Chapter 126 : Mempertahankan Dan Melepaskan, Hari Tanpamu.
Setelah pertemuan singkat mereka, Dae Hyun memutuskan untuk mengantar Tae Hyung ke kelas meski pemuda itu sempat menolak karena dia sudah terlambat masuk kelas. Dan dengan sedikit bujukan dari Dae Hyun, Tae Hyung pun mengikuti pria itu kembali memasuki gedung.
Berjalan beberapa langkah di belakang Dae Hyun, langkah Tae Hyung melambat. Perhatiannya terjatuh pada punggung Dae Hyun lalu kemudian turun ke tangan kiri pria itu. Sekilas, bayangan tentang momen ketika Dae Hyun menjaganya kembali mengisi ingatan Tae Hyung. Kini Tae Hyung menyadari alasan kenapa ia merasa nyaman dan aman setiap kali berada di dekat Dae Hyun. Dan setelah tertinggal cukup jauh, Tae Hyung menyadari bahwa Dae Hyun semakin pergi jauh darinya.
"Ssaem!" seru Tae Hyung tiba-tiba dan langsung berlari ke tempat Dae Hyun.
Dae Hyun sempat tertegun ketika menyadari suara Tae Hyung yang cukup jauh. Ia kemudian berbalik, namun tepat ketika ia menghadap ke tempat Tae Hyung berada, Tae Hyung tiba-tiba memeluknya dan membuatnya menguatkan pijakannya ketika tubuh Tae Hyung menabraknya.
"Aku tidak bisa," gumam Tae Hyung dan tiba-tiba air mata keluar dari kedua kelopak matanya. Pemuda itu menangis tanpa suara.
Dae Hyun kembali tertegun. Namun, setelah menyadari bahwa Tae Hyung menangis, Dae Hyun membalas pelukan itu. Garis wajahnya memperlihatkan sedikit keterkejutan atas apa yang terjadi saat ini.
Dengan ragu Dae Hyun kemudian bertanya, "apa yang tidak bisa kau lakukan?"
Tae Hyung memberikan gelengan. Menggigit bibirnya sendiri agar tak menimbulkan suara, pemuda itu menenggelamkan wajahnya pada bahu Dae Hyun. Dan kala itu pintu atap terbuka dari dalam. Young Jae terpaku di ambang pintu. Sebelumnya dia berniat melihat apa saja yang dilakukan oleh Dae Hyun karena Dae Hyun tak kunjung turun meski bel sekolah telah berbunyi. Dan ketika ia melihat sendiri alasannya, dia kehilangan semua kata penghibur yang telah ia persiapkan ketika pergi ke tempat itu.
Young Jae kemudian kembali menutup pintu dan memilih untuk menunggu di mobil. Sementara itu ujung telapak tangan Dae Hyun bergerak perlahan menepuk punggung Tae Hyung.
Pria itu kemudian berbicara, "tidak apa-apa jika kau tidak bisa melakukannya sekarang. Apapun itu ... ada waktu yang tepat untukmu bisa melakukan hal itu. Jangan membuat dirimu terlalu bekerja keras. Semua akan terjadi jika memang sudah waktunya. Aku ... juga sedang melakukannya."
...........................................
Tak bisa mengikuti kelas pertama, Tae Hyung memasuki kelas pada mata pelajaran kedua. Datang bersama dengan seorang guru, semua orang segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Namun, Jimin langsung berdiri begitu melihat Tae Hyung berjalan di belakang sang guru. Dan semua orang kecuali Hoseok terkejut melihat teman mereka yang sudah lama tak mereka lihat.
"Tae Hyung, kau sudah kembali?" tegur salah satu siswa, dan itu bukanlah Jimin.
Kebisingan mulai terjadi, tampak mereka yang tengah menyambut kedatangan Tae Hyung. Karena seisi kelas telah mengetahui keadaan Tae Hyung, mereka serempak memberikan dukungan kepada rekan mereka. Tae Hyung tentu saja terlihat canggung, dia tidak menyangka bahwa akan mendapatkan sambutan seperti itu. Bahkan orang-orang yang hampir tidak pernah bertegur sapa dengannya juga memberikan sambutan.
"Anak-anak ... tenang semuanya," tegur sang guru, tak berniat memaksa murid-muridnya untuk menghentikan sambutan mereka.
Pandangan Tae Hyung kemudian bertemu dengan Jimin. Dan setelah itu Jimin meninggalkan kursinya, berjalan ke depan kelas. Tampak menahan tangis, Jimin langsung memberikan pelukan kepada teman baiknya itu.
"Kau memang bodoh. Apa sulitnya menghubungi aku?" protes Jimin.
Sebuah pelukan singkat itu berakhir, beberapa orang turut meninggalkan kursi mereka dan mulai mengerumuni Tae Hyung. Mereka menyampaikan dukungan mereka.
"Selamat datang, Tae Hyung ..."
"Semangat, Tae Hyung ..."
"Kami sangat merindukanmu, Tae Hyung ..."
"Jangan pergi terlalu lama. Aku bahkan belum sempat berteman denganmu ..."
Sang guru memandang ke luar kelas, menemukan sosok Dae Hyun yang berdiri di luar kelas. Dan ketika keduanya bertemu pandang, sang guru tersenyum tipis. Tak berniat menghancurkan momen baik itu, sang guru lebih memilih waktu yang tepat untuk menengahi. Sementara itu, Dae Hyun mengalihkan pandangannya dan menemukan Hoseok yang masih tetap duduk dan tengah melihat ke arahnya. Entah sejak kapan pemuda itu menyadari kehadirannya.
Dae Hyun tersenyum tipis. Tak bisa berkomunikasi secara langsung dengan Hoseok, Dae Hyun menggunakan bahasa isyarat yang sudah pasti dimengerti oleh mantan adiknya.
"Aku akan segera menemuimu ... aku janji."
Setelah melakukan hal itu Dae Hyun kembali tersenyum tipis dan pergi. Sedangkan Hoseok tetap memandang ke tempat yang sama selama beberapa detik setelahnya sebelum ia memandang kerumunan yang tengah menyambut Tae Hyung. Seperti hari pertama ia datang ke tempat itu, di dalam kehidupan Kim Tae Hyung, Hoseok tetap merasa menjadi orang yang diasingkan.
"Kau harus bersikap baik pada Tae Hyung ..." pesan Young Jae sebelumnya kembali datang sebagai pengingat bagi Hoseok dikala hatinya mulai memberontak.
Pandangan Hoseok terjatuh pada meja yang kosong. Ada banyak cara untuk menenangkan hati yang terluka, tapi Hoseok lebih memilih untuk berdiam diri. Tak mengizinkan siapapun mengetahui bagaimana jalan pikirannya saat ini.
Dan hari itu Tae Hyung resmi kembali ke sekolah dan memulai kembali aktivitasnya sebagai seorang pelajar sembari menjalani rawat jalan. Dan tentu saja Dae Hyun tak begitu sering menemui Tae Hyung. Terkadang pria itu hanya memperhatikan Tae Hyung dari kejauhan. Begitu halnya dengan Hoseok. Seperti hubungan persaudaraan keduanya yang memang telah berakhir, Dae Hyun tampak tetap menjaga jarak dari pemuda itu.
Apapun alasan Dae Hyun, hal itu membuat Hoseok menaruh kesalahpahaman. Namun, sekali lagi. Apapun itu, Hoseok lebih memilih untuk berdiam diri.
........