Setelah mengabadikan moment di beberapa spot menarik yang sengaja disediakan oleh pihak pengelola tempat wisata Kalibiru, kini waktunya bagi mereka bertiga untuk pergi dari sana dan kemudian menuju ke tempat berikutnya.
Masih di Kulon Progo, hanya berjarak sekitar 30 kilometer dan membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam, sebuah kebun teh yang erat kaitannya dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan tentara Belanda ini di beri nama Nglinggo.
Melewati jalan menanjak diiringi kabut tipis yang kian menebal seiring dengan daratan yang semakin tinggi, mata Luna terus dimanjakan oleh indahnya tumbuhan camelia sinensis yang tumbuh pada lereng-lereng pegunungan.
Bian yang kebetulan hari ini mengendarai sebuah mobil dengan moonroof—model kaca atap yang bisa di buka dengan rel yang bergerak masuk ke dalam atap mobil, membuat Jaka yang duduk di jok baris kedua langsung mengeluarkan kepalanya usai meminta izin.
"Non Luna harus mencobanya, biar bagaimanapun ini seru sekali.." Teriak Jaka dari atas sana yang tentu saja masih bisa di dengar oleh Luna dan juga Bian meski diiringi dengan hembusan angin kencang. Mereka berdua pun saling bertukar senyum setelah mengingat 2 kata wajib yang seringkali keluar dari mulut Jaka.
Perjalanan mereka terus berlanjut hingga Luna menyadari jika tempat yang mereka datangi hari ini dua-duanya bertemakan alam. Padahal, ia sempat berpikir jika Bian adalah sosok anak gaul yang gemar nongkrong di cafe sambil menikmati kopi.
Demi menghilangkan rasa penasarannya, Luna pun memilih untuk bertanya. Sebagaimana masih banyak hal yang belum ia ketahui dari pria di sampingnya ini.
"Mas Bian?"
"Ya?" Sahut Bian sedikit menolehkan kepalanya sambil terus mengemudi karena mereka tidak berniat untuk berhenti disini melainkan hanya lewat saja.
"Sepertinya.. tema kita hari ini wisata alam, ya?"
Mendengar pertanyaan semacam itu tentu saja membuat Bian tertawa kecil. "Bisa dibilang begitu."
"Kenapa? Kamu tidak terlalu menyukainya, ya? Kalau begitu kita bisa pergi ke mall atau ke tempat ramai lainnya di lain waktu."
"Uhm, bukan begitu maksudku. Tentu saja aku menyukainya, sebagaimana rasa kagumku yang sangat besar terhadap matahari." Bantah Luna merasa bersalah. Ia seharusnya tidak menanyakan hal semacam ini. Namun karena sudah terlanjur di bahas, maka ia harus bisa menjelaskannya lebih baik lagi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
"Hanya saja, aku sempat mengira jika Mas Bian adalah anak gaul yang suka nongkrong di kedai kopi ternama di banding pergi ke tempat seperti ini."
Bian hanya menampilkan baris giginya yang rapi tepat setelah Luna berkata seperti itu. Ia memilih untuk memutar arah kemudi terlebih dahulu baru setelahnya menjawab.
"Sejauh ini aku suka keduanya, baik nongkrong di cafe untuk minum kopi maupun bepergian ke tempat wisata bertemakan alam. Tapi, setelah Jaka memberitahuku kalau kamu tidak terlalu suka keramaian, sepertinya pilihanku mulai berubah."
"Maksudnya?" Tanya Lunara sedikit tidak mengerti.
"Aku jadi lebih suka pergi ke tempat wisata bertemakan alam. Terlebih kalau perginya sama kamu kayak sekarang."
Merasa jika Bian baru saja mencari cara untuk membuatnya bahagia, Luna pun langsung menarik kedua sudut bibirnya hingga menciptakan senyuman.
Hingga senyumnya yang manis mendadak hilang saat Jaka memecah obrolan mereka.
"Aa~ jadi begitu? Aku ndak di anggap? Oke, ndak apa-apa. Lain kali aku pakai jubah menghilang saja.."
Ucapan Jaka rupanya kembali menimbulkan gelak tawa dari mereka berdua. Bahkan dirinya sendiripun ikut tertawa usai menyadari kalau di Jogja tidak ada toko sihir yang menyediakan jubah menghilang seperti pada film ternama hasil karya tulis J K Rowling yang berjudul Harry Potter. "Ya, baiklah, baiklah, aku tahu itu mustahil. Tapi biar bagaimanapun, aku ingin sekali menghilang saat ini juga guna memberi waktu pada kalian berdua untuk bicara serius dari hati ke hati sebelum terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh."
