Menggunakan heels putih dengan aksen transparan pada sisi kanan dan kiri Lunara melangkah percaya diri ke meja kerja Wulan sambil menyodorkan gambar yang sudah di revisi olehnya sesuai permintaan Bu Halimah.
"Wulan.."
"Ya, Mba Luna?" sahut Wulan sambil menoleh.
"Pesanan Bu Halimah sudah oke, ya?"
"Sudah cantik hebat pula." Ucapnya sambil melihat design baru yang benar-benar luar biasa. Baginya, Luna lebih dari sekadar sabar untuk menghadapi keinginan para client yang seringkali memusingkan. Bosnya ini benar-benar sigap dan cekatan dalam menyelesaikan suatu masalah.
"Pantas mas Bian ndak mau kehilangan. Benar kan, Lan?" Tanya Fuji yang kini sudah berada di samping Luna ikut melihat design terbaru itu.
Baik Fuji dan Wulan keduanya tersenyum meledek Lunara yang masih merasakan manisnya pengantin baru. Lain hal dengan Lunara yang justru melamun memikirkan sesuatu.
Omong-omong tentang Bian, kenapa pria itu belum juga mengabariku? Padahal, ini sudah lewat dari jam makan siang.
"Mba Luna?"
"Lunara.. kenapa melamun?" Panggil Fuji setelah panggilan Wulan sama sekali tak di hiraukan olehnya.
"Eh, iya kenapa?" Jawabnya gelagapan.
"Kenapa melamun saat kita bahas mas Bian? Apa jangan-jangan Mba Luna sudah kangen ya walau baru di tinggal kerja setengah hari.."
"Kamu pasti akan merasakannya saat sudah menikah nanti. Benar 'kan, Luna?" Pertanyaan Fuji kali ini hanya di balas anggukan kepala oleh Luna.
Ia pun memilih pergi dari sana setelah tahu kalau Fuji dan Wulan sudah makan siang, kini gilirannya.
Saat sudah duduk di meja makan warung soto yang berada tepat di samping kantor, Luna memegangi ponselnya yang sama sekali tidak terdapat pesan atau bahkan panggilan telepon dari Bian. Aneh sekali, biasanya tiap jam makan siang mas Bian kabarin aku.
Berusaha mengurangi gengsi, akhirnya Lunara menekan nomor telepon Bian untuk ia hubungi.
"Assalamu'alaikum," sahut Bian seberang telepon diiringi dengan suara bising yang terdengar disana.
"Wa'alaikumussalam, mas lagi ada dimana? Kok bising sekali?"
"A-aku di Rumah Sakit. Memangnya kenapa?"
Luna bingung, apa sedang ada perbaikan di Rumah Sakit? Karena telinganya mendengar suara gergaji besi, las dan lain-lain. "Uhm, ndak apa-apa. Tumben mas Bian gak telepon aku saat jam makan siang?" Luna mengecilkan suaranya karena Ibu pemilik soto baru saja menyuguhkan satu mangkuk soto plus nasi lengkap dengan kerupuk.
"Mas Bian lagi sibuk, maaf ya.."
"Eh, gak apa-apa, Mas. Luna ngerti kok. Yasudah, mas lanjut dulu kerjanya kalau lagi sibuk. Hati-hati, ya?"
Suara bising itu kembali terdengar, "ya, kamu juga hati-hati."
Belum sempat mengucapkan salam, Bian sudah lebih dulu memutus sambungan telepon. Luna tak masalah dengan hal itu. Ia menyimpan kembali ponselnya di dalam tas dan mulai menyuap soto ayam yang sudah tersaji di hadapannya usai meraciknya dengan tiga sendok sambal sebagai penambah rasa. Semoga magh-ku bersahabat di hari ini.
***
Berada di bawah terik matahari dengan topi pelindung yang menjadi alat penting saat berada di dalam ruang lingkup proyek pembangunan, Bian mengoreksi pekerjaan para pekerja yang dirasa kurang sempurna. Ia berjalan kesana kemari sambil memegangi gulungan kertas yang berisi gambar proyek. Tak lupa pensil mekanik yang tersemat di telinganya jika sewaktu-waktu diperlukan. Usai menerima telepon dari sang istri—Lunara Bian jadi merasa tidak enak karena harus membohongi wanita itu. Tapi mau bagaimana lagi? Menjadi dokter bukanlah pekerjaannya yang sesungguhnya.
"Pak Bian!" Panggil salah satu pekerja dari arah belakang.
Bian menoleh lalu menyahut tegas, "ya?"
