Pintu di belakang Tae Hyung telah kembali tertutup dan kini pemuda itu kebingungan untuk apa Young Jae menyuruhnya datang ke sana. Memandang sekitar, Tae Hyung tak menemukan siapapun berada di tempat itu. Pemuda itu kemudian melangkah lebih jauh untuk memastikan bahwa benar-benar tidak ada orang di sana.
Dan ketika pandangannya menemukan seseorang yang berdiri di sudut yang memang tidak bisa ia lihat hanya dengan berdiri di dekat pintu, langkahnya terhenti. Sosok yang kini berdiri memunggunginya itu terlihat tidak asing. Dan orang itu sekaligus menjawab rasa penasaran Tae Hyung terhadap alasan Young Jae menyuruhnya datang ke sana.
Jung Dae Hyun, orang yang telah ditunggu-tunggu oleh Tae Hyung dan Hoseok pada akhirnya menampakkan diri. Dan sebenarnya kedatangan Dae Hyun ke sana bukan untuk bertemu dengan Tae Hyung. Tadi pagi Young Jae mengamuk, memaksanya untuk kembali bertugas di sekolah di saat ia sudah mengundurkan diri dan kembali ke rumah sakit. Dan sebenarnya pula itu hanyalah alasan Young Jae untuk membawa Dae Hyun ke sekolah.
Tadi pagi Young Jae mendapatkan pesan singkat dari Hoseok yang mengabarkan bahwa Tae Hyung sudah kembali ke sekolah. Menyadari bahwa Dae Hyun tak akan kunjung menemui Tae Hyung, Young Jae membawa Dae Hyun ke sekolah dengan tujuan mengajukan banding ke pihak sekolah. Tentu saja dengan alasan konyol itu Young Jae berhasil membodohi Dae Hyun dan membiarkan sang kakak menunggu di sana tanpa kejelasan.
Sempat ragu, Tae Hyung kemudian mengambil langkah mendekati Dae Hyun. Pagi yang tenang, angin sejuk yang bertiup pagi itu menyamarkan suara langkah Tae Hyung yang tak begitu terdengar jelas. Tae Hyung kembali menghentikan langkahnya dalam jarak dua meter tepat di belakang Dae Hyun. Dan seperti itulah pertemuan keduanya dimulai. Kim Tae Hyung memilih untuk berdiam diri, memperhatikan punggung yang terlihat dingin di hadapannya.
Dan setelah banyak waktu yang terlewati, samar-samar terdengar suara bel sekolah. Dae Hyun sejenak melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Young Jae sudah pergi terlalu lama dan cukup baginya untuk menenangkan diri di tempat itu. Dae Hyun memutuskan untuk turun dan pergi jikapun tidak menemukan Young Jae. Dan tentu saja pergerakannya langsung terhenti begitu ia berbalik.
Musim semi masih berada bersama mereka. Namun, di mana Kim Tae Hyung musim gugur akan datang lebih awal. Dae Hyun tertegun, tampak tak menyangka jika akan bertemu dengan Tae Hyung di sana. Tidak, sebenarnya dia memang belum berniat menemui Tae Hyung maupun Hoseok.
Mengakhiri ketertegunannya, Dae Hyun kemudian memberikan sebuah teguran. “Sudah berapa lama kau berdiri di sana?”
“Sudah lama, aku sudah seperti ini dalam waktu yang lama ... Ssaem.”
Panggilan itu lagi. Meski dulu sangat menyukai panggilan itu, kini Dae Hyun berpikir bahwa ia akan merasa lebih baik jika pemuda di hadapannya itu tak memanggilnya.
“Bagaimana keadaanmu saat ini?”
“Ssaem bisa mengetahuinya jika memang ingin melakukannya.”
Dae Hyun terdiam, keduanya terdiam. Dalam ucapan Tae Hyung tersirat sebuah protes tentang Dae Hyun yang tak memenuhi janji pertemuan mereka. Namun, Dae Hyun terlihat tak ingin memberikan penjelasan apapun.
Tae Hyung kemudian menegur, “Ssaem marah padaku?”
“Untuk apa?”
“Karena aku pulang bersama Seok Jin Hyeong.”
“Kalau begitu apakah kau akan pulang bersamaku jika aku membenarkan hal itu?”
Tae Hyung memberikan gelengan.
“Kalau begitu apa gunanya kemarahan itu?”
“Setidaknya Ssaem harus menepati janji. Ssaem mengatakan akan segera menemuiku, tapi Ssaem tidak pernah datang untuk menepati janji itu.”
“Lalu?”
Sikap Dae Hyun yang tiba-tiba dingin membuat Tae Hyung merasa tidak nyaman sehingga tak ada jawaban yang bisa keluar dari mulutnya saat ini. Dae Hyun kemudian menentukan sikap. Mengambil langkah ke tempat Tae Hyung dan berdiri berhadapan dengan pemuda itu.
Dae Hyun kemudian menegur, “kenapa kau diam saja?”
“Aku takut.”
“Apa yang kau takutkan?”
