Motor putih dengan ban hitamnya yang sangat mengkilap karena baru di poles menggunakan semir beberapa hari lalu ini menghentikan lajunya di depan sebuah rumah berhalaman luas yang di kelilingi dengan pepohonan rindang. Suara burung lovebird, kakatua dan juga nuri bersahut-sahutan mengiringi langkah kaki wanita bergamis ini menuju pintu utama rumah.
"Assalamu'alaikum.." ucapnya sedikit kencang karena melihat rumahnya benar-benar sepi. Tumben sekali. Gumam Lunara bertanya-tanya dalam hati.
Luna terus melangkahkan kakinya, mencari bapak dan juga para pekerja rumah yang sama sekali tidak terlihat.
Tiba-tiba telinganya mendengar teriakan, "ayo turun, Pak. Bahaya Pak naik-naik pohon. Biar anak saya Jaka saja yang naik."
Bapak?! Apa yang terjadi di belakang sana sampai harus ada yang berteriak-teriak seperti itu?
Lunara langsung bergegas lari menuju halaman belakang untuk memastikannya.
Saat sudah menginjakkan kaki disana, mata Luna terbelalak kaget sebab Bimo—bapaknya—sedang berada di atas pohon.
"YaAllah.. Bapak. Turun, Pak! Bahaya." Teriak Luna dengan nada memohon Ia tidak tidak ingin ada hal buruk yang menimpa sang ayah.
Sstt..
"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Luna lagi penasaran. Tepat setelah itu, ia menyadari jika Jaka tidak memaksa ayahnya untuk turun dari pohon, melainkan pria itu ikut melihat ke arah yang sama dengan Bimo.
"Jaka, katakan ada apa? Bapakku naik ke atas pohon, kenapa kamu diam saja?"
Sstt.. Baik Bimo dan Jaka keduanya kompak meminta Luna untuk diam sambil menempatkan telunjuk di ujung bibir.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Luna dari arah belakang dan membuatnya sedikit kaget, "dari tadi juga sudah ibu kasih tau, tapi Pak Bimo dan Jaka bilang 'sstt'. Sama seperti ngomong ke Non Luna." Bu Nani—ibu Jaka—memberi penjelasan.
"Itu loh, Non.. sebabnya bapak naik ke atas pohon." Nani menunjuk seekor burung lovebird berwarna violet bernama Pugu yang sedang berusaha Pak Bimo tangkap—karena kebetulan keluar dari sarangnya. Pugu merupakan nama yang di berikan oleh Bimo sesuai dengan warna burung tersebut yakni putih dan ungu.
Luna hanya bisa tersenyum sambil menggeleng. "Biarin aja lepas, Pak. Kasian burungnya di dalam sangkar terus." Kemudian ia pun tertawa.
Ucapan Luna bagaikan doa di sore hari yang langsung terkabul meski tanpa mengucapkan aamiin. Pugu terbang menjauh dari tempatnya semula dan tidak terlihat lagi.
"Tuh, 'kan.. kabur." Teriak Jaka menyiratkan kekecewaan yang sangat mendalam. Seolah kepergian Pugu adalah hal yang sangat tidak ia inginkan olehnya.
"Pugu bosan pak di sangkar terus. Dia juga mau lihat alam bebas dan punya banyak teman."
Pak Bimo pasrah. Ia pun memilih untuk turun dari pohon di bantu oleh Jaka yang menunggu di bawah sambil memegangi tangga kayu.
"Luna, kamu tahu ndak kenapa bapak suka pelihara macam-macam burung?"
Tanya Bimo saat sudah turun dari pohon dan menerima uluran tangan putrinya yang hendak mencium tangan karena baru saja kembali dari kampus.
Luna menggeleng tidak tahu.
"Karena dulu sebelum bapak dan ibu menikah, bapak sering melihat ibu memberi makan burung-burung merpati di dekat sawah. Dan ibumu berkata ia seperti memiliki banyak teman saat burung-burung itu mendekatinya. Karena hal itulah bapak memutuskan untuk memelihara banyak burung di rumah supaya ibumu merasakan hal yang sama."
