkinan iya karena Ari, bukankah itu bagus untuk dirinya berteman terus dengan Ari yang menuju hal positif walaupun baru - baru ini mereka bertemu dan mengobrol bersama.
Selanjutnya, Venya memikirkan kemungkinan untuk tidak dengan kehiduapannya sekarnag bersama Ari adalah ada satu hal yang membuat Venya keluar dari zona nyamannya. Entah kapan dan apa tapi Venya belum memastikannya.
Segitu dulu saja untuk dirinya. Zona nyamannya mulai berubah dan tentu saja akan menjadi biasa seperti itu.
"Itu artinya lo menikmati hidup lo yang sekarang." Kata Ari, "atau engga, lo itu menemukan partner yang tepat." Kata Arilagi lagi.
Venya mengeryit, "maksud lo, lo gitu orang yang tepat buat gue?" tanya Venya.
Jalanan yang sedang macet membuat Venya dan Ari enak untuk memgobrol. Ah bukan mengobrol. Lebih tepatnya, berdebat. Mereka bahkan mendebatkan banyak hal yang bahkan tidak penting sekalipun. Selanjutnya, yang Venya lakukan adalah terkekeh atas ekspresi yang dilakukan oleh Ari. Ari membuat ekspresi kaget dengan cara yang menurut Venya aneh.
"Aneh lo." Kata Venya kemudian dia meminum minumannya.
"Ya abis lo gitu amat sama gue." Kata Ari kepada Venya, "lo perlu sekali saja deket sama cowok selain temen lo." Kata Ari lagi kepada Venya.
Venha lagi - lagi mengeryit, "kenapa emang?" Tanyanya kemudian.
"Ya abis lo ga kayak cewek - cewek pada umumnya." Sahut Ari sambil menjalankan sedikit mobilnya ke depan. Karena macetnya sedikut terurai.
"Emang kalo cewek lain smaa lo tuh kayak gimana sih?" Tanya Venya sambil membuka camilan yang sempat ia beli dan bawa di bawah kursi tempat duduknya.
Ari terkekeh kemudian membuka mulutnya sambil berkata, "suapin dong." Katanya kepada Venya.
Venya terkekeh kemudian menyuapi Ari sebagaimana mestinya, "tuh kan, lo ga kayak cewek lain anjjir." Kata Ari lagi setelah mengunyah makanan yang tadi di suapkan ke mulutnya oleh Venya.
"Ya apaan sih?" Tanya Venga lagi.
Ari menelan makanannya kemudian memghadpa lagi ke arah Venya karena macet sudah menghadang lagi pergerakan mobil Ari dan Venya di jalanan itu, "cewek lain itu di bawa gila sama gue malah mereka mesem - mesem sendiri g mau ikutan gila." Kata Ari menjawab pertanyaan Venya, "terus, kalo cewek normal, gue minta suapin dia juga bakal malu - malu ala cewek gitulah." Kata Ari lagi.
Jawaban dari Ari membuat Venya tertawa. "Ya kali, masa cewek lain gitu?" Tanya Venya kemudian.
"Lah elu, beda sama cewek - cewek yang baisanya." Kata Ari.
"Biasanha apa? Biasa lo deketin gitu?" Tanya Venya.
Skakmat.
Ari terkekeh, "gue kan nyari cewek juga. Mas ague nyari cowok." Kata Ari ngeles.
Venya tertawa lagi, "ya ga papa, gue cuman sekedar tau aja kalo lo memperlakukan cewek lain jiga sama kayak lo memperlakukan gue saat ini." Kata Venya.
Dia akhirnya lega ketika mendapat jawaban dimana Ari yang memang memperlakukan cewek semua seperti ia memperlakukan Venya sekarang. Venya jadi gagal baper dan ga akan bawa perasaan tentang ini.
"Lah siapa bilang?"