Malam sudah tiba, mata Lunara menatap ke arah jendela memandangi pencahayaan rumah-rumah di sekelilingnya yang sudah ada perubahan. Ia ingat sekali waktu usianya masih 5 tahun, orang-orang sekitar masih banyak yang menggunakan petromak. Dan tentu saja itu membuat pencahayaan sangat minim, namun kini tidak lagi.
Ditemani suara jangkrik yang bersahut-sahutan, Luna terus mengaduk secangkir s**u jahe buatannya sambil melamun. Hingga ingatan tentang pembicaraan sang ayah dan Bian tadi siang kembali menghantui.
Meski berada di dalam kamar dan hanya menyisakan sedikit saja celah pintu terbuka, Luna tetap bisa mendengar semua yang Bian katakan pada ayahnya.
Bian berkata bahwa ia menyukainya dan berniat serius padanya. Tidak mungkin jika Luna tidak senang saat mendengarnya, terlebih dirinya pun merasakan hal yang sama. Namun, ada beberapa hal yang membuat Luna khawatir akan hubungan ini.
Bian mengatakan jika ia tidak bisa melaksanakan segala sesuatunya dalam waktu dekat. Hal pertama yang menjadi alasannya adalah, kedua orang tuanya sudah merencanakan perpindahan mereka ke Jakarta tepat setelah ia lulus sarjana. Ayah Bian yang merupakan seorang nahkoda kapal, seringkali pergi agak lama dan membuat anak istrinya kesepian di rumah pun berniat membuat jarak rumah mereka dengan sanak saudara lebih dekat agar mudah untuk saling berkunjung. Tak hanya itu, Bian juga berencana untuk mencari pekerjaan lebih dulu agar uang yang selama ini ia tabung bisa bertambah, setidaknya cukup untuk apapun yang ia butuhkan di kemudian hari.
Tidak perlu bertanya Lunara pun mengerti jika menikah bukan hanya memerlukan kesiapan mental dan juga batin, melainkan finansial. Bahkan bukan hanya Sabian, ia pun akan melakukan yang sama setelah lulus sarjana nanti. Mencari pekerjaan yang tentu saja sejalan dengan kemampuan yang ia miliki.
Tapi tunggu, bagaimana dengannya? Apa Bian tidak berpikir lebih dulu kalau apa yang ia sampaikan dan apa yang akan terjadi sebentar lagi justru membuat Luna merasa di gantungkan? Terlebih LDR—long distance relationship—bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dijalani dan Luna pun memegang teguh prinsip untuk tidak berharap pada seseorang yang belum mengikatnya secara resmi.
Memang, sebagai wanita kita tidak bisa memaksakan pria yang kita suka dan juga menyukai kita untuk melakukan hal itu sesegera mungkin karena pasti mereka memiliki alasannya sendiri—seperti Bian. Entah menabung lebih dulu atau hal lain. Tapi, bagaimana mereka bisa tahu rasanya menunggu tanpa kepastian itu agak sulit untuk dilakukan?
Luna menghentikan pergerakan sendok yang sempat ia gunakan untuk mengaduk s**u jahe pada gelas bening berukuran sedang itu. Ia meletakkan sendok di dalam wastafel lalu berjalan ke arah meja makan dan meneguk perlahan s**u jahe hangatnya.
Lamunan Luna terhenti saat Bimo tiba-tiba saja datang dan langsung bertanya, "nak, belum tidur?"
Luna lebih dulu meletakkan gelas di atas meja lalu menoleh pada sang ayah sambil tersenyum. "Belum, Pak."
"Apa yang kamu pikirkan?"
Tidak ingin menambah pikiran sang ayah, Luna langsung menggeleng, "ndak ada, Pak. Hanya pikirkan tugas kuliah aja kok."
Bimo yang menangkap adanya kebohongan dari gelagat putri bungsunya langsung bertanya, "apa tentang perbincangan bapak dan Bian tadi siang?"
