Dalam diamnya, Allana tidak berhenti berfikir, kira-kira siapa yang mengetahui rahasia yang disembunyikan Razella. Pasti orang ini adalah orang yang sangat dipercayai Razella, sampai-sampai dia dan Elenio yang bersahabat sejak lama saja tidak tahu menahu tentang apa yang mendasari tragedi itu bisa terjadi.
Allana rasa, memecahkan kasus ini sendiri terlalu berat, namun saat mendapati petunjuk yang diperlihatkan padanya. Dia jadi yakin, dia pasti mampu menuntaskannya dibantu oleh orang misterius ini. Meski identitasnya tidak Allana ketahui, setidaknya orang itu perlahan-lahan menuntunnya.
Allana merebahkan tubuhnya di kasur, lelah sekali rasanya. Dia menarik selimut ke atas menutupi tubuhnya. Allana bergerak tak nyaman dia mulai memiringkan tubuhnya ke kiri, tapi ekor matanya terus melirik ke arah jendela, seperti ada yang mengawasinya dari luar. Allana lantas berbalik menghadap ke kanan seraya menutup kepalanya dengan selimut agar dia bisa segera terlelap.
Bukannya tenang, tubuh Allana malah mengeluarkan keringat dingin. Allana terbangun dia tidak boleh terus begini, Allana harus tidur. Agar esok, tenaganya bisa pulih.
"Terpaksa, aku harus minum ini." Allana meminum satu pil obat tidur. Tak butuh waktu lama, rasa kantuk itu mulai merayapi, Allana menguap, dia lantas tertidur pulas.
***
Dering alarm membangunkan Allana. Dia lantas menatap pada jam dinding yang menunjukkan pukul 05:00. Allana menatap ke arah ponselnya, bingung.
"Perasaan, semalam aku gak pernah atur alarm, kok ini bisa bunyi?" tanya Allana banyak sekali kejadian janggal.
Kali ini Allana menemukan sticky note diatas tumpukan buku belajarnya semalam. Isinya bukan tentang petunjuk melainkan sebuah kata motivasi.
'Pagi Cantik, apa kabar? Kamu masih ingat aku?' Allana reflek mengangguk. Ini pasti orang yang telah memberinya sekotak bubur juga satu kertas berisi tulisan penyemangat yang masih tertempel di meja belajarnya.
'Aku kira kamu udah lupa ternyata masih ingat,' Allana tersenyum bagaimana mungkin Allana melupakannya, berkat kalimat yang ditulis itu Allana bisa bangkit lagi.
'Kamu yang sabar ya, jalani ini semua, percaya sama Tuhan, dia selalu mendengarkan doa-doa kamu. Pesan aku buat kamu tetap jaga kesehatan, jangan sering begadang dan jangan minum obat tidur lagi, semangat cantik,' unknown.
"Darimana dia tau? Kenapa dia bikin aku penasaran? Yang semalam aja, aku masih bingung. Terus kertas ini, dia masuk lewat jalur mana? Jendela juga aku kunci rapat."
Entahlah, Allana mencoba untuk tidak memikirnya terlalu dalam, selagi hal ini berdampak positif. Dia mudah saja menerimanya.
***
Suasana Kelas XI IPA 3 hening. Semua fokus pada soal yang tertera pada selembar kertas. Walau dikata hanya ulangan harian tapi tetap saja, yang namanya soal Matematika itu bisa dibilang sulit bagi yang tidak menguasai. Rata-rata raut wajah yang ditampilkan dari para penghuni Kelas tampak gelisah.
Berbeda dengan yang Allana tetap tenang. Allana bersyukur, karena materi yang dia pelajari tadi malam muncul di soal. Dengan sedikit menggaris senyum Allana mulai mengerjakan soal itu. Tidak ada kendala, total ada 23 nomor yang berhasil Allana jawab tinggal dua nomor lagi.
"Waktu kalian tinggal 10 menit lagi," peringat Bu Ayu tatapannya menyapu seluruh penghuni kelas.
Sontak beberapa ada yang mendengus kasar. Sementara Devan memandang lekat ke arah Bu Ayu.
"Yah, Bu, saya baru dapat setengah soal," keluh Devan dengan wajah memelas.
"Kalau begitu, cepat kamu selesaikan Devan," jawab Bu Ayu menekan setiap katanya.
