Allana berdiri di depan jendela kamarnya. Dia memandangi kalung liontin bunga itu lama. Benaknya masih dipenuhi beribu tanda tanya bagaimana bisa kalung milik Amara terjatuh dan tertimbun di tanah depan pagar rumah.
"Hubungan Mama, sama Almarhum Tante Amara kan gak dekat. Gak aku gak boleh berburuk sangka lagi. Mungkin aja, kalung ini gak sengaja jatuh waktu Almarhum Tante Amara lewat sana," kata Allana mengenyahkan pikiran negatifnya.
"Apa, aku balikin aja, kalung ini ke El?" tanya Allana menimang-nimang.
Allana lantas menggenggam kalung itu. Tatapannya beralih pada ruam kemerahan di kulitnya. Dia ingat ini waktunya untuk mengoleskan krim obat itu agar bekasnya segera memudar.
Allana bergegas mencari obat pemberian Tania, dia menggeledah ke dalam tas-nya.
"Kok gak ada?" tanya Allana.
"Astaga! Ketinggalan di dashbord mobilnya Tania," ujar Allana.
"Yaudah deh, beli aja," gumam Allana memakai jaket birunya.
Allana beranjak keluar kamar.
"Mau kemana Non?" tanya Ratih begitu Allana sampai di ambang pintu depan.
"Mau ke apotek Bi," jawab Allana
"Tapi ini udah malam Non," peringat Ratih menaruh rasa kekhawtiran dalam raut wajahnha.
"Cuma sebentar kok, Bi, lagian apotek-nya juga gak jauh dari sini," ujar Allana.
"Gak mau Bibi temani?" tawar Ratih, takut jika peristiwa beberapa hari lalu terulang.
Allana menggeleng, "Bibi gak usah khawatir," kata Allana meyakinkan. Lagi pula ini belum terlalu malam dan kendaraan masih ramai berlalu lalang.
***
Elenio mendengus kecil, jenuh membaca ratusan chat yang dikirim Sasha. Alhasil Elenio hanya sekedar merespon dengan kata iya dan tidak, berharap jika Sasha tidak mengirimnya pesan lagi. Namun yang didapat justru sebaliknya. Sasha tiada hentinya terus membuat topik pembicaraan yang menurut Elenio tidak penting dan membosankan.
Elenio yang semula berniat akan belajar mendadak tidak bersemangat lagi akibat pesan bertubi-tubi yang muncul di layar notifikasinya. Puncaknya, jika pesan itu tidak dibalas Sasha akan terus menelpon Elenio guna meminta kejelasan. Berada dalam hubungan yang baru beberapa jam bersama Sasha mampu membuat Elenio kewalahan.
Kali ini, Elenio memilih mematikan ponselnya, mencari ketenangan sejenak dengan memakai earphone untuk mendengarkan lagu favoritnya. Matanya memejam, Elenio terbuai dalam lantunan musik yang membuatnya tenang hingga dia merasa tubuhnya lebih rileks dan bebannya sedikit berkurang.
Sebuah sentuhan tangan Elenio rasakan di bahunya, laki-laki itu menoleh ke belakang.
"Bi Asti?" Elenio lantas melepaskan earphone-nya dari telinga.
"Maaf, Bibi lancang masuk kamar Den, El. Soalnya tadi Bibi udah ketuk pintnya tapi gak dibuka-buka, jadi Bibi langsung masuk," jelas Asti.
"Iya, Bi, gak masalah," kata Elenii.
"Maksud Bibi kesini mau bilang, di depan, ada cewek rambutnya sepunggung nyariin Den El, katanya dia pacarnya Den, El," terang Asti.
'Sasha,' batin Elenio.
Elenio lantas bergerak turun dari kamarnya. Dia mengacak rambutnya, tanpa sadar dia telah mengizinkan sesorang untuk masuk dalam ranah kehidupannya bahkan cenderung ingin mengontrol penuh dirinya.
Elenio membukakan pintu menampakan dirinya berbalut kaos putih juga celana boxer.
