"emangnya engga?" Tanya Venya.
Perdebatan mereka juga masih berlangsung sampai sekarang. Mereka seharusnya bisa berhenti, tapi hal itu justru membuat Venya penasaran akan hal yang ditanyakan Ari. Siapa bilang, katanya? Ya Venya barusan bilang.
Gelengan dari kepala Ari membuat Venya heran, "enggalah." Katanya, "gue bersikap baik dan juga bisa mengeluarkan semua yang gue mau cuman pada cewek - cewek tertentu saja." Sahutnya lagi.
Venya terkekeh, "iya. Berarti banyak cewek yang udah lo baik - baikkin kayak lo ke gue sekarang." Kata Venya menegaskan lagi. Dia tidak ingin bawa lerasaan sendiri. Pasti ada cewek lain yang bisa aja ke bawa bawa perasannya sampai ke langit dan lebih baoer daripada Venya sekarang.
"Gue belum selesai ngomong, elah." Kata Ari, "bahkan baru ada satu cewek yang bisa ngebuat gue ngebuka hati gue lagi pas gue patah hati. Eh dua deh." Kata Ari, "tapi yang satu virtual. Belum ketemu atau tau orang aslinya." Kata Ari lagi.
"Bahasa lo patah hati, kayak yang punya hati aja dah lo." Kata Venya kembali menyuapi Arindengan makanan yang tengahnia makan juga. Selanjutnya, Venya menambahkan perkataannya, "emang cewek virtual itub o nemu di mana? Sosial media? Jangan percaya deh. Lo bahkan ga taubitu cewek beneran atau sebenernya cowok." Kata Venya lagi.
Sekarang Ari mengangguk, "gue punya hati - lah. Ya kali, ga punya. Kalo ga punyabgue ga bisa tertarik sama lo." Katanya sambil terkekeh karena Venya menyuapi Ari dengan kasar di akhir kalimat milik Ari barusan. "Iya emang sih. Gue aja ga tau kalo dia cewek atau cowok." Kata Ari lagi menambahkan kalimatnya.
"Nah kan. Ya kali lo suka sama wujud orang doang di sosmed. Masih mending orang, lo tau cerita ada hantu main media sosial ga?" Tanya Venya dengan nada cukul serius.
Karena jalanan macet, mereka benar - benar bisa bercerita kemaba saja. Dan hal yang barusan Venya katakan adalah hal yang mulai menarik perhatian Ari lagi. Tidak, dia sudah tertarik pada omongan dan cerota Venya setiao kali dia berbicara. Ari menjadi snagat tertarik dan pikirannya menjadi cukup terbuka hanya dalam beberapa jam Ari berduaan dengan Venya. Berduaan dalam hal yang positif memang beda ya.
Selanjutnya Venya terkekeh melihat Ari yang sudah siap mendengarkan cerita dari Venya tentang hantu yang main sosial media, "lo mau denger?" Tanya Venya lagi yanh semakin membuat Ari penasaran.
"Emang ada?" Tanya Ari lagi yang snagat penasaran dengan ceeita yang akan di sampaikan oleh Venya.
Venya mengangguk, "iya ada. Gue pernah liat di inst*gram." Kata Venya lagi, "jadi ceritanya gueblagi scroll aja tuh di ig. Terus ada iklan kan, nah ga sengaja gue klik iklannya. Abis itu masuk ke web site yang di dalamnya cerita horror semua." Kata Venya menatap Ari yang benar - benwr dibiat tertarik oleh Venya, "terus gue baca - baca tuh, ada videonya juga. Masa ya, di video itu ada kurir bawa paket dengan alamat pemakaman?" Tanya Venya.
"Masa?" Tanya Ari kepada Venya, "mungkin salah isi alamat kali." Kata Arin bersikapp positif.