"Bu, kapasitas otak saya pas-pas'an," balas Devan menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Belajar yang rajin Devan, jangan nongkrong terus kerjaan kamu!" seru Bu Ayu membuat Devan menghela napasnya berat.
Elenio beranjak dari bangkunya dia berjalan maju ke depan. Tangan terulur menyodorkan kertas jawaban ke Bu Ayu.
"Sudah selesai El?" tanya Bu Ayu memeriksa lembar jawaban Elenio.
"Sudah," jawab Elenio, raut wajahnya tergambar datar.
"Bagus, ayo yang sudah selesai boleh dikumpulkan," kata Bu Ayu.
Tania maju ke depan lalu disusul Allana. Kemudian dilanjut bergantian oleh Siswa-Siswi yang lain. Menyisakan Devan seoramg yang belum mengumpulkan.
"Devan, mana punya kamu?"
Devan yang dipanggil namanya gelagapan dan panik dalam satu waktu. "Kasih waktu sebentar lagi, ya, Bu. Saya baru jawab 15 soal, ya, ampun," keluhnya.
Bu Ayu membenarkan letak kaca matanya. Beliau berjalan menghampiri bangku Devan lantas menegadahkan tangannya. "Waktu habis ayo kumpulkan," pinta Bu Ayu.
"Bu, sedikit lagi," mohon Devan menindih kertas jawaban dengan lengannya.
Bu Ayu menarik kertas Devan
"Gak ada tambahan waktu, kamu kumpulkan apa saya sobek sekarang juga," ancam Bu Ayu dengan rona wajah serius membuat Devan pasrah lalu menyerahkannya.
"Untung kalau 15 soal itu benar semua, kalau yang benar cuma dua, aduh!" keluh Devan menepuk keningnya.
"Lah, kamu ngisinya gimana sih Van? Pakai rumus apa cuma asal-asalan?" tanya Tania.
"Campur Ta," jawab Devan seadanya.
"Gini nih, kalau persiapan kamu kurang," balas Tania menohok.
"Ngantuk Ta, habis pulang kerja," jawab Devan menyenderkan punggung tegapnya.
"Kamu kerja, Van?" tanya Allana.
"Iya, Al, kerja di cafe kalau habis pulang sekolah," sahut Devan.
"Bukannya kamu dulu kerja di Bar ya Van?" tanya Tania lagi.
"Iya, tapi, aku keluar baru-baru ini," kata Devan bersidekap di depan dadanya. "Biarpun dikata anak brandal apalah, tapi orang lain kan gak tau kehidupan aku yang sebenarnya," ungkapnya.
"Jadi, karena itu kamu sering terlambat?" tanya Allana yang baru mengetahui.
"Iya," jawab Devan seraya mengangguk.
"Kenapa kamu gak jujur sama Guru, Van, biar kamu gak dihukum," ujar Allana meminta penjelasan.
"Mereka gak akan percaya Al, tampang aku aja urak-urakan," balas Devan.
"Iya, sebelas dua belas sama Preman Pasar!" sahut Tania membuat Devan mendelik tajam──tidak terima.
"Sembarangan! Penampilan keren gini, kamu bilang kayak preman?" sungut Devan menyugar rambutnya ke belakang dengan jari.
"Denger, ya, Van! Sekolah itu seragamnya rapi bukan amburadul kayak gini! Terus dasi kamu mana? Pasti udah hilang," omel Tania sewot.
"Nanti kalau ada Guru baru dirapiin lagi, gerah Ta, pakai dasi," balas Devan.
"Alasan! Bilang aja dasi kamu hilang," tuduh Tania memutar bola matanya malas.
"Iya, sih emang bener ilang," kata Devan terkekeh kecil.
***
Tania terus memperhatikan Allana yang sedang menopang dagu dengan sebelah tangannya. Seolah hanyut dengan pikirannya sendiri.
Tania menepuk bahu Allana membuat Allana sadar dari lamunan.
"Apa Ta?"
"Mikir apa sih?"
Allana baru akan menjawab namun, atensi Tania teralih saat
Bu Ayu masuk ke dalam Kelas, sepertinya beliau sudah selesai mengoreksi semua lembar jawaban.
"Kayaknya itu hasil ulangan deh," tunjuk Tania.