"Kamu itu lama banget sih buka pintunya, aku udah nunggu dari tadi tau!" gerutu Sasha, suaranya yang terdengar cempreng membuat indra pendengaran Elenio terganggu.
"Kenapa gak dibalas pesan aku?" cecar Sasha.
Elenio menghela napas berat. Melelahkan sekali menghadapi sifat kekanak-kanakan dari Sasha.
"Ponsel aku mati," jawab Elenio cuek.
"Tujuan kamu kesini mau apa?" tanya Elenio tidak suka basa-basi.
Sasha berkacak pinggang. "Kamu itu jadi pacar gak ada romantis-romantisnya, ya!" omel Sasha pura-pura merajuk agar Elenio bersikap manis padanya.
Tapi apa yang terjadi, Elenio memalingkan wajahnya membuat Sasha yang melihatnya memajukan bibirnya sebal karena diabaikan. Tangan Sasha memegang wajah Elenio agar mau menatap dirinya.
"Kita jalan, ya?" pinta Sasha lembut.
Elenio mengerutkan keningnya, dia sebenarnya malas, namun jika menolak Sasha pasti akan curiga dan percaya jika yang dikatakan Allana tadi benar.
"Aku masuk dulu, ganti baju," kata Elenio.
"Terus, aku nunggu di luar gitu kamu gak izinin aku masuk? Aku ini kan tamu di rumah kamu,"
"Terserah kamu!" seru Elenio.
Sasha tersenyum cerah mengikuti langkah Elenio di belakang.
"Orang tua kamu kemana?" tanya Sasha membuka percakapan lagi.
"Mereka jenguk rekan kerja Papa yang sakit," jawab Elenio.
"Oh," balas Sasha lantas duduk di sofa memainkan ponselnya. Sekian detik berlalu Elenio telah kembali. Penampilan laki-laki itu membuat Sasha terpana dengan pemilihan warna pakaian serba hitam, Elenio tampak berkali-kali lipat bertambah kadar ketampananya. Rahang yang tegas, bibir penuh, serta rambut hitam legam milik Elenio.
"Ayo," ajak Sasha semangat langsung menggandeng tangan Elenio.
"El, gimana kalau kita nonton balap aja?" kata Sasha mendongak menatap wajah Elenio.
"Balap liar maksud kamu?" tanya Elenio sedikit terganggu
"Iya." Sasha mengangguk.
"Di mana?" tanya Elenio.
"Nanti aku tunjukin jalannya, mau ya, El. Lumayan buat hiburan," kata Sasha.
"Kamu sering ke sana?" tanya Elenio.
"Iya, kalau lagi bosen aku datang ke sana," jawab Sasha tenang.
"Orang tua kamu gak larang kamu?" tanya Elenio dengan tatapan menyelidik.
"Mereka gak tau, karena aku bilangnya kerja kelompok di rumah Nita," aku Sasha jujur pada Elenio.
"Jangan suka bohongin orang tua," peringat Elenio.
Ekspresi wajah Sasha berubah kesal. "Ayolah,El, plis kita kesana!" mohon Sasha.
"Cuma sekali ini!" tekan Elenio.
***
Elenio menghentikan laju motornya. Dia memandang ke sekeliling melihat banyak sekali orang-orang yang berjejer di tepi jalan untuk menyaksikan. Yang membuatnya lebih terkejut adalah beberapa penonton itu seorang perempuan yang rata-rata mengenakan busana terbuka dan ketat.
Elenio berfikir, kenapa kegiatan seperti ini tidak terciduk oleh Polisi. Menurutnya ajang balap liar ini tak seharusnya diselenggarakan karena ilegal juga dapat membahayakan keselamatan.
Elenio lantas membuka helm-nya.
"Wow, goodboy SMA Cakrawala datang ke tempat ini?!" kata laki-laki menggelengkan kepala tidak menyangka.
"Hai, gue Alex," ujar Alex mengulurkan tangannya berniat menyambut kedatangan Elenio tapi Elenio membalasnya dengan tatapan sinis.
Alex perlahan menurunkan tangannya. "Sombong banget," katanya sedikit tersinggung.