“Aku tidak bisa mengatakan apapun pada Ssaem. Aku merasa takut setiap kali menunggu Ssaem datang menemuiku.”
“Maaf ...”
Tae Hyung menjatuhkan ranselnya yang hanya menyampir pada salah satu bahunya. Mengambil satu langkah ke depan, Tae Hyung kemudian memeluk Dae Hyun. Meminta maaf pada sang kakak tanpa perlu melibatkan lisan. Dan tanpa ada keraguan, kedua tangan Dae Hyun merengkuh adiknya meski tak ada perasaan apapun yang bisa dilihat dari wajah kakunya.
“Seharusnya aku datang lebih cepat,” gumam Dae Hyun.
•••••
Dae Hyun dan Tae Hyung kini duduk di salah satu sudut atap sekolah. Terduduk di lantai dan membiarkan sinar hangat matahari yang masih ramah menghangatkan punggung mereka.
Suasana berubah dalam pertemuan mereka kali ini. Tak begitu banyak kata yang terlontar. Dan itu terjadi karena sikap Dae Hyun yang sedikit kaku.
Dae Hyun kemudian menyambung pembicaraan. "Kau terlambat masuk ke kelas."
"Tidak apa-apa karena aku sedang sakit." Tae Hyung memandang Dae Hyun yang juga balik memandangnya. "Semua orang akan mengatakan hal itu setiap kali aku membuat kesalahan."
"Lalu, apakah kau berniat terus melakukan kesalahan?"
Tae Hyung menggeleng dan berpaling. Dia berkata, "aku pasti sudah berada di kelas jika Hyeong itu tidak menegurku."
"Kau sedang membicarakan Yoo Young Jae?"
"Dia tidak menjelaskan apapun dan hanya menyuruhku datang kemari."
"Apakah dia bersikap baik padamu pagi ini?"
Tae Hyung mengangguk. "Aku pikir begitu." Tae Hyung kembali memandang Dae Hyun. "Ssaem sudah makan?"
Dae Hyun memberikan anggukan. "Kenapa kau terlihat semakin kurus?"
"Tidak juga, Ssaem yang terlihat lebih kurus di sini."
Seulas senyum tipis kemudian berhasil menghangatkan wajah dingin Dae Hyun. Seakan-akan sinar hangat matahari telah menghangatkan hati mereka, Tae Hyung membalas seulas senyum itu.
"Ssaem akan kembali ke sekolah?"
Dae Hyun menggeleng. "Seok Jin akan membawamu pergi lagi jika melihatku di sini."
"Itukah sebabnya Ssaem tidak datang menemuiku?"
"Itu memiliki alasan yang berbeda. Bagaimana keadaan di sana? Dia masih marah padamu?"
"Seok Jin Hyeong tidak bisa benar-benar marah padaku. Tapi, Ssaem ... tidak bisakah kalian berbaikan? Semua orang khawatir karena kalian bermusuhan."
"Aku tidak pernah berpikir bahwa aku bermusuhan dengan Seok Jin. Kami hanya bertemu di situasi yang salah."
Dae Hyun sempat menjatuhkan pandangannya dan tersenyum. Sementara itu Tae Hyung memperhatikan pria itu. Pandangan Tae Hyung turun, menemukan kedua tangan Dae Hyun yang saling bersahutan.
"Ssaem," tegur Tae Hyung kemudian.
Dae Hyun menjatuhkan pandangannya pada Tae Hyung. "Ada apa?"
Tae Hyung mengangkat wajahnya dan bertanya dengan ragu, "hari itu ... hari di mana Ssaem datang ke sekolah. Bukankah itu adalah pertama kalinya Ssaem melihatku?"
Dae Hyun terdiam tanpa terlihat mempertimbangkan sesuatu. Namun, kilas balik kehidupan masa lalu kembali mengisi ingatannya. Menyatakan bahwa hari pertama ia bekerja di sekolah itu bukanlah kali pertama ia melihat pemuda itu.
Dae Hyun kemudian menjawab, "tentu saja bukan."
"Bukan?"
Dae Hyun mengangguk. "Kita pernah bertemu, jauh-jauh hari sebelum pertemuan itu datang kembali. Bukan hanya itu ... aku bahkan pernah menggendongmu."
Tae Hyung tertegun. "Benarkah itu, Ssaem? Tapi bagaimana bisa?"
"Saat aku ingin mengambil Hoseok, aku ceroboh dan justru mengambil kau yang saat itu sedang menangis. Itulah pertemuan pertama kita yang sesungguhnya.
Dae Hyun tersenyum tipis. Tapi hal itu tidak datang sebagai penghiburan untuk Tae Hyung. Pertemuan mereka yang sesungguhnya. Jika diberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin, Tae Hyung ingin waktu berhenti pada saat pertemuan pertamanya dengan Dae Hyun yang sesungguhnya. Seandainya Dae Hyun melanjutkan kecerobohannya kala itu, mungkin hanya akan ada sedikit orang yang terluka. Tidak seperti saat ini.
.............