Kaktus kecil dengan bulatan pada bagian bawah dan membentuk dua telinga di sisi atas yang nampak seperti kepala mickey mouse menghiasi jendela yang berada tepat di belakang meja kerja Luna. Wanita yang meniti karir sejak masih duduk di bangku kuliah sebagai designer baju muslim ini sekarang sudah memiliki brandnya sendiri yang diberi nama Lusa Hijab. Kata Lusa di ambil dari singkatan nama lengkapnya yakni Lunara Salsabila, selain itu Luna juga menyimpulkan jika Lusa Hijab bisa di jadikan sebagai outfit yang akan para wanita muslim kenakan di hari lusa. Menggemaskan sekali, bukan?
Ada satu lagi yang ia lewatkan selain menyemprotkan kaktus menggunakan alat penyemprot air, ikan maskoki yang sengaja ia simpan di dalam tabung di sudut ruangan itu juga perlu di beri makan. Tapi tiba-tiba Luna menggelengkan kepalanya saat melihat sisa bulatan makanan ikan masih mengapung di dalam sana.
"Saya baru aja kasih ikan non Luna makan,"
Suara seseorang mengagetkannya dari arah belakang. Pria bertubuh tegap dengan logat jawa yang sangat kental ini bernama Pak Cokro. Ia merupakan salah satu pembersih ruangan yang Lunara pekerjakan di kantornya.
"Non Luna sudah masuk? Apa cukup hanya libur 3 hari?"
"Pak Cokro.. Terima kasih ya sudah datang kemarin," ucap Luna sambil tersenyum lalu kembali melanjutkan, "mas Bian ndak bisa libur lama-lama. Luna juga harus bekerja hari ini."
Pak Cokro menganggukkan kepalanya, "bojomu kan dokter, wajar kalo dia cuma punya waktu libur yang sedikit."
Meskipun satu universitas dan sudah lama kenal, bukan berarti Luna dan Bian mengambil fakultas yang sama. Bian memilih untuk menjadi dokter, lain hal dengan Luna yang menjadi designer.
"Sudah sarapan belum, non? Bapak baru mau sarapan nih," Pak Cokro pemperlihatkan nasi di bungkus plastik yang sedang ia genggam.
"Sudah, Pak. Sudah. Monggo, di makan dulu nasinya sebelum di ambil Naura." Ledek Luna sambil melirik kucing putih kesayangan Pak Cokro yang seringkali mampir ke kantornya.
"Eh, Naura.. kenapa masuk-masuk ke dalam, nduk? Sudah lupa kalau non Luna alergi bulumu?" Pak Cokro berjalan ke arah luar agar Naura mengikuti langkah kakinya. Tak lupa ia berpamitan pada Luna untuk sarapan dan membawa Naura pergi dari sana.
Luna hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa, tak lama dari itu— hattcchhiii. Alerginya baru saja bereaksi meski Naura sudah di bawa keluar. Sebenarnya, Luna sangat menyukai rupa kucing yang sangat menggemaskan, tapi sayang alerginya benar-benar tidak bisa di hilangkan saat berdekatan dengan kucing.
"Hayo, pasti Naura masuk ke dalam, ya?" Tanya Wulan yang baru saja tiba di ambang pintu masih mengenakan helm. Sebagai karyawan yang sudah menemani Luna sejak kantor ini di buka, Wulan sangat tahu apa saja yang bosnya sukai dan tidak.
"Iya.. dia mau nasi bungkusnya Pak Cokro."
Wulan nampak tidak terkejut, ia justru memutar bola mata malas. "Hh, kemarin dia mau bolu kukusku, hari ini mau nasi uduk. Sebenarnya Naura itu kucing atau manusia?"
Mendengar pertanyaan Wulan membuat Luna tertawa, "Wulan.. sekesal apapun kamu terhadap Naura, dia tetap kesayangan Pak Cokro."
"Ya, memang benar." Wulan berjalan ke arah lemari tempat penyimpanan barang untuk meletakkan helmnya di atas sana, lalu berjalan ke meja kerjanya dan melihat tugas kemarin yang belum juga selesai.
"Apa ada yang bisa ku bantu, Wulan?"
"Uhm, Mba Luna.. Sebenarnya—"
"Pesanan Bu Halimah lagi?"
Tanpa banyak bertanya, Luna mengerti masalah apa yang timbul jika berhubungan dengan Bu Halimah. Wulan pasti sudah berusaha keras untuk menciptakan gambar yang sesuai dan mirip dengan permintaannya, tapi wanita 55 tahun itu memang seringkali komplain dan berkata jika gambar mereka masih ada yang kurang.
"Coba kulihat gambarmu?"
"Ini, Mba. Coba katakan dimana yang kurang? Wulan bingung, Mba Fuji juga bingung apa yang dia mau?"
Luna memperhatikan gambar yang Wulan buat dengan seksama dan hasilnya memang sudah sangat bagus. "Kalau di tambah dengan aksen-aksen lain yang masih di anggapnya kurang, kurasa akan jadi berlebihan."
"Itu yang kumasalahkan, tapi itu juga permintaannya."