Mata Luna meredup, ia tidak bisa bersembunyi dan menutupinya lagi karena sang ayah sepertinya sudah tahu lebih dulu apa yang sedang ia pikirkan. "Iya, Pak." Jawab Luna pada akhirnya.
"Luna, harus diakui, ini memang kali pertama bagi bapak bertemu dengan Nak Bian. Bapak juga belum bisa mengambil kesimpulan bahwa Bian adalah orang yang tempat untuk Luna atau bukan. Tapi entah kenapa, bapak menyimpan kepercayaan yang besar padanya. Bukan hanya karena cerita Jaka yang terus membahas kebaikan Bian saja, tapi juga karena bapak menyadari keseriusannya saat mengatakan hal itu." Ucap Bimo sesaat setelah duduk hingga posisi mereka berdua kini saling berhadapan.
"Luna juga percaya, Pak. Tapi.. apa bisa Luna tunggu sampai dia kembali tanpa ada kabar sedikitpun?"
Bimo memperbaiki posisi duduknya sambil sedikit menyunggingkan senyuman. "Nak, sampai kapanpun kita tidak akan tahu jawabannya sebelum benar-benar dijalani."
Luna mencerna baik-baik apa yang baru saja dikatakan oleh Bimo. Setelah menyadari masih terdapat banyak keraguan yang tersimpan di dalam dirinya, Luna pun kembali bertanya.
"Seandainya bapak ada di posisi Luna, apa yang akan bapak lakukan?" Tanyanya sambil menatap mata Bimo lekat-lekat, berusaha menemukan jawaban yang belum ia temukan sejak tadi.
"Bapak akan minta doa dari orang tua agar mendapatkan akhir yang bahagia dari penantian yang mungkin akan terasa sangat lama."
Mendengar nasihat seperti itu, Luna langsung menggenggam erat tangan sang ayah sambil menundukkan kepala, "kalau begitu, tolong doakan Luna dan Bian agar dapat akhir bahagia seperti yang bapak katakan, ya? Bapak bersedia untuk melakukannya, 'kan?"
"Pasti, Nduk. Pasti bapak akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Karena bapak juga pernah merasakan berada di posisi Luna saat ini."
"Luna ndak perlu khawatir, ya? Lagipula, kalaupun nanti Luna ndak bisa tukar kabar sama Bian, kan ada Jaka yang bisa sampaikan keadaan Bian di Jakarta. Betul, toh?"
Luna mengangguk, ia baru teringat akan hal itu. Meski sudah mendapatkan dukungan dari sang ayah, bukan berarti kecemasan Luna menghilang begitu saja. Ia masih tetap merasakannya, akan terus merasakannya dan mungkin baru akan merasa tenang saat Bian sudah kembali ke Jogja untuk kemudian membuktikan keseriusannya.
***
Hari demi hari terus berlalu. Lunara semakin mengenal siapa dan bagaimana sosok Bian berkat informasi yang sesekali Jaka sampaikan padanya. Bisa dibilang, pria itu sebagai perantara yang menjembatani hubungannya dengan Bian karena mereka berdua tidak saling bertukar kabar baik melalui telepon, SMS, ataupun menggunakan sosial media lainnya.
Belum lama ini keluarga Bian datang ke rumah Luna untuk menyampaikan maksud dan tujuan yang sebelumnya sudah disampaikan oleh putranya. Luna merasa senang, karena baik Irfan maupun Nindy keduanya sangat ramah dan juga menerimanya dengan baik.
Hingga hari kelulusan Bian dan Jaka pun tiba. Lunara yang memang tidak satu angkatan dengan mereka hanya bisa menghadiri acara kelulusan itu karena diminta langsung oleh Nindy.
Terik matahari siang hari ini membuat Luna sedikit memicingkan mata sambil menghalanginya menggunakan tangan untuk mengurangi silau. Tiba-tiba Bian yang sebelumnya sedang berbincang dengan Irfan langsung menghampirinya untuk memperlihatkan sesuatu.
