Berjalan ke beberapa ruangan untuk mencari keberadaan Jaka yang berniat menemui sang ayah dengan maksud menyambungkan sambungan telepon dari Bian yang izin mengajaknya pergi hari ini, membuat dahi Luna berkeringat di pagi hari. Bukan karena kelelahan, melainkan ia merasa gugup sebab Jaka tidak memberitahu lebih dulu jika sambungan telepon antaranya dan Bian sudah terhubung sejak tadi.
Luna langsung merutuki dirinya setelah mengingat bagaimana caranya bercerita tentang masa kecilnya bersama Jaka dan juga simbok tanpa titik koma, sebagaimana semua moment itu sangat berharga jadi ia tidak ingin ada satu perkarapun yang terlewatkan. Tak hanya itu, Luna pun sempat tertawa terbahak saat mengingat betapa ilfilnya Jaka terhadap kotoran kerbau. Padahal, ia yang perempuan saja, tidak segan untuk melakukannya. Sebagaimana sang ibu yang merupakan pecinta binatang sesekali mengajaknya datang ke peternakan. Baik peternakan ayam, sapi, domba, maupun kerbau. Jadi, kalaupun ia mendapat hukuman yang simbok berikan pada Jaka, ia akan menganggap jika hal itu adalah makanan sehari-harinya.
Sebagaimana seorang gadis selalu berusaha untuk menjaga image baiknya di hadapan laki-laki yang mereka suka, Lunara pun ingin melakukan hal yang sama. Terlebih, Bian merupakan laki-laki pertama yang membuatnya jatuh. Lebih tepatnya jatuh cinta.
Namun karena ulah jahil Jaka, ia benar gagak untuk menjaga image baik itu.
"Aaa~" ucapnya sedikit berteriak sambil menggerak-gerakan kaki kesal. Meski ia tahu semua itu tidak bisa diperbaiki lagi.
"Terserahlah bagaimana anggapan Mas Bian tentangku. Bukankah laki-laki baik akan menerima seorang gadis dari sisi baik maupun buruknya?"
"Ya, itu benar. Dan semoga saja, Mas Bian termasuk laki-laki seperti itu."
Tak lama kemudian, telinga Luna mendengar suara Jaka. Sontak ia pun langsung berlari ke sumber suara.
"Jadi nak Bian mau ajak Luna pergi ditemani Jaka, begitu?"
"Betul, Pak. Itupun.. kalau bapak beri izin."
Luna berdiri di ambang pintu gudang tempat menyimpan beras, melihat ponsel milik Jaka sedang berada di genggaman sang ayah dengan posisi menghadap wajah, yang berarti mereka sedang melakukan panggilan video.
Pada saat yang bersamaan, Bimo menyadari kehadirannya, dan pria itu langsung memberi lambaian tangan, meminta Luna untuk duduk di sebelahnya.
Demi menuruti permintaan sang ayah meski sedang merasa malu akibat ulah cerobohnya, Luna pun ikut andil dalam panggilan video tersebut.
"Nah, nak Bian. Ini Luna. Coba sekarang kamu tanya, Luna setuju ndak untuk pergi hari ini sama kamu."
Baik Luna maupun Bian keduanya nampak malu-malu saat saling bertatapan melalui panggilan video. Meski begitu, Bian yang memang menelepon untuk meminta izin pun kembali melontarkan pertanyaan yang hampir sama seperti yang Jaka tanyakan sebelumnya.
"Jadi, bagaimana, Luna? Apa kamu mau pergi sama aku hari ini?" Tanya Bian sedikit malu-malu membuat Bimo dan Jaka saling bertukar senyum.
"Ditemani Jaka, kok." Tambahnya lagi.
Luna belum memberi jawaban, ia ragu karena belum pernah melakukan hal ini sebelumnya.
Hingga akhirnya Bimo yang nampak gemas pun memilih untuk mewakili apa yang menjadi jawaban Luna meskipun putrinya itu belum mengatakan setuju atau tidak. Sebagaimana telah Jaka sampaikan, Luna diam adalah tanda bahwa ia setuju, dan jika tidak setuju maka ia akan memberi komentar.
Karena sejak tadi Luna masih tetap diam, maka jawaban yang tepat adalah ia setuju untuk pergi bersama Bian hari ini.
"Sampai bertemu nanti, nak Bian. Salam dari Lunara." Ucap Bimo sambil tersenyum seraya melambaikan tangan membuat Luna langsung menolehkan wajahnya.
"Bapak.." Bisiknya pelan.