"Sudah. Biar nanti aku yang menemuinya. Kamu ndak perlu khawatir, ya?" Luna memberi semangat pada Wulan sambil menepuk bahunya. Ia pun mengambil gambar yang sudah Wulan buat untuk kemudian di jelaskan pada Bu Halimah.
***
Duduk di kursi berbahan kayu di temani dengan secangkir coklat panas Luna menunggu clientnya yang bernama Bu Halimah datang. Sesekali ia meneguk minuman itu dan melihat ke sisi jendela yang masih di basahi air hujan.
Selain membawa gambar berbentuk hard copy, Luna juga sudah mempersiapkan laptopnya agar bisa langsung mengubah apa yang menjadi keinginan Bu Halimah. Lonceng cafe untuk menandakan seseorang baru saja datang berbunyi, Luna menoleh dan mendapati wanita itu tersenyum kepadanya.
"Hallo, apa kabar Mba Lunara?"
"Alhamdulillah baik, Bu Halimah gimana? Semoga selalu sehat, ya?"
"Alhamdulillah saya juga sehat."
"Ah ya, mau pesan apa, Bu? Supaya ngobrolnya lebih enak." Tanya Luna sambil tersenyum manis menunggu jawaban lawan bicaranya.
"Samakan aja dengan Mba Luna."
Luna mengangkat sebelah tangannya dan meminta pramusaji untuk membawakan satu cangkir hot chocolate dan juga baklava. Alasan Luna memilih cafe ini untuk pertemuan mereka selain karena menyongsong tema islami dengan makanan-makanan khas timur tengah, mereka juga menyediakan baklava. Baklava adalah sejenis makanan ringan di kawasan Turki dan daerah-daerah tempat mantan kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. Makanan ini terdiri dari kacang walnut atau pistache yang dicincang dan diberi pemanis dan dibungkus adonan roti tipis.
Setelah puas mengobrol santai, kini Luna masuk ke pembicaraan inti mereka yang dimana ia harus menanyakan kekurangan dari gambar Wulan menurut pandangan Bu Halimah. "Jadi, gimana Bu dengan gambar yang sudah Wulan rancang? Kalau masih ada yang ingin di ubah atau di tambahkan boleh sampaikan ke saya."
Bu Halimah mengambil selembar kertas yang sebelumnya Wulan berikan pada Luna lalu kembali melihat gambar itu dan menjawab, "ini loh Mba Luna, masalahnya.. temanku kan sudah ibu-ibu semua ya. Kami mau tubuh kami ini tetap terlihat ramping meski sebenarnya sudah tidak seperti dulu lagi."
Kalimat Terakhir Bu Halimah membuat Luna sedikit menarik sudut bibirnya.
"Saya mengerti permasalahan wanita, Bu."
"Iya.. Mba Luna harus faham karena nantipun akan merasakan kalau sudah punya buntut." Buntut seringkali di artikan sebagai anak agar tidak terkesan baku saat mengobrol.
Luna mengangguk lalu kembali mendengarkan apa yang clientnya inginkan.
"Nah, saya mau di bagian pinggang tambah aksen seperti mute bulat dan tali di bagian belakang."
"Apa gak berlebihan seperti itu Bu? Karena di bagian leher sudah ada kerah halus, lalu di bagian rok juga sudah banyak hiasan."
"Uhm, benar juga."
Setelah berpikir agak lama dan menelepon beberapa temannya untuk memastikan design terbaru mereka, Bu Halimah pun memutuskan untuk menghapus hiasan yang ada di bagian rok dan membiarkannya polos. Lalu menambahkan mute bulat serta tali di bagian belakang agar bagian pinggang lebih terkesan ramping.
"Seperti ini, ya?" Luna menggeser laptop agar Bu Halimah bisa melihat setiap detail design terbaru yang ia inginkan.
"Nah, sudah bagus seperti ini, Mba."
"Fix ya, ndak ada yang di ubah lagi?"
"InsyaaAllah fix."
Luna menekan tombol save di layar laptopnya lalu bertanya, "memang kali ini siapa yang mau menikah, Bu?" Ia bertanya karena Bu Halimah sudah sangat sering pesan gaun atau baju muslim di tokonya.
"Anak saya menikah dengan putri teman.."
"Dijodohkan maksudnya?"
"Ya betul, Mba. Anak saya tuh agak susah kenal perempuan karena pernah kecewa."
Tidak terlalu ingin mendalami apa yang terjadi di dalam keluarga Bu Halimah, Luna memilih untuk mengangguk dan mendoakan semoga acara mereka berlangsung lancar.
"Terima kasih ya, Mba Luna.." Pamit Bu Halimah saat sudah berada di dalam mobil dan berlalu pergi meninggalkan Luna yang masih berdiri di trotoar jalan sambil memikirkan sesuatu.
Kalau menikah di jodohkan mungkin tidak aneh saat seseorang bersikap cuek dan tidak peduli, tapi aku dan mas Bian kan bukan menikah karena di jodohkan. Lantas kenapa sikapnya berubah cuek ke aku, ya? Batinnya penuh tanya.