"El?!" panggil Devinka sengaja memanjangkan intonasi hurf L-nya.
Elenio yang asik menonton Televisi menoleh pada Devinka. Sebelah alis Elenio berjengit ke atas.
"Iya, Ma, El dengar. Ada apa?" sahut Elenio.
Devinka yang memakai dress formal duduk di sofa tepat sebelah Elenio.
"Kok kamu belum siap-siap?" tanya Devinka sewot.
"Mau kemana?" tanya Elenio santai seraya memakan camilan.
"Mama, kan udah bilang tadi, lewat balik pintu kamar kamu," kata Devinka kesal.
"Tadi El mandi, Ma, jadi gak dengar," jawab Elenio pelan meredam amarah Devinka.
"Kamu ini!" kesal Devinka memukul lengan Elenio.
"El gak bohong," balas Elenio.
"Kita diundang di acara Perusahaan Kusuma. Tadi, Mama suruh kamu siap-siap," jelas Devinka.
"El gak ikut," jawab Elenio dengan raut wajah tidak berminat.
"Kamu harus ikut El, ini demi nama baik keluarga kita. Perusahaan kita bekerja sama dengan Perusahaan mereka. Kita harus datang," bujuk Bagas tengah memakai jam tangan.
Elenio memutar bola matanya malas.
"Tapi, kalau El gak mau. Ya, jangan dipaksa dong, Mas," sanggah Devinka menatap Bagas.
"El mau kok, Ma," jawab Elenio cepat beranjak dari tempat duduknya.
Daripada nanti dia terus-menerus mendengar kalimat panjang lebar yang dilontarkan dari Ayahnya. Elenio memilih untuk setuju.
Tak lama, Elenio datang memakai tuxedo hitam berpadu sepatu senada dengan dasi pita kecil di lehernya. Rambut Elenio tersisir rapi serta tampak mengkilap karena balutan pomade. Benar-benar tampan.
"El, kamu ini mirip banget sama Papa," puji Devinka tersenyum simpul membenarkan jas yang dipakai Elenio.
"Iya dong, Papanya ganteng anaknya juga ganteng," sahut Bagas percaya diri mengusap rambutnya ke belakang. Berniat memerkan wajahnya yang tidak kalah tampan dengan Elenio.
"Tapi masih ganteng El. El masih muda, masih fresh," kata Elenio dengan nada meledek.
"Kamu nyindir Papa El?" tanya Bagas sedikit emosi.
Devinka tertawa. "Udah-udah, ayo kita berangkat sekarang," ajak Devinka menggandeng tangan Bagas diikuti Elenio dari belakang.
***
Allana turun dari Taksi. Dia melangkah pelan seraya mengedarkan pandangannya, mendapati banyak sekali tamu undangan yang datang. Sudah tentu, mereka adalah orang-orang penting dari kalangan elit.
Saat Allana akan masuk ke dalam venue acara. Langkahnya dihadang oleh Petugas Keamanan.
"Kartu undangan," pinta Pria berkaca mata, badannya besar dan berwajah sangar berpakaian serba hitam hitam.
"Sebentar," kata Allana merogoh dompet mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan pdf kartu undangan.
"Baik, silahkan masuk," ucapnya dengan suara bariton.
"Terima kasih," balas Allana tersenyum ramah lantas menginjakkan kakinya ke dalam.
Seketika mata Allana membelalak takjub melihat dekorasi dan kemewahan yang tersaji dihadapannya. Namun dia tidak sadar bahwa kehadirannya tak luput dari perhatian dari orang-orang. Mereka menatap Allana dengan pandangan terkesima.
Penampilan Allana yang terbilang sederhana mampu membius banyak pasang mata. Aura yang terpancar dari Allana tidak dapat disangkal karena pesona kecantikannya.
Sementara, di panggung depan sudah ada Dimas, Hanna dan Rama berjejer tampak seperti keluarga yang utuh dan bahagia di mata banyak orang. Tanpa adanya Allana di sana, hal itu memang sudah biasa dan Allana hanya bisa menerima.
Dimas memegang microfon di tangannya, dia akan memulai acara ini. "Kami ucapkan terima kasih atas kehadiran para Tamu Undangan. Hari ini, adalah hari Perayaan Perusahaan Kusuma yang telah berdiri dalam kurun waktu 51 tahun. Berkat kerja keras dan doa, Perusahaan ini masih tetap berdiri hingga saat ini dan berada di titik puncak kejayaan," ungkap Dimas mengundang tepuk tangan gemuruh dari para tamu undangan.
"Hal ini juga terjadi karena lahirnya Rama, dia adalah anak pembawa keberuntungan. Selain itu, dia juga berprestasi dalam bidang Akademik. Beberapa hari yang lalu Rama juga berhasil memenangkan lomba Olimpiade Matematika tingkat Asia," kata Dimas dengan rasa bangga yang sangat kentara seraya merangkul bahu Rama.
Para Tamu Undangan saling berkomentar.
"Wow, hebat kamu Rama."