"Terima kasih, Pak. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam." Sahut Bimo sebelum ponsel yang ia genggam dikembalikan pada pemiliknya.
Setelah sempat mendengar putrinya berbisik saat ia menyampaikan salam, Bimo pun tertawa. "Luna.. Luna.. Kamu itu ndak jauh beda sama ibu."
"Ditanya, diam. Diajak pergi, malu-malu. Tapi sebenarnya mau."
"Jodoh itu memang ada di tangan Allah SWT dan memang Allah SWT sudah menentukannya jauh sebelum kita lahir. Tapi, bukan berarti kita tidak melakukan usaha untuk mendapatkannya."
"Bapak lihat, Bian juga malu-malu saat menyampaikan ke bapak bahwa dia suka sama Luna. Sama seperti tadi, dia malu dan ragu minta izin ke bapak untuk ajak Luna pergi. Tapi itu usaha Bian yang harus kita hargai dan pada akhirnya membuahkan hasil."
"Loh kalau Luna setiap di tanya diam, diajak malu-malu.. nanti yang ada di pikiran Bian, Luna ndak suka sama dia."
Menyadari nasihat bapaknya yang tentu saja benar, Luna pun langsung mengangkat kepalanya setelah sempat menunduk.
"Bapak tahu, ini kali pertama bagi Luna dekat dengan laki-laki selain Jaka. Tapi bapak juga harus dorong Luna untuk berusaha melakukan apa yang seharusnya dilakukan."
"Kalau Bian tanya, jawab apa yang menjadi keputusan Luna dan kalaupun Luna benar-benar ragu untuk menjawabnya, bapak akan bantu kasih saran. Jangan takut untuk ceritakan apapun tentang Bian ke bapak."
"Bapak yakin, kalau Bian dan Luna sama-sama berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam hal apapun itu, pasti hubungan ini akan berhasil sebagaimana rencana Bian beberapa tahun kedepan."
Pesan semacam ini tentu saja sangat berharga bagi Luna. Ia yang sebelumnya merasa malu dan ragu setiap kali bertemu dengan Bian, bahkan terkadang tidak bisa mengontrol emosinya hanya karena gugup, akan berusaha untuk memperbaiki semuanya sebaik mungkin. Seperti apa yang Bimo amanahkan. Dan insyaaAllah, keinginan yang sama-sama mereka berdua rencanakan di kemudian hari akan terwujud. Aamiin.. Gumam Luna dalam hati seraya menganggukkan kepala.
Bimo yang menyadari jika putrinya baru saja mengerti apa makna dari sebuah hubungan pun langsung memberikan pelukan hangatnya. Sambil terus memanjatkan doa di dalam hati, sama seperti saat Abiyan—putra sulungnya—dan Silvi masih pendekatan dulu.
***
Memijaki salah satu tempat wisata yang berada di sisi barat Daerah Istimewa Yogyakarta yakni Kulon Progo, Desa Kalibiru, kedua pasang mata Luna menoleh kesana lemari melihat pemandangan yang sangat indah di hadapannya. Lokasi yang memiliki ketinggian sekitar 450 meter di atas permukaan laut ini berupa wisata hutan kemasyarakatan.
Beberapa pemandangan yang dapat disuguhkan secara cuma-cuma diantaranya adalah deretan perbukitan Menoreh, debur ombak pantai selatan yang semakin terlihat jelas saat langit sedang cerah, serta beberapa objek lain yang enggan untuk dilupakan.
Meski sebelumnya sempat datang kemari bersama beberapa teman dekatnya di kelas, Luna sama sekali tidak bosan untuk datang kemari lagi. Terlebih kali ini bersama seseorang yang spesial.
"Non Luna haus ndak? Jaka belikan non Luna es kelapa disana, ya?" Tanya Jaka sambil menunjuk beberapa warung yang menjajakan makanan dan minuman untuk para pengunjung.
"Jangan lupa, Jak—"
"Jangan lupa belikan untuk Bian juga, 'kan?"
Luna mengangguk.
Setelah datang kemari dan melihat-lihat, Bian diminta kembali ke mobil oleh tukang parkir untuk memindahkan mobilnya agar tidak berada di posisi yang panas seperti sebelumnya. Dan, pria itupun baru saja kembali.
"Maaf ya, jadi menunggu."
"Enggak apa-apa, Mas."
"Uhm, Jaka kemana?" Tanya Bian usai menyadari temannya menghilang.
"Itu disana. Jaka mau pesenin es kelapa untuk kita bertiga."
