Sebelum akhirnya pulang ke rumah, Allana menyempatkan diri untuk datang ke Gramedia untuk membeli buku. Buku tentang pelajaran agar menunjang pembelajarannya dengan mencoba banyak soal latihan. Allana telah memegang tiga buku di tangannya. Masing-masing buku Matematika, Kimia dan Fisika.
"Aduh," ringis Allana saat kepalanya menabrak sisi lengan seorang laki-laki yang memakai kaos hitam.
"Maaf," kata Allana reflek mengambil ponsel milik orang yang tidak sengaja dia tabrak tubuhnya.
Layar ponselnya masih menyala membuat Allana bisa melihat walpaper ponsel itu. 'Kalung ini, persis seperti kalung yang aku temuin tadi,' batin Allana dahinya berkerut dalam.
Telapak tangan laki-laki itu merebut paksa ponsel miliknya dari genggaman tangan Allana.
'Jadi itu milik Tante Amara?' tanya Allana dalam benaknya matanya membulat diiringi mulut yang menganga.
Tapi bagaimana mungkin, kalung liontin bunga milik Amara bisa terjatuh di depan gerbang rumah kedua orang tuanya. Allana jadi teringat kalimat peringatan semalam 'Pembunuh itu ada di sekitarmu!' Apa mungkin keluarganya terlibat dalam kasus kematian Amara. Karena sebelum adanya kalimat itu Hanna datang memarahinya saat siang hari ditambah penemuan kalung ini yang membuat Allana dipenuhi prasangka.
'Aku perlu banyak bukti, aku gak bisa simpulkan pelakunya dengan bukti yang kurang memadai.' Allana berujar dalam hati.
Allana tidak boleh menelan asumsi ini mentah-mentah. Dia harus menelaah lebih dalam lagi.
Elenio menatap aneh pada Allana, gadis itu tampak diam mematung dengan kening mengernyit bingung. Dia lantas membalikan tubuhnya hendak keluar. Niatnya ingin mencari novel untuk mengusir kejenuhan tidak jadi akibat pertemuaanya dengan Allana di sini.
"Tunggu El," cegah Allana. Elenio berhenti, namun sama sekali tidak merubah posisinya. Melihat itu Allana berjalan lantas berdiri di sisi Elenio.
"Ada yang mau aku tanyain sama kamu," kata Allana mendongakan kepala menatap Elenio.
"Kamu, kan, yang sebenarnya udah nolong aku dari Preman itu?" tanya Allana memindai wajah Elenio.
'Darimana Allana tau?' batin Elenio, alih-alih tampak panik raut wajahnya tergambar datar.
"Gak!" seru Elenio ketus.
"Kamu gak bisa bohong, El, aku udah tanya sama Tante Devinka," jelas Allana. "Aku juga lihat Devan anterin aku pakai mobil kamu. Apa itu artinya kamu masih peduli sama aku?" tanya Allana sekedar mengecek seberapa besar kadar kebencian yang masih tertanam dalam diri Elenio.
"Jangan mikir yang macam-macam Allana! Jangan harap aku udah maafin kamu. Itu semua aku lakuin karena Mama yang maksa," tekan Elenio menatap intens pada Allana.
Allana mengangguk paham, ternyata Elenio masih sangat membencinya. "Aku mau bilang, makasih banyak, El, kalau gak ada kamu ... aku gak tau nasib aku gimana," ungkap Allana mengerjapkan matanya pelan.
"Jangan pernah bersikap lemah di hadapan orang lain!" hardik Elenio membuat Allana tersentak, seketika keduanya menjadi pusat perhatian.
Elenio tidak suka melihat Allana yang tampak lemah di matanya,
Egonya telah menutup mata hatinya, bahkan Elenio tidak bisa membedakan mana rasa yang tulus dan akal bulus. Dia telah dibutakan oleh kebencian.
Harus dengan cara apa agar Allana dapat memecahkan kerasnya hati El?
***
Duduk di taman belakang rumah. Allana menatap ke bawah melihat bayangan gelap dirinya di tanah. Raut wajahnya berubah lesu Allana lantas mendongak ke langit, memandangi bulan sabit. Segaris senyum terhias di bibirnya. Seolah Bulan itu seperti membersi asa bagi Allana.
"Jadilah seperti Bulan yang selalu menampakan sinarnya, di saat waktunya tiba menggantikan Matahari semua manusia terlelap dalam rumahnya. Namun Bulan tetap setia memancarkan sinar indahnya, Bulan tak peduli jika hadirnya sering diabaikan," kata Allana.