Venya mengangguk, "gue juga mikir gitu. Tapi kelanjutan videonya yang bikin gue heran masa." Kata Venya, "pas si kurir sampe di pemakaman yang ada di alamat paket itu sore - sore, ada si penjaga makannya kan tuh lagi bersih - bersih." Kata Venya lalu kembali menatap Ari setelah Ari menarik tuas rem tangan karena sudah maju sedikit dan macet lagi, "masa kata si penjaga makamnya bilang, 'buat ayu ya kak?' tanyanya gitu, 'saya anterin ke sana ya,' kata si penjaga makam ke sinl kurir." Kata Venya berhenti di tengajh cerita.
"Terus - terus gimana?" Tanya Ari yang semakin dibuat oenasaran oleh Venya yang menggantung ceritanya.
"Terus, si pa penjaga makamnya nganterin si kurir ke satu makam dengan nama di nisannya itu adalah ayu." Kata Venya lagi.
Ari diam, "beneran ada makamnya?" Tanya Ari.
Venya mengangguk, "iya ada. Nama lengkap yang ada di paket sama batu nisannya sama." Kata Venya, "dan lo tau apa faktanya?" Kata Venya kepada Ari yang langsung di jawab Ari dengan gelengan kepalanya, "si pak penjaga makam bilang, 'ayu ini udah biasa beli paket. Banyak paket yang ada terus di taro aja di sini. Besoknya udah ilang.' kata si bapak penjaga makan." Kata Venya selesai bercerita.
"Terus itu paket d kasih? di simpen aja? Udah di bayar belum?" Tanya Ari kemudian.
Venya terkekeh, "apa peduli lo sama paket itu, sih, Ri?" Tanya Venya.
"Ya engga. Kalo emang sering beli paket, si paket di simpen aja di situ terus ilang. Berarti ada yang ngambil dong. Otomatis udah di bayar juga kan?" Tanya Ari lagi.
"Lo beneran percaya? Itu karangan gue aja kali, Ri." Ucap Venya kemudian di bertepuk tangan melihat Ari menepuk jidatnya.
"Harusnya gue ga percaya sama penulis." Kata Ari. "Mereka pandai ngarang cerota." Kata Ari lagi seperri nada mengumpat.
Venya tertawa, "tapi sampai di si abang kurir bawa paket ke makam itu beneran ada. Gue ada videonya, lo mau liat?" Tanya Venya.
Ari menggeleng, "gue ga bakal percaya lagi sama lo." Kata Ari dengan nada pura - pura ngambek dan itu membuat Venya tertawa.
"Gue liatin ebneran deh nih. Bentar." Kata Venya membuka pobselnya kemudian dia menunjukkan video dimana abang kurir paket itu sedang memanggil nama ayu di pemakaman. "Nih ada kan. Makannya jangan ga lercaya ga percaya amat sama penukis. Kadang - kadang cerita yang di buatnya bener adanya. Tapi ga semua kenyataan di tukis. Kadang di kurangi vuat menjaga privasi dan kadang di lebihi untuk membuat ceeita lebih menarik." Kata Venya kemudian.
Ari sekarang mengangguk, "iya iya gue tau itu." Jata Ari, "itu adalah dasar kepenulisan seorang penulis di novel." Kata Ari lagi, "gue sering baca dan gue sering juga liat penulis memakai alasan kayak gitu buat sumber inspirasi." Kata Ari lagi.
Venya mengangguk, "jadi, emang kenyataannya begitu, Ri. Buktinyabm tadi lo percaya dan tertarik sama cerita gue kan?" Tanya Venya yang diangguki oleh Ari pelan, "jadi, ada kejadian nyata yang tersembunyi dari kalimat - kalimat yang biasanya dipakai eh oenukis dalam menuangkan cerita." Kata Venya lagi.
"Apa lo nulis cerita lobjuga di cerita novel lo?" Tanya Ari.
Venya diam berpikir sebentar, "ada, sebagian. Dan ada cerita orang lain juga. Tapi ga semuanya benar. Dan lo tau itu kan?" Tanya Venya membuat ari lagi - lagi mengangguk.
"Jadi, lo mau denger cerita ojek online yang dapet orderan makanan ke pemakaman ga?" Tanya Venya.
Ari yang mendengar itu langsung menggeleng cepat.
"Engga lagi, Ven."