"Hasil Ulangan kalian, akan Ibu bagikan sekarang. Jadi, nilai tertinggi adalah jawaban milik Elenio, selamat El kamu dapat nilai sempurna," puji Bu Ratu tersenyum senang.
Elenio maju ke depan diiringi suara tepuk tangan yang bergemuruh.
"Terima kasih Bu," ujar Elenio kembali duduk.
Tidak diragukan lagi, laki-laki bernama Elenio Cakra Wijaya itu selalu menjadi nomor satu. Bukan hanya pandai dalam bidang olahraga tapi Elenio juga memiliki kepandaian di atas rata-rata. Wajar, jika dia adalah primadona Sekolah. Parasnya yang tampan selalu menjadi idaman.
Jika dibandingkan dengan Elenio dan Razella, hanya Allana lah yang memiliki nilai rata-rata rendah. Tapi hal itu tidak menggoyahkan tekad Allana agar bisa menjadi lebih pintar.
Dulu, Allana ingin mengambil jurusan Ips, jujur Allana kurang pandai di bidang perhitungan. Tapi karena tidak disetujui oleh kedua orang tuanya Allana mengalah dan menuruti kata mereka.
"Disusul Tania, kamu dapat nilai 96, tingkatkan," panggil Bu Ayuu.
"Selanjutnya, Allana, nilai kamu 92, saya bangga dengan kamu Allana nilai kamu meningkat drastis," puji Bu Ayu bangga.
Allana tidak menduga, namanya akan dipanggil di urutan ketiga. Hatinya berbunga-bunga dibuatnya.
"Wow, Allana kamu hebat!" puji Tania saat berpapasan dengan Allana.
Allana yang dulu hanya memiliki nilai terendah daripada yang lain kini mebuktikan diri, jika dia mampu untuk bisa menjadi lebih baik.
"Kalian harus termotivasi dari Allana, kalian tau, 'kan Allana dulu tertinggal saat materi Matematika tapi dia membuktikan kalau usahanya bisa membawa perubahan yang lebih baik," puji Bu Ayu.
Semua pasang mata tertuju pada Allana tidak percaya jika Allana menjadi nilai tertinggi tiga teratas. Namun, tak sedikit yang menatapnya iri.
"Baru aja sekali dapat nilai bagus, pujiannya setinggi langit."
"Palingan besok-besok, nilainya udah anjlok lagi."
Allana hanya tenang, menanggapi perkataan tidak mengenakan itu. Sementara Devan harap-harap cemas menutup wajahnya. Dia yakin namanya pasti dipanggil di urutan terakhir.
"Devan, nilai kamu aman, tidak remidi," kata Bu Ayu menatap Devan yang tampak gelisah.
"Beneran Bu?" tanya Devan dengan binar mata antusias. Dia segera berjalan semangat mengambil kertas jawabannya.
"Iya, tapi ingat! Tingkatkan belajar kamu, jangan puas dengan nilai itu," peringat Bu Ayu.
"Dapat berapa Van?" tanya Tania setelah Devan sampai di bangkunya lagi.
"Lumayan lah, 76, aman, padahal tadi cuma buka buku sekilas," balas Devan.
"Berarti, sebenarnya otak kamu itu encer Van. Nih ya, kamu buka buku sekilas aja dapat 76 coba kalau kamu tadi malam belajar pasti bisa dapat 80 ke atas." Tania berkomentar.
"Iya-iya, Ta, lain kali aku belajar. Tapi, Kalau ada ulangan doang," ujar Devan.
"Dasar!" Tania menjitak kepala Devan membuat Allana terkekeh pelan melihat interaksi keduanya.
***
Usai pulang Sekolah, Allana berniat mendatangi kediaman rumah orang tuanya. Wajah Allana terlihat sumringah, senyumnya mengembang cerah Rumah ini berkali-kali lipat lebih megah dan mewah daripada rumah yang di tempati Allana.
"Pak Maman, Papa sama Mama ada di rumah?" tanya Allana berdiri di depan gerbang berwarna keemasan.
"Baru aja pulang Non, mari silahkan masuk," kata Pak Maman.
"Terima kasih Pak," ujar Allana saat Pak Maman membuka gerbang besi di depannya.
"Pa, Ma," sapa Allana ketika melihat kedua orang tuanya duduk di ruang keluarga.
