Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Usai pulang bekerja, Bian bersama teman-teman semasa sekolahnya berkumpul untuk minum kopi di salah satu kedai kopi terbaik di Yogyakarta. Bian terus berbagi cerita tanpa memedulikan pesan dan panggilan masuk yang berasal dari Lunara.
Dari kelima teman Bian hampir semua sudah menikah, kecuali satu orang bernama Aji. Dan bisa di pastikan jika telinga Aji sudah kebal saat kelima sahabatnya meledek bahkan bertanya, "kapan menyusul?"
Usai puas menikmati aroma kopi dan cita rasanya yang khas, Bian dan teman-teman berjalan ke tempat futsal yang berada tepat di samping kedai kopi ini. Menggunakan kaos bola berwarna putih bertuliskan namanya dengan nomor 10 yang tidak lain merupakan tanggal lahirnya lengkap dengan sepatu dan kaus kaki bola, Bian siap masuk ke lapangan.
Waktu permainan baru saja di mulai, sebagai seorang striker Bian tentu berperan penting di dalam permainan ini. Ia harus bersikap cekatan dan lihai dalam menguasai bola. Seperti halnya sekarang, saat musuhnya sedang sibuk menggocek bola agar tidak dapat ia rebut. Bian sengaja menunggu sampai sang musuh terkecoh dan ya.. kesempatan pertama baru saja ia dapatkan. Bian terus menggiring bola tersebut agar masuk ke dalam gawang lawan dan—
"GOL!!!" Satu teriakan yang berasal dari Aji menggema pada seisi lapangan. Kepiawaian Bian dalam hal bermain bola dan basket memang tidak perlu di ragukan lagi. Tak aneh jika semasa sekolah Bian diidam-idamkan oleh banyak haum hawa yang haus akan ke-uwu-an, semata-mata agar terkenal karena punya kekasih atlet.
Angka yang semula 0-0 kini telah berganti menjadi 1-0. Permainan terus berlangsung. Teman Bian yang bernama Aldi kini berkesempatan untuk memasukkan bola dan menambah skor mereka.
Tanpa Bian ketahui ponselnya yang ia simpan di dalam tas terus berdering. Bian tetap asik dengan permainannya seakan tidak ada yang menunggu di rumah seperti dulu sebelum menikah.
Permainan baru saja berakhir. Hingga skor kedua tim menunjukkan angka 5-3 yang tentu dimenangkan oleh tim Bian.
Saat sedang berganti pakaian dan mengusap keringatnya yang bercucuran menggunakan handuk, Bian menyempatkan dirinya untuk mengecek ponsel dan pada saat itulah ia melihat ada 20 panggilan tak terjawab dan 15 pesan masuk dari sang istri.
Mas
Mas Bian
Kok jam segini belum pulang?
Mas Bian lagi dimana?
Aku sudah masakin sup ayam kesukaan mas Bian, loh..
Mas pasti lagi di jalan, 'kan?
Kenapa gak jawab telepon aku, Mas?
Yasudah ndak apa-apa. Nanti kabarin aku kalau sudah ndak sibuk, ya?
Hati-hati di jalan, Mas
Kiranya seperti itu deretan pesan yang Lunara kirimkan. Bian sedikit memijat pelipisnya dan bertepatan dengan hal itu deringan ponselnya kembali terdengar—
"Ya, assalamu'alaikum," sahutnya malas.
"Wa'alaikumussalam, Mas Bian. Kenapa baru angkat telepon aku? Sekarang mas dimana? Kenapa jam segini belum pulang?" Lunara terus bertanya tanpa henti.
Usai melirik jarum pada jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 22.45 WIB, Bian kembali menjawab, "aku habis main futsal sama teman sekolah. Memangnya kenapa kalau aku belum pulang jam segini? Kamu kan bisa tidur duluan.."
"M-maaf. Kalau mas kabarin sebelumnya, mungkin aku ndak akan cariin seperti ini."
Bian kembali memijat pelipisnya sebelum kembali menyahut, "lain kali jangan seperti ini, ya? Aku kan bukan anak kecil lagi, aku tahu kapan waktu untuk pulang. Jadi kamu enggak perlu repot-repot cariin aku."
Luna tidak menyahut selama beberapa detik membuat Bian kembali berbicara, "Lunara, dengar aku?"
"Ya, aku mendengarnya. Kabari aku kalau sudah mau pulang. Aku akan memanaskan lagi sup ayamnya untuk mas Bian makan."
