Allana kembali melanjutkan perjalanan menuju Rumah Sakit yang sempat tertunda akibat berhenti di Danau itu sejenak.
Allana yang duduk di kursi penumpang dilanda rasa penasaran. Allana tidak sabar untuk menemukan bukti lagi.
Taksi itu berhenti, tepat di area gerbang luar Rumah Sakit Mutia. Tanpa pikir panjang, Allana segera berlari menuju tempat bagian informasi.
"Sus, saya mau tanya, nama pasien bernama Amara yang meninggal dua tahun silam akibat kecelakaan itu dirawat disini kan?" tanya Allana.
Suster itu menatap curiga pada Allana. "Maaf, tapi anda siapa? Kami tidak bisa memberi tahu tentang pasien yang anda maksud, demi menjaga informasi dari pasien," sangggah Suster itu.
Allana terus menatap lekat Suster itu.
"Saya sahabat anak pasien yang bernama Elenio. Saya dan keluarga mereka sudah saling mengenal lama dan kami seperti keluarga," terang Allana lugas.
Suster itu mengangguk percaya.
"Sebentar ya Dek, saya cek dulu. Pasien atas nama Amara meninggal karena kesulitan bernapas di saat kondisinya sangat kritis," ungkap Suster itu.
"Bukannya waktu itu kondisi Pasien sempat membaik?" tanya Allana menelisik.
"Iya, benar, namun kondisinya melemah secara drastis," jelas Suster.
Allana merenung sejenak. "Sus, apa saya boleh melihat rekaman Cctv di rumah sakit ini?" tanya Allana dengan wajah serius.
"Sebentar, saya tanyakan dulu," kata Suster itu menelpon.
Detik berlalu Allana terus berdiri menunggu. Saat Suster itu menutup sambungan telfonnya. Allana langsung bertanya.
"Bagaimana Sus?" tanya Allana ingin segera tahu kebenarannya.
"Anda diperbolehkan, silahkan mendatangi ruang Cctv ada diatas," ujarnya.
"Baik, terima kasih," balas Allana menaiki tangga menuju ke sana.
Allana mempercepat langkahnya. Dalam hati, Allana sangat berharap jika Cctv itu akan mampu mengungkap semua kebenarannya.
"Semoga identitas pelaku itu bisa ditemukan," lirih Allana disela-sela langkahnya.
Allana masuk ke ruang Cctv dia melihat layar monitor di depannya.
"Pak, tolong putar Cctv pada tanggal 18 April kurun waktu dua tahun silam di ruang UGD," pinta Allana terburu-buru.
Sesaat, setelah menemukan rekaman yang dimaksud. Layar monitor itu menampilkan kondisi di depan ruang UGD, mulai dari Amara dibawa masuk, hingga kedatangan Bagas dan Elenio yang menangis histeris. Allana melihat Dokter maupun Suster terus memeriksa kondisi Amara sekitar 30 menit sekali. Namun rekaman Cctv itu mendadak terhenti.
"Selanjutnya mana Pak?" tanya Allana menoleh.
"Saya cari dulu," jawab Petugas.
Rekaman Cctv itu mulai terputar kembali. Di situ hanya ada rekaman yang menunjukkan jika Amara sudah dalam kondisi meninggal terlihat dari Bagas dan Elenio yang langsung masuk tergesa.
"Tunggu, ini seperti ada yang hilang ya pak?" tanya Allana saat melihat jam yang tertera menunjukkan pukul 12 siang.
Sementara bagian pada malam hari dan pagi hari tidak ada. Padahal bagian itu merupakan bagian terpenting.
"Harusnya selama dua puluh empat jam semua terpantau, tapi kenapa ini langsung menunjukan pukul 12," protes Allana.
Petugas pun tampak kebingungan.
"Harusnya memang seperti itu Dek, sepertinya ada yang sengaja menghapus rekaman Cctv ini," ungkapnya.
"Apa? Tapi siapa?" gumam Allana.
Allana benar-benar dipenuhi tanda tanya. Siapa yang dengan sengaja meretas rekaman Cctv ini patut dicurigai. Aneh dan janggal menjadi satu dalam perasaan Allana. Dia semakin yakin ada dalang yang sudah mengatur kejadiaan ini.
Sepertinya semua hal sudah dipertimbangkan matang-matang. Buktinya, Allana sangat sulit menggali kebenaran.
"Apa ini gak bisa dipulihkan lagi Pak," tanya Allana berharap ada cara lain.
