Mereka baru saja sampai di pusat perbelanjaan. Tidak besar namun, cukup untuk sekedar melengkapi apa yang kurang di dalam vila yang mereka inapi. Ini hari minggu dan banyakn pengunjung yang datang ke sini hanya sekedar melepas lelah atau bahkan membeli cemilan untuk perjalanan pulang.
Biasanya di sini ramai jika malam minggu atau bahkan long week end yang bahkan harusnya kemarin di sini ramai. Menurut Ari, hari ini banyak yang pulang ke jakarta dan akan melanjutkan pekerjaannya karena kemarin adalah malam minggu tapi ada juga beberapa orang, segelintir orang yang nekat masuk kerja hari selasa dan minggu ini juga hari senin besok mereka akan berlibur ke vila di atas sana.
Di puncak tentu saja.
"Lo ngobrol sama setiap orang di sini? Kok bisa tau sampai se detail itu?" Tanya Venya sambil mendoromg roda yang isinya bahan makanan yang di masuki oleh bahan - bahan yang dipilih oleh tante Fany di depannya.
Venya dan Ari lantas berjalan bebarengan di belakang troli belanja itu. Tadi bahkan Ari sempat meninggalkan Venya dan tante Fany berdua saja entah kemana, namun, Venya dibuat kaget ketika Ari sudah ada di smalingnya dengan secepat kilat.
Ari menggeleng, "gue tanya ke satpam di depan." Kata Ari, "dia banyak cerita tentemg pengunjung hari ini." Ucapnyablagi.
Venya mengerutkan keningnya, "lo ngapain ngobrol sama satpam di sana? Ada urusan apa sih?" Tanya Venya. Bahkan dia sendiri heran kenapa Ari bisa - bisanya mengobrol dengan satpam karena ke kepoannya tentang pengunjung hari ini di supermarket.
Yang ditanya malah nyengir, "kepo aja gue." Kata Ari, "lagian satpam di sini udah kayak bestie gue juga sih. Tiap kali gue ke sini dia selalu ada jadi, gue ga sungkan tanya sama ngobrol sama dia." Kata Ari lagi menjawab pertanyaan dari Venya.
Venya dibuat lebih heran lagi, bisa - bsianya seorang Ari yang terlahir dari keluarga sultan ber - bestie - an dengan seorang satpam supermarket. Bukan Venya memandang rendah seorang satpam. Tapi, lebih ke heran saja. Ari ini memang baik ke semua orang atau bahkan dia bisa berteman dengan semua orang? Padahal jika mendengar atau bahkan Venya membaca beberapa jurnal literatur, kebanyakan dari 'mereka' yang uangnya bejibun itu tidak memandamg bahkan sama sekali ke orang - orang yang jauh di bawah mereka. Termasuk satpam supermarket.
Ari benar - benar berbeda.
Dia bahkan menunjukkan sisi manisnya setiap kali bertemu dengan orang yang dikenalnya. Naun, Venya pernah sekali melihat Ari bersikap dingin kepada orang yang sepintas menabraknya dan ebrbasa - basi meminta maaf dengan berbagaibalasan. Venya melihat Ari menatap dingin orang itu dan pergi begitu saja menibggalkan orang yang tersenyum malu - malu ketika meminta maaf dan dintatap oleh Ari.
Entah, bahkan Venya bertanya - tanya apakah Ari ini punya dua kepribadian?
Dia bisa baik, dengan taraf baik sekali dan bisa dingin sedingin es di frezzer.
"Bestie palalu," kata tante Fany memasukkan beberapa bahan makanan lagi ke troli yang sudah dipegang Venya erat - erat itu. "Lo aja yang sksd sama tu satpam." Kata tante Fany lagi.
Venya terkekeh melihat tante Fany yang mengejek Ari di depan Arinya langsung. Bahkan Venya ingin sekali tertawa melihat muka Ari yang tidak bisa di artikan itu. Lantas Venya mengusap lengannya, "mungkin satpam itu bestie -nya tante Fany. Jadi dia ga suka lo ngaku - ngaku kalo satpam itu bestie lo." Kata Venya berbisik.