Dari Bulan Allana dapat mengambil pelajaran. Bulan yang tanpa henti memancarkan sinar terang untuk melawan pekatnya malam yang mencekam. Bagi Allana, hidup adalah bagaimana dia bisa memaknai setiap peristiwa yang harus dia lewati.
Allana termotivasi, dia harus berjuang lebih keras untuk bisa meluluhkan hati Elenio. Jika tidak dapat mengungkapkan lewat suara mungkin melalui sebuah kata-kata adalah solusinya.
***
Pandangan Allana terus memperhatikan Elenio, cowok itu sekarang duduk di bangkunya. Dia sedang menyenderkan punggungnya di senderan kursi.
Pandangan Elenio terfokus pada amplop kecil warna biru di kolong gelap bawah mejanya.
'El aku selalu berdoa semoga Tuhan menunjukkan kebenarannya. Semoga Tuhan membuka pintu maaf di hati kamu untuk aku. Yang perlu kamu tahu, aku bukan pelaku dibalik kejadian itu. Aku minta maaf, aku ceroboh dan menimbulkan prasangka yang mengarah padaku. Tolong maafin──'
Elenio langsung merobeknya tanpa membacanya sampai akhir. Dia menatap tajam Allana seraya terus merobek kertas kecil itu.
Mata Allana berkedip sayu, usahanya gagal. Tapi setidaknya, Elenio sudah membaca beberapa kalimat yang tertulis di sana.
***
Keesokkan harinya, masih dengan rencana dan target yang sama Allana kembali menyelipkan amplop kecil di loker.
Elenio mengambil surat itu, namun dia tidak langsung membuangnya. Walau dia tahu inti dari segala inti adalah permintaan maaf dari Allana. Karena penasaran Elenio pun memilih membukanya terlebih dahulu.
'Apa kabar El, udah lama aku gak menyapa kamu lewat suara. Lewat tulisan ini aku mau bilang aku rindu kita bisa seperti dulu.
Aku yang selalu menunggu kamu untuk menerima kata maaf ku.'
Elenio kesal lantaran Allana tiada hentinya meninggalkan surat di kolong meja ataupun di lokernya. Elenio kembali mendengus sebal. Dia meremas kertas itu lalu membuangnya. Tak jauh dari sana sebenarnya Allana mengamati pergerakan Elenio.
"Kamu gak boleh patah semangat Allana," ujar Allana terus menyemangati diri. Allana sadar,
hanya penolakan yang dia dapat.
"Mungkin bukan hari ini, aku akan coba lagi besok," kata Allana semakin bersemangat.
***
Terhitung sudah lima hari Allana terus meninggalkan surat di bawah kolong meja bangku Elenio. Tampaknya meruntuhkan ego Elenio masih menjadi tantangan bagi Allana. Pandangan Allana terus tertuju pada Elenio.
Tidak ada respon baik yang ditunjukkan oleh Elenio. Melainkan hanya tatapan sinis dan tajam yang diberikan Elenio saat netra keduanya saling bertemu. Menandakan jauhnya jarak hubungan yang terbentang luas antara Allana dan Elenio.
"Apa hati kamu udah sekeras batu El?" lirih Allana.
"Aku gak boleh nyerah, aku harus bisa dapat maaf dari El," ujar Allana. Dia mengikuti langkah Elenio yang ternyata masuk ke dalam kelas.
Selang beberapa detik, Allana juga masuk. Dengan segenap hati dan jiwa Allana berjalan menghampiri bangku Elenio.
"Hai El, Maaf kalau kertas aku menumpuk di meja kamu. Aku ...."
Elenio mengebrak meja sangat keras membuat Allana berjengit kaget dan menggerjapkan matanya berkali-kali. Jantungnya berdegup amat kencang.
"BERHENTI KASIH AKU SURAT SEPERTI INI AL! AKU MUAK KAMU SELALU TULIS KATA MAAF DI SINI!" seru Elenio penuh titah emosi.
Sekuat-kuatnya Elenio bertahan di balik tembok yang dibangun kokoh di hatinya, lambat laun, akibat dilingkupi emosi membakar diri pertahanan itu juga dapat retak.
Allana menunduk dia hanya ingin memperbaiki kerenggangan hubungan yang terjadi.
"Iya, El, aku janji gak akan tulis itu lagi," ujar Allana merekatkan ruas jari-jemarinya erat.