Bu Nani yang memang sudah tahu akan hal ini hanya bisa mengangguk sambil mengelus bahu Luna. "Ibu Non Luna itu penyayang hewan."
"Benarkah?! Tapi, kenapa sifat itu tidak menurun padaku, ya?"
Bimo tertawa, "tidak semua sifat orang tua menurun pada anaknya, Nak. Tapi ada satu hal yang membuat bapak akan selalu ingat pada ibu setiap kali melihatmu."
"Apa itu, Pak?"
"Matamu."
"Hampir setiap pagi bapak lihat Luna buka jendela untuk lihat sinar matahari. Dan di saat seperti itulah, matamu sangat mirip sekali dengan mata almarhumah Ibumu, Nak."
Luna melirik kesana kemari, juga melihat Pak Hardi—ayah Jaka—yang baru saja tiba.
"Kalau begitu bagus, dong? Tandanya, bapak ndak akan pernah lupain ibu walaupun ibu udah ndak ada disini sama kita semua."
"Ya pasti lah, Nduk. Bapak ndak akan pernah lupain ibumu sampai kapanpun."
Berakhirnya ucapan Bimo menjadi akhir dari bahasan mereka mengenai alasannya memelihara cukup banyak burung di rumah. Hal itu tidak lain tidak bukan karena sang ibu yang ingin selalu memiliki banyak teman di sisinya.
***
Terduduk di sebuah meja belajar yang di atasnya terdapat sebuah jendela yang bisa di buka untuk menatap langit-langit di malam hari, Lunara baru saja ingin menyelesaikan sebuah gambar untuk tugas designnya 2 hari lalu, tiba-tiba—
"Merah muda habis?" ucapnya saat melihat cat airnya yang sudah tidak mengeluarkan satu tetespun.
Ia memerhatikan kembali gambarnya lalu berpikir sejenak, "kupikir kuning bagus juga.." Namun setelah meraih botol cat air berwarna kuning, Luna sudah bisa memastikan jika ini kosong meski hanya menerawangnya menggunakan lampu belajar.
"Kurasa aku harus ke toko alat lukis malam ini juga."
Setelah selesai merapikan kertas gambar agar tidak tercecer, Luna meraih sweater rajut yang ia gantung di dalam lemari untuk di kenakan karena angin malam tentu sangat dingin. Terlebih ia harus mengendarai motor selama 30 menit untuk sampai kembali di rumah.
Namun saat baru saja melangkahkan kakinya keluar kamar sambil membawa kunci motor, Bimo bertanya, "mau kemana, Nduk?"
"Ini, Pak. Cat air Luna habis. Padahal mau selesaikan tugas design untuk dikumpulkan besok."
"Ohh, yasudah hati-hati, ya. Kalau tahu cat airmu habis, tadi bapak titip Jaka belikan. Karena kebetulan Jaka juga lagi keluar."
"Ndak apa-apa, Pak. Luna bisa kok beli sendiri. Luna pamit dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam.."
10 menit kemudian
Tersisa berjarak beberapa meter lagi untuk sampai di toko cat air, Luna merasa ban motornya bergerak kesana-kemari tidak karuan. Wajar saja jika ia mulai berpikiran yang tidak-tidak. "Jangan bilang bannya bocor?"
Guna memastikan apa yang terjadi, Luna menepikan motornya di depan sebuah toko yang sudah tutup. Ia langsung menghela napas panjang sebelum akhirnya tersenyum. "Oke, sekarang waktunya cari bengkel."
Luna berjalan sambil menuntun motornya— mencari bengkel terdekat untuk menambal ban. Tiba-tiba ia merasa silau saat sorotan lampu mobil dari arah belakang yang memantul melalui kaca spion.
"Lunara, 'kan?"
Mendengar namanya di panggil, sontak Luna pun menoleh, "Sabian?" tanyanya memastikan.