"Kau tenang saja, Jaka. Walaupun nanti kami terpisah oleh jarak yang cukup jauh, insyaaAllah.. nama gadis bernama Lunara tidak akan pernah kulewatkan dalam doa." Sahut Bian terdengar yakin sambil menoleh ke arah Luna yang kemudian ikut menambahkan.
"InsyaaAllah, kita mampu melalui ujian pertama kita bersama-sama, Mas."
Pria bertopi dengan bulu-bulu halus yang mengitari sekitar dagunya itu pun memberi anggukan kepala seraya menampilkan senyuman khasnya.
Dan kalimat manis mereka berdua langsung mendapat respon siulan yang berasal dari Jaka. Terbiasa menirukan suara burung milik Pak Bimo membuat siulannya terdengar nyaring terdengar.
"Jika aku diminta untuk memanjatkan doa terbaik hari ini, maka aku akan berdoa agar Non Lunaku yang baik hati dan juga cantik berjodoh dengan teman baikku Sabian yang tampan dan handal dalam segala bidang." Ucap Jaka yang baru saja menghentikan kegiatannya—berdiri menghadap keluar menggunakan moonroof.
Aamiin..
Aamiin..
Doa Lunara dan Sabian di dalam hati hampir bersamaan. Meski tidak saling menyatakan seberapa besar rasa sayang yang mereka miliki satu sama lain, mereka paham dan juga yakin jika Allah SWT pasti mengetahui isi hati dari setiap umatnya.
***
Memijaki setiap anak tangga yang ada di rumah untuk sampai di lantai atas yang terdapat kamar putranya, tangan Nindy tindak lenggang begitu saja. Melainkan membawa nampan berisi satu piring cookies serta teh hangat untuk mereka berdua nikmati.
"Bian sayang?" Panggilnya mencari-cari keberadaan Bian.
"Sabian??"
Panggilannya yang belum juga mendapat jawaban, hingga akhirnya Nindy lebih dulu meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja dan kemudian membuka pintu kamar Bian tanpa mengetuknya lebih dulu.
Betapa terkejutnya Nindy saat melihat sang putra yang hanya mengenakan celana boxer dengan posisi handuk yang dibiarkan menggantung di leher, tengah berdiri di depan pintu kamar mandi dengan posisi membelakanginya.
"Astaghfirullah, Bian.."
"Mama?" Ucap Bian yang nampak kaget saat mendapati sang ibu berdiri di ambang pintu.
"Mama panggil-panggil kamu, loh. Kirain pergi kemana."
Merasa bersalah karena tidak mendengar panggilan dari sang ibu, Bian pun berjalan mendekati Nindy masih dengan kondisi seperti tadi dan tidak mengenakan pakaian lebih dulu. "Memangnya Bian pergi kemana lagi, Ma? Kan baru saja pulang ajak Lunara dan Jaka jalan-jalan."
"Iya, mama baru ingat."
"Bagaimana Lunara? Kamu memastikan dia bahagia 'kan hari ini?"
"Pasti dong, Ma. Jaka juga buat guyonan yang bikin Luna ketawa terus, kok."
Nindy tersenyum, "jangankan Luna, mama juga selalu ketawa setiap kali dengar guyonan dari Jaka. Temanmu itu memang sangat menghibur."
"Mama tahu enggak? Ternyata Luna punya obsesi yang sangat menarik dan istimewa."
"Oh ya? Apa itu?"
"Hampir setiap pagi Lunara buka jendela kamarnya hanya demi tunggu matahari terbit. Karena Pak Bimo pernah bilang, kalau mata Luna sama persis seperti mata almarhumah ibunya saat terkena cahaya matahari."
"Luna anak yang baik, Ma. Selain tidak ingin membuat Pak Bimo merasa kehilangan sosok istri yang dicintainya, Luna juga melakukan hal itu untuk mengobati rasa rindu pada ibunya."
Nindy mengangguk, ia faham betul apa yang Luna rasakan sebagaimana ia telah lebih dulu ditinggal pergi kedua orang tuanya saat masih berusia 10 tahun. Hingga akhirnya Nindy pun dirawat oleh kakek dan juga neneknya. "Jaga perasaan Luna sebaik mungkin, ya?"
