Elenio memasuki rumahnya. Lelaki itu memakai masker hitam untuk menutupi luka di wajahnya agar tidak diketahui Bagas dan Devinka.
Keadaan rumah sepi, mungkin kedua orang tuanya sedang pergi keluar, pikir Elenio.
Elenio melangkah menaiki anak tangga menuju kamar. Dia melepas maskernya kemudian melihat lebam di sisi wajah seraya mengusap darah tipis di ujung bibirnya dengan ibu jari.
"Lihat aja Allana, aku akan buat hidup kamu menderita!" seru Elenio diselimuti dendam.
Rasa benci yang masih bersemayam di hati Elenio bukannya semakin berkurang malah kian bertambah. Ego-nya terluka saat Devan lebih memihak Allana daripada dirinya. Dia menganggap Allana sumber dari permasalahannya dengan Devan.
Padahal, jika Elenio bisa melihat dari sudut pandang yang lain, kurang pandainya dia dalam mengelola emosi juga berpengaruh mengapa hal itu bisa terjadi.
***
Allana duduk di meja belajarnya. Dia termenung lama, benarkah semua itu karenanya. Allana tidak mau karena dirinya persahabatan Elenio dan Devan retak. Dia juga tidak mau rasa benci di hati Elenio semakin bertambah. Allana dilanda gelisah, pikirannya semakin kalut.
"Aku gak pernah ada niat buat hubungan mereka rusak, aku juga gak minta Devan buat membela aku, apalagi melindungi aku," ujar Allana menatap sendu lampu belajar yang menyala di sebelah tangan kanannya.
Allana menghembuskan napasnya berat, dia lelah. Allana ingin, sehari saja, dia bisa merasa tenang tanpa hadirnya masalah.
Allana mengetukan polpennya beberapa kali ke meja, mencoba mencari solusi atas kejadian ini. Jika hubungan Elenio dan Devan tidak baik, maka sulit baginya untuk bisa memperbaiki tali persahabatannya dengan Elenio.
Laki-laki itu akan semakin menjauh dan sulit didekati. Allana tahu Elenio memiliki watak yang keras kepala, maka dari itu Allana harus bersabar menghadapi perlakuan Elenio yang kini sering membentak bahkan berlaku kasar padanya.
Tangan Allana mengambil buku kecil bergambar kelinci yang berada di bawah tumpukan buku LKS. Allana membuka lembar demi lembar kertas, mencari ruang kosong untuk diisi dengan untaian kalimat yang ingin dia rangkai.
'Apa yang terjadi hari ini adalah pembelajaran. Masalah itu datang untuk mendewasakan, aku percaya Tuhan dan Semesta telah mengaturnya. Hal yang terjadi hari ini padaku adalah cara agar aku bisa bertumbuh dan menjadi lebih kuat untuk menghadapi rintangan yang mungkin menghadang esok atau nanti. Terima Kasih karena telah membantuku melewati hari ini.' Allana.
Allana menutup bukunya. Hanya dengan menulis dia bisa mengurangi kegelisahan yang terus mendekap. Allana yakin jika yang Maha Kuasa akan selalu ada dan membantunya menghadapi lika-liku kehidupan.
***
Pagi ini begitu cerah, gumpalan awan putih perlahan mulai terberai memperlihatkan birunya langit. Allana berharap, semoga harinya bisa secerah sinar mentari. Pandangan Allana mengarah ke langit, matanya sedikit menyipit menghalau sinar mentari yang menyilaukan mata.
Allana yang mengenakan sweater rajut warna kuning mulai menapakkan kakinya melewati gerbang sekolah. Rambutnya yang tergerai lurus diterbangkan halus oleh alunan angin. Langkah demi langkah semua tampak baik-baik saja. Lantaran tak ada lagi tatapan sinis yang tertuju padanya.
"Syukurlah kalau semua sudah mulai menerima," gumam Allana mengukir segaris senyum. Allana berharap keadaannya akan berangsur-angsur membaik.
Awalnya terasa hangat saat Allana masih berdiri diambang pintu melihat dan mendengar teman-teman satu kelasnya saling bercengkrama.
Namun, ketika Allana melangkah masuk. Keadaan berubah, mereka tiba-tiba berdiri dan hendak beranjak keluar. Senyum yang semula mengembang di raut wajah Allana kini memudar sangat cepat.
"Kalian mau kemana?" tanya Allana mencegah kepergian mereka.
"Jaga jarak sama orang kriminal kayak lo!" jawab Siswi itu telak.
"Apa lo gak sadar juga, kalau kita semua benci sama lo?!" sambung Siswi yang memakai bandana oranye melirik ke arah teman sebelahnya.
"Siapa juga sih, yang mau satu kelas sama Pembunuh," balas Siswi lainnya.
Lalu mereka semua menghujani Allana dengan tatapan sengit sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi meninggalkan kelas.
Allana kira semua sudah baik-baik saja. Allana kira semua sudah seperti sedia kala. Tapi semua hanya ekspektasinya semata.