"Ya, aku sebentar lagi pulang." Usai mengucap salam dan memutus telepon sang istri, Bian buru-buru mengganti pakaiannya, ia merasa tidak enak karena tidak memberi kabar pada Luna malam ini.
***
Sup hangat dengan potongan wortel, kol, buncis, sedikit daun bawang dan tentu saja ayam yang menjadi kesukaan sang suami baru saja Luna tuang ke dalam mangkuk berwarna putih. Begitupula nasi, tempe tahu goreng dan sambal yang menjadi pelengkap sudah tersaji di atas meja makan. Tak lama kemudian—
Pintu rumah terbuka diiringi dengan ucapan salam yang keluar dari mulut Bian. Wajah pria itu nampak datar mungkin karena lelah setelah seharian bekerja langsung bermain futsal.
Buru-buru Luna berjalan ke arah pintu untuk menyambut kepulangan sang suami yang langsung melepas sepatunya di sembarang tempat lalu berjalan meninggalkannya seorang diri tanpa melirik ke arah meja makan yang sudah susah payah Lunara persiapkan untuknya malam ini.
"Mas, makan dulu.. selagi sup nya hangat," ucap Lunara setengah teriak karena Bian sudah naik ke lantai atas yang merupakan kamar mereka berdua.
Luna menyimpan sepatu Bian di rak sepatu kemudian berjalan naik ke lantai atas mengikuti langkah kaki suaminya.
Saat sudah tiba di dalam kamar, Lunara menggelengkan kepalanya saat melihat Bian kembali tidur sebelum melepas kaus kaki. Hal ini juga terjadi di malam hari pernikahan mereka. Dengan rasa ragu karena Bian tidak suka saat ia melakukan hal ini, Luna membiarkan kaus kaki itu tetap melekat di kaki Bian lalu bertanya dengan nada yang sangat pelan, "mas.. aku sudah masakin buat kamu, loh. Yakin kamu ndak mau makan?"
Uhm..
Hanya sahutan itu yang terdengar dari mulut Bian. Meski sedikit sedih karena semua yang ia masak sama sekali tidak dicicipi oleh sang suami, Luna memilih untuk diam dan kembali bertanya, "yasudah, kalau Mas Bian ndak mau makan masakan yang aku buat. Tapi aku boleh 'kan lepas kaus kaki Mas Bian?"
"Ya, kamu bisa lakukan itu hari ini karena aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk melakukannya."
"Siapa suruh pulang kerja langsung main futsal? Bukannya istirahat, pulang ke rumah, temenin aku.." gerutu Luna pelan.
Tiba-tiba Bian membalik tubuhnya yang semula tengkurap menjadi telentang. "Apa kamu bilang?"
Sontak Luna terkejut dan menggeleng pelan, ia pikir Bian tidak akan mendengarnya. "Tidak." Luna kembali melanjutkan kalimatnya, "a-aku mau kunci pintu dan rapikan meja makan dulu."
"Ya.." sahut Bian yang kembali tertidur.
***
Matahari pagi menyingsing jendela kamar Lunara yang dihiasi gorden putih. Wajahnya yang semula menghadap ke arah jendela untuk menikmati matahari yang merupakan objek kesukaannya sejak kecil kini beralih menatap wajah tampan nan rupawan kekasih halalnya. Siapa lagi kalau bukan Bian. Usai melaksanakan sholat shubuh, pria itu kembali memejamkan matanya karena ini merupakan hari sabtu yang berarti libur. Sudah satu minggu pernikahannya dan Bian berlangsung, namun pria di sampingnya ini belum juga menunjukkan perubahan yang spesial seperti seorang pengantin baru pada umumnya. Bian tetap cuek dan tidak ingin banyak di atur.
Luna pernah ingat pesan Bian padanya di hari pertunangan mereka.
Flashback On
"Nanti, kalau kamu sudah resmi menjadi istriku.. jangan sungkan untuk ingatkan aku apapun itu, ya?"
"Kenapa? Bukannya justru suami yang harus mengingatkan istri? Lantas kenapa harus aku yang kasih peringatan ke kamu?"
Bian tersenyum singkat dan langsung menjawab, "Luna, sebagai seorang suami dan seorang pria aku juga tidak akan pernah menjadi sempurna jika tidak ada yang mengingatkan. Lalu, apa kamu akan diam saja saat melihatku melakukan kesalahan?"
Luna menggeleng, "tidak. Aku akan selalu mengingatkanmu sampai kamu tidak punya kesempatan untuk mengulangi kesalahan itu lagi."
"Cukup mudah bukan permintaanku?" Tanya Bian lagi.
