"Gue kenal pengurus salah satu platformnya. Jadi, mau gue kenalin ga?" Tanya Ari lagi.
Venya juga memang menggunakan salah satu oengurus untuk masuk ke platform yang sekarang sedang ia jalankan. Dia juga sering sekali meminta pendapat orang ini. Untung saja orang ini bisa merahasiakan siapa Venya. Mungkin, jika ada yang tau siapa Flora, Venya akan langsung peegibkenoenerbit atau bahkan ke orang yang dipercayai oleh Venya ini.
Tapi, orang ini baik. Cukup baik sehingga Venya tidak perlu khawatirbtentang haknya. Dia juga akan langsung membawa kasus pembongkaran rahasia diantara dirinya dan orang yang dipercayainya ini jika ebnar - benar orang ini yang emmbongkar rahasianya. Sebenarnya, Venya memang tidak seterkenal itu. Ada banyak orang yang lebih terkenal dari dirinya. Hanya saja, Venya selalu merasa takut. Dia takut orang - orang yang mengetahui aslinya Venya seperti apa menjadi menjauhi Flora. Dia juga takut akan hal dimana dia tidak dikenal lagi oleh orang - orang. Maka dari itu, Venya ingin tetap tenang.
Venya merasa bahwa dirinya harus memiliki privasi di dunia nyata. Tidak hanya di dunia kepenulisan, Venya juga ingin tentram di djnia nyatanya. Walaupun terkadang sulit. Otaknya harus terus berfikir. Bagaimana mungkin dia bisa tenang? Namun setidaknya, Venya ingin merasa tenang dari kritikan dan juga orang - orang yang lebih banyak mencibirnya daripada memuji apa yang sudah dilakukan oleh Venya.
Venya tadi menanyakan bagaimana cara join ke platform yang Ari maksud dan itulah jawaban Ari. Dimana dia mengenal salah satu pengurus yang kerap sekali dipanggil editor oleh para penulis. Walaupun para penulis dengan Vemya pun sekalian, tidak penrah minta di editkan naskahnya, tetap saja sinopsis dan juga alur dari awal sampai alhir, pengurus itulah yang mengedit dan menguruskan sampai mereka para penulis bisa meneken kontrak dengan platform itu.
Venya tersenyum dalam hati, terima kasih wahai editor yang sudah membantu meloloskan cerita Flora yang amburadul dan juga alur entah kemana - mana dan sangat klise kisahnya. Dengan penggemar yang cukup banyak, tentu saja Flora mengamankan peringkatnya di tangan editor. Dimana editor memegang beberapa nama yang ceritanya snagat populer dan terkadang menawarkan jalur ekspres. Dimana para penulis sekelas Flora tidak perlu menukiskan sinopsis dan menunggu samalai di acc kantor pusat.
Penulis semacam Flora tinggal mebuliskan alur cerita dan sinopsis akan di uruskan oleh editor. Diaman editor sangat bertanggungjawab akan sinopsis dan nama - nama tokoh dan format lainnya. Setidaknysa, Venya yakni Flora di dalam dunia kepenulisan sudah memiliki kartu emas yang bahkan bisa kapan saja ia gunakan. Venya tidak perlu pusing membuat sinopsis yang menarik perhatian editor kantor pusat, dia hanya perlu memberitahukan ide apa yang ada di otaknya. Outline yang dibuatnya dan tentu saja nama tokoh yang akan memerankan banyak hal di dialam novelnya kepada editor dalam negeri. Kebetulan kantor pusat ada di dluar Indonesia. Sehingga menjadikan sinopsis dan lain - lainnya harus di translate. Dan itunyang dilakukan editor dalam negeri untuk mempermudah editor luar negeribatau editor pusat memutuskan, menerima atau menolak sinopsis daei cerita yang akan di terbitkan di platformnya.
"Jadi, gimana, Ven? Lo mau coba gabung ga?" Tanya Ari lagi.
Venya diam menatap Ari, "kalo lo tau pengurusnya dan lo bilang bisa ngehasilin uang dari sana, kenapa lo ga coba masuk ke duniab
kepenulisan, Ri?" Tanya Venya.