"Eh eh, tante dneger ya kamu ngomong apa, Venya." Kata tante Fany, "udah mulai berani ya, anda." Katanya lagi kemudian terkekeh.
Ari juga terkekeh. Bukan karena omongan dsri tante Fany, tapi lebih ke muka Venya yang terkejut.
"Bercanda sayang. Gapapa -lah lo mau sebelas dua belas sama kayak si cowok nyebelin di sebelah lo." Kata tante Fany yang udah mulai lo dan gue berbicara kepada Venya, "lo cocok sama ponakan gue by the way." Katanya kemudian beringsut pergi dari sana.
Ari dan Venya bertatapan kemudian terkekeh. "Tante gue kayaknya udah mulai nyaman sama lo." Kata Ari, "biasanya dianga gue elo an ke orang lain selain gue dan keluarga gue lainnya." Ucapnya lagi sambil mengambil alih roda troli dari tangan Venya, "dia udah mulai mau bestie - an sama lo kali." Tambah Ari lagi.
Venya tertawa di samping Ari, "kenapa hari ini kita jadi bahas bestie - bestie - an sih?" Tanya Venya sambil menepuk lengan Ari pelan.
*** *** ***
"Lo mau beli apa lagi, Ven?" Tanya tante Fany kepada Venya setelah dia membeli beberapa pakaiaan dalaam dan juga beberapa pakaian yang bisa dipakai di vila tante Fany dan om Guntur nanti. Beberapa kaos dan juga celana pendek.
Venya menggeleng, "ga ada lagi, tan. Gue udah sampe sini aja deh kayaknya." Kata Venya.
Bukan tidak sopan, tapi tante Fany memaksa Venya untuk memakai kata gue elo juga kepadanya. Katanya jika tidak, Venya buka bestie nya. Venya bahkan tertawa mendengar fakta itu. Fakta dimana Venya sudah dianggao teman oleh tante Fany.
Sebenarnya, jika harus di bicarakan lebih detail. Tante Fany bukanlah sosok tante yang ke ibu -, ibuan. Buka ln sosok tante yang bahkan tua pada masanya. Tante Fany merupakan tante kekinian dengan bahasa gaul yang bahkan sudah melekat di bibirnya dan otaknya.
Tante Fany juga tidak setua itu. Mungkin dia berumur tiga puluh tahunan saat ini. Venya tidak bernai bertanya by the way. Tante Venya masih sangat muda ketika harus di panggil tante. Bisa saja orang lain memanggilnya kakak. Venya juga bisa memanggilnya kakak jika tante Fany mau. Tapi dia menolak dengan alasan, "lo kan nanti mau jadi ponakan ipar gue. Masa gue di panggil kakak sih." Katanya.
Venya bahkan menggelengb tidak percaya. Bahkan Venya dan Ari tidak memiliki hubungan yang bahkan bisa mencapai bayangan daei tante Fany. Mereka hanya real berteman sampai sekarang. Bahkan mereka barubkenal beberapa hari. Belum bulan dan tahun. Masa sudah mau dijadikan keponakan ipar? Ada - ada saja tante Fany ini.
"Ya udah nih bayar pake card punya gue." Kata tante Fany.
Tentu saja dengan cepat Venya menggeleng, "ga usah. Aku ada atm sendiri kok tan." Ucap Venya.
"Ga papa." Kata tante Fany, "gue anter ke kasir deh kalo gitu." Katanya mendahului Venya berjalan di depannya, "hayu sini." Katanya lagi melambai - lambaikan tangannya dengan harapan Venya mendekatinya.
Venya benar - benar di ratukan. Dia tidak membayar sepeserpun pakaian yang bahkan di beli untuknya sendiri. Bahkan tante Fany membayar semua bahan makanan yang mungkin nantinya Venya akan makan juga. Venya sendiri merasa tidak enak dengan sikap itu. Psalnya, Venya ini orang lain di dalam lingkup Vila itu.
"Gue udah nganggep lo sodara gue ya. Lo mau jadi atau engga sama Ari terserah sama lo. Yang penting gue cukup nyaman sama lo. Jadi kita harus jadi bestie."