Setelah pembicaraan mengenai join dan tidak join dalam satu platform yang dibicarakan oleh Ari, dia meninggalkan Venya sendiri sekarang. Dia bahkan menyajikan dulu jus alpukat yang katanya ia bikin sendiri di dapur tadi. Venya ditinggalkan sendiri karena Ari merasa bahwa Venya membutuhkan ruang dan waktunya sendiri. Dia juga menjanjikan sesuatu kepada Venya sebelum dia pergi dari hadapan Venya.
"Jam lima gue jemput lo di sini, mau beli baju 'kan?" Katanya lalu pergi meinggalkan Venya. Entah kemana dan Venya tidak ingin bertanya juga.
Yang jelas Venya masih bsia melihat Ari di sana. Di balkon kamar atas yang langsung menghadap ke kolam renang. Sesekali Ari teelihat di jendela kamarnya. Dia menelepon, main game atau bahkan hanya memainkan ponselnya. Venya juga sesekali melihat aktivitas seorang Ari di sana. Namun, dia lebih sering mengabaikannya karena idenya tidak muncul secara terus - menerus. Maka, ketika ide muncul, Venya harus memanfaatkannya dengan baik. Dia tidak ingin di ganggu dan tentu saja tidak ingin idenya hancur begitu saja.
Venya sekarang meregangkan leher dan jari jemari yang dipakainya untuk mengetikkan cerita di laptopnya. Dia cukup banyak mengetik hari ini. Sehingga dia melirik jam di sudut kanan bawah laptopnya yang menunjukkan pukul enam belas empat puluh waktu indonesia bagian barat. Dimana sebentar lagi, mungkin Venya akan di kacaukan dengan kedatangan seorang Ari. Jadi, Venya memtuskan untuk menghentikan aktivitasnya sampai di sini. Dia juga menghabiskan jus buatan Ari.
Jika kalian bertanya apakah di villa ini ada asisten rumah tangga, tentu saja ada. Namun, Venya jarang menemuinya karena canggung. Venya juga lebih sering melakukan aktivitas di dapurnya sendiri. Kadang - kadang mbak yo - sebutan untuk asisten rumah tangga tante Fany dan om guntur ini sering menawarkan bantuannya, namun Venya kebih memilih melakukannya sendiri.
Venya hanya tidak biasa dilayani. Dia biasa bekeja dengan tangannya sendiri tanpa di bantu. Maka dari itu, kadang suasana canggung di antara Venya dan mbak yo ini menjadikan mbak yo juga lebih baik menghindari Venya. Dia mungkin akan di panggil ketika Venya membutuhkannya. Namun, sampai saat ini, dia belum membutuhkan bantuan dari siapapun kecuali Ari. Dia bisa melakukannya sendiri. Melakukan apa yang ia inginkan tentu saja.
Bantuan Ari diperlukan ketika Venya tidak tahu letak sendok, manguk atau apalah. Dia lebih banyak baertanya pada Ari dari pada mbak yo. Namun, itundilakukan di belakang mbak yo. Takut - takut mbak yo tersinggung jika Venya melakukan hal itu di hadapan mbak yo. Nanti mbak yo berpikiran bahwa dirinya tidak dibutuhkan dan lebih baik pergi. Jadi, Venya tidak ingin mbak yo tahub tentang pertanyaan Venya kepada Ari mengenai apa dan dimana barang yang dibutuhkan oleh Venya. Setidaknya, sampai sata ini.
Venya melihat Ari yang sudah beejalan ke arahnya. "Jadi lo mau pergi ga?" Tanya Ari langsung to the point.
Venya mengangguk, "iyalah, tante Fany emang minjemin gue baju tapi gue harus sadar diri. Ga mungkin tiap hari pake baju punyabtante fany." Kata Venya, "kalo gitu gue siap -, siap dulu." Kata Venya kemudian dia bangkit dsri duduknya.
Venya memang tidak punya baju lagi untuk dipakainya pergi, baju yang kemarin sudah di laundry oleh tante Fany. Entah, namun, tante Fany lebih suka me- laundry oakaian daripada harus mencucinya sendiri. Venyabsebenernya berniat unruk mencuci bajunya sendiri. Maka aribitu, ia menanyakan perihal sabun cuci bajunkepada mbak Yo. Dan itu lertama kalinya Venya bertanya dan memerlukan bantuan mbak Yo.