"Tidak Dek," jawab Petugas itu membuat Allana menahan rasa kecewanya.
"Yaudah gak pa-pa Pak, terima kasih atas bantuannya," kata Allana berjalan lesu keluar dari area Rumah Sakit.
***
Sesuai dengan janji, Allana menunggu seseorang. Di taman yang tidak jauh dari komplek perumahannya. Dengan bantuan Bi Ratih dia bisa bertemu dengan Bi Asti asisten rumah tangga keluarga Elenio.
"Ada apa ya, Non?" Bi Asti datang lalu duduk di bangku sebelah Allana.
Allana memiringkan tubuhnya.
"Gak ada yang tau kan, Bibi kesini temuin saya?" tanya Allana khawatir. Dia tidak ingin Keluarga Elenio mengetahui jika dirinya bertemu Bi Asti diam-diam.
"Nggak, Non," jawab Asti.
"Bisa Bibi ceritain tentang apa yang terjadi sebelum Tante Amara meninggal karena kecelakaan itu?" pinta Allana hati-hati.
Asti menggaruk tengkuk kepalanya. "Saya lupa Non," ucapnya tampak seperti orang linglung.
"Coba Bibi ingat pelan-pelan. Tolong Bi ini penting buat Allana," kata Allana sangat mengharap.
"Iya-iya saya ingat," celetuk Asti.
"Syukurlah," kata Allana lega.
"Non Allana, tau sendiri kan keluarga Den El itu gak harmonis. Jadi, Sebelum kecelakaan itu, ada pertengkaran hebat yang terjadi antara Almarhum Nyonya Amara sama Tuan Bagas.
"Mereka bertengkar karena apa Bi?" tanya Allana.
"Kalau itu Bibi juga gak terlalu tau Non biasanya karena rasa cemburu, intinya Nyonya Amara marah besar, tapi baru kali ini saya lihat Nyonya semarah itu, mungkin ada kesalahan fatal yang dilakukan Tuan Bagas. Terus tiba-tiba Nyonya Amara keluar dari kamar dengan wajah penuh tangisan," jelas Bi Asti.
"Terus Bi?"
"Dan waktu Nyonya Amara mau keluar rumah, Den El udah coba larang nyonya dengan berdiri menghalangi pintu rumah, tapi nyonya tetap bersikukuh Den El udah coba halangi dengan pegang kaki nyonya Amara, tapi Nyonya gak peduli. Dia masuk mobil dan saat itu juga Den El masih coba mengejar." Asti mengembuskan napas panjang.
"Bibi masih ingat, Den El menangis, dan gak berapa lama kabar tentang kecelakaan itu terdengar," kata Bi Asti sedih.
"Kira-kira Almarhum tante Amara mau kemana Bi?" tanya Allana.
"Mau menenangkan diri Non, cari tempat yang jauh dari keramaian kota. Bibi dulu sering bohongin Den El, bilang kalau Nyonya lagi sibuk kerja di luar kota. Padahal aslinya Nyonya pergi, buat nenangin dirinya," papar Bi Asti.
Pasti ada alasan, kenapa tante Amara bisa cemburuan sama Om Bagas, gimana aku bisa tau kehidupan mereka sementara aku cuma orang lain, batin Allana.
'Apa mungkin om Bagas yang tega mencelakai istinya sendiri?'
'Allana apa yang kamu pikirin, gak mungkin Om Bagas sejahat itu.' Allana berdiskusi di dalam dirinya.
"Bibi tau siapa sahabat dekatnya Almarhum tante Amara?"
"Tau Non," Bi Asti mengangguk pasti.
"Siapa Bi?" tanya Allana penuh binar harapan di kedua matanya.
"Tapi, dia lagi gak ada di Indonesia, sekarang tinggal di Inggris," papar Bi Ratih membuat bahu Allana yang terangkat antusias mendadak merosot ke bawah.
"Yah, jauh banget Bi. Apa Bibi punya nomor telfonnya?" tanya Allana.
"Maaf Non, Bibi gak punya," balas Bi Ratih.
Tampaknya pencarian yang dilakukan Allana hari ini, harus terhenti di sini. Allana terlalu berambisi untuk segera menemukan sang pelaku membuatnya terlalu kecewa dengan hasil pencarian yang tak sesuai ekspektasi.Sejauh ini Allana memang belum menemukan bukti yang signifikan
"Masih ada hari esok, aku yakin
pelan-pelan, kalau aku tetap berusaha pasti akan ada jalan."