Untuk yang pertama kalinya Luna menganggukkan kepala, menyetujui permintaan seorang laki-laki yang kelak menjadi imam dalam hidupnya, "insyaaAllah aku akan selalu melaksanakan permintaan mas."
Flashback Off
Meski tidak menampakkan dirinya yang tengah bersedih karena perkataan Bian 2 hari lalu di telepon yang tidak suka diingatkan untuk tidak pulang larut malam dan mengabari jika hendak bepergian, Luna juga berhak untuk menagih apa yang pria itu inginkan sebelum pernikahan mereka berlangsung. Dan kenapa saat ia berusaha untuk mengingatkan hal kecil saja sikap Bian sudah semarah itu? Bagaimana dengan hal besar?
Aku tidak akan pernah menyerah, aku akan selalu melaksanakan apa yang menjadi permintaan Mas Bian di hari pertunangan kami.
Di saat yang bersamaan, kelopak mata Bian yang sejak tadi Luna pandangi dan berharap mendapat respon balik pun terbuka. Pria itu langsung bertanya, "kenapa jendela dan gordennya kamu buka? Silau tahu, aku ndak suka."
Lunara tercengang. Bukannya mas Bian tahu betapa besar obsesiku pada matahari? Kenapa dia justru minta aku untuk tutup gorden?
"Uhm, supaya cahaya matahari masuk. Memangnya kenapa ndak suka, Mas?" tanya Luna pura-pura untuk terlihat biasa saja.
"Tutup sekarang juga! Aku masih ingin tidur. Dan aku tidak akan pulas saat melihat sinar matahari itu meski mataku tertutup sekalipun."
"B-baiklah," tanpa ingin berdebat Luna langsung menutup jendela serta gorden kamarnya rapat-rapat menuruti permintaan sang suami. "Sudah aku tutup, Mas."
Tidak ada ucapan terima kasih atau sikap manis apapun itu yang Bian perlihatkan. Ia justru berbalik ke arah lain dan menutup telinganya menggunakan guling.
Sebenarnya siapa pria yang bersamaku? Dimana Bianku yang dulu? Aku tidak menemukan semua itu di dalam dirinya. Lunara memilih pergi dari sana dengan langkah tergesa-gesa. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci diri di dalam. Menangis sesenggukan tanpa ingin di dengar atau bahkan di tanya apa sebabnya oleh siapapun. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa seseorang yang begitu manis dan penyayang berubah menjadi cuek dan tidak mau di atur hanya dalam waktu beberapa bulan saja?
***
Beberapa tahun sebelumnya
Kondisi kampus terlihat ramai karena hari ini sedang di adakan pentas seni yang menampilkan beberapa band ciptaan para mahasiswa/i yang gemar dalam dunia musik. Lunara yang tidak terlalu menyukai hal itu memilih untuk menepi seorang diri agar tidak berada di antara kerumunan penonton. Tiba-tiba suara seseorang yang sangat ia kenal mengagetkannya— "Non Luna.. kok disini?"
Luna melotot kesal, "sudah ku bilang, 'kan? Kalau di kampus jangan panggil aku non, cukup Lunara atau Luna saja." Bisiknya mengingatkan.
"Eh iya, Non Luna. Maksudku, Luna." Pria itu cepat-cepat menggeleng, "ahh, aku sudah terbiasa memanggilmu seperti itu. Biar bagaimanapun bapak dan ibu bekerja di rumahmu. Jadi aku harus memanggilmu Non Luna."
"Itu kan kalau di rumah, sekarang di kampus. Aku tidak ingin temanmu atau temanku tahu hal ini. Aku tidak ingin ada perbedaan diantara kita berdua."
"Jangan begitu, Non Luna.. biar bagaimanapun aku bisa bersekolah disini kan karena ayahnya Non Luna."
'Biar bagaimanapun' adalah dua kata yang seringkali keluar dari mulut Jaka saat di ajak berbincang. Meski begitu Luna dan keluarga sangat paham betul dan tidak mengomentarinya sama sekali.
"Jaka, ini permintaanku.. tolong turuti, ya?" pinta Luna memohon.
Jaka menaikkan kedua bahunya santai. "Baiklah, mau bagaimana lagi. Kalau Pak Bimo marah karena kira aku ndak sopan sama kamu.. nanti aku tak bilang kalau kamu yang minta aku panggil Luna saja."
"Iya, aku berani taruhan kalau ayahku ndak akan marah karena kamu panggil namaku saja. Kita kan seumuran, Jaka. Jadi kamu bisa anggap kita adalah teman."
