Berjalan santai sambil menuntun lengan Nindy mengikuti langkah kaki Sabian, Jaka dan juga Irfan yang berjalan lebih dulu sambil membawa koper, kepala Luna sesekali mengangguk saat mendengar pesan yang wanita itu berikan.
"Luna hati-hati, ya? Semangat belajarnya."
"Itu pasti, Ma.. Luna janji akan belajar lebih giat lagi dari sebelumnya." Sahut Luna yang memang sudah sangat akrab dengan Nindy. "Tapi mama juga jangan lupa untuk hadir di hari kelulusan Luna tahun depan."
"InsyaaAllah, kalau ada kesempatan kami sekeluarga pasti akan hadir di hari kelulusan Luna."
Saat beberapa koper yang mereka bawa sudah dimasukkan ke dalam kereta oleh sopir yang mengantar mereka kemari, kini tiba saatnya bagi Lunara untuk mengucapkan selamat tinggal pada anggota keluarga Pratama terutama Sabian.
Pria dengan sepatu sport putih, celana levis selutut, kaos hitam polos dengan kacamata yang diletakkan pada bagian depan topi itu berjalan mendekatinya. Luna yang semula merasa sangat bahagia saat diajak pergi ke tepi pantai untuk melihat matahari pagi bersama tambatan hatinya, kini mulai menahan sesak saat menyadari jika mereka akan berpisah sebentar lagi.
Bian menundukkan sedikit posisi tubuhnya lebih dulu agar posisi mereka berdua sejajar, baru setelahnya ia mulai bicara. "Lunara, jaga diri kamu baik-baik, ya? Ingat apa yang aku katakan tadi pagi, perpisahan ini tidak akan berlangsung lama. Karena aku sudah janji sama bapak, akan kembali kesini untuk temuin kamu tepat setelah menyelesaikan semua ujian dan juga sudah mendapatkan pekerjaan."
"Kamu ndak perlu takut, karena mama adalah orang pertama yang akan maju saat ada gadis yang berani ganggu aku."
Dengan berat hati Luna mengangguk sambil sedikit menampilkan senyuman. Meski hatinya sama sekali tidak terima jika harus berjauhan dengan pria di hadapannya ini tanpa bisa berkomunikasi secara langsung seperti biasanya, Luna tetap harus mendukung Bian untuk meneruskan apa yang menjadi mimpinya.
"Semangat!" Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Luna tidak tahu harus berkata apa lagi. Jika saja Bian adalah mahramnya, Luna pasti sudah memeluk erat pria itu saat ini juga. Namun karena memang belum saatnya untuk melakukan hal demikian, Luna pun memilih untuk mengangkat sebelah tangannya sambil mengucapkan selamat tinggal. "Hati-hati di jalan.."
Bian mengangguk, baru setelahnya ia bergerak ke arah sebelah kanan Luna yang terdapat Jaka disana. "Kurasa kau sudah tahu tugas apa yang akan kuberikan padamu setelah ini. Dan yang paling utama adalah.. jaga Luna untukku."
Pria humor yang sejak tadi berusaha tegar mengantar kepergian sahabatnya itu langsung memberi pelukan perpisahan dengan cara menepuk bahu Bian beberapa kali. "Jangan kembali terlalu lama, Bian.. Aku tidak ingin melihat Non Lunaku yang ceria kembali bersedih."
"Satu hal lagi, jangan kembali sebagai sosok bad boy. Aku tidak akan menganggapmu sebagai teman lagi jika kau berani melakukan hal itu."
Baik Bian maupun Luna keduanya tertawa, Jaka memang paling bisa menyelipkan humor di balik ucapannya yang terkesan serius.
"Bian, kita harus berangkat sekarang, Nak." Panggil Irfan dari pintu kereta tepat setelah pengumuman bahwa kereta Yogyakarta - Jakarta akan segera berangkat.
Dengan segera Bian pun melangkahkan kakinya menjauh dari posisi Lunara dan juga Jaka sambil melambaikan tangan.
"Sampai jumpa, Lunara. Assalamu'alaikum.."
"Sampai jumpa lagi, Mas Bian. Wa'alaikumussalam.." Sahut Luna berusaha melepas kepergian Bian dengan ikhlas.
Peluit kencang baru saja dibunyikan oleh petugas stasiun kereta api memberi tanda pada siapapun yang berada di tepian peron agar bergerak mundur karena kereta akan berangkat saat ini juga. Dan benar saja, tepat setelah peluit dibunyikan pergerakan roda kereta mulai terlihat. Bian yang sudah berada di dalam kereta terus tersenyum ke arah Luna hingga saat kereta sudah melaju kencang dan menjauh, senyum khas pria tampan itupun menghilang dan tidak dapat Luna lihat lagi hingga beberapa tahun kedepan.
