Allana dan Tania baru saja akan kembali ke Kelas setelah Allana selesai mengganti satu set seragamnya.
"Makasih banget Ta, kamu selalu bantu aku," kata Allana merasa sudah banyak berhutang budi pada Tania.
"Iya, Al, kamu tenang aja. Aku akan bantu kamu sebisa aku," balas Tania merangkul pundak Allana. Dua gadis cantik itu saling tersenyum hangat.
Di tengah perjalanan, keduanya tidak sengaja berpapasan dengan Elenio, lelaki berpostur tinggi dan tegap itu membawa jersey Basketnya.
"El?" sapa Allana namun Elenio hanya menganggapnya angin lalu. Jangankan menyahut, melirik sedikit saja Elenio enggan. Menurutnya menatap Allana barang sekilas, sama saja menyulut api emosi di dalam dirinya.
"Sabar Al," kata Tania mengusap bahu Allana, dia bisa melihat raut kecewa dalam wajah Allana.
Allana mengangguk. "Mungkin, El, tadi gak denger, karena suara aku terlalu pelan," ucap Allana berfikir positif.
"Iya, mungkin," kata Tania mencoba menghibur Allana.
Padahal Tania yakin Elenio mendengarnya namun, lelaki itu pura-pura tidak dengar. Menurut Tania, sikap Elenio terlampau berlebihan pada Allana. Tania merasa Elenio masih belum sepenuhnya berdamai dengan keadaan. Lelaki itu belum terlepas dari belenggu masa lalunya.
***
Elenio, Devan dan anggota Tim Basketball SMA Cakrawala tengah berkumpul di lapangan Indoor, mereka dipanggil untuk mempersiapkan penampilannya jelang pertandingan yang akan digelar esok hari.
"Kita senang El lo bisa gabung lagi sama kita," ucap Doni tersenyum.
"Iya El, kita jadi lebih semangat," sahut Andra.
"Dari kemarin 'kan kita udah latihan bareng," balas Elenio.
"Iya, tapi kita pikir lo bakal absen buat besok," duga Andra bernada khawatir.
"Enggak, gue akan tetap ikut," jawab Elenio meyakinkan.
"Bagus kalau gitu. Soalnya kalau ada lo, gak tau kenapa jadi tambah percaya diri. Iya nggak?" tanya Doni pada lainnya.
"Setuju."
"Abisnya kemampuan lo di atas rata-rata El," puji Doni mengagumi.
Elenio tersenyum. "Kita kan satu Tim, gak ada yang lebih unggul karena kita semua saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing," ungkap Elenio rendah hati.
Devan melirik sinis pada Elenio.
"Pencitraan," lirih Devan tapi masih terdengar di telinga Elenio yang hanya menghembuskan napasnya kasar.
"Bener juga ya," kata Andra manggut-manggut.
"Semuanya sudah berkumpul?" tanya Pak Heri memasuki lapangan. Guru paruh baya yang menjadi kunci keberhasilan Tim Basketbaal SMA Cakrawala. Meski beberapa rambutnya terlihat memutih akibat perubahan pigmen, tapi beliau sangat pandai dalam mengatur taktik.
"Sudah Pak."
"Kalau begitu, mari kita mulai latihannya," perintah Pak Heri, guru paruhbaya itu memegang bola basket di tangannya kemudian beliau melempar bola basket itu pada Elenio.
Mereka langsung mengambil posisi masing-masing. Elenio mulai mendribel bola, dengan gerakan lincahnya dia langsung berhasil memasukkan bola ke ring.
"Bagus! Ayo semangat! Semangat!" teriak Pak Heri di pinggir lapangan seraya bertepuk tangan.
"El," teriak Andra mengoper bola bundar berwarna oranye itu ke arah Elenio. Namun, Devan tiba-tiba mencoba merebut bola yang melambung ke arah Elenio sehingga tubuh Devan menabrak Elenio. Sontak Elenio ambruk ke samping dan sikunya membentur lantai.
"Devan! Kalian ini Tim! bukan individu!" gertak Pak Heri mengoreksi permainan Tim nya.
Beliau berjalan mendekati Elenio.
Elenio tampak meringis, sikunya terasa nyeri.
"Siku kamu berdarah El," tunjuk Pak Heri yang berjongkok di sebelah Elenio yang terjatuh.
Elenio melihatnya sekilas. "Saya baik-baik saja Pak, saya mau lanjut latihan lagi," kata Elenio berdiri mengabaikan rasa sakit itu.
"Kamu gak mau istirahat dulu?" tawar Pak Heri.
"Saya masih kuat Pak, semangat saya yang membuat saya bangkit," ujar Elenio melirik sinis pada Devan. Tampaknya Devan memang sengaja.
"Saya salut dengan kerja keras kamu El," puji Pak Heri.
Sementara Devan yang memegang bola tampak tidak peduli. Devan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Ingat Devan, jangan seperti itu lagi, mau jadi apa tim kita kalau kamu mainnya egois?" tegur Pak Heri.
"Devan! Kamu dengar saya apa tidak?!" kesal Pak Heri.
"Dengar Pak. Maaf saya salah," aku Devan.