"Kenapa motornya?" tanya pria berambut cepak dengan sedikit bulu-bulu halus di sekitar dagu itu.
"Ini.. em, ndak apa-apa kok."
Tadinya, Luna ingin berbohong. Tapi kalau di pikir-pikir tidak berguna juga karena Sabian bisa melihat sendiri apa yang terjadi pada ban motornya.
"Aku tahu bengkel terdekat dari sini," ucapnya pasti, membuat Luna yang sempat kebingungan merasa terbantu.
"Aku akan mengantarmu kesana."
Mata Luna melotot terkejut, ia sama sekali tidak mengenal siapa Sabian dan Luna bukan tipikal orang yang mudah percaya pada siapapun yang baru ia temui.
"Tidak. M-maksudku, katakan saja dimana tempatnya, biar nanti aku yang kesana.. sendiri."
Bian mengerutkan sedikit alisnya dan terlihat ragu. "Apa kau yakin?"
Luna mengangguk pasti.
Akhirnya Sabian setuju dan tidak memaksa keinginan Lunara. Ia hanya memberi tahu keberadaan bengkel yang harus belok ke arah kanan dan tempatnya berada di samping toko jasa pengiriman barang.
"Terima kasih. Ini kedua kalinya kau membantuku."
"Memangnya, kapan yang pertama?"
"Tadi siang, saat kau mengantarkan air titipan Jaka untuk di berikan padaku."
Mendengar hal itu, Sabian menggaruk tengkuknya yang nampak tidak gatal sama sekali. "Aku senang membantu siapapun, karena mungkin saja itu tugasku kelak."
"Tugasmu.. kelak? Maksudnya?" Lunara sedikit bertanya-tanya akan kalimat ambigu yang keluar dari mulut Bian.
"Ya.. aku kan calon dokter. Jadi aku harus siap untuk membantu siapapun." Jawab Bian sedikit terbata-bata.
Lunara yang sempat merasa kepedean langsung menolehkan wajahnya ke arah kiri. Ada apa denganmu, Luna? Apa yang kau pikirkan tentangnya?
"Yasudah, aku akan ke bengkel sekarang. Sekali lagi terima kasih." Luna langsung berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Ia sangat malu karena sudah bersikap seperti wanita jelly yang mudah luluh saat mendapat gombalan dari seorang pria yang belum tentu benar adanya.
Kakinya terus melangkah sampai saat menoleh ke tempat sebelumnya, Luna sudah tidak melihat keberadaan Bian disana. Mungkin pria itu sudah pergi. Lagi pula, untuk apa juga aku berharap agar kami di pertemukan kembali? Lebih baik aku fokus pada kuliahku dan menjadi designer yang bermanfaat untuk wanita muslim di dunia. Ya, itu benar.
***
Perkara cat air yang habis dan ban bocor membuat Luna harus kembali melanjutkan tugasnya di pukul 2 dini hari. Ia pikir akan lebih baik jika melakukan sholat sunnah tahajud terlebih dahulu, baru setelahnya kembali mengerjakan tugas.
Luna mengambil air wudhu sebelum akhirnya menggelar sajadah dan memakai mukena untuk menutupi seluruh tubuhnya. Niat lillahi ta'ala baru saja Luna ucapkan dalam hati sambil melakukan takbiratul ikhram.
Rangkaian sholat terus berlangsung, di tutup dengan mengucap salam sambil menoleh ke arah kanan dan kiri.
Alhamdulillah. Luna baru saja membasuh wajahnya menggunakan kedua tangan lalu mulai berdzikir dan membaca doa.
Doa pertama ia pinta untuk kedua orang tua terutama Bimo agar selalu di beri kesehatan dan panjang umur juga dimudahkan segala rezekinya, lalu untuk sang ibu yang sudah lebih dulu tiada agar senantiasa Allah lapangkan kuburnya, di ampunkan segala dosanya dan di tempatkan di sisi Allah SWT. Kedua untuk keluarga dan orang-orang terdekat yang sudah berbaik hati pada keluarganya. Yang ketiga untuk pendidikan dan karir yang ia pilih kedepannya semoga menjadi manfaat untuk siapapun yang menerimanya kelak. Dan yang terakhir jodoh.