"Luna, lihatlah. Belum lama ini aku beli dua topi yang sama untuk kita berdua. Merah muda untukmu dan hitam untukku."
"Kau boleh memakainya ataupun tidak karena aku tahu, tidak semua perempuan suka pakai topi. Setidaknya, simpanlah topi yang kuberikan ini sebagai kenang-kenangan."
Sebelum menerimanya, Luna lebih dulu melihat inisial yang terdapat di bagian depan kedua topi tersebut. B untuk Bian dan L untuk Lunara.
"Kau pasti tidak suka ya karena ada inisial namaku disana?" Tanya Bian ragu saat menyadari mata Luna masih terpaku pada inisial B di topi merah muda miliknya.
Merasa tidak enak telah membuat Bian salah faham, Luna pun menggeleng, "uhm, ini tidak seperti yang kau kira.. tentu saja aku menyukainya." Tangannya pun terulur untuk menerima topi pemberian Bian. Kemudian ia kembali bertanya, "apa aku boleh mengenakannya sekarang?"
"Tentu saja." Sahut Bian pasti, "jangan lupa juga tunjukan pada mama, karena ia yang memberikan ide ini padaku."
Baru mengetahui jika Nindy adalah seorang ibu yang kekinian—berkat ide yang wanita itu salurkan pada putranya—Lunara sedikit terkejut sekaligus senang. "Benarkah?!"
"Kalau begitu aku akan menunjukan padanya sekarang juga." Tambah Luna yang langsung berjalan ke arah dimana Nindy berada.
Wanita dengan hijab segi empat berwarna hijau tua itu sedang berdiri di bawah pepohonan yang rindang, menunggu Sabian menyelesaikan sesi foto bersama teman-teman satu angkatannya. Ia langsung menutup mulut menggunakan kedua tangan saat melihat Luna berjalan ke arahnya sambil mengenakan topi.
"MasyaaAllah, Luna.."
Melihat kebahagiaan yang wanita itu pancarkan, Lunara pun ikut tersenyum senang. Bahkan sesekali ia memutar tubuhnya agar Nindy bisa melihat ia mengenakan topi itu dari segala arah.
"Apa Luna suka dengan topinya?" Tanya Nindy dengan Bahasa Indonesia yang sangat jelas, sebagaimana wanita kelahiran Jakarta ini merupakan mahasiswi lulusan fakultas sastra Indonesia terbaik pada masanya.
Luna mengangguk yakin, "ini sangat bagus, aku menyukainya."
Usai mendengarnya berkata seperti itu, Nindy pun mengusap kepalanya pelan sambil menjelaskan lebih detail mengenai asal muasal terciptanya ide topi ini.
"Seperti yang Luna tahu, Bian sangat suka mengenakan topi. Jadi mama kasih saran untuk belikan Luna topi dengan warna berbeda. Kalau untuk inisial.. Bian sempat minta saran sama mama. Karena mama pikir itu bukanlah sesuatu yang buruk, akhirnya kami setuju untuk menambahkannya."
"Terima kasih, Mama Nindy."
***
Sepulangnya dari acara wisuda dan berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran (S.Ked) dengan predikat cumlaude, Bian harus merapikan sisa-sisa barang yang kemarin belum sempat ia packing karena tepat tiga hari kedepan yang berarti hari sabtu adalah hari dimana ia harus meninggalkan kota yang menjadi tempat kelahirannya, Yogyakarta. Mata Bian menoleh kesana kemari melihat beberapa kotak yang sudah di tutup rapi dan akan di bawa pergi. Tiba-tiba ingatannya tertuju pada Luna.