"Alex, udah dong, jangan gituin pacar gue," kata Sasha.
Alex menahan senyum.
"Pacar lo?" tanya Alex lalu menggandeng tangan Sasha sedikit menjauh dari Elenio
"Kenapa lo bawa dia, Sa?" tanya Alex cembury.
"Mau cari hiburan," balas Sasha santai melipat tangan di depan dadanya.
"Seriusan? Lo kasih pelet apa? Kok dia bisa mau sama Lo. Nurut lagi," ejek Alex.
"Sembarangan. Orang, El, duluan kok yang nyatain perasaannya sama gue," jelas Sasha membuat kerutan di dahi Alex semakin jelas.
"Gue gak yakin, dia bener-bener suka sama lo," ujar Alex.
Sasha menahan emosinya. Wajahnya tampak kesal mendengar penuturan Alex.
"Mending lo diam aja! Bikin gue bete tau gak!" seru Sasha.
Lalu seorang lelaki berjalan mendekati Alex. Kemudian berbisik di telinga Alex.
"Gue dapat mangsa baru, lumayan buat taruhan," kata lelaki itu.
"Mana orangnya?" tanya Alex.
"Ada di belakang," jawabnya.
***
Alex tersenyum penuh arti mendekati Elenio yang tetap duduk diatas motornya. Sementara beberapa motor telah berjejer di garis start.
"Tunggu, sebelum kita mulai. Gue mau kasih kejutan buat lo, Elenio Cakra Wijaya," ucap Alex menyeringai. Elenio menautkan kedua alisnya, apa maksudnya?
Sesorang datang memegangi lengan seorang perempuan yang memberontak meminta untuk dilepaskan.
"Allana," gumam Elenio matanya terbelalak.
"Siapa namanya? Allana?" tanya Alex pura-pura tidak dengar. Padahal dia tahu jika Allana pernah bersahabat dengan Elenio.
"Gue mau lo duel balapan sama gue. Cewek ini akan jadi taruhannya, kalau nanti lo kalah dia yang nanggung akibatnya," kata Alex membuat perjanjian.
"Dasar pengecut! Lepasin dia!" seru Elenio.
"El, udah biarin aja, lagian Allana itu cuma perusuh dalam hidup kamu," cegah Sasha.
"Udah, El, jangan diladenin omongan mereka, aku yakin mereka gak akan apa-apain aku," sahut Allana
Alex datang menghampiri Allana semula Alex menyentuh pipi Allana lembut namun setelahnya
dia mencengkeram kuat rahang Allana.
"Oh ya? Lo yakin gue gak bakal apa-apa'in lo?!" tanya Alex membuat tubuh Allana merinding mendengarnya.
"Lepasin dia!" Elenio menepis kasar tangan Alex.
"Santai, Bro," ujar Alex senang akhirnya Elenio terpancing juga.
"Oke, gue terima tantangan lo," kata Elenio lantang menatap nyalang Alex.
"Nah, gitu, dari tadi," balas Alex senang.
Motor Elenio telah sejajar dengan motor milik Alex. Keduanya sama-sama fokus memandang ke depan. Saat kain kecil diayunkan diiringi hitungan mundur kemudian kain kecil itu dijatukan ke aspal. Motor Elenio dan Alex telah melaju kencang.
Sasha berjalan ke arah Allana.
"Eh biang masalah, kenapa sih lo ada di sini?" tanya Sasha.
"Ini karena kamu, kamu sengaja ajak, El, ke tempat kayak gini!" balas Allana.
"Tapi lo lihat. Gara-gara lo, El, jadi ikut balapan. Padahal niatnya gue cuma ajak dia nonton. Tapi karena adanya lo, semua berantakan!" seru Sasha meluapkan amarah.
'Semoga El baik-baik aja.' Allana membatin.
Sorak riuh telah terdengar menanti kedatangan siapa yang lebih dulu datang demi gelar pemenang.
"EL!" teriak Sasha heboh begitu Elenio sampai beberapa detik lebih cepat dari Alex.
Sasha berlari menuju Elenio.
"Akhirnya kamu menang juga," kata Sasha girang.