"Teman? Aku berteman dengan Non Luna mulai hari ini? MasyaAllah, mimpi apa aku semalam?" tanya Jaka seorang diri sambil menengadahkan kedua tangannya dengan mata berbinar.
"Jaka..! Apa yang aku bilang tadi? Cukup Luna saja. Mengerti?"
"Iya, Luna. Maaf.." ucap Jaka dengan logat jawa yang sangat kental.
"Jaka! Aku cari-cari ternyata kamu disini."
"Ini loh, nemenin nona mudaku yang ndak suka musik, kasian dia sendirian." Lagi-lagi Jaka keceplosan mengenai statusnya dan Luna di rumah. "Maksudku, teman. Kita adalah teman."
Luna belum menoleh siapa yang sedang bicara pada Jaka, ia sibuk mengikat tali sepatunya yang terlepas dan saat sudah berdiri Jaka memperkenalkan teman laki-lakinya pada Luna.
"Luna, kenalin teman sekelasku namanya Bian."
Mendengar namanya di panggil Luna pun menoleh sambil berkata, "Luna.." memperkenalkan diri tanpa berjabat tangan.
Tanpa diminta kedua sudut bibir Luna terangkat begitu saja saat melihat laki-laki yang mungkin lebih tinggi 20 cm darinya ini. Mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hitam dengan kancing yang dibiarkan terbuka dan menampilkan kaos putih polos di dalamnya.
Beberapa detik mereka saling bertatapan sampai angin berhembus kencang diiringi dengan debu siang hari membuat mata Luna terkena debu itu atau biasa disebut kelilipan. "Aduh.." lirihnya.
"Non Luna, kenapa?"
Biarlah, Luna tidak peduli. Jaka memang tidak bisa mengondisikan kata 'non' di depan namanya itu.
"E-enggak, cuma kelilipan dikit aja." Sahut Luna sambil mengucek mata sebelah kirinya selama beberapa kali hingga berubah menjadi merah.
"Aku ke toilet dulu ya, Jaka."
"Iya, Non. Hati-hati kelilipan lagi.."
Luna membiarkan ucapan Jaka begitu saja dan berlalu pergi menuju toilet. Ia langsung membasuh mata kirinya menggunakan air yang berasal dari keran toilet.
Jadi ini petaka menatap lawan jenis terlalu lama? Maafkan Luna, yaAllah..
Bagaimana tidak disebut sebagai petaka? Jika saat ia sedang bertatapan dengan Bian, tiba-tiba saja angin yang disertai oleh debu berhembus dan langsung mengenai matanya.
Saat Luna merasa matanya sudah lebih baik, ia menahan bobot tubuhnya menggunakan kedua tangan yang ia letakkan pada tepian wastafel kemudian dengan posisi wajah yang menghadap ke arah cermin. Jangan terlalu banyak berandai, Lunara. Karena sebaik-baiknya berharap bukanlah pada manusia, melainkan pada Allah SWT.
Usai merapikan hijab segi empat berwarna pink yang ia kenakan dan mengelap sisa air pada matanya menggunakan tisu, kaki Luna kembali melangkah keluar dari toilet dan mencari keberadaan teman-teman satu kelasnya yang tidak nampak keberadaannya.
***
Selain pentas seni, ternyata hari ini juga diadakan pertandingan beberapa cabang olahraga seperti basket, voli dan futsal. Ada juga bazar buku dan pameran karya seni. Kebetulan Lunara yang memang tidak menyukai musik pun bergabung dalam kegiatan pameran untuk memperlihatkan hasil nyata dari design pakaian yang belum lama ini ia buat.
"Bagaimana kau bisa terpikir untuk membuat design seperti ini?" tanya salah seorang mahasiswi yang nampak tertarik dengan hasil design Lunara. Wanita dengan rambut sedikit kecoklatan yang sepertinya blasteran ini terus meneliti tiap jengkal pakaian yang Lunara buat.
Luna yang sebelumnya sedang merapikan jilbab yang ia kenakan pada patung peragaan lainnya langsung menoleh dan tersenyum, "mengikuti perkembangan zaman," sahutnya singkat namun jelas.
"Perkembangan zaman? What do you mean?"
"Ya, di era sekarang banyak sekali wanita muslim yang ingin tampil cantik dan trendy, sampai-sampai mereka harus mengesampingkan perihal jilbab dan pakaian tertutup yang seharusnya mereka kenakan."