***
Beberapa tahun kemudian
Melangkahkan kaki di trotoar jalan saat melihat lampu hijau menyala, Lunara menarik sempurna kedua sudut bibirnya karena hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untuknya.
Sebuah bangunan berwarna putih dengan luas tanah 6 x 10 meter yang pada bagian atas depannya terdapat sebuah papan bertuliskan Lusa Hijab yang memiliki arti Lunara Salsabila Hijab terpampang jelas di hadapannya saat ini. Usahanya beberapa tahun kebelakang untuk mempelajari berbagai macam materi yang diantaranya adalah tekhnik mendesign, membuat pola, menjahit, mencari tahu seluk beluk produksi busana atau fashion, analisis tren, pemasaran, manajemen dan beberapa hal lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu rupanya benar-benar membuahkan hasil.
Dengan mendapat dorongan dari sang ayah dan juga sosok pria spesial di hatinya, Luna mampu mengembangkan hasil karyanya sehingga bisa menciptakan berbagai macam model gamis yang akan dijual di toko miliknya—Lusa Hijab.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi.." Sapa Luna pada satu-satunya karyawan yang ia miliki bernama Wulan. Gadis asal Semarang ini berusia 2 tahun lebih muda darinya. Luna bertemu dengan Wulan saat mereka berdua menjadi peserta di sebuah event peragaan busana. Luna yang kedapatan menjadi ketua dalam tim berhak memilih 3 dari peserta lain untuk menjadi asistennya. Dan satu dari 3 pilihan itu adalah Wulan.
Meski usia Wulan lebih muda darinya, bukan berarti gadis itu memiliki kemampuan yang kurang memukau. Justru sebaliknya, Luna merasa jika Wulan lah sosok yang membuat hasil karyanya berada di posisi hampir sempurna.
"Selamat Pagi, Mba Luna. Maaf, Mba. Tadi aku buka toko pakai kunci yang aku bawa, karena aku kebelet pipis."
Mendengar hal semacam itu, Lunara pun tersenyum dan sama sekali tidak merasa keberatan jika didahului. "Santai saja, Wulan. Maaf juga aku jadi datang terlambat karena harus mampir lebih dulu ke toko milik budemu untuk mengambil kue pesanan kita hari ini."
"Ah iya, Wulan hampir saja melupakannya. Dimana kue itu, Mba?"
"Itu disana.." jawab Luna seraya menunjuk kotak berbentuk kubus yang ia letakkan di atas meja yang berada tepat di ruang utama toko.
"Boleh aku melihatnya?" Tanya Wulan yang nampak sangat penasaran.
Sambil menata beberapa barang yang belum lama ini ia beli untuk melengkapi hiasan di tokonya, Luna pun menyahuti, "tentu saja, Wulan. Lagipula hiasan di kue itukan hasil request darimu."
"Justru karena itu, aku takut akan mengecewakan Mba Luna kalau hasilnya kurang maksimal."
"Perkiraanmu salah. Kue itu bagus sekali. Budemu sangat pandai membuatnya."
Wulan yang sudah berada tepat di depan kue tersebut langsung membuka penutupnya dan karena sangat terkejut melihat keindahan kue yang ada di dalamnya, ia bahkan sampai berteriak histeris. "MasyaaAllah, harus diakui kalau kue buatan budeku memang the best."
"Nah, akhirnya kamu tidak lagi meragukan apa yang aku katakan." Sahut Luna mengingat bagaimana cantiknya kue rasa coklat berbalut fondant atau lapisan yang terbuat dari gula, air, gelatin, lemak nabati atau mentega, dan gliserol yang biasa digunakan untuk menghias kue berwarna putih dengan nama toko yang tertulis di bagian tengah serta beberapa model gamis hasil designnya di sisi samping kue.
"Wulan, ayo cepat siapkan toko sebelum para tamu undangan kita datang." Ajak Luna saat melihat gadis itu tengah sibuk mengabadikan kecantikan kue dari segala sisi.
"Baiklah, ayo kita lakukan, Mba Luna." Sahut Wulan yang baru saja menyudahi kegiatannya.
***
Suara tepukan tangan dari puluhan tamu yang hadir terdengar tepat setelah Luna menggunting pita yang berada di pintu masuk sebagai simbolis jika toko ini baru saja di buka untuk umum.
"Selamat datang di Lusa Hijab..!" Ucap Luna setengah berteriak sambil mempersilakan para tamunya untuk masuk ke dalam.
Senyumnya terukir sempurna saat para tamu melihat-lihat gamis yang tokonya sediakan sambil sesekali memujinya.
Hingga suara seseorang dari arah pintu masuk membuat Luna kembali menolehkan wajahnya.
"Amazing, Luna. So proud of you, bestie."