Allana menunduk pasrah, dia memilih melangkah menuju bangkunya.
Kedua kelopak mata Allana memanas. Saat manik matanya melihat meja putih miliknya sengaja dicoret dengan tulisan 'PEMBUNUH!' menggunakan spidol warna merah.
Allana bereaksi cepat, dia mengeluarkan tisu basah dari tas-nya, sekuat tenaga Allana menggosokkan tisu itu ke meja mencoba menghilangkan tulisan itu. Sulit, tulisan itu tak luntur sedikitpun karena ditulis menggunakan spidol permanen.
"Aku bukan Pembunuh," lirih Allana sesekali menyeka derai air mata masih terus berupaya menghilangkannya. Kenapa semua orang tega menuduhnya hanya karena asumsi yang jelas-jelas tidak terbukti. Sebenarnya siapa dalang di balik semua ini?
"Ternyata masih punya nyali juga ya buat masuk sekolah lagi," cibir Sasha berdiri di ujung pintu. Perempuan yang selalu menjadi pusat perhatian karena kecantikan dan gayanya yang fashionable itu selalu mampu menjadikannya Siswi paling Populer di kalangan SMA Cakrawala.
"Dasar gak tau diri!" seru Nita memicingkan matanya.
Sasha dan Nita berjalan mendekati Allana.
"Kasihan, Allana kamu nangis ya?" ejek Sasha dengan wajah menyebalkan.
"Cengeng banget sih," imbuh Nita tertawa saat melihat setetes cairan bening menetes dari pelupuk mata Allana.
"Jujur, apa kalian yang tulis ini?" tanya Allana baik-baik.
"Emm, kasih tau gak ya?" Sasha terlihat menimbang-nimbang dengan manik mata melirik ke atas.
Allana terus menatap Sasha menanti ucapan yang akan keluar dari mulut Sasha.
"Iya," jawab Sasha santai melipat kedua tangannya.
Kedua tangan Allana terkepal erat.
"Kenapa kalian lakuin ini? Apa aku punya salah sama kalian?" tanya Allana suaranya meninggi.
"Gak usah berlagak tersakiti Allana! Ternyata cuma tampang lo aja yang kelihatan baik, tapi kelakuan lo jauh dari kata baik," sindir Sasha tajam.
Wajah Allana memerah menahan amarah. "Harusnya kamu intropeksi diri Sa. Kamu gak punya hak buat menilai aku seperti itu. Karena apa yang kamu bilang itu gak benar," jelas Allana. Setidaknya jika memang hanya mendengar kabar dari orang ke orang tanpa tahu yang sebenarnya, bukankah diam adalah hal yang tepat untuk dilakukan?
"Udahlah, gak usah cari pembelaan lagi, emang seperti itu kok faktanya," balas Sasha sinis.
"Fakta? Fakta apa yang kamu tau tentang aku?" tanya Allana menantang, berada diambang emosi.
"Ya taulah, lo itu Pembunuh!" seru Sasha pada Allana.
"BUKAN AKU!" bantah Allana keras. Lagi-lagi kata itu membuat hatinya terimpit sesak.
"Percuma lo mengelak, semuanya udah terlanjur benci sama lo!" balas Nita ikut memaki.
Allana menelan ludahnya kasar.
"Aku akan tunjukin kalau aku bukan pelakunya," tekad Allana penuh keseriusan.
"Masa sih, emang lo bisa? Kalau gue sih gak yakin lo bisa," ejek Sasha sengaja ingin membuat Allana merasa tertekan.
Nita tersenyum remeh."Cari barang bukti gak semudah apa yang lo pikirin Allana, kalau cuma ngomong aja semua orang juga bisa," ucapnya.
"Aku tau, tapi aku akan berusaha," balas Allana bertekad kuat.
"Oke, buktiin kata-kata lo!" tantang Sasha menaikan satu alisnya.
"Satu lagi, gue punya hadiah buat lo Allana," kata Sasha tersenyum penuh arti.
"Masuk semuanya," perintah Sasha lalu segerombolan Siswi datang membawa sayuran busuk di tangannya untuk dilempar ke arah Allana.
"Hu, Dasar Pembunuh!" seru mereka bersamaan. Melempar sayur itu pada Allana tanpa ampun.
"Mending keluar aja dari Sekolah ini!" Satu per-satu sayuran itu mengenai tubuh Allana. Menimbulkan bau busuk yang tercium menyengat.
"STOP! BERHENTI!" Allana berteriak seraya melindungi wajah dengan kedua tangannya. Namun apa yang terjadi, meraka malah semakin tertawa puas melihat keadaan Allana yang menyedihkan. Sepertinya empati dalam diri mereka sudah tidak ada lagi.
Tiba giliran Sasha sekarang, dia tersenyum puas. Gadis itu memegang sebutir telur busuk di tangannya. Bersiap-siap melemparnya.
Devan dengan cepat memegang tangan Sasha dari belakang. Bibir Devan menipis marah. Dibawah pengaruh emosi, Devan mengeratkan cengkramannya.