Entah kenapa, hatinya terasa gemetar bahkan meronta untuk mengucapkan satu nama walau rasanya tidak mampu. Adakah yang jauh lebih baik dari pada mencintai pemilik semesta lebih dulu baru kemudian mencintai umatnya?
Satu bulir air mata menetes begitu saja, di usia yang sudah menginjak 22 tahun dan sebentar lagi lulus Sarjana ini Luna berharap bisa mendapatkan pilihan terbaik yang sudah Allah lukiskan di Lauhul Mahfudz jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Entah siapapun itu.. ia hanya bisa memperbaiki diri agar saat waktu tersebut telah di tentukan ia sudah siap baik secara fisik, mental dan juga batin.
InsyaaAllah..
***
Menggunakan kemeja bergaris berlapis kaos polos dan celana jeans khas anak kampus, Bian dengan santai turun dari lantai atas untuk sarapan bersama keluarganya.
"Ya tapi kan, Pa.. anak-anak sudah nyaman tinggal disini. Masa kita harus pindah lagi?"
Bian yang baru saja turun ikut terkejut mendengar apa yang baru saja Nindy-mamanya katakan. "Pindah?!"
"Ada apa lagi ini, Pa? Baru 3 tahun yang lalu kita pindah. Sekarang sudah pindah lagi.."
"Kita akan pindah setelah kamu lulus Sarjana kok, Bian." Sahut Papanya yang duduk di ujung meja makan sambil menerima sepiring nasi goreng yang Nindy buatkan.
Setelah menenggak habis satu gelas air putih, Bian kembali menjawab, "Bian baru temuin perempuan yang Bian suka. Masa Bian harus pergi gitu aja sebelum berusaha?"
Baik Nindy maupun Irfan keduanya menoleh tercengang. Bagaimana bisa? Karena tidak biasanya Bian bicara tentang perempuan. Di usianya yang sudah menginjak 24 tahun, semua teman Bian masih laki-laki dan belum ada satupun perempuan yang datang ke rumah. Tapi hari ini, rasanya berbeda..
"Ira, coba lihat.. apa dahi putraku sedikit memar?"
Ira, pekerja rumah yang 3 tahun terakhir ini bekerja di rumah Nindy. Gadis berkuncir kepang dua itu berdiri nampak kebingungan dengan maksud pemilik rumah ini. "M-memangnya ada apa, Bu? Saya lihat.. Mas Bian baik-baik saja."
"Iya, tapi sepertinya hari ini berbeda. Putraku Bian tiba-tiba membicarakan seorang perempuan yang baru ia sukai. Bukankah itu suatu keajaiban?"
Irfan Pratama—Papa Bian yang menyadari istrinya terus mengoceh tanpa henti membahas perubahan putranya langsung berkata, "Bian kan memang sudah besar, Ma. Biarkan dia memilih perempuan yang dia suka."
"Tapi ingat, Nak. Jangan terlalu lama berpacaran karena sama saja kau mendekatkan diri pada zina. Itu tidak baik. Kau tahu itu, bukan?"
Mendengar pesan yang sangat oenting dari sang ayah, Bian langsung menganggukkan kepalanya. "Bian tahu kok, Pa. Bian juga enggak mau pacaran sama dia. Bian udah tahu segala hal penting tentang dia dari seseorang."
"Siapa, Nak?" Irfan bertanya-tanya, namun hanya dibalas senyuman oleh putranya.
***
"Jaka!!" Teriak Bian yang baru saja tiba di kampus menggunakan motor Yamaha XSR155.
Sang empunya nama yang juga baru tiba di kampus pun menoleh. "Eh, Bian. Baru sampe juga?"
"Iya nih, tadi berangkat agak siang karena nyokap banyak pertanyaan."
"Pertanyaan apa?"