"Ayo lanjutkan," perintah Pak Heri meniup peluit yang dikalingkan di lehernya.
Pak Heri mengamati pola permainan yang disuguhkan anak didiknya cukup membuat Pak Heri terkesima. Walau ini hanya latihan tapi Elenio sangat menunjukan kualitasnya sebagai Kapten. Dia yang paling terlihat menonjol. Elenio pandai dalam mengatur ritme permainan. Beliau benar-benar terkesan dengan kemampuan yang dimiliki Elenio.
Bunyi peluit kembali terdengar menandakan waktu latihan basket telah usai. Dengan segera Elenio, Devan dan lainnya berjalan mendekat ke arah Pak Heri. Peluh bercucuran dari wajah turun ke leher mereka.
"Baik, cukup sampai di sini latihan kita hari ini. Ingat, besok kita harus menunjukkan penampilan yang gemilang jaga kekompakan kalian dan kurangi sikap individu, karena kita Tim! Siapa yang bekerja sama dialah pemenangnya," peringat Pak Heri lantang dibalas anggukan mantap oleh mereka semua.
"Baik, silahkan bubar dan istirahat yang cukup. Jaga kebugaran kalian," pesan Pak Heri.
"Baik Pak," sahut mereka serentak.
Di saat semuanya telah meninggalkan area lapangan. Kini hanya tersisa Elenio dan Devan yang belum beranjak pergi.
"Lo sengaja kan, Van?" tanya Elenio.
"Itu balasan karena lo udah bikin Allana luka kemarin," jawab Devan cuek.
Elenio berdecak malas. "Jadi, lo balas dendam atas nama Allana Van? Lucu," gumam Elenio tidak tahu jalan pemikiran Devan.
"Gue cuma bantu nyadarin lo El. Biar lo tau gimana rasanya dilukai sama sahabat sendiri. Seperti yang Allana rasain," balas Devan menohok lalu pergi tidak mempedulikan Elenio yang mengeraskan rahangya rapat-rapat.
"Dikasih apa lo sama Allana? Sampai-sampai lo segitunya bela dia. Apa jangan-jangan lo udah ...." Elenio sengaja menggantung ucapannya, berniat memancing reaksi emosi dari Devan.
Devan berhenti di ujung pintu, dia sudah mengepalkan kedua tangannya kuat hingga terlihat percabangan urat di permukaan kulit tangannya.
'Dia cuma mancing lo Van, lo gak boleh gegabah!' kata Devan di benaknya lalu kembali melanjutkan langkahnya.
***
Allana mengintip dari balik pintu ruang ganti, melihat Elenio yang duduk di kursi tampak meringis kesakitan. Diam-diam Allana menyaksikan latihan Basket itu. Dia juga mendengar percakapan antara Elenio dan Devan tentang pengakuan Devan yang sengaja menabrak Elenio. Itu semua Devan lakukan untuk Allana untuk membelanya. Allana dilanda rasa bersalah karena telah membuat hubungan keduanya merenggang juga Elenio terluka karenanya.
Sejujurnya Allana masih kecewa dengan perlakuan Elenio kemarin, namun Allana berusaha memaafkan. Rasa kepeduliannya jauh lebih besar melebihi itu.
Saat Elenio hendak masuk ke toilet Allana segera berlari menuju UKS mengambil kotak P3K, beruntung letak UKS tidak jauh jadi Allana bisa dengan cepat meletakkan kotak itu di bangku tempat yang diduduki Elenio. Kemudian secepat kilat Allana kembali keluar bersembunyi.
Elenio yang baru saja berganti pakaian mengerutkan alisnya. "Siapa yang taruh ini?" tanya Elenio memandang kotak P3K itu lama.
Menengok ke kanan dan kiri adakah seseorang yang sengaja menaruhnya di sini.
Allana yang masih bersembunyi terus memperhatikan Elenio.
"Obati luka kamu El," lirih Allana. Memandang Elenio dengan rasa harap-harap cemas.
Tangan Elenio membuka kotak itu. Kemudian mengambil satu plester untuk lukanya. "Ini cuma luka kecil," gumam Elenio.
***
Elenio menaruh tas-nya di kursi belajar. Tubuhnya dipenuhi peluh keringat. Dia bersama Tim-nya telah berlatih keras demi mempertahankan gelar. Gelar yang telah dipertahankan selama kurun waktu lima tahun berturut-turut, dan esok adalah pembuktian untuk mendapatkan kemenangan.
Wajahnya terlihat letih namun bukan itu masalahnya, seperi ada yang kosong di lubuk hatinya. Elenio merindukan sebuah dukungan, dukungan dari seseorang. Dia membuka laci kecilnya, Elenio mengambil ikat kepala berwarna biru bertulis EL di sana. Ini merupakan hadiah dari Razella saat Tim-nya berhasil menorehkan kemenangan tahun lalu.
Elenio terduduk di lantai, punggung tegapnya dia senderkan pada sisi ranjang, kakinya merasakan sensasi dingin dari keramik. Elenio menatap ikat kepala itu lekat, telapak tangannya mengusap pelan tulisan itu, yang malah menghadirkan banyak rasa hadir
mengisi ruang hatinya. Rindu, dan sayang.