"Mau apa kamu kesini?!" tanya Dimas langsung berdiri seraya mengangkat dagunya. Terang-terangan menolak kedatangan Allana.
"Ada yang mau Allana tunjukin ke Mama," jawab Allana pelan menatap ke arah Hanna. Matanya menatap takut pada Dimas.
Hanna lantas berjalan menghampiri Allana.
"Apa sih, yang mau kamu tunjukin ke saya, sepenting itu sampai-sampai kamu datang kesini?" tanya Hanna rasa malas menanggapi Allana.
'Seandainya Mama tau, hati aku sakit, dengar Mama bilang begitu,' ujar dalam batinnya.
Allana tetap tersenyum untuk meneguhkan hati.
"Kemarin, Mama bilang, Allana harus giat lagi belajarnya dan sekarang Allana mau tunjukin sesuatu," papar Allana merogoh tas lalu menyodorkan selembar kertas pada Hanna.
Sebelah alis Hanna terangkat, kedua netranya fokus melihat kertas itu.
"Lihat Mas," perintah Hanna memberikannya pada Dimas.
Allana terus tersenyum berharap akan ada reaksi positif dari kedua orang tuanya.
"Cuma dapat 92? Apa-apaan ini! Harusnya kamu bisa dapat 100!" kelakar Dimas meremas kertas itu. Senyum di bibir Allana memudar cepat, air mukanya berubah keruh. Hatinya terasa diremukkan Allana segera memungut remasan kertas itu yang mirip dengan nasib Piala yang dibanting Dimas waktu dulu.
Sesulit ini kah untuk bisa mendapat sedikit saja, apresiasi dari kedua orang tuanya? Paling tidak satu kata penyemangat yang terlontar dari bibir mereka, bukan kata pematah semangat dan tuntutan yang selalu diberatkan padanya.
Rama yang semula asik bermain ponsel lantas berdiri merasa penasaran dengan soal ulangan milik Allana.
"Coba mana," pinta Rama mengambil paksa dari tangan Allana.
Rama tertawa. "Soal segampang ini, kamu gak bisa jawab? Ini gampang banget!" cemooh Rama. Dia lupa bahwa di dalam tubuhnya dan Allana mengalir darah yang sama. Tidak seharusnya sebagai saudara dia saling menjatuhkan.
Allana mengambil alih kertas itu.
"Itu bagi kamu Ram," balas Allana menatap tajam pada Rama.
Allana menilik raut wajah Hanna yang tampak kecewa
"Allana, kamu harus giat belajarnya, jangan malas-malasan. Kamu gak malu sama Rama?" Lagi-lagi Hanna melontarkan kalimat yang menyinggung hati Allana.
"Iya Ma, Allana akan belajar lebih rajin lagi," balas Allana tidak memberi reaksi apa-apa. Hatinya sudah terlatih untuk terluka.
"Allana pamit," saat Allana mengulurkan tangannya pada Hanna. Dia sengaja melipat tangan dan mengabaikan Allana.
Allana hanya bisa menghembuskan napasnya kasar. Seburuk itukah Allana di mata mereka hanya karena nilainya tidak sempurna.
"Udah pergi sana! Kedatangan kamu, cuma buat keadaan rumah ini jadi panas," maki Dimas.
Allana berjalan keluar, mengubur rasa kecewanya dalam-dalam. Baru saja, berjalan beberapa meter dari gerbang. Sebelah kakinya menginjak sesuatu yang terasa mengganjal.
"Apa ini?" Allana reflek mengangkat kakinya seraya menundukan kepala memastikan benda apa itu.
Allana melihat benda yang berkilau akibat sinar terik matahari.
Dia lantas berjongkok
mengeluarkan benda itu dari tanah, saat Allana membersihkan benda itu dari tanah yang menempel ternyata benda itu adalah kalung berliontin bunga yang cantik.
"Wah, bagus banget," puji Allana memandangi kalung itu kagum.
"Kalung secantik ini, gak mungkin dibuang, apa jangan-jangan ini jatuh dan pemiliknya gak sadar," duga Allana.
"Sepertinya, kalung liontin ini gak asing buat aku.Yang pasti, ini bukan milik Mama, tapi aku yakin, aku pernah lihat ini! Tapi dimana dan punya siapa?" tanya Allana terdiam merenung.