Kebetulan juga, tante Fany mendengar bahwa Venya mencari sabun cuci baju. Daei sana, tante Fany dengan segala argumennya dia memaksa Venyabuntuk menyerahkan bajunya yang akan di cuci untuk di laundry bebearengan dengan miliknya dan juga anggota keluarga yang lain.
"Sabun cuci baju dipake buat nyuci pakaaian dalaam aja biar kamu nyaman." Kata tante Fany, "soalnya tante laundry biasnaya ditanganin sama cowok. Jadi kalonga nyaman kamu pakee sabun cuci baju buat pakaiann dalaam aja." Katanya lagi pada waktu itu.
Dan lagi -, lagu Venya tidak bisa menolak apa yang sudah menjadinargumen dari tantw Fany. Dia tidak bisa terkalahkan untuk urusan bicara dan urusan rumah tangganya. Kebayang jika om Guntur dan tante Fany beradu argumen. Mungkin om Guntur sudah ciut dengan banyaknya argumen yang dikeluarkan oleh tante Fany. Namun, sepertinya tante Fany tidak banyak beragumen jika dihadapannya adalah om Guntur selaku suaminya.
Mungkin saja tante Fany lebih menghargai oom guntur dimana Venya sendiri tahu bahwa om Guntur adalah pigur kepala rumah tangga di dalam Vila ini. Maka dari itu, kemungkinan tante Fany juga tidak berani banyak beradu argumen jika posisinya tidak benar -* benwr terpelet dan tersudut.
Venya sudah memakai bajunya yang sudah selesai di laundy. Benwr kata tante Fany, hanya butuh waktu sehari dan itupun lebih cepat dari sehari. Sore hari kemarin bajunya diantarkan dan siang sudah bisa digunakan. Kemudian, Venya memakainya dan keluar darinkamarnya.
Venya memang tipenorang yang ga mau ribet dalam urusan berpakaian. Dimana dirinya hanya menggunakan kaos dan juga celana jeans dsn dia siap untuk keluar.
venya juga diajak oleh Ari keluar baremg dengan tante Fany yang akan berbelanja kebutuhan sehari - hari mereka. Wlaaupun Venya emmbayangkan akan jalan berdua baremg Ari, dia lebih senang jika jalan bersama tante Fany. Ada orang yang bisa diajak ngobrol tentang hal 'perempuan'.
"Maaf ya tante ikut, kalian jadi ke ganggu deh." Kata tante Fany byang memang seperti berbasa - basi ringan.
Mereka bertiga sudah berjalan keluar. Sebenarnya, Venya hendak menjawab pernyataan dari tante Fany tadi, tapi dengan sombongnya, Ari menyerobot pembicaraan.
"Udah tau ganggu, kenapa masih tetepo ikut?" Jawaban itu yang bkeluar dari mulut Ari.
Benar. Bukan jawaban. Tapi malah pertanyaan yang bisa saja dijawab oleh tantw Fany.
Namun, tante Fany hanya terkekeh mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ari, "kamu ngerasa terganggu ga, Ven?" Tanya tante Fany kepadnaya.
MeMereka berhenti di depan, bukan depan, damping mobil milik Ari. Lalu Venya menggeleng sambil tersenyum. "Engga kok tante." Kata Venya, "venya lebih suka tante ikut. Malu kali kalo belii baju dalemaan sama cowok." Kata Venya lagi.
Kemudian tabte Fany menatap Ari. "Denger itu ga lo?" Tanya tante Fany. "Ya udah, kamu duduk di depan. Biar tante di belakan." Kata tante Fany lagi.
Venya menggeleng keras, "ga tante. Tante aja yang di depan." Kata Venya lagi.
Tante Fany teesenyum kexil, "kalo tante di depan, yang lagi marah mungkin muncul tanduknya." Kata Tante Fany kemudian dia membuka pintu belakang mobil dan duduk di sana. "Udah sok, sana duduk di depan."