"Pasti bangga sekali punya anak jenius seperti Rama."
Dimas yang melihat respon dari Para rekan kerjanya terus mengumbar senyum.
"Dia adalah calon penerus Perusahaan Kusuma kelak. Saya yakin, perusahaan saya akan berkembang pesat ditangan orang yang tepat, yaitu Putra saya Rama," ujar Dimas lantang.
Mereka yang mendengar itu hanya mengangguk dan menatap Rama penuh rasa kagum.
"Baik, silahkan bersenang-senang dan menikmati hidangannya." Dimas mempersilahkan. Ketiganya lantas turun dari panggung menyambut Tamu Undangan yang hadir.
Di saat bersamaan, Hanna menyadari kedatangan Allana. Matanya menajam menatap Allana.
'Kenapa anak itu ada di sini?' batin Hanna geram.
Allana tersenyum hangat saat mengetahui bahwa Hanna sedang menatapnya.
"Mama," kata Allana tanpa suara.
"Itu siapa Hanna? Kok kelihatannya tadi panggil kamu, Mama," tanya teman Hanna yang berdiri di sebelahnya.
"Tidak tau, sepertinya salah orang," pungkas Hanna.
Allana menyadari perubahan raut wajah Hanna sebelum dan sesudah melihat dirinya. Hanna tampak tidak nyaman dengan adanya dirinya di sini.
Dimas menarik lengan Hanna.
"Ikut saya," ajak Dimas ada kilat amarah di matanya. Hanna menurut, dia mengikuti langkah kaki Dimas.
Dimas membawa Hanna ke belakang, jauh dari keramaian.
"KAMU UNDANG DIA?!" gertak Dimas menatap nyalang Hanna
Beruntung musik yang di setel cukup keras. Sehingga gertakan Dimas tersamarkan.
"Ya, enggaklah, Mas, buat apa coba?" Hana mengelak, dia tidak merasa mengundang Allana.
"Saya gak mau kehadiran anak itu merusak acara ini, kamu usir dia!" perintah Dimas benci.
"Aku akan suruh Petugas Keamaan buat usir dia," sahut Hanna.
Baru saja perasaan bahagia itu membuncah dalam diri Allana.
Rasa itu sirna saat Allana mendengar perbincangan kedua orang tuanya.
Sebenci itu kah kedua orang tuanya pada dirinya? Padahal Hanna yang mengundangnya kemari. Tapi kenapa dia tidak mengakui?
"Ternyata dari dulu, sikap Papa sama Mama gak berubah. Kalian belum bisa menerima Allana," lirih Allana pedih.
Harusnya Allana tidak berharap lebih, harusnya Allana sadar diri, harusnya dia juga tidak berekspektasi tinggi jika ujungnya akan tersakiti. Sekuat tenaga Allana memberanikan muncul di hadapan orang tuanya. Menghalau semua rasa sakitnya.
"Kalian gak perlu khawatir, Allana akan pergi," kata Allana menampakkan diri.
"Bagus kalau begitu," sahut Dimas menatap rendah.
"Lagi pula, kami tidak membutuhkan kehadiran kamu di sini," lanjutnya lagi menusuk relung hati Allana. Sakit.
"Iya, Allana paham," balas Allana mengepalkan tangan.
"TUNGGU APALAGI?! CEPAT PERGI!" usir Dimas keras.
Allana berlari dengan air mata yang berderai.
Allana tidak sengaja menabrak pelayan yang membawa nampan gelas berisi minuman. Keduanya sama-sama jatuh dan tumpahan minuman berwarna merah itu mengenai dress Allana. Kaki Allana terasa nyeri karena sebelah hak sepatunya patah.
"Maaf, ya Kak, saya gak sengaja," ucap pelayan itu mengumpulkan pecahan beling di lantai.
"Saya yang salah Kak, saya minta maaf," aku Allana malu, dia segera melepas sepatunya.
Para tamu undangan hanya menatap Allana aneh. Sudah jelas banyak orang di area ini kenapa gadis itu berlari dan tidak hati-hati dengan langkahnya.
"Kalau jalan itu lihat ke depan, bukan ke bawah!" sindir tersenyum angkuh lalu berjalan melewati Allana.
Elenio yang turut hadir di sana pun hanya menoleh sekilas, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.
Devinka segera menghampiri Allana. Allana melepas kedua sepatunya lalu menentengnya dengan satu tangan.
"Ayo Allana, Tante bantu berdiri," ujar Devinka memegang bahu Allana.
"Biar El yang anter kamu pulang ya," bisik Devinka.
"Allana pulang sendiri aja, Tante," tolak Allana lirih. Allana butuh ruang sendiri.
Meski wajahnya basah karena jejak air mata. Tapi Allana masih sempat-sempatnya tersenyum tulus ke arah Devinka yang seketika langsung membuat hati Devinka trenyuh.
"Hati-hati Allana," pesan Devinka.