"Devan sakit!" rintih Sasha memberontak agar dilepaskan.
"Sakit lo ini! Gak sebanding sama sakit hatinya Allana!" balas Devan tepat di sebelah telinga Sasha.
Sasha terus mencoba melepas cekalan itu hingga akhirnya Allana bersuara.
"Jangan kasar Van, kasihan Sasha," lerai Allana.
"Eh Allana, gak usah sok jadi Pahlawan lo," cibir Nita.
"Orang seperti ini masih kamu bela Al? Setelah apa yang dia lakuin sama kamu?" tanya Devan tidak percaya setelah melihat penampilan Allana dari ujung rambut hingga kaki. Seragam gadis itu kotor akibat ulah Sasha, dan Allana masih terus melindungi.
"Aku udah maafin mereka, jadi tolong Van lepasin, jangan pakai kekerasan," kata Allana memandang Devan lekat.
"Dengar baik-baik, Sa, kalau bukan karena Allana gue mungkin bisa bertindak lebih dari ini," peringat Devan membuat nyali Sasha menciut. Sasha terus mengusap pergelangan tangannya yang merah.
"Allana," panggil Tania yang baru datang. Dia terkejut melihat keadaan Kelas yang dipenuhi sayur-sayuran busuk ditambah banyak Siswi yang mengerubung di area bangku Allana.
Tania melangkah cepat menghampiri Allana.
"Pasti ini ulah kalian kan?" tuduh Tania yakin.
"Kamu kenapa sih Sa, tega sama Allana padahal Allana gak punya masalah sama kamu!" marah Tania.
"Terserah gue mau lakuin apa aja," ucap Sasha semena-mena.
"Ingat ya, Sa, kamu akan menerima hasil dari apa yang kamu perbuat," peringat Tania dengan suara tinggi.
Dahi Sasha berkerut dalam. "Lo nyumpahin gue?!" tanya Sasha berjalan maju selangkah.
"Aku cuma ngingetin kamu," jawab Tania tenang.
"Aku jadi curiga kenapa kamu bela Allana terus, atau jangan-jangan kalian sekongkol buat bunuh Razella?" tuduh Sasha membuat Tania terbakar amarah di tempat.
"Jaga bicara kamu!" hardik Tania.
"Tuh 'kan pasti kamu juga gak bener 'kan?" lanjut Sasha lagi sengaja memancing keributan.
"Kamu bener-bener ya Sa!" geram Tania.
"CUKUP SA!" bentak Devan lantang. Seluruh atensi tertuju pada Devan.
"Apaan sih Van! Galak banget, sakit tau telinga gue," protes Sasha tidak ada rasa bersalah sedikit pun pada Allana.
"Pergi dari sini! PERGI!" bentak Devan pada Sasha.
"TUNGGU!" langkah mereka langsung terhenti.
"BUAT KALIAN YANG LEMPAR SEMUA INI AMBIL SEKARANG DAN BUANG DARI SINI!" perintah Devan penuh otoritas.
"KENAPA DIEM AJA? BURUAN! KALIAN MAU GUE LAPORIN KE GURU BIAR KALIAN KENA HUKUMAN?!" Devan terlihat menyeramkan saat marah, lelaki itu sangat tegas dan tidak ingin dibantah.
"Lagian kita cuma nurutin perintah Sasha Van," sahut salah Siswi.
"Gue gak peduli, intinya kelas ini harus bersih sebelum guru datang kesini!" balas Devan sedikit melunak.
Mereka lantas memunguti sayuran busuk yang berceceran di lantai dekat bangku Allana.
Devan menghembuskan napasnya.
"Biar aku yang beresin ini Al," kata Devan mengangkat meja Allana ke gudang hendak menggantinya dengan yang lain.
Tania berdiri menghadap Allana.
"Hati kamu terbuat dari apa sih Al? Bisa-bisanya kamu gak marah sama mereka," kesal Tania menghentakkan kakinya.
Diluar dugaan, Allana malah tersenyum tulus bukannya ikut kesal dan membenci Sasha seperti yang dirasakan Tania.
"Aku gak mau jadiin mereka musuh Ta," jawab Allana.
"Tapi Al, kamu harus lawan mereka. Nanti mereka tambah ngelunjak kalau dibiarin terus," peringat Tania. Allana hanya menghela napasnya.
"Liat deh seragam kamu kotor," lanjut Tania.
Allana terdiam mengamati. "Terus gimana?" tanya Allana
"Pakai punya aku aja, kebetulan di loker aku punya cadangan seragam," ajak Tania memang sering membawa cadangan seragam ke Sekolah untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang Allana alami sekarang.
Allana mengangguk. Sebelum keluar, Allana melirik sebentar pada Elenio, laki-laki itu tidak terusik dengan keributan yang terjadi. Dia dengan tenang mendengarkan sesuatu lewat earphone-nya.
Allana ikut senang jika Elenio berhasil mengatasi kesedihannya tapi, rasa kosong dan kehilangan kembali terasa di hati Allana.
'Kamu bener-bener berubah El,' batin Allana.