Allana memahami ini tidaklah mudah. Perlu proses, kesabaran juga kejelian.
Allana yang selesai membersihkan diri dari kamar mandi. Lantas menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Dia kembali menghembuskan napas kasar.
"Ma-ma," ujar Allana terkejut. Nama itu tertera di layar ponsel Allana.
Baru kali ini Hanna mau menghubunginya sekaligus membuat Allana heran. Wajah Allana yang awalnya meredup kini berubah berseri-seri. Dengan antusias Allana membaca chat dari Hanna.
[Allana kamu bisa datang kan malam ini, ke Hotel Luxury jam 9 malam. Acara Perayaan Perusahaan Kusuma.]
[Ini Pdf Undangannya.]
Bukankan ini aneh? Beberapa hari yang lalu kedua orang tuanya telah memaki Allana. Bahkan dengan terang-terangan mengakui alasan kenapa Allana tidak diperlakukan seperti Rama.
Tapi pesan berisi undangan ini membuat Allana tercengang. Apa ini sungguh nyata? Allana tidak bermimpi 'kan?
Untuk kali pertamanya, Allana diundang dalam acara Perayaan Besar Perusahaan Kusuma. Allana dilanda bimbang. Di satu sisi dia senang tapi juga gelisah. Apakah pengirim ini benar-benar Hanna-ibunya atau bisa saja ini dari orang lain.
"Datang nggak, ya?" gumam Allana menimang keraguan. Satu notifikasi pesan kembali muncul.
[Datang tepat waktu, Allana, Mama tunggu.]
Mendapat pesan penantian itu membuat Allana menghapus kecurigaannya. Allana jadi percaya diri dan rasa tidak yakin itu telah pergi. Mungkin ini sinyal yang baik, bahwa kedua orang tuanya mau menerima kehadirannya.
[Pasti, Allana akan datang, Ma.]
Allana melangkah membuka lemari kayu putih disebelah meja riasnya . Allana mulai mengeluarkan beberapa dress miliknya. Berdiri di hadapan cermin Allana memasangkan satu per satu dress di depan badannya mulai dari warna pink, putih, dan navy.
"Pink bagus, tapi sepertinya kurang cocok," pendapat Allana.
"Putih? Hmm gak deh." Allana menggelengkan kepala, kembali menaruh dress itu di kasur.
"Navy bagus, kelihatan mewah tapi simpel," gumam Allana merasa cocok dan serasi untuknya.
Allana tersenyum, pilihannya jatuh pada dress navy selutut.
Allana mengenakan dress itu kemudian duduk merias wajahnya. Allana mulai mengoleskan beberapa make up, tidak banyak Allana hanya memakai riasan tipis. Wajah Allana terlihat flawless namun sangat cantik ketika dia membubuhkan lipstick berwarna pink muda di bibirnya.
Allana beralih menata rambutnya. Rambut panjangnya sengaja dia buat ikal di ujungnya. Allana kembali menatap pantulan dirinya. Dia memutar badannya dari arah kiri lalu kanan. Allana sangat anggun, tas berwarna kuning keemasan berpadu dengan sepatu hitam dengan hak tinggi itu benar-benar memberi aksen yang menakjubkan.
Allana keluar dari kamarnya.
"Non Allana cantik sekali," puji Ratih.
"Jangan gitu Bi Allana malu," ujar Allana tersipu. Wajahnya terlihat memerah.
"Kok malu sih Non, orang cantiknya kebangetan gini kok," puji Ratih lagi terpesona.
"Bibi bisa aja," jawab Allana sedikit menggoyangkan badannya ke samping.
"Tapi mau pergi ke acara apa Non?" tanya Ratih.
"Ke acara perayaan perusahaan Papa Bi," jawab Allana tersenyum cantik.
Ratih terkesiap, harusnya dia ikut senang. Namun entahlah ada yang mengganjal di hati kecilnya.
"Non yakin mau kesana?" tanya Ratih mendelik ragu.
Allana mengangguk. "Yakin Bi, Allana habis dapat undangan dari Mama," jawab Allana mantap.
'Sepertinya ada yang tidak beres.' Ratih membatin.
"Allana berangkat ya Bi, udah ditunggu sama taksi," pamit Allana.
"Iya Non." Ratih memandangi kepergian Allana.
"Semoga firasat saya ini tidak benar, Non Allana pasti baik-baik saja," gumamnya.