Beranjak dari posisi duduknya, Elenio melangkah ke balkon kamar. Kedua netranya menatap sendu ke angkasa yang luasnya tak terhingga.
"Apa kabar, Ra?" tanya Elenio penuh kerinduan.
Matanya beralih menatap ikat kepala yang dia genggam erat.
"Apapun yang berkaitan dengan kamu itu sangat berarti buat aku Ra, termasuk ini," ucap Elenio tulus.
"Kamu lihat aku kan di sana?" tanya Elenio mengangkat wajahnya ke atas. Dia tersenyum di dalam kegelapan yang mengurung dirinya.
"Untuk pertama kalinya, besok, aku tanding Basket tanpa dukungan kamu, tanpa kehadiran kamu. Biasanya, malam sebelum aku bertanding, kamu selalu memberi dukungan dan motivasi buat aku ...." Elenio menjeda ucapannya dia menghela napas berat.
"Alasan kenapa aku selalu ingin memenangkan pertandingan karena kamu Ra, aku gak mau kamu kecewa, aku ingin kamu tersenyum bahagia. Kamu satu-satunya orang yang sangat memahami aku daripada keluarga aku sendiri," ungkap Elenio mengenang saat-saat Razella selalu ada di sisinya dalam kondisi apapun.
"Itu alasan mengapa kehilangan kamu itu berat Ra," Elenio menunduk lesu. Menahan getir takdirnya sendiri.
***
Malam kembali hadir menyelimuti langit dan bumi. Duduk sendiri di kursi taman, Allana memakai sweater putih serta celana panjang biru. Allana resah, sesekali dia mengecek ponselnya. Melihat pesan yang dia kirim masih dalam keadaan tanda centang dua abu-abu.
"Kenapa belum dibaca? Dia jadi kesini gak ya?" tanya Allana memasukan ponselnya di saku. Dia
saling menggosokan kedua telapak tangannya mengusir hawa dingin yang menyusup dalam diri.
Ditemani sinar rembulan yang semu serta embusan angin yang membuat tumbuhan di sekitarnya mengalun indah mengikuti arah angin. Allana merasa udara malam ini terasa lebih dingin dari malam sebelumnya, badan Allana sedikit menggigil dibuatnya. Allana terus mengusap kedua telapak tangannya mengusir hawa dingin yang menyusup dalam diri.
"Hai Al," suara itu, suara sapaan yang terdengar tak asing di telinga Allana. Dia menengok ke belakang.
"Aku pikir kamu gak jadi datang," pungkas Allana memperhatikan penampilan Devan yang memakai jaket kulit hitam berpadu celana jeans model robek pada bagian lututnya.
"Maaf Al, tadi ban motor aku bocor di jalan," ungkap Devan sedikit menyesal telah membuat Allana menunggu lama. Dia lantas duduk di sebelah Allana.
"Iya gak pa-pa Van," ujar Allana memaklumi.
"Kamu mau ngomongin soal apa Al?" tanya Devan antusias menatap Allana. Dia sedikit menelengkan kepalanya.
Allana sedikit menginggit bibir bagian bawahnya. "Van, aku mohon, kamu jangan jauhin El apalagi sampai bermusuhan sama dia," pinta Allana menatap kedua mata Devan dalam-dalam.
"Itu karena El yang egois Al," balas Devan mengeraskan rahangnya.
"Tolong Van, aku gak mau persahabatan kalian rusak gara-gara aku," ungkap Allana sendu.
"Gak Al, ini bukan salah kamu.
Pasti El ancam kamu ya?" tuduh Devan.
Allana menggeleng cepat. "El gak pernah ancam aku Van, aku lihat sendiri waktu kalian latihan basket tadi. Kamu gak perlu melindungi aku Van, kamu juga harusnya gak usah bela aku berlebihan," kata Allana tidak enak hati.
"Al, sesama manusia itu harus tolong menolong, kita diberi hati agar memiliki belas kasih dan simpati. Jadi menurut aku wajar kalau aku nolong kamu yang butuh bantuan dan kasih pelajaran ke El, biar dia sadar!" balas Devan.
"Niat kamu baik Van, tapi cara kamu salah, kita gak boleh pakai kekerasan itu semua hanya akan meninggalkan luka fisik juga batin Van," tutur Allana.
"Benar kata kamu Al. Tapi, apa kamu gak sakit hati diperlakuin kasar sama El, apa kamu gak marah apa kamu gak benci?!" tanya Devan menekan ucapan di kata terakhirnya.
Allana tersenyum membuat Devan terkejut dengan respon tak terduga dari Allana.
"Semua rasa itu hanya akan menyakiti dan merugikan diri sendiri, jadi aku mencoba menerima jika semua yang terjadi memang harus terjadi untuk membuat kita lebih memahami," jelas Allana.
Devan diam merenung.
'Ada ya, orang seperti kamu Al, kamu masih aja baik sama El. Kamu juga gak pernah menaruh benci sama orang yang jelas-jelas udah lukain hati kamu,'
kata Devan kagum dalam benaknya.