Sempat terpikirkan olehnya untuk membiarkan seluruh keluarga pergi dan meninggalkannya yang masih ingin menetap di Yogyakarta. Tapi ia belum punya bekal sebanyak itu untuk hidup seorang diri. Bian masih harus menyelesaikan program profesi atau istilahnya menjadi seorang koas (Tahapan koas ini dilaksanakan di Rumah Sakit pendidikan dengan kurun waktu minimal 1,5 tahun) untuk mendapat gelar (dr.). Program koas ini merupakan tahap pengaplikasian ilmu kedokteran kepada pasien sebenarnya yang telah dipelajari selama program perkuliahan kedokteran. Tak hanya itu saja, mungkin masih banyak ujian-ujian lain yang harus ia lalui sebelum benar-benar mendapatkan izin praktek di sebuah Rumah Sakit.
Karena proses panjang itu masih menunggunya di masa depan, akhirnya Bian membiarkan semua berjalan tanpa adanya ikatan yang membuat Luna berharap terlalu besar padanya. Bukan tidak peduli apalagi tidak menaruh hati, tapi jika suatu hari kesuksesan sudah berhasil ia genggam erat di tangan, hal itu pula yang akan ia bawa kembali ke Jogja untuk membuktikan pada Luna bahwa ucapannya bukanlah harapan semata.
Bian menghembuskan napasnya pelan. Pergerakan matanya terhenti saat melihat kotak kecil berwarna putih yang berada tepat di baris paling atas meja belajarnya. Ia pun bangkit dari kursi lalu berjalan untuk meraih kotak itu. Beberapa hadiah kecil, foto dan juga kenang-kenangannya bersama seseorang tersimpan rapi di dalam sana. Bian kembali menutup kotak itu dan meletakkannya di tempat semula. "Aku akan selalu membawa kotak ini beserta isinya kemanapun aku pergi. Aku berjanji."
"Maafkan aku, Luna. Aku belum menceritakan hal ini padamu. Mungkin suatu hari nanti. Entah kapan, aku belum bisa memastikannya.." Lirihnya sambil melangkah keluar dari dalam kamar.
***
Seperti biasa, pagi usai melaksanakan sholat shubuh, Luna membuka lebar kedua sisi jendela kamarnya sambil menghadap ke arah timur rumah yang berarti tempat matahari terbit. Disana terdapat beberapa pohon buah serta kandang ayam milik tetangga dan juga pemandangan gunung yang masih tertutup kabut. Hawa dingin menyusup ke dalam pori-pori membuat Luna mengusap kedua lengannya yang tertutup cardigan.
Pukul 05.00 WIB, waktu yang tepat bagi Lunara untuk memejamkan kedua matanya. Menikmati sejuknya udara, kicauan burung peliharaan sang ayah, serta aroma khas embun yang menempel di dedaunan dan juga tanah.
Tidak ingin kehilangan kesempatan melihat matahari pagi yang menjadi kesukaannya, Luna pun kembali membuka mata. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang pria berdiri persis di depan jendela kamar sambil memasang wajah bahagia.
"Astaghfirullah, Jaka..!" Teriak Luna sambil memegangi dadanya. Bagaimana tidak terkejut jika kegiatan yang rutin ia lakukan setiap pagi ini justru terdapat gangguan dari seseorang.
"Astaghfirullah, Non Luna. Kenapa? Kaget?"
"Segini aku sudah pasang muka paling ganteng, apalagi aku pasang muka nyeremin. Mungkin Non Luna sudah pingsan."
Mendengar pernyataan semacam itu, sontak Luna memijat pelipisnya, "kenapa Pak Hardi dan Bu Nani yang pendiam harus punya anak jahil macem kamu, Jak?"
"Nah, itulah istimewanya, Non. Sejak aku lahir, bapak dan ibu jadi banyak berubah. Salah satunya ya.. ndak terlalu pendiam kayak dulu."
"Ih, memangnya kamu tahu, bedanya sikap orang tuamu sebelum dan sesudah kamu lahir?"
"Uhm, enggak sih. Tapi simbok pernah cerita ke aku."
"Simbokmu yang jago matematika itu?"
"Betul sekali." Sahut Jaka sambil mengacungkan ibu jarinya. "Non Luna masih ingat sosok si mbok ternyata."