Tania yang tidak terima dengan perlakuan Elenio lantas bergegas mendatangi.
"Harusnya kamu sadar, El. Allana lakuin itu karena dia berjuang buat memperbaiki persahabatan kalian berdua, kalau Allana jahat mungkin dia gak akan peduli sama kamu. Dia akan benci sama kamu, tapi buktinya enggak sekeras apapun kamu menolak dan menjauhi, tapi Allana gak pergi dia juga gak benci sama kamu," bela Tania dadanya naik turun akibat lonjakan emosi.
"Kamu gak usah ikut campur!" seru Elenio mutlak, wajahnya memerah marah.
"Kalau kamu gak mau tulisan itu lagi maafin Allana El, dia tulus lakuin itu semua. Dia berharap kamu sedikit aja paham kalau yang kamu lihat itu adalah ketidaksengajaan," jelas Tania membantu Allana mengutarakan kalimatnya.
"Gak bisa semudah itu!" balas Elenio mengepalkan tangannya kuat hingga percabangan uratnya tampak muncul ke permukaan.
"Asal kamu tahu, tulisan kamu ini membuat aku terus teringat kejadian itu Al! Aku benci sama diri aku sendiri karena gagal buat lindungi Razella! Setiap hari, aku selalu berusaha melepas rasa bersalah itu tapi kamu, kamu mengacaukan semuanya! Aku makin benci kamu Al! Jangan pernah kamu ganggu aku lagi! Anggap kita gak pernah kenal dan gak pernah bersahabat, lupain masa lalu itu!" peringat Elenio pergi meninggalkan Kelas.
Allana terdiam, mulutnya mengatup rapat-rapat. Dia tidak mengira, jika tulisannya akan berdampak menyinggung luka batin dan mengungkit rasa penyesalan di hati Elenio.
Allana hanya terus berupaya, tapi mungkin apa yang dia lakukan terlalu berlebihan. Allana terlalu berambisi untuk mendapat maaf dari Elenio ingin sesegera mungkin agar memulihkan persahabatan mereka.
***
Jajaran penjual makanan di kantin tampak dikerubungi banyak Siswa-Siswi yang antre memesan makanan.
Gadis berambut ikal pada ujungnya itu tersenyum saat mendapati Elenio duduk menyendiri.
"Hai El," sapa Sasha melambaikan tangan kecil.
"Boleh aku duduk di sebelah kamu," ucapnya tersenyum manis.
Sasha menelengkan kepala memindai ekspresi Elenio yang tampak menahan emosi.
"Kamu lagi marah ya? Memang kenapa?" tanya Sasha dengan sebelah tangan menopang dagunya.
Elenio tidak mengatakan apapun tapi sorot matanya mengarah pada Allana membuat Sasha yang melihat gestur itu memahami artinya.
"Oh, karena dia," ucap Sasha, dia lantas menghembuskan napasnya panjang.
"Aku sebenarnya juga gak suka sama dia," kata Sasha membuat Elenio tertarik sehingga dia menoleh menatap Sasha.
"Dia pasti ganggu kamu terus ya?" Atau selalu bikin risih kamu?" tebak Sasha.
Tidak jawaban yang ditunjukkan dari Elenio laki-laki itu membuka kaleng minuman bersoda lalu menenggaknya hingga tandas. Sasha terus menatap Elenio seakan terpana menatap jakun Elenio yang bergerak naik turun.
'Astaga, El! Mau dilihat dari sudut wajah manapun kamu kelihatan ganteng banget sih,' batin Sasha tampak salah tingkah.
"Oke, kalau kamu diem itu berarti iya," kata Sasha menarik kesimpulan.
"Nih pesenan kamu," kata Nita menyodorkan semangkuk bakso pada Sasha.
"Pas banget," sahut Sasha tersenyum penuh arti.
Sasha berdiri seraya membawa semangkok baksonya mendekat ke arah Allana kebetulan Allana juga berdiri dan akan pergi meninggalkan kantin.
"Aw, panas!" rintih Allana saat kuah bakso milik Sasha mengenai permukaan kulitnya lalu pecah ke lantai.
"Allana, maaf, aku gak sengaja ya, ampun! Tangan kamu merah," kata Sasha pura-pura peduli.
Allana mengipasi lengannya dengan satu tangan menahan rasa panas yang membakar kulitnya.
Elenio tahu sekarang, siapa yang bisa dia jadikan tameng. Sekaligus membuat Allana otomatis menjauhinya. Satu ide, muncul di pikirannya.