"Mas Bian suka es kelapa, 'kan?" Tanya Luna memastikan. Takut jika minuman semacam itu bukanlah selera Bian.
"Suka, dong. Apalagi minumnya di jam-jam seperti ini."
Luna tidak menyahuti ucapan Bian, ia justru melihat ke arah matahari yang separuh bagiannya tertutup awan.
Mengerti jika melihat ke arah matahari adalah hal yang paling menyilaukan, dengan sigap Bian pun meletakkan kedua telapak tangannya untuk menghalangi sinar matahari agar tidak langsung mengenai pandangan Luna.
"Ayo, kita cari tempat yang lebih teduh. Disini terlalu panas." Ajak Bian karena mereka berdua berdiri di atas tanah rumput yang tidak terdapat pepohonan di atasnya.
"Tenang saja, Bian. Non Lunaku itu fans beratnya matahari." Ucap Jaka tiba-tiba usai kembali dari warung untuk memesan es kelapa.
Mendengar hal semacam itu Bian pun langsung menoleh dengan kedua alisnya yang menyatu, kemudian pandangannya tertuju pada Luna. "Apa itu benar, Luna?" Tanyanya yang nampak heran.
Luna hanya bisa tersenyum sambil kembali melihat matahari yang sudah berada hampir di atas kepalanya.
Mereka bertiga pun mulai berjalan melewati rerumputan untuk mencari tempat bersantai sebelum mulai mencari spot foto yang bagus untuk diabadikan.
Jaka yang berjalan tepat di belakang Bian pun kembali melanjutkan kalimatnya. "Setiap pagi sehabis sholat shubuh, Non Luna pasti buka jendela kamarnya untuk lihat matahari terbit."
"Kenapa matahari objek yang kamu pilih untuk kamu sukai, Luna?" Tanya Bian pemasaran.
"Karena bapak selalu bilang kalau mata aku mirip almarhum ibu setiap kali terkena sinaran matahari." Sahut Luna sambil sesekali memegang dedaunan yang berada di sisi kanan kirinya.
"Cukup menarik. Kamu buat bapak ndak pernah kehilangan sosok istrinya."
"Dibanding bapak, akulah orang yang sangat terpukul dengan kepergian ibu. Kurasa.. itu wajar, karena anak perempuan akan merasa bahwa sosok ibu adalah orang yang mengerti mereka. Tapi, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan kesedihan yang mungkin akan membuat bapak ikut merasakannya juga."
"Sampai akhirnya aku ingat perkataan bapak mengenai mataku, matahari dan juga mata ibu. Terbiasa melakukannya hampir setiap hari membuatku benar-benar menyukai matahari, entah terbit, terik maupun terbenam."
"Memang sedikit aneh, tapi—"
"Sama sekali tidak. Justru itulah keistimewaanmu." Bantah Bian setelah sempat memotong pembicaraan Luna.
Luna pun menoleh ke belakang, tempat dimana Bian berada. "Oh ya? Tapi tidak semua orang bisa beranggapan seperti kamu loh, Mas."
"Biarkan saja, kalau memang kamu menyukainya, maka jadikanlah hal itu sebagai keistimewaanmu. Jangan pedulikan orang lain yang menganggapmu berbeda apalagi sampai menyebut itu aneh."
"Karena hal itulah yang justru mengurangi kecintaan kita pada sesuatu hal yang sangat menarik."
"Benar begitu, 'kan, Jaka?" Tanya Bian lagi pada teman baiknya yang mengekor di belakang.
"Benar sekali. Rupanya, Bian punya keahlian baru selain menjadi dokter dan juga mekanik yang handal."
"Apa itu??" Tanya Bian penasaran.
"Penasihat yang handal."
Mendengar julukan yang baru saja Jaka lontarkan membuat Luna dan juga Bian sedikit menyunggingkan senyum.
Sambil berpikir jika itu bukanlah julukan baru yang buruk untuknya, Bian pun mengangguk setuju. "Sepertinya, boleh juga. "
Lunara yang berada di baris paling depan pun hanya bisa menggeleng mendengar bahasan kedua teman baik ini. Ia juga senang, setelah mengetahui jika Bian sama sekali tidak menganggapnya aneh karena menyukai matahari. Justru sebaliknya, pria itu memberinya dukungan untuk terus mengagumi hal tersebut tanpa pedulikan pendapat orang lain.
Setelah matahari, apa mungkin aku akan mengagumi sikap baiknya juga? Entahlah, aku hanya masih perlu banyak mengetahui tentangnya. Gumam Luna dalam hati dan setelahnya kembali tersenyum.