Ari terkekeh, "gue sih lebih memilih menikmati daripada pusing mikirin alur dan kalimat - kalimat ribet yang bikin kepala pusing." Kata Ari, "gue lebih memilih jadi editornya." Kata Ari lagi.
"Editornya gimana?" Tanya Venya lagi.
"Ya jadi editornya, gue biasanya di mintain tolong buat revisi dan ngedit sinopsis yang mereka kasih ke gue. Dan tentu saja di translate - in sana gue karena kantor pusatnya ada di luar negeri. Jadi, selain gue kurasi itu sinopsis, biasanya gue juga buka jasa translate. Lumayan buat tabungan duitnya." Kata Ari panjang lebar.
Venya cukup terkejut dengan fakta dimana Ari yang seperti ini di dunia nyata ternyata bisa lebih baik darinya. Jika sudah bisa merevisis suatu cerita bukankah pemahaman bahasa dan PUEBI - nya sudah snagat bagus? Itu adalah pikiran Venya. Ternyata Ari juga sangat pandai merevisi cerita dan fakta itu benar - benar mengejutkan.
"Gue kira lo ga bakal butuh uang lagi." Kata Venya pelan.
"Ya emang ya butuh sih, tapi gue anggap ini bayaran buat gue belajar." Kata Ari lagi. "Lagian gue kan disuruh masuk ke jurusan Sastra , ya lumayan buat pemanasan sebelum kuliah nanti." Lanjutnya.
Venya mengangguk paham, "jadi, lo belajar dengan bayaran." Kata Venya menjelaskan inti dari cerita Ari.
Ari tersenyum ke arah Venya, "something like that." Kata Ari lagi.
Venya mungkin akan mempertimbangkan tawaran yang Ari buat nanti. Pasalnya, kartu tanda pengenal miliknya mungkin sudah masuk ke dalam daftar penulis di platform yang Ari sebutkan. Ari tadi menyebutkan platform yang sedang dipegang Venya. Dimana Venya sudah menjadi penulis yang cukup terkenal di sana. Maka dari itu, Venya tidak akan sembarangan menggunakan kartu identitasnya lagi. Dia harus dengan bijak. Dia takut di kenai hukuman jika platform tersebut mengetahui bahwa Venya menulis di dua akun sekaligus. Dimana Venya tidak mungkin mengakui jika dirinya Flora kepada Ari dan tidak mungkin juga Venya menggunakan kartu identitasnya untuk mendaftar lewat Ari.
"Jadi, lo mau join?" Tanya Ari lagi kepada Venya.
"Gue pikirin lagi deh." Kata Venya. "Syaratnya susah ga?" Tanya Venya lagi.
Ari menggeleng, "setau gue cuman kartubidentitas sama sinopsis yang lo buat. Di dalem sinopsis katanya ada nama dan lain - lain." Kata Ari lagi, "tapi yang biasa gue terima adalah sinopis doang tanpa ada nama pena dan lain - lain. Jadi, nama pena dan lain - lain itu gue ga tau. Bentukannya cuman selembar dengan sinopsis cerita dari awal sampe akhir. Dan yang gue bikinin sinopsis yang singkatnya. Yang ituloh, biasanya di tulis di belakang buku cetak." Kata Ari lagi.
Apakah Ari menganggap Venya bodoh dengan mengatakan hal itu?
"Kalo lo mau, gue bisa bantu bikinin lo sinopsisnya. Lo bayar aja gue." Kata Ari sambil terkekeh kecil.
Venya mencibir, "gue bisa bikin sinopsis gue sendiri." Kata Venya.
Ari menatap Venya yang menatapnya sebal, "tapi gue yakin ga akan sebagus yang gue buat." Kata Ari lagi.
"Iya deh iya, ampun pak editor. Nanti kalo gue berniat gabung ke sana, gue gabung lewat lo dan minta bikinin lo sinopsisnya." Kata Venya.
Ari terkekeh, baginya, membuat Venya tertawa adalah salah satu kebahagiaannya.
Salah satu.
Selebihnya, dia lebih bahagia jika Venya terus di sampingnya.