Pekerja itu menundukkan kepalanya, ia terlihat gemetar dan takut untuk mengatakan sesuatu. "Barusan istri saya telepon katanya anak saya di rawat di Rumah Sakit, Pak. Apa saya bisa izin pulang?"
"Uhm, sakit apa? Di rawat di Rumah Sakit mana? Perlu saya antar?"
Ia menolak sambil menggerak-gerakan tangan memberi isyarat 'tidak'. "Ndak. Ndak usah, bos. Nanti takut merepotkan.."
"Tidak sama sekali. Saya juga kan perlu menjenguk anakmu disana."
Setelah dirasa terlalu lama untuk menunggu persetujuan dari sang pekerja, Bian pun langsung meraih jasnya yang sempat ia lepas dan berjalan ke arah mobil, "ayo. Sebelum saya benar-benar berubah pikiran."
Mereka berdua sudah tiba di Rumah Sakit. Bian mengekor di belakang pekerjanya karena pria itu berjalan tergesa-gesa mencari ruang rawat inap bayinya. Setelah melewati beberapa lorong dan mencari nomor ruangan akhirnya ketemu. Seorang bayi laki-laki bertubuh gempal yang nampak pucat sedang menendang-nendang kaki sambil memainkan bulatan kecil yang menimbulkan suara saat digerakkan.
"Ya Allah, Bu.. Bayu kenapa?" Tanya bapak pekerja yang bernama Dito pada sang istri.
"Ibu ndak tahu, Pak. Biasanya kalo sumeng cuma 1-2 hari tapi ini sudah 3 hari badan Bayu panas. Minum obat juga sudah, tapi ndak ada perubahan. Akhirnya ibu minta tolong tetangga antar kesini."
Dito mendekati putranya dan mengecek suhu tubuh Bayu yang masih belum ada perubahan. "Cak bagus.. kamu kenapa, nak? Kangen bapak, ya?" Cah bagus merupakan panggilan kesayangan orang jawa pada anak laki-laki.
Mendengar apa yang baru saja Pak Dito tanyakan pada putra bungsunya, Bian merasa tidak enak hati. Apa sebaiknya ia memberikan cuti pada Pak Dito agar pria itu bisa menjaga anaknya hingga pulih?
"Oh ya, Bu. Ini namanya Pak Bian. Bos baru di tempat kerja bapak."
Sang istri menundukkan sedikit kepalanya sambil berkata, "maaf, Pak. Jadi harus repot-repot antar suami saya kesini."
Sebelum menikah dengan Luna, Bian memegang proyek di Jakarta yang berada tak jauh dari apartmennya. Setelah menikah dan memutuskan tinggal di Jogja, ia di pindah tugas untuk memegang proyek pembangunan jalan di Kulon Progo. Butuh waktu lebih dari 1 jam untuk sampai disana. Namun Bian menerima pemindahan tugasnya ini, karena memang sejak dulu ia sering berpindah-pindah daerah untuk mengerjakan proyek yang berbeda-beda pula.
"Tadi bapak sudah bilang ndak perlu di antar. Tapi.. Pak Bian tetap ingin menjenguk Bayu," jelas Dito.
Jika mengingat saat Dito hendak meminta izin pulang karena putranya dirawat, Bian melihat ketakutan yang amat sangat terpancar di wajahnya. Sebenarnya ada apa? Apa bos lamanya bersikap otoriter terhadap hal yang tidak terlalu mendesak?
"Aku beri kau waktu 3 hari untuk libur. Kau bisa bekerja kembali saat putramu sudah pulih dari sakitnya."
Dito sedikit terkejut, "t-tapi saat di mobil tadi, Pak Bian bilang beri saya waktu libur hanya 1 hari."
"Sudah, jangan terlalu memusingkannya. Semoga Bayu lekas sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa." Doanya sambil pamit pergi dari sana meninggalkan Dito dan keluarganya untuk kembali ke proyek.
Selain bisa membantu apa yang keluarga Dito perlukan setelah memberi satu lembar amplop yang tidak perlu di sebutkan jumlahnya, Bayu juga mengingatkan Bian padanya saat menahan rindu pada sang ayah yang jarang pulang saat pergi berlayar karena profesinya yang merupakan seorang nahkoda kapal. Tubuh Bian demam dan ia tidak nafsu makan selama beberapa hari. Setelah mendapat kabar bahwa besok ayahnya akan pulang, tiba-tiba Bian kembali sehat dan segar seperti biasanya. Mungkin cuti 3 hari yang ia berikan pada Dito, bisa membuat bayi kecil nan menggemaskan itu kembali sehat.
Bian menginjak pedal gas mobil hitam miliknya usai memasang rapi safety belt dan kembali ke Kulon Progo.