"Pasti, Ma. Bian janji sama mama." Sahut Bian yang setelahnya berpamitan untuk membersikan dirinya lebih dulu sebelum menikmati teh hangat dan juga cookies yang sudah Nindy bawakan.
Namun saat Nindy baru saja ingin menutup pintu kamarnya, Bian kembali memanggil wanita itu, "tunggu sebentar, Ma.."
"Uhm, ya, nak? Ada apa?"
"Menurut mama, hal apa lagi yang harus Bian lakukan bersama Luna sebelum pindah ke Jakarta lusa?"
"Bukannya kamu sudah tahu dan menceritakannya pada mama mengenai obsesi Luna?"
"Maka lakukanlah sebagaimana mestinya dan buat Luna tidak melupakan moment itu sampai kapanpun."
Tanpa bertanya lebih detail, satu rencana indah baru saja muncul di dalam benak Bian. Setelah menyadari jika Nindy selalu memberikan ide-ide menarik untuknya, Bian pun langsung memeluk tubuh wanita itu dengan sangat erat sambil mengucapkan terima kasih. Barulah setelahnya ia bergegas ke kamar mandi karena hari sudah semakin sore.
Nindy hanya bisa menggeleng setelah menyadari bahwa cinta mampu mengubah putranya 180 derajat.
***
Berjanji akan ikut mengantar Bian ke stasiun pagi hari ini membuat Luna bangun lebih awal untuk bersiap. Dan seperti biasa, sebelum matahari terbit, ia sudah lebih dulu membuka jendela kamarnya lebar-lebar.
Tak lama kemudian pintu kamar diketuk seseorang, "Luna.." suara Bimo terdengar di luar sana.
Dengan sigap Luna membukakan pintu dan betapa herannya ia saat melihat sang ayah datang sambil membawa penutup mata berwarna merah muda yang sering ia gunakan saat tidur di tangan dan langsung mintanya untuk mengenakannya kembali.
"Tapi untuk apa, Pak? Luna kan sudah bangun."
"Sudah, pakai saja." Ucap Bimo sambil tersenyum.
Tidak ingin menolak permintaan pria yang paling ia sayangi ini, Luna pun akhirnya menuruti untuk mengenakan penutup mata miliknya kembali.
Dan saat matanya sudah tertutup—tidak lagi bisa melihat sekitar, jemari besar Bimo mulai menggenggam tangan Luna dan kemudian menuntunnya untuk ikut berjalan keluar dari kamar.
"Tapi, Pak.. Luna mau dibawa kemana?"
"Luna kan belum lihat matahari terbit pagi ini."
Bimo tidak menyahut, pria itu justru menuntun tangan Luna hingga ke luar rumah. Ia bisa mengetahuinya karena mereka baru saja menuruni 4 anak tangga yang berada di teras.
Hingga akhirnya langkah mereka terhenti. Telinga Luna mendengar suara mesin mobil tepat di depan tempatnya berdiri saat ini.
"Mobil siapa itu, Pak?" Tanya Luna penasaran. Merasa jika sang ayah sudah tidak lagi memegangi tangannya, Luna pun hendak membuka penutup matanya dan pada saat itu juga terdengar suara Bian.
"Kumohon jangan buka penutup mata itu sebelum aku mengizinkannya, Luna." Pinta Bian berusaha menghentikan apa yang hendak ia lakukan.
"M-mas Bian??" Tanyanya bingung. Kenapa pagi-pagi sekali Bian sudah ada di rumahnya? Padahal pria itu memintanya untuk ikut ke stasiun di pukul 8 pagi.
"Iya, ini aku. Kamu ndak perlu takut, ya. Walaupun kita hanya akan pergi berdua, aku janji ndak akan macem-macem sama kamu. Aku juga sudah izin sama bapak sebelumnya."
"Kamu percaya sama aku, 'kan?" Bian kembali bertanya setelah melihat belum ada respon yang Luna berikan.
Akhirnya Luna pun mengangguk.
Kemudian telinganya kembali mendengar jika Bian berpamitan pada ayah ya dan juga Jaka yang ternyata ada diantara mereka bertiga.
"Hati-hati di jalan, bro. Jaga baik-baik Non Lunaku."