Alex yang baru datang melepas helm lalu memukulnya.
"Puas?!" seru Elenio.
Alex mengetatkan rahangnya, dia mengumpat dalam batinya. Baru kali ini dia kalah dalam balapan.
"Sesuai janji, lepasin dia," tunjuk Elenio ke arah Allana.
Elenio lantas berjalan mendekati Allana lalu memegang lengan Allana.
"Ayo," ajak Elenio pada Allana. Keduanya naik di atas motor.
"El, masa aku di tinggalin?" protes Sasha. Elenio tidak menghiraukannya setelah Allana naik laki-laki itu langsung melaju pergi membuat Sasha kesal setengah mati.
"Ih kesel banget ,masa kamu lebih pilih dia sih!" Sasha menghentak-hentakkan kakinya kuat.
***
Hanya keheningan yang terjadi di perjalanan. Allana yang dibonceng Elenio bahkan tak berani menyentuh Eleino sedikit pun. Dia hanya memeggang secuil sisi jaket Elenio.
Elenio berhenti mendadak membuat Allana terdorong ke depan dan kepalanya membentur helm belakang Elenio cukup kuat.
"Aw," ringis Allana.
"Turun!" perintah Elenio bernada berat.
Allana menurut, mata Allana mengerjap kaget saat Elenio melempar helm-nnya menghantam trotoar jalan.
"Kenapa kamu ada di sana?! tanya Elenio mengangkat dagu. Penuh otoritas.
Dalam kondisi jantung yang berdebaran Allana menjelaskan.
"Sebenarnya, waktu aku mau pulang dari apotek aku gak sengaja lihat kamu boncengan sama Sasha. Karena aku penasaran aku ikutin kamu, aku takut kamu kenapa-napa," ungkap Allana.
"Terus," kata Elenio pelan sedikit mengurangi sifat temperamennya
"Aku berdiri agak jauh dari tempat kamu, tapi tiba-tiba dua orang cowok maksa aku buat ikut mereka. Saat aku mau teriak mulut aku dibekap sama mereka," terang Allana.
"Sebelum kamu bertindak, pikir dulu resikonya! Aku cowok Allana, aku bisa jaga diri," kata Elenio lugas
"Iya, aku salah, aku."
"Apa? mau minta maaf?! potong Elenio cepat.
"Cuma itu kan yang bisa keluar dari mulut kamu?!" seru Elenio menyudutkan Allana.
"Aku bisa bedain mana yang baik dan gak! Aku bukan anak kecil!" ujarnya lagi.
Raut wajah Elenio tampak berang.
"Apa kamu gak paham sama ucapan aku! Jangan ganggu aku lagi, apa itu kurang jelas?!" gertak Elenio.
"Tapi, aku peduli sama kamu," jawab Allana.
"Simpan rasa peduli kamu untuk diri kamu sendiri!" sahut Elenio ketus.
Elenio menatap tajam pada Allana dia membungkukan tubuhnya lantas meraih helm-nya yang tergeletak.
"Ada yang mau aku balikin ke kamu," ujar Allana merogoh ke dalam sling bag hitamnya.
Elenio menoleh.
"Ini," kata Allana menyodorkan kalung itu.
Elenio tercengang. "Kalung ini punya Bunda," ujar Elenio bibirnya sedikit gemetar. Dia menerima uluran kalung itu.
"Kenapa bisa ada di kamu?" tanya Elenio.
Allana berfikir cepat. "Aku gak sengaja temuin itu di depan gerbang rumah kamu," kata Allana pelan dan tenang meminimalisir rasa gugup dalam dirinya.
"Akhirnya ini ketemu," gumam Elenio yang telah lama mencari keberadaan kalung liontin ini.
Elenio Ingin berkata terima kasih pada Allama namun lidahnya terasa kelu untuk mengungkapkannya. Elenio malu telah membentak Allana dengan keras. Saat Elenio membalikan tubuhnya Allana sudah berjalan menjauh.
"Makasih Al," lirih Elenio terbesit penyesalan akibat perilakunya yang kasar pada Allana.