"Ingat, dong. Aku kan.. jadi jago matematika berkat ajaran simbok." Jawab Luna kembali mengingat kenangannya saat kecil belajar matematika bersama Jaka ditemani simbok.
"Hebat dong kalo gitu, ilmu simbok nurun ke Non Luna. Mbok yo aku yang cucunya aja bebel banget matematika."
Gantian, setelah sebelumnya Jaka yang tertawa terbahak-bahak, kini giliran Luna yang melakukan hal demikian. Ingatan tentang bagaimana cara simbok menghukum Jaka setiap kali mendapat nilai 20 dalam pelajaran matematika selalu membuatnya geli sendiri. Bagaimana tidak, simbok yang sama sekali tidak memberikan hukuman fisik itu justru meminta cucunya untuk membersikan kotoran kerbau di kandang. Sebenarnya, simbok tahu betul jika Jaka sangat tidak suka pergi ke peternakan, alasannya tidak lain karena Jaka merasa dirinya adalah orang paling steril di dunia.
Jaka takut akan kuman, bakteri dan teman-temannya sejenisnya. Wajar saja jika Pak Bimo membiarkan pria itu untuk kuliah kedokteran, karena moto hidup yang sudah ia tanam sejak kecil adalah bersih dan sehat.
Sambil sesekali menyeka air matanya karena terlalu banyak tertawa, Luna dan Jaka sama-sama saling mengingatkan apa yang pernah mereka berdua lakukan bersama simbok. Baik hal yang menyenangkan maupun hal yang menyebalkan.
Namun tawa Luna justru terhenti saat Jaka mulai bicara serius. "Non Luna—"
"Hari ini.. ndak ada kelas, toh?"
"Uhm, seingatku enggak ada. Memangnya kenapa?"
"Sabian.." Ucap Jaka terhenti membuat Luna merapatkan kedua alisnya.
"Mas Bian kenapa, Jak?" Tanyanya khawatir. Bagaimana tidak, wajah Jaka yang mendadak serius tentu saja membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.
"Dia mau ajak kamu pergi hari ini."
"Huh?!" Respon Luna terkejut. Ia sempat berpikir jika mungkin Bian mengajaknya pergi karena sebentar lagi mereka akan berpisah. Dan mungkin saja, pertemuan ini bisa ia jadikan sebagai kenang-kenangan yang sangat berharga untuk disimpan selama Bian tidak ada di Jogja.
Namun, pergi berdua bersama pria bukanlah hal yang mudah untuk Luna lakukan. Sebagaimana selama ini ia hanya berteman dengan perempuan. Dan kalaupun laki-laki, hanya Jaka seorang.
Menyadari adanya kekhawatiran pada wajah Luna, Jaka pun langsung melanjutkan kalimatnya yang lagi-lagi belum selesai. "Non Luna ndak usah khawatir. Bian minta Jaka ikut juga, kok."
"Benarkah?! Kalau begitu pukul berapa kita pergi?"
"Jaka izin bapaknya Non Luna dulu, ya?"
"Eh, kok kamu yang izin? Bukan Bian?" Tanya Luna heran.
"Maksudnya, Jaka mau sambungkan telepon dari Bian ke Pak Bimo untuk izin ajak Non Luna pergi."
"Telepon? Jadi, dari tadi kamu teleponan sama Mas Bian?" Tanya Luna menyadari ada yang tidak beres disini.
Dan rupanya benar, saat Jaka memperlihatkan layar ponselnya, menit pada sambungan telepon sudah menunjukkan 20 menit 15 detik. Yang berarti sejak tadi Bian mendengar segala hal yang mereka bicarakan.
"Jaka! Cepat matikan telepon itu!" Teriak Luna saat Jaka justru berlalu pergi dari depan jendela dan berniat mencari keberadaan bapaknya.
"Jaka!!! Aku menyesal telah memberikan tumpangan padamu hari itu." Geram Luna seorang diri.