"Itu pasti, Jak. Kami pergi dulu, assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam." Jawab Bimo dan Jaka secara bergantian.
Tepat setelah itu, Bimo kembali menuntun tangan Luna untuk masuk ke dalam mobil. "Hati-hati ya, nak." Pesan pria itu padanya dan juga Bian.
Barulah setelahnya mobil yang dikendarai Bian mulai berjalan entah kemana, Luna sama sekali tidak mengetahuinya. Ia hanya terus berdoa di dalam hati agar perjalanan mereka diberikan perlindungan.
***
Sudah lebih dari 30 menit berlalu, Luna ketakutan akan melewatkan matahari terbit di sabtu pagi ini. Namun saat ketakutannya semakin terasa, tiba-tiba saja Bian menghentikan mobilnya sambil berkata, "kita sudah sampai."
"Sebenarnya kita dimana, Mas? Kenapa kamu tidak memberitahuku?"
"Kalau diberitahu namanya bukan kejutan." Sahut Bian jujur.
"Jadi, ini kejutan? Tapi aku kan sedang tidak berulang tahun."
Tawa Bian sedikit terdengar, "Luna, kejutan kan tidak selalu diberikan pada orang yang berulang tahun."
"Lantas ini kejutan apa?"
"Sabar ya, Luna. Sebentar lagi kamu akan mengetahuinya." Ucap Bian dengan suara yang semakin mengecil. Sepertinya pria itu baru saja turun dari mobil.
Dan benar saja, Bian baru saja membuka pintu mobil yang berada di sisi kiri—tempatnya berada—dan pria itu juga memintanya untuk turun.
"Jangan takut, Luna. Itu hanya pasir." Jelas Bian yang justru menambah rasa penasaran Luna saat ini.
Ia merasakan pasir halus yang nampak seperti pasir pantai terinjak sepatu sandal yang ia kenakan. "Apa kita berada di pantai saat ini, Mas?" Tanyanya menebak karena udara yang berhembus cukup kencang dari tempatnya berdiri.
Bian tidak menjawab pertanyaannya, pria itu justru menghitung mundur waktu, "10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. 3.. 2.. 1.."
"Kamu bisa buka penutup matamu sekarang juga, Luna."
"Benarkah?!"
"Ya, lakukan sesegera mungkin. Jangan sampai kamu melewatinya."
Tangan Luna mulai bergerak ke arah kepala dan tanpa aba-aba ia langsung menarik penutup mata itu. Rasa terkejut Luna hampir membuatnya tidak percaya jika hal ini benar-benar nyata.
Hamparan pantai dengan pasir putih yang tergulung ombak serta pemandangan matahari terbit yang ia khawatirkan sejak tadi dapat ia saksikan dengan jelas saat ini.
Luna berdiri di tepian bangunan berbahan dasar kayu yang terdapat pagar sambil menikmati semilir angin yang berhembus. Ia menoleh ke sebelah kiri saat seorang pria yang sengaja datang ke rumahnya pagi-pagi buta hanya untuk mengajaknya melihat hal seindah ini, berdiri tepat di sampingnya.
"Mas Bian, apa ini kejutan yang mas maksud?"
Bian tidak menyahut, matanya terus fokus melihat sinaran marahari di pukul 05.10 WIB yang berada di hadapan mereka berdua.
"Ndak salah kalau kamu suka matahari pagi. Karena itu memang cantik. Sama cantiknya kayak kamu."
Mendengar pernyataan semacam itu keluar dari mulut Bian tentu saja membuat Luna salah tingkah. Bagaimana tidak, baru saja 2 hari lalu ia memberitahu alasannya terobsesi pada matahari. Tepat di hari ini, Bian benar-benar mengajaknya untuk menyaksikan hal itu bersama-sama di pantai yang sangat indah.
"Terima kasih, Mas. Ini indah dan aku sangat menyukainya."
"Jangan lupa juga untuk bilang terima kasih sama mama, karena mama yang sarankan ide ini ke aku."
Luna hanya bisa tersenyum kagum. Nindy benar-benar sosok ibu yang hampir sama seperti almarhumah ibunya. Penyayang, lemah lembut dan tentu saja kreatif. Ia merasa sangat beruntung karena selain bertemu dengan pria sebaik Sabian, ia juga bertemu dengan sosok ibu yang bisa mengobati kerinduannya pada mendiang ibunya.
Terima kasih, Mama Nindy.