"Design ini kubuat sesuai dengan keinginan wanita seperti itu tanpa mengesampingkan perihal kesopanan."
"Bagaimana dengan aku yang notabennya bukanlah seorang muslim, apa aku bisa mengenakannya juga?"
Pertanyaan mahasiswi itu menggetarkan hati Luna, ternyata masih ada yang ingin berpakaian rapi meski memiliki keyakinan yang berbeda dengannya. "Ya! Of course. Do you want to try?"
"Why not?" sahutnya sumringah membuat Luna menarik paksa sudut bibirnya karena terlampau senang.
Mahasiswi yang berasal dari fakultas hukum bernama Elle ini baru saja keluar dari ruang ganti. Betapa terkejutnya Luna saat beberapa pasang mata menatap berbinar ke arah Elle yang kini berjalan ke stand pamerannya. Karena tidak ingin memaksa Elle untuk mengenakan jilbab, Lunara menjadikan scraf sebagai bandana di kepala Elle.
Tak lama kemudian, banyak sekali mahasiswa/i yang datang menghampiri standnya sambil menyatakan kekaguman mereka, "wahh, keren sekali."
Elle yang terdengar senang dengan pujian itu langsung berputar memamerkan one set berwarna pink muda hampir seperti peach yang terdapat kancing di bagian depan dengan rok elegant yang tentu berukuran lebar agar tidak menampakkan bentuk tubuh. Wanita itu juga memamerkan bandana yang terbuat dari scraf di kepala yang menambah kecantikannya.
"Permisi.. Permisi.." ucap Jaka diiringi dengan teman laki-lakinya yang bernama Bian berusaha mencari jalan untuk mencapai baris terdepan.
"Dia Non Lunaku. Aku harus melihat peragaan busananya."
Panggilan Jaka lagi-lagi membuat Luna memijat pelipis. "Lihatlah, Mba Kahya jadi semakin terlihat cantik karena pakai baju yang Non Luna buat," ucap Jaka sambil menoleh ke arah Bian.
"Kahya? Namaku Elle." Sahut Elle kesal mendengar namanya di ganti.
"Iya, Mba Elle 'kan berasal dari kahyangan toh?"
Uwekk. Bukannya senang, Elle justru terlihat mual saat mendengar Jaka merayunya seperti itu.
"Jaka," bisik Luna agar Jaka menghentikan ucapannya dan berharap ia ingat apa pesannya di lapangan tadi untuk tidak menyebut kata 'non'.
"Baiklah, silakan di lihat-lihat. Temanku Luna ini memang hebat sekali.." Jaka mengacungkan kedua ibu jarinya lalu menyingkir dari kerumunan mahasiswa/i agar mereka semua bisa melihat pakaian yang Elle kenakan.
***
Saatnya break atau istirahat telah tiba. Lunara senang hasil karyanya mendapat banyak respon positif dari mahasiswa/i meski tidak berasal dari fakultas yang sama dengannya. Luna juga bersyukur berkat Elle, pakaiannya yang semula hanya di pajang menggunakan patung jadi bisa digunakan secara langsung.
Saat ia tengah duduk di tepian aula untuk melipat jilbab yang tadi sempat diminati beberapa mahasiswi muslim, Luna merasa ada seseorang yang berdiri tepat di sampingnya.
"Turut senang untukmu.."
Tebakannya benar, tapi Luna belum bisa memastikan siapa orang yang bicara padanya saat ini. Ia langsung menoleh dan mendapati tubuh tinggi Bian berdiri menjulang disana.
"Eh, temannya Jaka."
"Sabian, panggil saja Bian."
Luna mengangguk beberapa kali sebelum akhirnya mempersilakan Bian untuk duduk.
"A-aku enggak bisa duduk disini. Aku harus balik temuin Jaka di kantin."
"Begitu, ya? Oke.." sahut Luna malu karena tidak seharusnya ia membiarkan seorang pria yang bukan mahramnya duduk bersamanya disini.
"Maaf ya, enggak niat nolak sama sekali kok. Cuma.. takut Jaka nungguin aja."
"Eh, iya. Ndak apa-apa kok."
"Ini buat kamu.." Bian menyerahkan satu botol air mineral lalu kembali melanjutkan, "titipan dari Jaka."
"Terima kasih."
Tak ada sahutan dari lawan bicaranya, Bian langsung berlalu pergi meninggalkan Luna dengan deru jantungnya yang berdetak lebih cepat di banding sebelumnya. Sudahlah, Luna. Inikan titipan Jaka, bukan pemberian darinya. Jangan salah menilai.