Bian sama sekali tak menghiraukan pertanyaan yang Jaka layangkan untuknya. Matanya justru tertuju pada perempuan yang datang bersama Jaka pada pagi hari ini. "Kalian berangkat bareng sekarang?"
Jaka menoleh, melihat nona mudanya baru saja melepas helm dan menunduk karena ada Bian diantara mereka. "Iya, tadi motorku enggak mau nyala, sudah coba ku bongkar sebentar tapi ndak keburu karena harus berangkat. Akhirnya.. bareng deh sama Non Luna."
"Gimana kalau pulang kuliah nanti kita liat motormu? Siapa tahu aku bisa bantu betulkan," saran Bian berniat membantu teman baiknya.
"Ah, benar juga. Tapi izin dulu sama yang punya rumah." Jaka pun menoleh ke arah perempuan berpakaian rapi dengan gamis satu set dengan khimar juga masker yang belum ia lepas. "Boleh ndak non kalau Bian ikut ke rumah untuk lihat motorku?"
Luna yang sejak tadi menunduk kini menaikkan sedikit wajahnya lalu menjawab, "uhm, aku ke kelas duluan, ya?" kemudian ia langsung berlalu pergi tanpa menjawab permintaan izin dari Jaka.
Bian yang melihat hal itupun bingung, "jadi diizinkan atau enggak, Jak?"
"InsyaaAllah diizinkan. Karena biasanya kalau tidak diizinkan Non Luna akan menampakkan taringnya."
"Jaka! Aku masih mendengarmu!"
Mata Jaka melotot kaget, untung saja tidak sampai terlepas dari tempatnya. Ia kemudian menoleh ke belakang. "Eh, Non Luna.. Jaka pikir Non Luna sudah mulai kelasnya." ucapnya malu-malu diiringi dengan tawaan singkat dari Bian.
"Ayo, kita masuk ke kelas juga." Bian merangkul bahu Jaka dan mulai berjalan menjauh dari tempat semula.
"Lain kali lihat-lihat sekitar dulu sebelum membicarakan seseorang." Ledek Bian lagi.
Jaka mengacak rambutnya yang semula rapi, "salah kamu juga karena tidak memberi tahuku."
Bian kembali tertawa setelah melihat Jaka dimarahi oleh Lunara karena membicarakan keburukannya di belakang.
***
Di bawah rindangnya pepohonan di temani semilir angin dan dua gelas kopi dingin yang dibuatkan khusus oleh ibu kantin, Bian dan Jaka setia menunggu kelas Lunara berakhir sambil berbagi cerita. Sebagai sesama pria, Jaka tentu saja mengerti kenapa Bian banyak bertanya padanya tentang Lunara, kesukaan Lunara, kebiasaan Lunara dan masih banyak lagi.
Tak lama kemudian, "Jaka.."
"Eh, non Luna. Sudah selesai kelasnya?" tanyanya sambil menoleh lalu tersenyum.
"Ya sudah, kalau belum ndak mungkin aku keluar," sahut Luna sambil memanyunkan bibir. Kelihatannya ia masih bete dengan guyonan Jaka sebelumnya. Tapi sepertinya tidak, Luna bukanlah seseorang yang mudah tersinggung. Lantas kenapa sikapnya tiba-tiba berubah?
"Oke, kita pulang sekarang. Tapi Bian ikut boleh, 'kan? Aku perlu bantuannya, Non."
Luna masih belum juga menjawab pertanyaan dari Jaka, gadis itu justru langsung memakaikan helm di kepalanya dan berkata, "jadi pulang atau tidak?"
"Jawab dulu pertanyaan Jaka, Non. Bian boleh ikut atau enggak?" Bujuk Jaka lagi berusaha agar Luna tidak merajuk.
Mendengar pertanyaan yang berulang kali Jaka layangkan padanya, membuat Luna menoleh sambil menampakkan wajah kesal. "Kan tadi kamu bilang, aku akan menampakkan taringku kalau ndak beri izin. Tapi ini kan enggak. Jadi sudah tahu kan apa jawabannya."