"Fuji?! MasyaaAllah.. Kamu sudah kembali?" Tanya Luna ragu melihat sahabatnya semasa SMA berdiri di ambang pintu dengan pakaian khas musim dingin. Wajar saja jika Fuji mengenakannya, dari yang Luna tahu, gadis ini sempat mengambil kuliah jurusan fashion and design di negeri ginseng Korea Selatan.
"Teganya kamu tidak mengundangku.." Ucap Fuji sedikit memanyunkan bibirnya.
"Aa~ bukan begitu. Aku hanya tidak ingin kamu sampai harus memaksakan diri kembali ke Indonesia dan meninggalkan jam kuliah hanya untuk datang ke pembukaan tokoku."
"Bukankah ini hal yang tidak terlalu penting?"
Fuji menggeleng, "jangan bilang seperti itu, Luna. Sebagai teman baikmu, aku memang harus mengapresiasi hasil karyamu ini dengan cara melihatnya secara langsung."
"Ya ampun, aku jadi merasa semakin gugup saat ini."
"Lunara.. Ternyata kamu masih sama seperti dulu. Gugup pada hasil karya yang menakjubkan."
"Mba Luna, ada tamu yang ingin melihat warna lain dari Hawa dress." Ucap Wulan sambil memegangi lengan Luna.
"Ah ya, sampaikan padanya aku akan kesana sebentar lagi."
"Baiklah." Sahut Wulan yang kemudian berlalu pergi.
Merasa jika sedang kedatangan teman baiknya semasa sekolah, Luna pun bingung harus mendahulukan yang mana.
Fuji yang menyadari hal itupun langsung mengusap bahu Luna, "lanjutkan pekerjaanmu, Luna. Aku akan berkeliling untuk melihat-lihat."
"Baiklah. Tapi kamu harus tahu, kalau aku sangat senang dengan kedatanganmu hari ini." Ucapnya sambil menggerakkan kedua tangan exited.
"Jangan pergi tanpa seizinku. Karena kita akan kembali mengobrol saat aku sudah senggang." Pesan Luna lagi sedikit memaksa.
"Oh ya, jangan lupa juga cicipi kue di meja itu." Tambahnya lagi sambil melangkah menjauh untuk menemui Wulan dan tamu yang ingin melihat warna lain dari Hawa dress.
Disisi lain Fuji yang menyadari jika kecerewetan Luna belum juga hilang hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Baik, Luna. Lagipula, makan kue adalah alasan lain yang membuatku datang kemari." Jawabnya yang langsung berjalan ke arah kue yang dimaksud oleh Luna.
***
"Syukur Alhamdulillah, tamunya jauh lebih ramai di banding dugaanku, Wulan.." Ucap Luna yang tengah membersikan lantai toko menggunakan sapu setelah sebelumnya berserakan pernak-pernik kecil yang merupakan bagian dari sambutan tamu.
"Iya, Mba. Wulan pikir juga ndak akan seramai itu." Sahut Wulan yang sama sibuknya dengan Luna.
"Bayangkan kalau pengunjung toko ramai seperti itu di setiap harinya. Wah, aku rasa aku perlu mempekerjakan karyawan lain agar kita berdua tidak merasa kewalahan."
"Aku setuju. Lagipula, nantinya kan pasti Mba Luna ndak akan berada di toko setiap hari, melainkan di kantor. Jadi, perlu ada orang yang jaga di toko."
"Kamu tenang saja, Wulan. Karena Mba Luna ndak akan buat kamu merasa sendiri di toko ini."
Sebagaimana saat ini Lusa Hijab hanya memiliki 2 karyawan, yakni Luna dan juga Wulan, wajar saja jika Luna melontarkan kalimat semacam itu.
"Semoga Lusa Hijab dapat dikenal banyak orang setelah ini. Semangat, Mba Luna!!" Teriak Wulan memberi energi tambahan pada Luna yang nampak kelelahan setelah hampir setengah hari menjamu para tamu yang hadir dalam pembukaan toko.
Saat mereka berdua sama-sama meng-aamiin-kan doa tersebut, lonceng yang ada pada pintu masuk toko berbunyi menandakan seseorang baru saja tiba.
"Apa ada tamu yang datang terlambat?"
"Jangan khawatir, aku akan tetap menyambutnya, Wulan. Tunggulah disini." Ucap Luna yang langsung menyandarkan sapu pada dinding dan melangkah menuju ruang utama toko.
"Selamat datang di Lusa Hijab—" ucapan Luna terhenti saat melihat seseorang yang berdiri di hadapannya saat ini. Matanya seakan terpaku untuk meneliti setiap inch dari diri tamu yang kebetulan datang terlambat ini.
"Selamat bertemu kembali, Lunara."