***
Allana berjalan sendiri dibawah naungan langit yang gelap. Tak tahu hendak kemana, Allana hanya mengikuti kemana langkah kaki membawanya. Tanpa disadari Allana memasuki ke area jalan kecil nan sepi sangat minim pencahayaan.
"Hai cantik, mau kemana?" goda seorang Pria.
Allana tersadar dari lamunan saat seorang Preman telah berdiri menghadang langkahnya. Celaka, apa yang Allana lakukan, kenapa dia bisa ada disini. Allana tidak menjawab, dia hanya memandangnya was-was.
"Bentuk tubuhnya lumayan juga nih," ujar Preman itu mendekati Allana memperhatikan lekuk tubuh Allana yang indah.
Reflek, Allana berjalan mundur.
Allana menyesal sekarang, kenapa dia tidak langsung pulang saja tadi. Mengingat dress yang dia pakai cukup ketat dan bagian bahunya terbuka.
"Boleh juga nih," kata Preman itu sangat ingin menyentuh wajah Allana.
Allana berbalik badan hendak berlari.
"Eits, jangan lari, di sini aja sama saya," Pria itu mencekal pergelangan tangan Allana.
"Enggak!" seru Allana panik.
Allana memukul lengan Pria itu dengan sepatunya.
"Berani kamu, ya?!" tanya Pria itu semakin tertantang untuk menaklukan Allana.
"LEPASIN! TOLONG!," jerit Allana.
Tangan besar Pria itu mencengkram kuat rahang Allana. Saking kuatnya Allana kesulitan menggerakkan kepalanya.
"Diam cantik, kita akan bersenang-senang malam ini," ucap Pria itu terdengar menjijikan di telinga Allana. Cengkraman Pria itu terlepas, dia membelai lembut pipi mulus Allana.
Allana meludah tepat mengenai wajah Preman itu.
"Kurang ajar!" seru Pria itu hendak menampar, namun tangannya terhenti di udara kala Allana mengeluarkan suara.
"Tolong, lepasin saya! Saya mohon, kalau kamu mau uang atau barang-barang saya. Silahkan ambil, tapi biarkan saya pergi," mohon Allana menangis suaranya melirih.
Pria itu memperhatikan barang-barang yang dikenakan Allana, sedikit tertarik.
"Perhiasan kamu mahal, tapi, tubuhmu jauh lebih menggoda daripada semua itu," balas Pria itu membuat Allana bergidik ketakutan.
Pria itu mendorong tubuh Allana membentur tembok pembatas. Ingin melakukan hal tak senonoh.
"Hapus air mata kamu cantik," perintah Pria itu menyentuh pipi Allana, menghilangkan linangan air mata yang turun.
Allana yang terancam langsung berfikir cepat.
'Gak ada cara lain!' batin Allana.
Allana terpaksa menendang area pribadi milik pria itu.
"Sial!" umpat Pria itu menahan sakit yang luar biasa. Rasanya nyeri dan ngilu.
Allana melarikan diri, namun Pria tidak melepas Allana begitu saja, dengan langkahnya yang tertatih dia terus mengikuti Allana.
Allana melangkah tak tentu arah, yang terpenting baginya adalah dia harus terus berlari menjauh dari jangkauan Pria itu.
"Apa? Jalan buntu," ucap Allana panik melihat tembok yang menjulang tinggi di hadapannya.
Rupanya, Pria itu belum menyerah. Dia berhasil mengejar Allana walau masih meringis kesakitan.
"Kamu tidak bisa lari dari saya," seringaian jahat muncul di wajah Pria itu. Allana takut itu sangat menyeramkan. Tubuh Allana gemetar ketakutan.
"PERGI KAMU!" seru Allana melempar sepatunya mengenai tubuh Pria itu.
Pria itu melangkah maju dan menarik lengan Allana.
"LEPASIN SAYA!" seru Allana menghentakkan tangannya.
Cekalan itu terlepas, namun keseimbangan Allana tak terkendali. Dia malah terhuyung ke samping dan kepalanya membentur batu cukup kuat. Allana mendengar dengungan di kepalanya. Dia terus memegangi pelipisnya yang ternyata mengeluarkan darah. Allana tidak sanggup melawan lagi. Keadaan di sekitarnya seakan berputar sangat cepat.
'Tolong Allana Tuhan, hanya engkau satu-satunya harapan Allana.'
Pandangan Allana mengabur saar Pria itu tersenyum mendekat ke arahnya.
"Dasar gadis kecil yang lemah," kata Pria itu terdengar di telinga Allana.
Allana terus berdoa semoga seseorang datang menolongnya.
Sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran. Kini, kedua mata Allana terpejam seutuhnya. Pria itu semakin kegirangan melihat mangsa di depannya ini sudah tak berdaya. Dia berniat melanjutkan aksi jahatnya yang sempat tertunda.
Kejahatannya pasti akan berjalan mulus, pikir Pria itu.
Tidak akan ada yang tahu, dan tidak akan ada yang akan menolongnya. Ini mungkin akan menjadi malam yang mencekam dan kelam bagi Allana.