"Baiklah, terima kasih, Non Luna."
"Kita berangkat sekarang juga!" Ucap Jaka saat sudah naik ke atas motor dengan Luna yang duduk di belakangnya. Tak lupa ia juga mengedipkan sebelah mata terlebih dahulu ke arah Bian sebagai tanda bahwa rencana mereka berhasil dilakukan.
***
Seperti biasa, sepulangnya dari sawah untuk melihat panen padi hari ini dan memastikan stok beras aman di agen miliknya, Bimo kini bersantai di ruang tengah rumahnya sambil menyeruput satu gelas teh tawar hangat. Tiba-tiba Lunara melangkah masuk sambil memasang wajah sedatar mungkin.
"Eh, ada apa di kampus? Kenapa wajah putri bapak yang cantik ini muram?"
"Assalamu'alaikum, Pak." Jaka baru saja masuk ke dalam rumah diikuti Bian yang berada tepat di belakangnya.
"Wa'alaikumussalam, masuk, nak. Silakan duduk." Meskipun Jaka bukanlah putra kandungnya melainkan putra dari pekerja rumah, Bimo tidak pernah membeda-bedakan sikap dan cara mendidik anak yang sejak kecil tinggal di rumahnya ini. Seperti halnya sekarang. Jaka membawa temannya ke rumah, Bimo menyambut dengan senang dan langsung mempersilakan mereka berdua duduk.
Luna yang sempat ingin melangkah pergi menuju kamar tiba-tiba di panggil kembali oleh Bimo, "Luna.."
Mendengar namanya di panggil, Luna pun menghentikan langkahnya dan berbalik badan. "Ya, Pak?"
"Tolong buatkan minum untuk teman Jaka."
"Luna yang buatkan?" tanyanya berbisik. Bukannya tidak ingin, tapi Luna tidak bisa berlama-lama melihat Bian di dekatnya karena hal itu membuat jantungnya berdegup tidak beraturan.
"Iya, Nak. Bu Nani sedang belanja. Ada beberapa keperluan dapur yang habis. Lantas siapa yang harus buatkan minum? Bapak?" tanya Bimo sambil menunjuk diri sendiri.
Gelengan kepala menjadi jawaban dari Luna. "Tunggu sebentar, aku buatkan minum dulu."
Tamu yang menjadi penyebab Luna merasa tidak tenang itupun mengangguk sambil sedikit menyunggingkan senyum.
"Kalian, ada tugas kelompok?" Bimo penasaran karena Jaka seringkali membawa teman ke rumah untuk mengerjakan tugas.
Baik Jaka maupun Bian keduanya menggeleng.
"Kenalin, Pak. Temanku ini namanya Bian." jelas Jaka sambil menunjuk pria yang duduk di sampingnya.
"Pak Bimo ingat, ndak? Tadi pagi saat mau berangkat kuliah motor Jaka ndak mau nyala."
Setelah mendapat anggukan dari Bimo, Jaka kembali melanjutkan kalimatnya. "Nah, selain dokter yang handal, Bian juga mekanik yang handal, Pak. Makanya, Jaka ajak Bian kesini untuk lihat kerusakan motor Jaka."
"Ohh, kalian berdua satu fakultas?"
Bian mengangguk, "betul, Pak."
"Yasudah, lanjutkan ngobrolnya. Nanti bongkar motornya di belakang saja supaya lebih adem dan sejuk di temani kicauan burung-burung bapak."
Jaka menempatkan kelima jarinya di ujung alis seperti sedang hormat. "Siap, Pak Bos."
"Tapi tunggu dulu, Pak. Bian juga mau kenalan sama Pak Bimo."
Posisi tubuh Bimo yang semula sudah membelakangi Jaka dan Bian kini kembali berbalik arah, ia bingung dengan maksud Jaka.
"Ada yang Bian mau bicarain sama Bapak." Ucap Bian yang akhirnya membuka suara. Ia berusaha menjelaskan apa yang Jaka maksud sebelumnya.
"Tentang putri bapak, Lunara."